NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. An Unplanned Confession

Kediaman Blackwood — dini hari

Malam terlalu sunyi.

Anthenia duduk di lantai kamarnya, bersandar pada ranjang. Lilin di meja hampir habis, cahayanya bergetar seperti pikirannya sendiri.

Keputusan, pikirnya.

Semua orang membuat keputusan atas nama kekaisaran.

Archduke.

Kaisar.

William.

Dan dirinya?

Ia menutup mata.

Sejak kapan ia berhenti menghitung langkah seperti Jane dulu?

Sejak kapan ia membiarkan satu nama terus muncul di benaknya?

“William Whiston…” gumamnya pelan.

Dadanya menghangat—lalu sesak.

Ia membuka mata dengan cepat.

“Tidak,” katanya tegas pada dirinya sendiri.

“Ini tidak masuk akal.”

Namun pikirannya mengkhianatinya.

Bukan William sebagai Putra Mahkota.

Bukan William sebagai Panglima Perang.

Melainkan William yang berdiri satu langkah di depannya.

William yang melindungi tanpa bertanya.

William yang menatapnya seolah ia bukan pion.

Anthenia menekan dadanya.

Kenapa rasanya… seperti ini?

Kesadaran yang terlambat

Ia tertawa kecil—kering.

“Jadi begini,” bisiknya.

“Aku jatuh ke dunia novel… dan malah jatuh ke perasaan yang bahkan tidak tertulis.”

Tangannya gemetar.

Tanpa sadar, kalimat itu keluar begitu saja:

“Aku menyukainya.”

Hening.

Anthenia membeku.

Detik berlalu sebelum ia menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.

“…Apa?”

Ia berdiri terlalu cepat.

“Tidak. Tidak mungkin,” sanggahnya.

“Ini hanya efek lingkungan. Tekanan. Ilusi emosional.”

Jane dalam dirinya mencoba rasional.

Namun Anthenia—

gadis yang hidup di dunia ini—

tidak bisa membohongi detak jantungnya.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku benar-benar menyukainya,” ulangnya lirih, kali ini tanpa menyangkal.

Dan itulah yang paling menakutkan.

Tantangan pada diri sendiri

Anthenia berjalan ke arah cermin.

Pantulan wajahnya menatap balik—tenang, dingin, tapi matanya jujur.

“Baik,” katanya pada bayangannya sendiri.

“Kalau aku menyukainya… maka aku tidak boleh lemah.”

Ia mengangkat dagunya.

“Aku tidak akan merebut.

Tidak akan memohon.

Tidak akan mengganggu keputusan kekaisaran.”

Namun sorot matanya mengeras.

“Tapi aku juga tidak akan lari.”

Ini tantangannya.

Jika William memilih menikah demi kekaisaran—

ia akan menerima.

Namun jika William ragu—

ia tidak akan berpura-pura tidak ada.

Anthenia menarik napas panjang.

“Untuk pertama kalinya,” gumamnya,

“aku akan jujur pada perasaanku… meski hanya pada diriku sendiri.”

Di tempat lain — Istana Araluen

William berdiri di ruang latihan, pedangnya terayun kuat membelah udara.

Setiap tebasan penuh tekanan.

Bukan karena musuh.

Melainkan karena keputusan.

“Yang Mulia,” suara ksatria terdengar ragu,

“apakah Anda ingin beristirahat?”

William menghentikan gerakannya.

Keringat menetes dari pelipisnya.

“Tidak.”

Namun pikirannya tidak ada di ruangan itu.

Ia melihat mata abu-abu yang selalu menantangnya.

Selalu jujur.

Selalu berdiri sejajar—bukan di belakang.

“…Anthenia,” gumamnya tanpa sadar.

William membeku.

Ia menutup mata sesaat.

Jadi bukan hanya dirinya yang terjebak.

Di malam yang sama,

dua orang membuat keputusan yang tidak tertulis di hukum mana pun.

Anthenia Blackwood:

mengakui perasaan yang tidak ia rencanakan.

William Whiston Aurelius:

menyadari bahwa lamaran Kairo bukan sekadar aliansi—

melainkan batas yang mengancam sesuatu yang ia inginkan.

Dan sejak malam itu,

tak ada satu pun dari mereka yang bisa kembali ke posisi semula.

Pagi hari — Kediaman Blackwood

Anthenia bangun dengan mata terbuka sebelum matahari benar-benar naik.

Tidak ada mimpi.

Tidak ada kebingungan.

Hanya satu kesadaran yang menetap dengan tenang—dan menakutkan.

Aku menyukai William Whiston.

Aneh.

Tidak ada kepanikan seperti semalam.

Yang ada justru ketenangan dingin, seperti setelah membuat keputusan sulit di medan perang.

Ia duduk, merapikan rambutnya, lalu berdiri.

“Baik,” katanya pelan.

“Kalau ini perasaanku… maka aku yang akan mengendalikannya.”

Jane dalam dirinya tersenyum pahit.

Anthenia melangkah maju.

Kamar kerja Duke Kaelen Blackwood

Duke Kaelen mengangkat kepala saat putrinya masuk tanpa ragu.

“Anthenia?”

Nada suaranya heran. “Kau jarang datang sepagi ini.”

“Ayah,” ucap Anthenia tenang,

“aku ingin meminta izin.”

Alis Kaelen terangkat.

“Izin apa?”

“Aku ingin tetap terlibat dalam urusan kekaisaran,” katanya lugas.

“Bukan sebagai tamu. Tapi sebagai perwakilan Blackwood.”

Hening.

Duke Kaelen menatap putrinya lama—seolah melihatnya untuk pertama kali.

“Kau tahu apa artinya itu?” tanyanya akhirnya.

“Tekanan. Politik. Dan… Putra Mahkota.”

Anthenia tidak menghindar.

“Aku tahu.”

Kaelen menghela napas pelan.

“Sejak kapan kau siap menghadapi semua ini?”

Nada suaranya lebih lembut, hampir tak terdengar.

Anthenia menjawab jujur.

“Sejak aku sadar… melarikan diri tidak akan melindungi siapa pun.”

Untuk sesaat, Duke Kaelen terdiam.

Lalu—ia tersenyum tipis.

“Kau benar-benar anakku,” katanya.

“Baik. Blackwood tidak akan mundur.”

Istana Araluen — Ruang audiensi kecil

William menerima laporan tentang pergerakan Duke Blackwood.

“…Putrinya kembali aktif dalam urusan kekaisaran?” ulangnya.

“Ya, Yang Mulia.”

William menatap meja.

Jantungnya bergetar—bukan karena politik.

Jadi kau tidak pergi, pikirnya.

Ia menutup laporan itu perlahan.

“Baik,” ucapnya datar.

“Awasi saja. Jangan mengganggunya.”

Ksatria menunduk.

Namun setelah ruangan kosong, William berdiri, melangkah ke jendela.

“Apa yang sedang kau lakukan, Anthenia…” gumamnya.

Nada suaranya tidak bertanya.

Melainkan berharap.

Kesadaran kedua

Sore itu, Anthenia berdiri di halaman Blackwood, pedang latihan di tangannya.

Ia mengayunkannya dengan presisi—tajam, terkontrol.

Setiap ayunan adalah penegasan:

Perasaannya tidak akan membuatnya lemah.

Perasaannya justru membuatnya berani.

“Jika kau memilih kekaisaran,” bisiknya pada udara,

“aku akan berdiri cukup dekat untuk melihatnya.”

Pedang berhenti.

Dan untuk pertama kalinya, Anthenia tersenyum kecil.

Bukan senyum gadis yang jatuh cinta.

Melainkan senyum seseorang

yang siap menghadapi apa pun—

bahkan jika itu berarti hatinya sendiri.

Sore hari — Taman dalam Kediaman Blackwood

Langit berwarna keemasan saat Anthenia melangkah di taman belakang. Angin menggerakkan dedaunan, membawa aroma tanah basah yang menenangkan.

Ia berhenti di bawah pohon tua—tempat ia sering berpikir sejak kecil.

Jika aku menyukainya, pikirnya,

maka aku harus menghormati pilihannya.

Bukan kalimat yang mudah.

Namun justru itulah yang membuatnya tenang.

“Perasaan tidak harus selalu dimenangkan,” gumamnya pelan.

“Kadang cukup diakui.”

Anthenia menatap tangannya sendiri.

Tangannya tidak gemetar lagi.

Kilasan kenangan singkat

Koridor istana.

Tatapan singkat.

Keheningan yang penuh arti.

Ia tersenyum tipis.

“William Whiston,” ucapnya lirih,

“kau benar-benar membuatku lupa bahwa aku seharusnya selalu rasional.”

Namun tidak ada penyesalan dalam suaranya.

Istana Araluen — menjelang malam

William berdiri di balkon pribadinya. Dari kejauhan, menara Blackwood terlihat jelas.

Laporan terakhir Duke Kaelen terlintas di benaknya.

Putrinya memilih tetap terlibat.

Ia menghembuskan napas perlahan.

“Jadi kau menantang keadaan dengan caramu,” gumamnya.

Aneh—

alih-alih cemas,

ia justru merasa… lega.

Karena itu berarti Anthenia tidak menjadi korban keputusan siapa pun.

Ia mengepalkan tangan.

“Aku tidak tahu bagaimana akhirnya,” katanya pelan pada malam,

“tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian menghadapi ini.”

Untuk pertama kalinya sejak lamaran Kairo diumumkan,

William tersenyum kecil—singkat, hampir tak terlihat.

Dua keputusan, satu arah

Malam itu,

dua orang yang terikat oleh takdir yang belum mereka pilih

membuat kesepakatan tanpa kata:

Tidak akan berbohong pada diri sendiri.

Tidak akan merendahkan perasaan.

Dan tidak akan melangkah mundur hanya karena takut terluka.

Anthenia memilih untuk berdiri.

William memilih untuk mengulur dan melindungi.

Dan di antara mereka,

politik kekaisaran mulai berderak—

tanda bahwa badai berikutnya sudah mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!