NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: MAYA BERGABUNG

#

Mereka pindah ke hideout rahasia Maya. Apartemen kecil di lantai lima bangunan tua. Cat dinding mengelupas. Atap bocor di beberapa tempat. Tapi di dalam... penuh dengan peralatan canggih.

Tiga monitor besar di meja panjang. Laptop di mana-mana. Kabel berserakan. Server kecil di sudut ruangan yang bunyi dengungnya kayak lebah.

"Ini... tempat lu?" tanya Bayu sambil lihat sekeliling.

Maya nutup pintu. Kunci tiga kali. "Tempat kerja gue. Rumah gue juga sih."

Dia jalan ke kulkas mini. Ambil dua kaleng kopi dingin. Lempar satu ke Bayu.

Bayu tangkap. Buka. Minum. Dingin. Pahit. Tapi enak.

"Lu tinggal sendirian?"

Maya duduk di kursi putar depan komputer. "Udah lima tahun. Sejak ortu gue meninggal."

"Maaf..."

Maya mengangkat bahu. "Biasa. Kecelakaan. Mobil tabrak truk. Langsung mati. Gue masih SMA waktu itu."

Suaranya datar. Tapi matanya... sedih.

"Terus lu hidup dari... ngehack?"

Maya tersenyum tipis. "Iya. Awalnya buat bayar kontrakan. Terus buat makan. Terus... jadi kebiasaan."

Dia putar kursinya. Menatap Bayu.

"Gue pernah nawarin ke Kenzo. Duluu. Waktu dia masih... ya, dia."

Bayu duduk di sofa lusuh. "Dia nolak?"

Maya mengangguk. "Dia bilang terlalu berbahaya. Dia nggak mau nyeret gue. Dia bilang... gue terlalu berharga buat dia."

Air mata mulai keluar lagi.

"Bodoh. Dia pikir gue nggak kuat. Padahal gue... gue mau ngapa-ngapain buat dia."

Bayu terdiam. Merasakan memori Kenzo yang muncul lagi.

Kenzo dan Maya. Duduk di bangku taman. Malam. Dingin.

"Maya, jangan dekatin gue lagi. Keluarga gue... mereka berbahaya."

"Gue nggak takut!"

"Tapi gue takut. Takut lu kenapa-kenapa gara-gara gue."

"Kenzo..."

"Kumohon, Maya. Lupain gue. Cari teman lain. Hidup yang normal."

Maya nangis. "Gue nggak bisa lupain lu! Lu satu-satunya yang ngerti gue!"

"Maaf..."

Kenzo pergi. Meninggalkan Maya sendirian.

Dan mereka nggak pernah ketemu lagi.

Sampai... sekarang.

Bayu menatap Maya yang masih nangis pelan.

"Dia... dia cuma nggak mau lu kenapa-kenapa," kata Bayu pelan.

Maya mengusap air matanya. "Gue tau. Makanya... gue makin kesel. Dia selalu mikirin orang lain. Nggak pernah mikirin diri sendiri."

Dia berdiri. Jalan ke jendela. Menatap kota yang penuh lampu di kejauhan.

"Dan sekarang... dia mati. Tanpa tau... gue sayang sama dia."

Bayu berdiri. Jalan mendekat. "Lu... sayang sama Kenzo?"

Maya mengangguk pelan. "Lebih dari sayang. Gue... gue cinta sama dia. Dari SMP. Tapi gue nggak pernah bilang. Gue pengecut."

Suaranya bergetar.

"Dan sekarang... terlambat."

Hening.

Cuma suara server yang dengung pelan.

Bayu merasakan sesuatu di dadanya. Rasa sakit yang aneh. Bukan sakit fisik.

Tapi sakit Kenzo yang masih tersisa.

Kehilangan sesuatu yang nggak bisa dikembalikan.

Cinta yang terlambat diungkapkan.

Penyesalan yang mendalam.

"Maaf," bisik Bayu. "Maaf Kenzo nggak sempet bilang..."

Maya berbalik. Menatap Bayu dengan mata merah.

"Lu... lu bukan Kenzo. Gue tau. Tapi..." Dia melangkah maju. "Lu ada di tubuh dia. Lu pake wajah dia. Dan entah kenapa... gue merasa... dia masih ada."

Tangannya naik. Menyentuh pipi Bayu.

"Lu... boleh jadi Kenzo yang baru. Kenzo yang lebih kuat. Yang nggak takut lawan balik."

Bayu menatap matanya. Mata yang penuh air mata tapi juga... tekad.

"Gue mau bantu lu," kata Maya tegas. "Apapun yang lu butuhin. Hacking. Info. Senjata digital. Apapun."

"Kenapa?"

"Karena gue tau... lu bakal balikin dendam Kenzo. Lu bakal hancurin keluarga yang nyiksa dia."

Maya tersenyum pahit.

"Dan gue... mau lihat mereka menderita."

Bayu menatapnya lama. Mencari tanda-tanda bohong.

Tapi nggak ada.

Cuma... kemarahan. Kesedihan. Dan tekad.

"Oke," kata Bayu. "Tapi gue punya syarat."

"Apa?"

"Loyalitas mutlak. Nggak ada rahasia. Nggak ada nusuk dari belakang. Kalau lu khianatin gue..." Bayu menatapnya dingin. "Gue bunuh lu."

Maya nggak takut. Malah tersenyum.

"Gue udah lama tunggu bos kayak lu."

Dia ulurin tangan.

"Deal?"

Bayu jabat tangannya. Kuat.

"Deal."

***

Sejam kemudian. Maya buka semua monitornya. Layar penuh kode. Data. Informasi.

"Ini skill gue," kata Maya sambil ketik cepat. "Gue bisa bobol bank. Sistem pemerintah. Database perusahaan. Apapun yang punya sistem digital."

Layar berubah. Menampilkan rekening bank Valerie.

"Ini rekening pribadi Valerie Samudera. Saldo... tiga ratus lima puluh juta."

Layar berubah lagi. Rekening offshore.

"Ini rekening rahasianya. Di Cayman Islands. Saldo... dua miliar."

Bayu melotot. "Dua miliar?!"

"Iya. Hasil korupsi bertahun-tahun."

"Lu bisa... ambil uangnya?"

Maya tersenyum. "Bisa. Tapi butuh waktu. Sistem offshore lebih ketat. Gue harus bikin jalur berlapis biar nggak ketahuan."

"Berapa lama?"

"Seminggu. Mungkin dua minggu."

Bayu mikir sebentar. "Oke. Kerjain. Tapi jangan ambil semua. Cuma setengah."

Maya mengernyit. "Kenapa setengah?"

"Karena kalau semua hilang, dia bakal tau ada yang bobol. Tapi kalau setengah... dia mungkin pikir ada kesalahan sistem. Atau... orang dalam yang ngambil."

Maya mengangguk kagum. "Lu... pinter juga."

"Gue belajar dari yang terbaik."

Maya tersenyum. Lalu ketik lagi. Layar berubah menampilkan peta kota.

"Ini semua lokasi bisnis gelap Valerie. Gudang narkoba. Rumah judi. Tempat pelacuran. Semuanya."

Ada titik merah di sepuluh tempat berbeda.

"Gue udah pantau mereka lama. Gue tau jadwal. Gue tau siapa yang jaga. Gue tau kapan pengiriman."

Bayu menatap peta itu. Otaknya berputar cepat.

"Kita... kita bisa serang mereka satu per satu. Bikin Valerie kehilangan semua sumber uangnya."

Maya mengangguk. "Tapi... itu butuh orang. Lu cuma punya lima orang, kan?"

"Enam. Lu termasuk sekarang."

Maya tersenyum. "Oke. Enam. Tapi tetep kurang buat serang sepuluh lokasi."

"Gue akan cari lebih banyak. Pak Harto punya koneksi. Gue bisa rekrut lewat dia."

"Pak Harto... rentenir?"

"Iya. Lu kenal?"

"Semua orang yang hidup di underground kenal dia." Maya menatap Bayu serius. "Hati-hati sama dia. Dia... nggak bisa dipercaya sepenuhnya."

"Gue tau. Makanya gue nggak kasih dia info penting."

Maya mengangguk. "Bagus."

Dia buka layar lain. Menampilkan foto.

Foto Valerie. Raka. Arjuna. Komisaris Hartawan. Dan... beberapa orang lain yang Bayu nggak kenal.

"Ini semua orang di lingkaran dalam Valerie. Orang-orang yang bantu dia. Yang lindungi dia."

Maya klik satu foto. Seorang pria tua. Berkacamata. Senyum ramah.

"Ini Hakim Santoso. Hakim yang selalu menangkan kasus Valerie di pengadilan. Dibayar lima ratus juta per kasus."

Klik lagi. Wanita paruh baya. Cantik. Elegan.

"Ini Direktur Sinta. Direktur bank tempat Valerie nyimpen uang haram. Dapet komisi sepuluh persen dari setiap transaksi."

Klik lagi. Pria muda. Tampan. Jas rapi.

"Ini Dimas. Pengacara pribadi Valerie. Spesialis nutup-nutupin kejahatan. Dibayar dua miliar setahun."

Bayu menatap semua foto itu.

"Mereka... mereka semua harus dihancurin juga."

Maya mengangguk. "Iya. Tapi... satu per satu. Kalau sekaligus, mereka bakal bersatu lawan kita."

"Lu punya rencana?"

Maya tersenyum. "Selalu."

Dia buka dokumen baru. Mulai ketik.

"Pertama, kita isolasi Valerie. Putus koneksinya ke orang-orang ini. Caranya... bikin mereka nggak percaya sama dia."

"Gimana?"

"Kita bocorkan info palsu. Buat mereka pikir Valerie berencana khianatin mereka. Buat mereka takut. Buat mereka... kabur."

Bayu tersenyum. "Jahat."

"Lu bilang mau hancurin mereka. Ini caranya."

"Gue suka."

Mereka ngobrol sampai subuh. Planning. Strategizing. Menghitung setiap langkah.

Dan perlahan... puzzle mulai terbentuk.

Rencana besar.

Rencana untuk menghancurkan Valerie Samudera.

Dan semua orang yang lindungi dia.

***

Pagi itu, Bayu keluar dari apartemen Maya. Matahari udah naik. Langit cerah.

Dia jalan ke halte bus. Naik bus ke arena.

Di dalam bus, dia menatap keluar jendela. Kota yang ramai. Orang-orang sibuk dengan kehidupan mereka.

Nggak tau ada perang yang lagi terjadi di bawah permukaan.

Perang antara pecundang yang bangkit... dan keluarga yang pernah buang dia.

Bayu tersenyum tipis.

"Valerie... lu pikir lu udah menang. Tapi permainan baru aja dimulai."

Dan di saku jaketnya... USB berisi semua bukti kejahatan.

Tinggal menunggu waktu yang tepat.

Waktu untuk... mengeksekusi.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!