NovelToon NovelToon
Between Kook & V

Between Kook & V

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / BXB / Teen School/College / Diam-Diam Cinta
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Axeira

Berisi kumpulan cerita KookV dari berbagai semesta. Romantis, komedi, gelap, hangat, sampai kisah yang tak pernah berjalan sesuai rencana.

Karena di antara Kook dan V,
selalu ada cerita yang layak diceritakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axeira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 ANAK DARI MASA DEPAN

Keonho sudah bilang.

“Next time… gue yang mulai.”

Dan hari itu—

next time datang.

Mansion Jeon–Kim kembali penuh. Tapi berbeda dari biasanya.

Terlalu tenang.

Taehyung menyadarinya saat turun ke ruang tengah dan melihat sesuatu yang sangat salah.

Meja ruang tamu sudah dipindah.

Sofa disusun melingkar.

Speaker besar menyala.

Dan Keonho berdiri di tengah ruangan dengan senyum terlalu puas.

“Selamat datang,” katanya santai,

“di acara Family Game Night.”

Jungkook berhenti melangkah.

Seonghyeon berdiri di sampingnya—gelisah.

“Keonho…”

“Tenang,” Keonho menepuk bahunya.

“Gue udah briefing semua orang.”

“SEMUA ORANG?” Taehyung menaikkan nada.

Jimin muncul dari belakang sofa sambil membawa papan tulis.

“Gue moderator.”

Mingyu membawa kartu.

“Gue wasit.”

Seokmin:

“Gue penonton tapi ikut rusuh.”

Wonwoo duduk paling ujung, tangan terlipat.

“Ini akan buruk.”

“Ini akan menyenangkan,” koreksi Keonho.

Taehyung memijat pelipis.

“Ini ide siapa?”

Keonho menunjuk dirinya sendiri.

“Anak hasil trauma.”

Jungkook mendengus.

“Mulai.”

Keonho tersenyum lebar.

“GAME PERTAMA.”

Lampu diredupkan.

“Truth or Chaos.”

Semua:

“HAH?!”

Keonho menunjuk Yoongi.

“Mulai dari Om paling berisik.”

Yoongi mendengus.

“Oke. Truth"

“Pernah naksir siapa di ruangan ini?” tanya Keonho cepat.

“ANJIR—”

Yoongi menunjuk Taehyung.

“DULU.”

Taehyung:

“GUE !?"

Jungkook:

“GUE BARU TAU.”

Yoongi:

"GUE BILANG ITU DULU, JEON!"

Chaos pertama meledak.

Keonho lanjut tanpa ampun.

“Mommy,” katanya manis.

“Truth or Chaos?”

Taehyung menyipitkan mata.

“…Truth.”

“Waktu pertama kali Daddy bilang ‘lo cantik’, jantung Mommy gimana?”

SUNYI.

Seonghyeon menutup wajah.

Taehyung menatap anaknya—

lalu berkata pelan tapi jujur:

“…Berisik.”

Jungkook membeku.

Mingyu menjatuhkan kartu.

Keonho bersorak.

“POINT!”

“GUE KIRA KITA UDAH LEWAT FASE INI,” Jungkook protes.

Keonho menoleh ke Seonghyeon.

“Sekarang lo.”

Seonghyeon menelan ludah.

“Chaos.”

Keonho menyeringai.

“Peluk Keonho di depan semua orang.”

“APA—”

Keonho memeluk duluan.

Taehyung menahan senyum.

Jungkook menghela napas pasrah.

“GAME KEDUA,” Keonho lanjut cepat sebelum ada yang kabur.

“Siapa Paling…”

Wonwoo berdiri.

“Ini ide buruk.”

“SETUJU,” semua orang—

tapi tidak ada yang pergi.

“Siapa paling posesif?”

Keonho menunjuk Jungkook.

Semua serempak:

“JUNGKOOK.”

Jungkook:

“GUE PROTEKTIF.”

“Siapa paling keras kepala?”

Semua menunjuk Taehyung.

Taehyung:

“FITNAH.”

“Siapa paling bandel?”

Semua menunjuk Keonho.

Keonho mengangguk bangga.

“Genetik.”

“Siapa paling jatuh cinta duluan?”

SUNYI.

Keonho tersenyum pelan.

“Mommy.”

Taehyung menutup mata.

Jungkook tertawa kecil—

hangat, kalah.

Lampu menyala kembali.

Ruangan berantakan.

Orang-orang capek.

Tapi… tertawa.

Seonghyeon duduk di samping Keonho, suara pelan.

“Lo sengaja bikin chaos?”

Keonho mengangguk.

“Soalnya kalau gak rame… kita suka diem-diem sakit sendiri.”

Seonghyeon menatap ruangan itu—

keluarga yang ribut, jujur, dan utuh.

“…Gue seneng lo ajak gue masuk ke sini.”

Keonho tersenyum.

“Sekarang lo bagian dari keluarga chaos ini”

Dari kejauhan, Taehyung menyandarkan kepala ke bahu Jungkook.

“…Anak kita bahaya.”

Jungkook tersenyum lelah.

“Tapi jujur.”

Taehyung menoleh.

“Kayak kita.”

Di tengah mansion yang berisik,

di antara tawa dan suara debat kecil—

chaos itu akhirnya pecah.

Dan justru karena itu… semuanya tetap utuh.

____

Mansion Jeon–Kim akhirnya tenang.

Bukan karena kosong—

tapi karena semua sudah pada tempatnya.

Pagi itu, cahaya matahari masuk lewat jendela besar ruang makan. Taehyung berdiri di dapur, rambut sedikit berantakan, apron masih terpasang. Jungkook duduk di meja, membaca berita sambil sesekali melirik jam.

“Keonho belum bangun?” tanya Jungkook.

“Belum,” jawab Taehyung.

“Semalam pulang telat. Tapi dia pulang.”

Jungkook mengangguk.

“Itu cukup.”

Pintu belakang terbuka.

Keonho masuk, rambut masih acak, hoodie kebesaran, tapi wajahnya… tenang.

“Pagi, Mommy.. Daddy..”

Taehyung menoleh.

“Laper?”

Keonho mengangguk kecil.

“Iya.”

Lalu satu suara lagi menyusul.

“Pagi, Om… Tante”

Seonghyeon berdiri canggung di ambang pintu.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada interogasi.

Taehyung hanya berkata,

“Masuk. Sarapan.”

Itu saja.

Dan entah kenapa, itu terasa resmi.

Mereka makan bersama.

Jimin, Yoongi, Mingyu, Wonwoo, Jisoo, Seokmin, Namjoon, Seokjin—semuanya datang siang itu. Tidak ribut seperti biasa.

Tidak juga terlalu serius.

Hanya… ada.

Seonghyeon membantu Keonho menyiapkan piring.

Keonho tidak menolak.

Tidak malu.

Tidak defensif.

Jungkook memperhatikan dari jauh.

“Dia kelihatan tenang,” katanya pelan ke Taehyung.

“Karena dia dicintai,” jawab Taehyung sederhana.

Keonho menoleh, menangkap kalimat itu.

Dia tidak bercanda.

Tidak nyengir bandel.

Hanya berkata pelan,

“Makasih.”

Sore menjelang.

Keonho duduk di tangga depan mansion, Seonghyeon di sebelahnya. Angin pelan lewat.

“Takut?” tanya Seonghyeon.

“Dulu,” jawab Keonho.

“Takut jadi kayak mereka—terlalu keras, terlalu ribut.”

“Sekarang?”

Keonho menatap jendela mansion, tempat Taehyung dan Jungkook terlihat berdiri berdampingan.

“Sekarang gue tau,” katanya pelan,

“keras gak masalah… asal ada yang nunggu.”

Seonghyeon menggenggam tangannya.

“Aku nunggu.”

Keonho tersenyum.

“Gue pulang.”

Malam turun.

Lampu mansion menyala satu per satu.

Di ruang tamu, semua orang duduk berserakan. Tidak ada permainan. Tidak ada debat.

Hanya suara TV, tawa kecil, dan obrolan ringan.

Taehyung bersandar di bahu Jungkook.

“Cerita kita aneh ya,” katanya.

Jungkook tersenyum kecil.

“Tapi nyata.”

Keonho berdiri di tengah ruangan.

“Nanti kalau aku punya rumah sendiri…”

Semua menoleh.

“…aku mau rumahnya rame,” lanjut Keonho.

“Biar ribut, tapi pulang.”

Taehyung menatap anaknya dengan mata sedikit basah.

“Itu, namanya rumah.”

Jungkook mengangguk.

“Selama pintunya kebuka.”

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada sorakan.

Hanya keheningan yang hangat.

Dan di suatu titik—

tidak ada lagi suara dari masa depan.

Tidak ada peringatan.

Tidak ada waktu yang retak.

Karena masa depan itu sudah terjadi.

Bukan karena sempurna.

Tapi karena mereka memilih satu sama lain.

.

.

✨ SELESAI

1
elleaa_
kapan lanjut lagi kakkk? aku menunguuuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!