NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Menjual Perhiasan Pernikahan

#

Zidan duduk termenung di kursi tunggu rumah sakit dengan kepala di tangan. Matanya kosong. Pikirannya kacau. Sejam setengah lagi batas waktu DP habis. Dan dia belum dapet uang sepeser pun.

Bu Mariam duduk di sampingnya sambil sesekali usap punggung Zidan. "Zidan, ayo kita coba ke kantor kelurahan. Minta bantuan pemerintah. Kan ada program bantuan kesehatan gratis buat orang nggak mampu."

Zidan langsung berdiri. "Iya Bu! Kenapa aku nggak kepikiran dari tadi? Ayo kita kesana sekarang!"

Mereka berdua langsung naik ojek ke kantor kelurahan. Sesampainya di sana, Zidan langsung masuk ke ruang pelayanan dengan napas ngos ngosan.

"Permisi Pak! Saya mau minta bantuan! Anak saya baru lahir prematur! Butuh biaya rumah sakit puluhan juta! Saya mohon bantuannya!"

Pegawai yang duduk di belakang meja cuma ngeliatin sekilas terus balik lagi ke komputer. "Ada surat rujukan dari rumah sakit?"

"Ada Pak! Ini!" Zidan sodorkan surat dari rumah sakit dengan tangan gemetar.

Pegawai itu baca sekilas terus taruh surat itu di meja. "Rumah sakit swasta ya? Maaf Pak, bantuan pemerintah cuma berlaku buat rumah sakit pemerintah. Kalau Bapak mau dapat bantuan, harus pindah dulu ke rumah sakit pemerintah."

"Tapi Pak, anak saya lagi kritis! Nggak bisa dipindah sekarang! Dia butuh inkubator sekarang juga!"

"Ya makanya harusnya dari awal ke rumah sakit pemerintah Pak. Bukan ke rumah sakit swasta. Kami nggak bisa bantu kalau udah terlanjur di rumah sakit swasta."

Zidan meremas meja dengan kuat. Napasnya berat. "Pak, anak saya sekarat. Dia butuh pertolongan sekarang. Saya mohon... saya mohon Pak..."

"Maaf Pak. Ini aturan. Saya nggak bisa ubah aturan. Coba Bapak urus pindah ke rumah sakit pemerintah dulu, baru bisa kami proses bantuannya."

"Proses berapa lama?"

"Minimal tiga hari kerja."

Tiga hari.

Sedangkan batas waktu cuma sejam lagi.

Zidan jatuh lemas di kursi. Bu Mariam langsung bantuin dia berdiri.

"Zidan, udah. Kita cari jalan lain. Ayo."

Di luar kantor kelurahan, Zidan bersandar di tembok sambil megang dada. Napasnya sesak. Matanya panas.

"Kenapa Bu? Kenapa susah banget? Anak aku sekarat tapi nggak ada yang mau bantuin. Kenapa?"

"Sabar Zidan. Kita pasti bisa lewatin ini."

Zidan megang handphone dengan tangan gemetar. Dia coba telpon Mas Hadi, kakaknya.

Nada tunggu. Panjang. Akhirnya angkat.

"Halo Dan? Kenapa?"

"Mas, aku butuh bantuan. Istri aku baru lahiran. Anaknya prematur. Harus masuk inkubator. Butuh uang sepuluh juta buat DP. Mas bisa pinjamin?"

Hening sebentar di seberang sana.

"Dan, maaf. Aku... aku lagi nggak punya uang segitu. Aku baru bayar uang muka rumah. Tabungan aku abis. Maaf ya Dan. Kalau aku bisa, pasti aku bantuin."

Klik.

Sambungan putus.

Zidan hampir jatuh kalau Bu Mariam nggak nahan.

Dia coba telpon bos angkotnya. Pak Joko.

"Halo Pak, saya Zidan. Pak, saya lagi butuh pinjaman mendesak. Sepuluh juta Pak. Anak saya lahir prematur. Butuh biaya rumah sakit. Saya mohon Pak."

"Zidan, kamu tau kan aku baru beli angkot baru tiga unit? Uang aku habis buat itu. Aku nggak punya uang cash sebanyak itu sekarang. Maaf ya Zidan."

Klik.

Sambungan putus lagi.

Zidan duduk di pinggir jalan sambil megang kepala. Nangis. Nangis keras di pinggir jalan yang rame. Orang orang pada lewat tapi nggak ada yang peduli.

"Ya Allah... Ya Allah... kenapa nggak ada yang mau bantuin aku? Kenapa?"

Bu Mariam duduk di sampingnya sambil ikut nangis. "Zidan, kita balik ke rumah sakit dulu. Ketemu Naura. Kita mikirin bareng."

Mereka balik ke rumah sakit dengan hati remuk. Begitu sampe di ruang pemulihan, Naura langsung ngeliat wajah suaminya yang hancur. Dia tau. Belum dapet uang.

"Mas... belum dapet ya?"

Zidan cuma ngangguk pelan sambil duduk di pinggir ranjang. Tangannya gemetar pegang tangan istrinya.

"Aku udah coba kemana mana. Kelurahan nggak bisa bantuin karena kita di rumah sakit swasta. Mas Hadi nggak punya uang. Bos angkot juga nggak punya. Aku... aku nggak tau harus kemana lagi."

Naura menatap langit langit ruangan sambil air mata mengalir ke samping. "Tinggal setengah jam lagi kan Mas?"

"Iya."

Hening lama.

Tiba tiba Naura angkat tangannya yang lemah ke lehernya. Dia raba raba kalung emas tipis yang melingkar di sana. Kalung yang dia pake sejak ibunya kasih waktu dia nikah. Kalung satu satunya perhiasan yang dia punya.

Dengan tangan gemetar, dia lepas kalung itu.

"Mas, jual ini."

Zidan natap kalung itu. Matanya langsung berkaca kaca. "Naura... ini kan kalung dari Ibu mertua. Kamu sayang banget sama kalung ini. Kamu bilang ini kenang kenangan terakhir dari Ibu."

"Anak kita lebih penting Mas. Faris lebih penting dari kalung ini. Dari apapun. Jual Mas. Cepet."

Zidan terima kalung itu dengan tangan yang nggak berhenti gemetar. Dia lihat kalung tipis itu. Emas asli tapi cuma lima gram. Paling laku tiga juta.

"Tapi ini nggak cukup Naura. Ini cuma lima gram. Paling dapat tiga juta."

Naura melepas cincin nikahnya. Cincin emas putih sederhana yang Zidan kasih waktu akad. Cincin yang nggak pernah dia lepas sejak hari pernikahan mereka.

"Ini juga Mas. Jual."

"Naura..."

"Jual Mas! Jual semuanya! Aku nggak peduli! Yang penting Faris selamat!"

Zidan nangis sambil terima cincin itu. Dia lihat di jari manisnya sendiri. Cincin emas kuning yang dia pake. Cincin nikahnya. Dia lepas juga.

"Kita jual semua perhiasan kita ya."

Naura ngangguk sambil nangis.

Bu Mariam yang dari tadi diam tiba tiba buka tasnya. Dia keluarin gelang emas tebal dari dalam tas.

"Ini gelang peninggalan suami aku. Satu satunya yang masih aku simpen. Ambil Zidan. Jual."

"Bu... ini gelang kenang kenangan dari almarhum suami Bu Mariam. Aku nggak bisa..."

"Ambil! Suami aku udah meninggal! Dia nggak butuh gelang ini lagi! Tapi Faris masih hidup! Dia butuh pertolongan sekarang! Ambil!"

Bu Mariam maksa masukin gelang itu ke tangan Zidan. Zidan terima sambil nangis keras.

"Terima kasih Bu. Terima kasih banyak. Saya... saya nggak tau harus balas gimana..."

"Nggak usah dibalas! Sekarang cepet pergi! Tinggal dua puluh menit lagi!"

Zidan langsung lari keluar rumah sakit terus naik ojek ke toko emas terdekat. Dia masuk dengan napas ngos ngosan.

"Pak! Saya mau jual emas! Cepet!"

Dia keluarin semua perhiasan di atas meja. Kalung Naura. Cincin nikah mereka berdua. Gelang Bu Mariam.

Pemilik toko timbang satu persatu sambil periksa dengan kaca pembesar.

"Total berat tujuh belas gram. Harga emas sekarang delapan ratus lima puluh ribu per gram. Total empat belas juta empat ratus lima puluh ribu. Aku bulatkan jadi lima belas juta ya Mas."

Lima belas juta.

Masih kurang lima juta dari sepuluh juta.

Tapi nggak ada waktu lagi buat cari yang lain.

"Oke Pak. Saya terima."

"Tunggu sebentar ya. Aku ambil uangnya di brankas."

Lima menit kemudian, Zidan keluar dari toko emas dengan amplop berisi uang lima belas juta. Dia langsung balik ke rumah sakit sambil peluk amplop itu erat erat.

"Ya Allah, terima kasih. Ini belum cukup tapi setidaknya bisa buat nego sama rumah sakit. Please ya Allah, bikin mereka mau terima."

Sampe di rumah sakit, dia langsung ke bagian administrasi. Suster di kasir ngeliatin jam dinding.

"Bapak Zidan? Waktunya tinggal lima menit lagi."

"Saya tau! Ini uangnya!" Zidan taruh amplop di meja dengan napas ngos ngosan.

Suster itu itung uangnya. Mukanya berubah.

"Ini cuma lima belas juta Pak. Kurang lima juta."

"Saya tau. Tapi ini semua yang saya punya. Saya udah jual semua perhiasan saya. Cincin nikah saya. Kalung istri saya. Semua. Ini semua yang saya punya. Saya mohon... saya mohon terima ini dulu. Lima juta sisanya saya cicil. Saya janji akan bayar. Tapi tolong jangan pindahin anak saya. Tolong..."

Zidan jatuh berlutut di depan meja kasir sambil nangis.

"Saya mohon... saya mohon dengan sangat... jangan ambil anak saya dari saya... dia cuma bayi... dia nggak salah apa apa... saya mohon..."

Suster itu kebingungan. Dia panggil kepala administrasi. Seorang bapak bapak berkacamata keluar dari ruangan.

"Ada apa?"

Suster itu jelasin situasinya. Bapak berkacamata itu natap Zidan yang masih berlutut sambil nangis.

"Bapak, berdiri dulu."

Zidan berdiri dengan susah payah. Kakinya lemes banget.

Bapak itu diam lama sambil natap Zidan. Terus dia tarik napas panjang.

"Baik. Lima belas juta kami terima sebagai DP. Lima juta sisanya Bapak cicil selama lima bulan. Satu juta per bulan. Setuju?"

Zidan nggak percaya sama yang dia denger. "Setuju Pak! Setuju! Terima kasih! Terima kasih banyak!"

"Tapi ini aturan khusus. Jangan sampai telat bayar cicilannya. Kalau telat, kami akan tagih langsung dan bisa menghentikan perawatan. Mengerti?"

"Mengerti Pak! Saya janji akan bayar tepat waktu! Terima kasih Pak! Terima kasih!"

Bapak itu ngangguk terus balik ke ruangannya. Suster kasir ngasih kuitansi pembayaran ke Zidan.

"Bayi Bapak akan tetap di inkubator. Sudah kami koordinasikan dengan dokter."

Zidan terima kuitansi itu sambil nangis. Dia langsung lari ke ruang pemulihan buat kasih tau Naura.

"Naura! Naura! Mereka terima! Faris akan tetap di inkubator! Dia akan dapat perawatan!"

Naura yang udah nangis dari tadi langsung peluk suaminya erat. "Alhamdulillah Mas. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Terima kasih."

Mereka nangis berdua sambil berpelukan. Nangis lega. Nangis bahagia. Nangis syukur.

Tapi ada kesedihan juga di sana.

Kesedihan karena mereka harus jual semua perhiasan. Semua kenangan. Cincin nikah yang harusnya jadi simbol ikatan mereka selamanya. Kalung pemberian Ibu Siti yang harusnya jadi warisan turun temurun.

Semua hilang.

Demi Faris.

Tapi mereka ikhlas.

Sangat ikhlas.

Sore harinya, Naura minta dibawa ke ruang NICU lagi. Dia mau liat Faris. Zidan dorong kursi rodanya pelan pelan.

Di balik kaca NICU, Faris masih terbaring di inkubator. Tubuh kecilnya penuh selang. Dada mungilnya naik turun cepet dengan bantuan alat. Matanya tertutup. Wajahnya merah.

Naura tempelkan tangan di kaca sambil nangis.

"Faris sayang... ini Ibu. Maafkan Ibu ya Nak. Maafkan Ibu nggak bisa jaga kamu dengan baik waktu di perut Ibu. Maafkan Ibu nggak bisa kasih kamu nutrisi yang cukup. Maafkan Ibu lahirin kamu terlalu cepet. Maafkan Ibu..."

Suaranya bergetar parah.

"Ibu udah jual semua perhiasan Ibu buat kamu. Kalung dari Nenek. Cincin nikah Ibu dan Ayah. Semua. Tapi Ibu nggak nyesel Nak. Sama sekali nggak nyesel. Karena kamu lebih berharga dari semua itu. Kamu lebih berharga dari apapun di dunia ini."

Zidan berdiri di belakang kursi roda sambil ikut nangis. Tangannya dia letakkan di pundak istrinya.

"Faris, ini Ayah. Ayah janji akan kerja lebih keras lagi. Ayah akan cari uang sebanyak banyaknya buat biaya perawatan kamu. Ayah nggak akan tidur kalau perlu. Yang penting kamu sehat. Kamu sembuh. Kamu bisa pulang ke rumah sama Ayah dan Ibu."

Mereka berdua berdiri di sana lama. Ngeliatin Faris yang berjuang di dalam inkubator. Bayi kecil yang berjuang buat hidup. Berjuang buat bertahan.

"Mas, dia kuat kan? Faris pasti kuat kan?" tanya Naura dengan suara lirih.

"Dia kuat. Dia anak kita. Dia pasti kuat."

Tapi di dalam hati, Zidan nggak yakin.

Faris terlalu kecil.

Terlalu lemah.

Berjuang melawan dunia yang terlalu besar buat tubuh mungilnya.

Dan di luar sana, masih ada hutang yang menumpuk.

Cicilan rumah sakit yang harus dibayar.

Biaya perawatan inkubator yang terus berjalan.

Hidup yang makin berat.

Tapi Zidan nggak boleh lemah.

Dia harus kuat.

Demi Naura.

Demi Faris.

Demi keluarga kecilnya yang sedang berjuang bertahan hidup.

Malam itu, setelah Naura tidur di ruang pemulihan, Zidan keluar ke taman rumah sakit. Dia duduk di bangku taman sambil natap langit malam yang penuh bintang.

"Ya Allah, terima kasih udah selamatin Faris hari ini. Terima kasih udah kasih jalan. Tapi ya Allah, ujian ini berat banget. Aku nggak tau aku kuat atau nggak. Tapi aku janji, aku akan terus berjuang. Aku nggak akan menyerah. Demi keluarga aku. Demi anak aku yang lagi berjuang di dalam sana."

Dia sujud di taman itu sambil nangis panjang.

"Ya Allah, kuatkan aku. Berikan aku jalan. Berikan aku rezeki yang banyak. Biar aku bisa bayar semua hutang. Biar aku bisa kasih Faris perawatan terbaik. Biar aku bisa jadi ayah yang baik. Aku mohon ya Allah. Dengan segala kerendahan hati aku mohon."

Dan doa itu mengalun ke langit malam.

Doa yang tulus.

Doa yang penuh harap.

Doa yang akan dikabulkan.

Tapi dengan cara yang nggak pernah dia bayangkan.

Cara yang akan mengubah hidupnya selamanya.

1
checangel_
Jangan heran, Zidan. Hidup di perkampungan memang seperti itu, jadi harus sabar seluas samudera 🤝
checangel_
Andai saja saat itu mereka terdaftar dalam KIS 🤧
checangel_
lebih tepatnya melawan ego diri sendiri dari setiap orang yang datang dan juga pergi🤧
checangel_
Lagi dan lagi-lagi ku mendengar janji 🤣, sudahi janji-janji itu bisa nggak🤧, biasanya yang berbau janji, hanya bergeming di perbatasan antara luka dan bahagia
Ema Susanti
cerita ini real bget, terjadi di kehidupanku. sampe aku di ceraikan karena wanita lain yang berstatus janda dan berkedok pula teman kerja.
aa ge _ Andri Author Geje: iya kak.. ini juga kayak gini cerita nya semua karna harta orang bisa lupa
total 1 replies
ceuceu
Bayar bunga doang 2 juta tapi hutang tetep blm kebayar,itulah makanya jgn pinjem rentenir selain dosa besar tap nyekek.
ceuceu
Naura suami pulang kerja jgn ngadu yg bikin hati suami sakit,ademin suami klo pulang kerja,nanti ceritanya klw udah santai.
ceuceu
Naura knp ga jagain ibunya dirumah sakit?
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
ceuceu
kok malam abis penyatuan subuh langsung wudhu?
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja
aa ge _ Andri Author Geje: makasih dah ingetin revisi
total 2 replies
checangel_
Bentar, nggak ada KIS kah?
aa ge _ Andri Author Geje: bisa di bilang kan belum semua nya dapat
total 2 replies
checangel_
No, jangan lebih dari apa pun! Ingat, karena yang lebih hanya milik Allah 😇
checangel_
Gimana tuh nangis dalam diam? 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: pura pura kelilipan lahhh🤣
total 3 replies
checangel_
الله اكبر
checangel_
Begitulah perasaan wanita, jika sudah terluka, walaupun hanya sebatas omongan tetangga/Facepalm/, tapi .... kembali lagi pada pribadi yang kuat dan tentunya cuek aja🤭
checangel_
Komitmenmu harus abadi ya, Mas Zidan 🤝
aa ge _ Andri Author Geje: semoga aja...tapi ya namanya manusia

Indosat (ingat doa saat gelap)
lupa akan prosesnya
total 1 replies
checangel_
Anggap saja kehadiran mereka seperti angin lewat yang tak pernah ada (abaikan jangan diambil pusing perkataan mereka yang tak penting)/Facepalm/
checangel_
Wah, pernikahan islami yang indah 😇, berbeda dengan realita zaman sekarang ...... tahulah seperti apa keadaan latar panggungnya /Facepalm/
checangel_
Biasalah, anggap saja riuh mereka seperti iklan drama lewat (cuek aja, dengarkan lalu hempaskan)/Hey//Facepalm/
checangel_
Yang bener Mas Zidan?/Chuckle/
aa ge _ Andri Author Geje: begitu lah relalita kehidupan nya
total 1 replies
checangel_
Kata hati memang selalu tepat sih, tapi tak semua 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: benar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!