NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 Kejadian di Pengadilan

Matahari sudah mulai menyinari atap gedung pengadilan Negeri Bandung ketika Rania tiba bersama Pak Haryanto dan dua orang teman dekatnya yang telah bersedia menjadi saksi dalam proses hukum ini. Ia mengenakan jas hitam yang rapi dengan kemeja putih bersih, wajahnya tampak tenang namun penuh dengan tekad yang tak tergoyahkan. Meski malam sebelumnya ia hanya bisa tidur sebentar akibat kegelisahan yang masih mengganggunya, namun Rania telah siap menghadapi babak baru dalam perjuangannya—mengajukan gugatan perceraian kepada Arga dan mengungkapkan semua pengkhianatan yang telah dilakukan pasangannya selama ini.

“Apakah Anda sudah siap, Bu Rania?” tanya Pak Haryanto sambil menyejajarkan tas kulit yang berisi semua bukti yang telah disusun dengan rapi. “Kita telah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Semua bukti yang Anda kumpulkan akan menjadi dasar kuat untuk mendapatkan hak yang layak.”

Rania mengangguk perlahan, matanya menatap pintu masuk gedung pengadilan. “Aku sudah siap, Pak. Sudah saatnya semua kebenaran terungkap dan Arga harus menerima konsekuensi dari perbuatannya sendiri.”

Sebelum memasuki gedung, mereka berhenti sebentar di halaman. Rania melihat sekeliling dan menyadari bahwa beberapa wartawan telah mulai berkumpul di area tersebut. Tentu saja, kasus perceraian antara pemilik perusahaan besar dan suaminya yang diduga telah berselingkuh serta mencoba mengambil alih aset akan menjadi berita yang menarik perhatian publik. Namun Rania tidak peduli—ia tahu bahwa kebenaran harus diketahui oleh semua orang, terutama agar tidak ada orang lain yang akan menjadi korban khianatan Arga dan Maya.

Setelah melalui pemeriksaan keamanan, Rania dan timnya memasuki ruang sidang yang telah ditentukan. Ruangan tersebut tidak terlalu besar namun terasa resmi dengan warna dinding putih bersih dan kursi kayu yang terawat baik. Di bagian depan terdapat meja hakim yang dikelilingi oleh bendera Republik Indonesia dan simbol kehakiman negara. Rania memilih tempat duduk di sebelah kanan meja pengacara, sambil menunggu kedatangan Arga dan pengacaranya.

Tak lama kemudian, suara alas kaki kulit yang keras terdengar dari arah pintu. Arga masuk bersama seorang pengacara muda yang mengenakan jas coklat tua, wajahnya memerah karena kemarahan yang jelas terlihat di wajahnya. Ketika matanya menyadari keberadaan Rania, ekspresinya menjadi semakin memerah dan tatapannya penuh dengan dendam. Ia langsung berjalan ke sisi lain meja dan duduk dengan posisi yang menghadap Rania.

“Bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti ini, Rania?” bisik Arga dengan suara yang penuh dengan kemarahan, mencoba untuk tidak terlalu keras agar tidak mengganggu ketertiban di ruang sidang. “Kita sudah hidup bersama selama lima tahun, dan kamu justru memilih untuk menghujani aku dengan tuduhan-tuduhan bohong di depan pengadilan?”

Rania tidak menjawabnya langsung. Ia hanya menatap Arga dengan pandangan yang dingin namun penuh dengan kesedihan yang dalam. “Semua yang akan kita sampaikan di sini bukanlah tuduhan bohong, Arga. Semuanya adalah kebenaran yang telah kami buktikan dengan dokumen dan bukti yang sah.”

Pada saat itu, hakim dan panitera mulai memasuki ruang sidang. Seluruh orang di dalam ruangan langsung berdiri sebagai tanda penghormatan. Setelah hakim duduk dan memberikan izin untuk duduk kembali, proses persidangan resmi dimulai.

Pak Haryanto berdiri dan memulai pembacaan surat gugatan perceraian yang telah disiapkan dengan cermat. Dalam surat tersebut, ia menyampaikan segala tuntutan Rania, antara lain permintaan perceraian berdasarkan alasan khianatan suami, pengembalian hak kepemilikan perusahaan dan aset-aset yang hampir dirampok, serta tuntutan ganti rugi karena kerugian materi dan psikis yang telah dialami Rania.

Setelah itu, Pak Haryanto mulai menyerahkan satu per satu bukti yang telah dikumpulkan Rania selama ini. Ia menunjukkan riwayat percakapan pesan antara Arga dan Maya, bukti transfer uang ke rekening keluarga Maya, foto-foto dan unggahan media sosial yang menunjukkan hubungan mereka, rekaman CCTV dari rumah makan, kesaksian dari karyawan, surat kuasa palsu yang dibuat Arga, catatan medis Maya, bukti sewa rumah kontrakan, serta bukti transaksi untuk mendirikan perusahaan pesaing.

Setiap bukti yang disampaikan membuat wajah Arga semakin memerah dan tangannya menggenggam kursinya dengan sangat erat. Ketika Pak Haryanto menunjukkan surat kuasa palsu beserta bukti bahwa tanda tangan pada dokumen tersebut adalah hasil tiruan, Arga akhirnya tidak bisa menahannya lagi.

“Itu bohong!” teriak Arga dengan suara yang keras, membuat seluruh orang di ruang sidang terkejut. “Saya tidak pernah membuat surat kuasa palsu! Semua ini adalah rekayasa yang dibuat oleh Rania untuk menjatuhkan saya!”

Hakim segera mengetuk palu kehakiman untuk mengembalikan ketertiban. “Silakan tenang, Bapak Arga. Jika Anda ingin menyampaikan argumen atau penolakan, silakan melalui pengacara Anda. Kami tidak akan mengizinkan teriakan atau gangguan dalam proses persidangan ini.”

Pengacara Arga segera berdiri dan meminta maaf atas perilaku kliennya. Ia kemudian mulai mencoba membantah setiap bukti yang disampaikan oleh Pak Haryanto. Ia menyatakan bahwa percakapan pesan bisa saja telah dimanipulasi, transfer uang adalah untuk keperluan perusahaan, foto-foto hanya berteman biasa, dan surat kuasa tersebut adalah asli dengan tanda tangan yang sah dari Rania.

Namun Pak Haryanto telah siap menghadapi setiap argumen penolakan tersebut. Ia menunjukkan hasil pemeriksaan forensik terhadap perangkat elektronik Arga dan Maya yang membuktikan bahwa percakapan pesan tersebut asli dan tidak pernah dimanipulasi. Ia juga menyajikan bukti bahwa uang yang ditransfer tidak digunakan untuk keperluan perusahaan melainkan untuk kebutuhan pribadi Maya dan keluarganya, bahkan untuk mendirikan perusahaan baru mereka.

Untuk membantah klaim tentang surat kuasa palsu, Pak Haryanto menyampaikan hasil pemeriksaan ahli dokumen yang menyatakan bahwa tanda tangan pada surat kuasa tersebut jelas berbeda dengan tanda tangan asli Rania yang tercatat dalam berbagai dokumen resmi perusahaan dan pemerintah. Notaris Hasan juga kemudian maju sebagai saksi dan menyampaikan bagaimana ia merasa ada yang tidak beres saat Arga datang dengan surat kuasa tersebut dan bagaimana ia akhirnya menolak untuk melakukan perubahan pada dokumen kepemilikan.

“Saya telah bekerja sebagai notaris selama lebih dari dua puluh tahun, Bapak Hakim,” ucap Notaris Hasan dengan suara yang tegas dan jelas. “Saya mengenal tanda tangan Bu Rania dengan baik karena telah menangani banyak dokumen untuknya selama ini. Ketika Bapak Arga datang dengan surat kuasa tersebut, saya langsung merasa bahwa tanda tangannya tidak sesuai dengan yang saya kenal. Saya bahkan telah menyarankan kepada Bapak Arga untuk datang bersama Bu Rania, namun ia tidak pernah melakukannya.”

Setelah Notaris Hasan selesai memberikan kesaksiannya, pemilik rumah kontrakan Maya juga maju sebagai saksi. Ia menyampaikan bagaimana Maya menyewa rumah tersebut enam bulan yang lalu dan bagaimana seorang pria yang ternyata adalah Arga selalu datang mengunjunginya setiap malam. Ia juga menunjukkan bukti pembayaran sewa yang berasal dari rekening yang sama dengan salah satu rekening yang menerima transfer uang dari perusahaan Rania.

“Saya tidak ingin bersaksi karena ingin merusak seseorang, Bapak Hakim,” ucapnya dengan suara yang lembut namun jelas. “Namun saya merasa bahwa kebenaran harus ditegakkan. Saya melihat sendiri bagaimana Bapak Arga datang ke rumah kontrakan tersebut setiap malam dan pergi pada pagi hari. Saya bahkan pernah melihat mereka bersama-sama di dalam rumah melalui jendela yang tidak tertutup rapat.”

Setelah semua saksi selesai memberikan kesaksiannya, hakim meminta pengacara Arga untuk menyampaikan argumen akhir mereka. Namun pengacara tersebut tampak sudah tidak terlalu yakin dengan kasus yang dihadapinya. Ia hanya bisa menyampaikan bahwa kliennya menolak semua tuduhan dan berharap pengadilan dapat memberikan putusan yang adil.

Sebelum mengakhiri sidang tersebut, hakim memberikan kesempatan kepada kedua pihak untuk menyampaikan kata-kata terakhir mereka. Arga berdiri dengan wajah yang penuh dengan kemarahan dan rasa tidak terima.

“Saya tidak pernah berselingkuh dengan Maya, dan saya tidak pernah mencoba mengambil alih perusahaan atau aset Rania,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Semua ini adalah fitnah yang dibuat oleh Rania karena dia telah jatuh cinta dengan orang lain dan ingin menceraikan saya dengan cara yang paling memalukan. Saya berharap pengadilan bisa melihat kebenaran dan tidak terpengaruh oleh bukti-bukti palsu yang dia sajikan.”

Rania kemudian berdiri. Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. Wajahnya tampak tenang namun penuh dengan emosi yang mendalam.

“Saya tidak pernah menginginkan hal ini terjadi, Bapak Hakim,” ucap Rania dengan suara yang jelas dan mantap. “Saya mencintai Arga dengan tulus dan telah melakukan segala yang saya bisa untuk menjaga rumah tangga dan perusahaan kita bersama-sama. Namun ketika saya menemukan khianatannya, saya tidak bisa hanya diam dan membiarkan dia merusak apa yang telah kita bangun bersama—bahkan mencoba mengambilnya dengan cara yang tidak sah.”

Ia menatap langsung ke arah Arga sambil melanjutkan pembicaraannya. “Saya tidak membuat fitnah atau rekayasa bukti, Arga. Semua yang telah disampaikan di sini adalah kebenaran yang tidak bisa Anda pungkiri lagi. Saya hanya ingin mendapatkan perceraian yang sah, mengambil kembali hak saya atas perusahaan dan aset saya, serta memastikan bahwa Anda tidak akan pernah lagi bisa melakukan hal yang sama kepada orang lain. Saya berharap Anda bisa akhirnya menyadari kesalahan Anda dan menerima konsekuensinya dengan lapang dada.”

Setelah Rania selesai berbicara, hakim mengumumkan bahwa pengadilan akan mempertimbangkan semua bukti dan kesaksian yang telah disampaikan sebelum mengeluarkan putusan resmi. Sidang tersebut kemudian dihentikan sementara, dan semua pihak diminta untuk menunggu pemberitahuan tentang jadwal sidang berikutnya.

Setelah keluar dari ruang sidang, Arga langsung mendekati Rania dengan wajah yang masih penuh dengan kemarahan. “Kau akan menyesal melakukan ini, Rania!” ucapnya dengan suara yang rendah namun penuh dengan ancaman. “Saya tidak akan menyerah begitu saja. Saya akan mencari cara untuk membuktikan bahwa semua ini adalah kebohongan!”

Rania tidak terpengaruh oleh ancaman tersebut. Ia hanya menatap Arga dengan pandangan yang dingin. “Anda bisa melakukan apa saja yang Anda inginkan, Arga. Namun saya tahu bahwa kebenaran akan selalu menang. Saya berharap suatu hari nanti Anda bisa menyadari bahwa apa yang Anda lakukan adalah salah dan bisa meminta maaf atas semua yang telah Anda lakukan kepada saya.”

Pak Haryanto kemudian menghampiri mereka dan menyatakan bahwa tidak ada gunanya untuk melanjutkan pembicaraan yang tidak produktif. Ia mengajak Rania untuk segera meninggalkan gedung pengadilan bersama teman-temannya. Saat mereka berjalan menjauh, Rania merasakan rasa lega yang luar biasa menghangatkan hatinya. Meskipun perjuangan belum selesai dan ia masih harus menunggu putusan pengadilan, namun setidaknya ia telah memiliki keberanian untuk mengungkapkan semua kebenaran dan mengambil langkah pertama menuju kehidupan baru yang lebih baik.

Di luar gedung pengadilan, hujan mulai turun lagi dengan lembut, menyegarkan udara yang panas di kota Bandung. Rania melihat ke arah langit yang berkabut dan merasakan bahwa setelah hujan berlalu, pasti akan ada pelangi yang muncul untuk menerangi jalan kehidupannya ke depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!