NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Bayangan

Lampu indikator lift berdenting satu kali, suara yang terdengar begitu nyaring di tengah keheningan lorong lantai dasar RSU Cakra Buana. Pintu logam itu terbuka perlahan, menampakkan Elara Senja dan Pak Darto yang terengah-engah dengan pakaian kotor oleh debu dan noda tanah dari lantai bawah tanah. Mereka tidak disambut oleh kesibukan rumah sakit seperti biasanya, melainkan oleh kehampaan yang mencekam dan lampu koridor yang berkedip tidak stabil.

"Tunggu," bisik Pak Darto tajam, tangannya yang keriput namun kuat menahan bahu Elara agar tidak melangkah keluar sembarangan. Pria tua itu memicingkan mata, menatap ke arah lobi utama yang kini tampak seperti mulut gua raksasa yang sepi. "Sesuatu tidak beres, Neng. Jam segini seharusnya jam besuk sore, tapi lihatlah, tidak ada satu pun perawat atau pengunjung yang terlihat."

Elara mengangguk pelan, matanya menyapu sekeliling dengan waspada, menyadari bahwa firasat buruknya terbukti benar. Udara di lantai dasar ini terasa berbeda dari biasanya, lebih berat dan membawa aroma ozon yang menyengat, seolah-olah badai sedang berkecamuk tepat di dalam gedung. Di kejauhan, pintu kaca otomatis menuju area parkir tampak tertutup rapat oleh teralis besi pengaman yang biasanya hanya diturunkan saat kerusuhan besar.

"Mereka mengunci kita di dalam," gumam Elara dengan suara bergetar, menyadari bahwa Dr. Arisandi tidak main-main dalam usahanya menutupi apa yang terjadi di bawah sana. Ia meremas tali tas selempangnya, merasakan dingin yang merambat dari ujung jari hingga ke tulang punggungnya. "Pak Darto, apakah ada jalan keluar lain? Kita tidak mungkin mendobrak pintu utama tanpa ketahuan."

Pak Darto menarik napas panjang, wajahnya yang penuh gurat lelah tampak berpikir keras mengingat denah bangunan tua ini. "Ada pintu akses logistik di sayap barat, dekat dapur lama yang sudah tidak terpakai sejak renovasi tahun sembilan puluhan. Itu jalur tikus yang sering saya pakai kalau mau merokok sembunyi-sembunyi, tapi kita harus melewati pos jaga keamanan internal."

Mereka baru saja hendak bergerak menyusuri dinding koridor ketika suara langkah kaki berat terdengar menggema dari arah persimpangan lorong. Elara segera menarik Pak Darto untuk bersembunyi di balik lemari kaca besar yang berisi peralatan medis kedaluwarsa, jantungnya berdegup kencang seirama dengan kedipan lampu neon di atas kepala. Dua orang pria berseragam taktis hitam melintas dengan senjata laras panjang tersandang di dada, wajah mereka tertutup masker gas.

"Area A-1 steril, tapi sensor suhu menunjukkan anomali di sektor selatan," terdengar suara statis dari radio komunikasi salah satu penjaga itu. "Arisandi bilang target mungkin sudah naik ke permukaan. Tembak di tempat jika melawan, prioritas adalah mengamankan aset data yang mereka bawa."

Elara membekap mulutnya sendiri, menahan pekikan ngeri yang nyaris lolos saat menyadari bahwa nyawa mereka kini dihargai lebih murah daripada rahasia busuk rumah sakit ini. Pak Darto memberi isyarat mata untuk tetap tenang, lalu menunjuk ke arah ventilasi langit-langit yang sedikit terbuka di ujung lorong, namun jaraknya terlalu jauh untuk dijangkau tanpa terlihat.

"Kita tidak bisa menunggu di sini selamanya," bisik Pak Darto nyaris tanpa suara, matanya menatap tajam ke arah bayangan para penjaga yang mulai menjauh. "Saat saya beri aba-aba, lari sekencang mungkin ke arah lorong Radiologi. Di sana ada tangga darurat manual yang tembus ke area dapur."

Namun, sebelum mereka sempat bergerak, suhu di koridor itu mendadak turun drastis hingga embusan napas mereka berubah menjadi uap putih di udara. Lampu-lampu neon yang tadinya hanya berkedip kini mulai meletup satu per satu, memuntahkan percikan api kecil yang menghujani lantai keramik. Kegelapan mulai merayap dari sudut-sudut ruangan, bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan kegelapan fisik yang pekat dan bergerak seperti cairan tinta.

"Mereka ikut naik..." desis Elara horor, matanya terbelalak melihat noda hitam yang merembes dari celah-celah ubin lantai, persis seperti jamur hitam yang ia lihat di Basement Level 4. Entitas itu tidak lagi terkurung di bawah tanah; kekacauan yang dipicu oleh eksperimen Arisandi telah merobek batas tipis antara dimensi, membiarkan penghuni bawah tanah merayap naik mencari mangsa baru.

Para penjaga bayaran itu berhenti mendadak, senjata mereka terarah ke segala penjuru dengan panik saat suara bisikan-bisikan ganjil mulai memenuhi udara. Salah satu penjaga berteriak ketika bayangan di dinding tiba-tiba memanjang dan mencengkeram kakinya, menariknya jatuh dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Suara tulang patah terdengar mengerikan, diikuti oleh tembakan membabi buta yang hanya mengenai dinding kosong.

"Sekarang! Lari!" teriak Pak Darto, memanfaatkan kekacauan supranatural itu sebagai pengalih perhatian yang sempurna. Elara tidak membuang waktu sedetik pun, kakinya memacu langkah secepat kilat melewati kekacauan itu, mengabaikan teriakan-teriakan putus asa dari para penjaga yang kini sibuk bertarung melawan musuh yang tidak bisa ditembak peluru.

Mereka berlari menyusuri lorong Radiologi yang remang-remang, napas mereka memburu di tengah udara yang semakin dingin dan berbau amis darah. Di dinding-dinding kaca ruang tunggu, Elara bisa melihat pantulan wajah-wajah pucat yang menatap mereka dengan mata kosong, para penunggu rumah sakit yang terusik oleh energi negatif yang meluap. RSU Cakra Buana bukan lagi tempat penyembuhan, melainkan sebuah perangkap kematian raksasa.

"Lewat sini, Neng!" Pak Darto menendang pintu ganda berwarna hijau pudar yang memisahkan area medis dengan area servis. Di balik pintu itu, lorong terlihat lebih kotor dan sempit, dengan pipa-pipa berkarat yang menggantung rendah di langit-langit. Ini adalah bagian dari bangunan kolonial asli yang belum tersentuh modernisasi, sisa-sisa sejarah kelam Kota Arcapura.

Saat mereka hampir mencapai ujung lorong, sesosok tubuh tegap menghadang di depan pintu keluar besi. Itu bukan hantu maupun monster, melainkan Dr. Arisandi sendiri, berdiri dengan tenang sambil memegang pistol peredam suara. Jas putih dokternya tampak kontras dengan pistol hitam legam di tangannya, dan wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun, hanya kekecewaan dingin seorang ilmuwan yang eksperimennya diganggu.

"Saya kecewa, Pak Darto. Saya pikir loyalitas Bapak pada institusi ini lebih besar daripada sekadar rasa takut," ucap Arisandi datar, moncong pistolnya terarah lurus ke dada Elara. "Dan kau, Nona Elara. Kau tidak mengerti bahwa apa yang kami lakukan di bawah sana adalah untuk kebaikan umat manusia. Pengorbanan kecil untuk menaklukkan kematian itu sendiri."

"Kebaikan manusia?" Elara mendesis marah, keberaniannya muncul dari rasa muak yang mendalam. "Anda membunuh orang-orang itu! Anda menjadikan mereka umpan bagi sesuatu yang bahkan tidak bisa Anda kendalikan! Lihat sekeliling Anda, Dokter! Rumah sakit ini sedang dimakan hidup-hidup oleh ambisi gila Anda!"

Arisandi tertawa kecil, suara yang terdengar sumbang di telinga. "Sains selalu butuh tumbal. Berikan data yang kau ambil dari lab bawah tanah itu, dan mungkin aku akan membiarkanmu mati dengan cepat tanpa rasa sakit."

Pak Darto melirik ke arah panel listrik tua yang berada tepat di samping bahu Arisandi, sebuah kotak sekering besar yang sudah berkarat dan mengeluarkan dengungan berbahaya. Pria tua itu menatap Elara sekilas, sebuah tatapan perpisahan yang membuat hati Elara mencelos. Tanpa peringatan, Pak Darto melempar senter logam berat yang dipegangnya sekuat tenaga, bukan ke arah Arisandi, melainkan menghantam kotak sekering yang terbuka itu.

Ledakan bunga api menyilaukan meletup seketika, disertai suara letupan listrik tegangan tinggi yang memekakkan telinga. Arisandi terhuyung mundur sambil melindungi matanya, kehilangan keseimbangan sesaat. "Lari, Elara! Keluar dari sini!" raung Pak Darto sambil menerjang ke arah dokter gila itu, menggunakan sisa tenaganya untuk bergulat memperebutkan senjata.

Elara ragu sejenak, air mata menggenang di pelupuk matanya, namun ia tahu pengorbanan Pak Darto akan sia-sia jika ia tertangkap. Ia menendang pintu besi di hadapannya dengan sekuat tenaga, kunci grendel yang sudah tua itu patah dengan suara keras. Angin malam yang basah langsung menerpa wajahnya, membawa aroma hujan tropis yang segar namun dingin.

Ia berhamburan keluar ke pelataran belakang rumah sakit, disambut oleh hujan deras yang mengguyur Kota Arcapura. Langit malam berwarna ungu kelabu, diterangi oleh kilat yang menyambar di kejauhan pegunungan karst. Elara tidak berhenti berlari, kakinya mencipratkan genangan air berlumpur saat ia menjauh dari bangunan kolonial yang kini tampak seperti kastil hantu di tengah badai.

Di belakangnya, suara tembakan terdengar satu kali, diikuti oleh keheningan yang ditelan suara hujan. Elara terisak pelan namun terus memacu langkahnya menuju jalan raya, menyatu dengan bayang-bayang kota yang basah. Ia berhasil lolos, tapi mimpi buruk ini baru saja dimulai. Sesuatu telah terlepas di RSU Cakra Buana, dan malam di Arcapura tidak akan pernah sama lagi.

1
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!