NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota yang Tak Pernah Tidur

Kereta ekspres akhirnya melambat dengan derit logam yang panjang, memasuki stasiun utama Yorknew City tepat saat matahari terbit sepenuhnya. Asap tipis dari mesin uap bercampur dengan bau aspal panas, knalpot mobil, dan aroma makanan jalanan yang menggoda. Raito berdiri di pintu gerbong, tas ransel di punggung, mata melebar memandang kerumunan manusia yang bergerak seperti sungai hidup.

Yorknew City adalah monster beton dan neon yang hidup. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, saling bersaing dengan papan iklan raksasa yang berkedip-kedip menawarkan segalanya: dari senjata langka, permata Nen, hingga tiket Heavens Arena. Suara klakson, teriakan pedagang, dan deru kendaraan membentuk simfoni kekacauan yang memekakkan telinga.

Mira turun di sampingnya, menghirup udara kota dalam-dalam. “Selamat datang di Yorknew. Kota yang tidak pernah tidur, dan tidak pernah memaafkan yang lemah.”

Raito mengangguk pelan. Dia merasa kecil di tengah kerumunan ini. Di Jakarta dulu, dia terbiasa dengan kemacetan dan keramaian, tapi ini berbeda. Di sini, setiap orang tampak membawa rahasia—atau senjata.

Mereka berjalan keluar stasiun, melewati gerombolan pedagang kaki lima yang menjajakan makanan goreng, aksesoris Nen palsu, dan peta kota bawah tanah. Mira langsung menuju sebuah gang sempit di belakang stasiun, menjauh dari keramaian utama.

“Kita cari penginapan murah dulu,” katanya. “Lalu makan. Setelah itu, kita ke Heavens Arena. Kamu butuh latihan segera sebelum cahaya itu menarik perhatian yang salah.”

Mereka berjalan sekitar dua puluh menit, memasuki distrik yang lebih kumuh. Bangunan-bangunan di sini lebih rendah, catnya mengelupas, tapi jalanannya tetap ramai. Mira berhenti di depan sebuah penginapan kecil bernama “Moonlight Inn”—nama yang ironis mengingat bangunannya gelap dan lembab.

Pemiliknya adalah seorang wanita tua berambut abu-abu yang merokok cerutu tebal. Dia memandang mereka dari atas ke bawah.

“Dua kamar atau satu?” tanyanya dengan suara serak.

“Satu kamar dengan dua tempat tidur,” jawab Mira cepat. “Kami nggak punya banyak uang.”

Wanita itu mendengus. “Seratus jenny semalam. Bayar di muka.”

Mira mengeluarkan dompet kecil dari jaketnya—sisa uang dari hadiah kecil setelah ujian Hunter. Dia membayar tanpa tawar-menawar.

Kamarnya sempit: dua tempat tidur single, meja kecil, dan jendela yang menghadap gang belakang. Bau lembab dan asap rokok lama menempel di dinding.

Raito meletakkan tasnya di lantai. “Ini… rumah sementara kita ya?”

“Untuk seminggu dua minggu ke depan,” jawab Mira sambil membuka jendela. “Cukup buat kamu latih Nen dan cari uang. Heavens Arena bayar kalau kamu menang di lantai rendah. Mulai dari lantai 1 sampai 200, semakin tinggi semakin banyak jenny.”

Raito duduk di tepi tempat tidur. “Aku nggak yakin bisa menang. Aku bahkan nggak tahu cara pakai Nen dengan benar.”

Mira duduk di seberangnya. “Itu kenapa kita mulai dari dasar. Hari ini istirahat. Besok pagi kita ke arena. Aku akan jadi sparring partner-mu di luar arena dulu—supaya kamu nggak langsung mati di lantai pertama.”

Mereka keluar mencari makan. Di gang sebelah, ada warung mie goreng sederhana dengan kursi plastik. Mereka pesan dua porsi besar dengan telur mata sapi dan teh panas.

Saat makan, Raito memandang orang-orang yang lewat. Seorang pria berpakaian hitam dengan tato di leher berjalan cepat, membawa kotak besi terkunci. Di seberang jalan, dua anak muda berbisik sambil memandang ke arah mereka—mata mereka tajam, seperti sedang menilai.

“Kota ini penuh mata-mata,” kata Mira pelan. “Mafia, pemburu hadiah, pedagang gelap. Jangan bicara sembarangan tentang Nen-mu di depan orang asing.”

Raito mengangguk. “Kael bilang dia juga ke sini. Kamu pikir dia bakal muncul lagi?”

“Mungkin. Orang dari Meteor City sering ke Yorknew untuk urusan bisnis gelap. Kalau ketemu, jangan percaya dia sepenuhnya. Dia mungkin teman, mungkin musuh—tergantung situasi.”

Setelah makan, mereka kembali ke penginapan. Mira langsung tidur, tubuhnya terbiasa istirahat singkat. Raito tidak bisa tidur. Dia duduk di jendela, memandang langit Yorknew yang mulai gelap karena asap pabrik dan lampu neon.

Dia coba latihan lagi. Duduk bersila di lantai, mata tertutup, fokus ke dada. Aliran hangat itu muncul lebih mudah sekarang. Dia bayangkan cahaya mengalir ke lengan, ke tangan. Kali ini, bola cahaya kecil muncul lagi—seukuran telapak tangan, berpendar pelan seperti lampu senter redup.

Raito membuka mata. Cahaya itu tetap ada. Dia gerakkan tangan perlahan—cahaya ikut bergerak, mengikuti telapaknya seperti bola energi kecil.

“Inner Light…” gumamnya.

Dia coba lebih jauh. Bayangkan cahaya itu memanjang jadi sinar tipis. Cahaya merespons—menjadi garis tipis sepanjang lengan, ujungnya menyala lebih terang. Tapi tiba-tiba, kepalanya pusing. Cahaya padam seketika, dan Raito terjatuh ke samping, napas tersengal.

“Terlalu cepat…” desahnya.

Dia sadar: Nen bukan mainan. Menggunakan terlalu banyak aura tanpa kontrol bisa menguras tubuh, bahkan membahayakan nyawa.

Malam itu, dia tidur dengan mimpi aneh. Dia melihat kilatan putih lagi—bukan kecelakaan motor, tapi seperti portal yang terbuka di langit. Di dalam portal itu, ada kegelapan yang hidup, dan di tengahnya, sesosok bayangan besar dengan mata merah. Bayangan itu berbisik:

“Kau dibawa untuk menyeimbangkan. Cahaya di kegelapan. Jangan padam.”

Raito terbangun berkeringat dingin. Jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Mira masih tidur lelap.

Dia bangun, minum air dari botol, lalu kembali duduk di jendela. Kota di luar masih hidup—lampu neon berkedip, suara mobil lewat, jeritan jauh yang mungkin perkelahian atau pesta.

Raito mengepal tangan. Mimpi itu terasa terlalu nyata. “Menyeimbangkan apa? Kegelapan apa?”

Dia tidak tahu jawabannya. Tapi satu hal pasti: dia tidak bisa kembali ke dunia lamanya kalau tidak kuat di sini.

Besok, Heavens Arena.

Besok, dia mulai belajar jadi “cahaya” yang lebih dari sekadar nama.

Pagi datang cepat. Mira membangunkannya dengan tepukan keras di bahu.

“Ayo. Sarapan dulu, lalu ke arena. Hari ini kamu mulai dari lantai satu. Jangan mati di pertarungan pertama.”

Raito tersenyum lemah. “Aku nggak janji menang. Tapi aku janji bertahan.”

Mira mengangguk. “Itu sudah cukup.”

Mereka keluar penginapan, berjalan menuju pusat kota. Heavens Arena menjulang di kejauhan—menara kaca dan baja setinggi ratusan meter, puncaknya menghilang di awan. Di depan pintu masuk, antrean panjang peserta baru sudah mengular.

Raito menatap menara itu dengan mata penuh tekad.

Ini bukan akhir perjalanan.

Ini baru permulaan.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!