Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Tamu Siang Bolong dan Kotak Hitam
Siang itu Yogyakarta sedang panas-panasnya. Matahari bersinar terik tepat di atas kepala, membuat aspal jalanan menguap dan bayangan benda-benda menghilang ditelan tubuhnya sendiri. Istilah orang Jawa menyebutnya tengange—waktu di mana matahari berada di titik kulminasi, waktu yang dipercaya rawan gangguan makhluk halus meski hari terang benderang.
Alya sedang menyapu halaman depan rumah Joglo dengan sapu lidi kasar. Debu dan daun kering beterbangan setiap kali sapunya mengayun. Keringat membasahi kaos barunya, tapi Alya tidak keberatan. Aktivitas fisik ini membuatnya merasa berguna. Itu jauh lebih baik daripada meringkuk di kamar meratapi nasib.
Rumah Joglo milik Seno ini memiliki aura yang aneh. Di luar pagar, suara motor dan hiruk pikuk pasar terdengar bising. Tapi begitu melewati pagar kayu, suaranya teredam, seolah ada dinding kaca tak kasat mata yang menyelimuti properti ini. Udaranya pun selalu lebih sejuk dua atau tiga derajat dibanding suhu di jalanan.
"Rumah ini hidup," gumam Alya, menatap ukiran naga di tiang pendopo yang seolah mengedipkan mata padanya.
Seno sedang pergi ke pasar hewan di Pasty (Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta). Katanya dia butuh mencari "jangkrik yang tidak pernah mengerik" untuk resep malam ini. Alya ditinggal sendirian menjaga rumah.
Kreeek...
Suara engsel pagar yang berkarat memecah keheningan siang.
Alya menghentikan sapuannya. Dia menoleh ke arah gerbang.
Jantungnya berdegup kencang. Seno membawa kunci gembok pagar. Seharusnya pagar itu terkunci. Bagaimana bisa terbuka?
Di sana, berdiri seorang pria.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu, pakaian yang sangat tidak masuk akal untuk cuaca tropis 34 derajat Celcius. Dia juga memakai topi fedora hitam dan memegang sebuah payung hitam besar yang melindunginya dari sinar matahari.
Wajahnya... licin. Terlalu licin. Seperti manekin toko baju yang diberi nyawa. Kulitnya putih pucat, bibirnya merah merekah, dan matanya tertutup kacamata hitam bulat.
Pria itu tidak berkeringat sedikitpun. Dia berdiri tegak, kaku, dan tersenyum—senyum yang hanya melibatkan bibir, tapi tidak rahangnya.
"Permisi," suaranya halus, sopan, tapi membuat Alya merinding. Suaranya terdengar seperti gesekan kertas amplas halus. "Apakah ini kediaman Raden Mas Senopati?"
Alya mengerutkan kening. Raden Mas Senopati? Siapa itu?
"Maaf, Pak. Di sini yang tinggal Pak Seno. Mungkin Bapak salah alamat?" jawab Alya, memegang gagang sapu lidinya erat-erat seperti senjata.
Pria itu tertawa pelan. "Ah, Seno. Nama yang sederhana untuk seseorang yang pernah memegang pusaka keraton. Benar, ini rumahnya. Saya bisa mencium bau... penyesalan yang pekat dari kayu-kayu rumah ini."
Pria itu melangkah masuk melewati batas pagar.
Begitu kakinya menyentuh tanah halaman, angin kencang tiba-tiba bertiup dari arah pendopo. Daun-daun kering berputar liar di sekitar kaki pria itu, seolah alam menolaknya.
Pria itu berhenti. Dia melihat ke sekeliling dengan tatapan meremehkan.
"Pagar gaibnya masih kuat rupanya. Wengker (pagar mistis) buatan Kyai Ageng. Menarik."
Alya mundur selangkah. Instingnya berteriak: Bahaya. Lari.
Tapi ini rumah Seno. Rumah yang memberinya tumpangan. Dia tidak boleh membiarkan orang asing aneh ini masuk sembarangan.
"Bapak siapa? Ada perlu apa?" tanya Alya memberanikan diri. "Pak Seno sedang tidak ada di rumah."
Pria itu menatap Alya dari balik kacamata hitamnya. Alya bisa merasakan tatapan itu menelanjangi jiwanya, menilai kualitas nyawanya.
"Ah... kau pasti 'Si Anak Hilang'. Gadis yang mencoba lari dari takdir, tapi malah tersesat ke sarang hantu. Manis sekali."
Pria itu merogoh saku jasnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam legam, terbuat dari kayu eboni. Kotak itu diikat dengan pita merah darah.
"Saya tidak punya banyak waktu. Matahari ini... menjijikkan," kata pria itu sambil melirik langit dengan jijik. "Tolong sampaikan titipan ini pada Tuan Seno. Katakan padanya: Tenggat waktunya sudah dekat. Bulan purnama depan adalah pembayaran terakhir."
Pria itu melemparkan kotak hitam itu ke arah Alya.
Alya refleks menangkapnya.
HAP.
Saat kulit tangannya bersentuhan dengan kotak itu, Alya memekik tertahan.
"Akh!"
Kotak itu dingin. Sangat dingin. Seperti memegang balok es kering (dry ice). Rasa dingin itu menusuk kulit, membakar saraf-saraf di telapak tangannya.
Alya nyaris menjatuhkannya, tapi dia menahannya.
"Anak pintar," puji pria itu. "Jangan dibuka. Itu bukan untuk matamu."
Pria itu berbalik badan dengan gerakan kaku seperti robot. Dia berjalan keluar pagar.
"Sampai jumpa, Gadis Kecil. Nikmati sisa waktumu yang singkat."
Pria itu menutup pagar kembali. Dan saat Alya berkedip, pria itu sudah lenyap. Tidak ada suara motor, tidak ada jejak kaki. Jalanan di luar pagar kembali bising dan normal, seolah pria berjas hitam itu hanya halusinasi akibat heatstroke.
Alya berdiri gemetar di tengah halaman, memegang kotak kayu yang membekukan tangannya.
Satu jam kemudian, Seno pulang.
Dia membawa keranjang bambu kecil berisi jangkrik. Wajahnya terlihat cerah, sepertinya dia mendapatkan bahan yang bagus.
Namun, senyum Seno lenyap seketika saat melihat Alya duduk di undakan pendopo, wajahnya pucat, memandangi sebuah kotak hitam di meja.
Seno menjatuhkan keranjangnya.
Brak!
Dia berlari menghampiri meja. Matanya terbelalak horor saat melihat pita merah darah yang mengikat kotak itu.
Dia menatap Alya, memeriksa apakah gadis itu terluka. Dia melihat telapak tangan Alya yang memerah seperti radang dingin (frostbite).
Seno marah. Bukan pada Alya, tapi pada situasi. Napasnya memburu. Dia segera berlari ke dalam rumah, mengambil toples berisi minyak hangat (minyak kelapa hijau yang direndam bunga kantil).
Dia mengoleskan minyak itu ke tangan Alya dengan lembut.
Rasa perih dingin di tangan Alya perlahan menghilang, digantikan rasa hangat yang nyaman.
"Pak..." Alya berbisik. "Orang itu... dia tahu nama Bapak. Dia bilang 'Raden Mas Senopati'. Dia bilang... tenggat waktunya bulan purnama depan."
Tubuh Seno menegang mendengar nama lamanya disebut.
Dia mengambil kotak hitam itu. Dia tidak memegangnya langsung, melainkan melapisinya dengan kain serbet.
Seno membawa kotak itu ke halaman belakang, ke tempat pembakaran sampah.
Dia meletakkannya di tanah. Dia menyiramnya dengan minyak tanah.
Dia menyalakan api.
Namun, kotak itu tidak terbakar.
Api menjilat-jilat di sekelilingnya, tapi kayu eboni itu tetap utuh. Pita merahnya bahkan tidak hangus.
Seno menggeram tanpa suara. Dia tahu api biasa tidak akan mempan. Ini sihir hitam tingkat tinggi. Sihir dari Ordo Penagih Janji.
Seno kembali ke pendopo, mengambil papan tulisnya. Tangannya sedikit gemetar saat menulis.
KAMU TIDAK BOLEH MENERIMA TAMU ASING LAGI. SIAPAPUN ITU. BAHKAN KALAU DIA TERLIHAT SEPERTI MALAIKAT.
"Siapa dia, Pak?" tanya Alya mendesak. "Kenapa dia mengancam Bapak? Apa Bapak punya hutang?"
Seno menatap Alya. Dia ragu sejenak. Tapi melihat tangan Alya yang terluka karena ulah tamunya, Seno merasa berhutang penjelasan. Setidaknya sedikit.
Seno menghapus tulisannya, lalu menulis lagi dengan perlahan.
DIA ADALAH UTUSAN DARI 'SANG PENAGIH'. DULU, SAYA MEMBUAT PERJANJIAN UNTUK MENYELAMATKAN SESEORANG. SAYA MENUKAR SUARA SAYA DAN KEBEBASAN SAYA UNTUK NYAWA ORANG ITU.
Alya membaca tulisan itu. "Wanita di foto itu?" tebak Alya.
Seno tersentak. Dia menatap Alya tajam. Bagaimana Alya tahu tentang foto itu? Ah, benar. Alya sempat masuk ke ruang kerjanya kemarin.
Seno mengangguk pelan, mengakui.
SAYA DIBERI WAKTU 50 TAHUN UNTUK MELAYANI ARWAH SEBAGAI HUKUMAN. TAPI MEREKA SERAKAH. MEREKA INGIN MENGAMBIL SISA NYAWA SAYA SEBELUM WAKTUNYA HABIS.
"Bulan purnama depan..." gumam Alya. "Itu artinya dua minggu lagi."
Seno mengangguk suram.
Jika dia gagal memenuhi kuota pelayanan—atau jika Sang Penagih memutuskan untuk melanggar kontrak—Seno akan diseret ke neraka lapis ketujuh, dan Warung Tengah Malam akan hancur. Dan siapa saja yang ada di dekatnya, termasuk Alya, akan ikut terseret.
SAYA AKAN MENGANTARMU PULANG BESOK. DI SINI SUDAH TIDAK AMAN. tulis Seno.
Alya membaca kalimat pengusiran itu. Hatinya mencelos. Pulang? Ke rumah neraka itu?
Alya menggeleng keras. "Nggak! Saya nggak mau pulang! Bapak sendiri yang bilang di papan tulis kemarin: 'Kamu mau pulang atau kamu juga lupa jalan?'. Saya lupa jalan, Pak! Saya nggak punya tempat lain!"
Seno menatap gadis keras kepala itu. Dia ingin menyelamatkan Alya, tapi mengusirnya justru akan membuat gadis itu kembali ingin bunuh diri. Itu sama saja membunuhnya.
Alya berdiri tegak, menantang tatapan Seno.
"Bapak butuh asisten. Bapak nggak bisa ngurusin hantu sambil ngelawan orang jahat itu sendirian. Saya bisa bantu. Saya... saya bisa lempar garem! Saya bisa cuci piring! Saya bisa ngiris bawang!"
Seno menatap Alya lama. Dia melihat api kecil di mata gadis itu. Api kehidupan yang kemarin nyaris padam, kini menyala karena rasa marah dan keinginan untuk melindungi.
Seno menghela napas panjang. Dia kalah.
Dia menghapus papan tulisnya.
BAIKLAH. TAPI LATIHAN MALAM INI AKAN LEBIH KERAS. KITA AKAN KEDATANGAN TAMU 'VIP'.
"VIP?" tanya Alya. "Presiden hantu?"
BUKAN. RAJA MATARAM KUNO YANG KEPALANYA HILANG SAAT PERANG. DIA SANGAT PEMILIH SOAL MAKANAN.
Alya menelan ludah. Kepala hilang?
"Oke. Sip. Nggak masalah. Selama nggak bawa kotak hitam lagi."
Seno tersenyum tipis, tapi matanya tetap waspada. Dia melihat ke arah kotak hitam yang masih tergeletak utuh di tengah sisa pembakaran sampah di belakang.
Kotak itu bergetar sedikit, seolah menertawakan usaha mereka.
Malam nanti, Warung Tengah Malam tidak hanya akan menyajikan makanan. Mereka harus menyajikan pertahanan.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.