"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Cincin Berlian dan Bakwan Berbahaya
Pagi itu di kantor Weinstein Group, atmosfer terasa jauh lebih berat dari biasanya. Calvin duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak fokus pada laporan saham yang berkedip di monitor. Pikirannya masih tertancap pada "Raja Minyak" khayalan Varro kemarin.
"Nirbita, ke ruangan saya sekarang. Bawa buku catatanmu," perintah Calvin melalui interkom dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Nirbi masuk dengan langkah riang, masih mengenakan sweater kebesarannya. "Iya, Pak Bos? Ada jadwal rapat mendadak?"
Calvin tidak menjawab. Ia membuka laci mejanya yang paling bawah—laci yang kuncinya hanya dia yang pegang. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Tanpa sepatah kata pun, ia meletakkannya di depan Nirbi.
"Buka," titah Calvin pendek.
Nirbi mengerutkan kening, lalu membukanya. Matanya hampir melompat keluar. Di dalamnya melingkar sebuah cincin platinum dengan berlian solitaire yang ukurannya cukup besar dan sangat berkilau.
"Wah... Kak, eh, Pak Bos... ini apa? Ada kuman yang harus saya bersihkan dari perhiasan ini?" tanya Nirbi polos.
"Pakai di jari manis tangan kirimu," perintah Calvin lagi, mengabaikan pertanyaan konyol itu.
Nirbi melongo. "Tapi Pak, ini kan jari buat orang yang udah nikah atau tunangan. Nanti kalau karyawan lain liat gimana?"
"Itu perintah, Nirbita. Ini adalah bagian dari... protokol keamanan baru," dusta Calvin tanpa berkedip. "Saya tidak mau asisten saya diganggu oleh pria-pria tidak jelas yang merasa punya peluang. Dengan memakai ini, mereka akan menganggap kamu sudah 'dimiliki'. Itu akan menjaga efisiensi kerjamu."
Nirbi menatap cincin itu dengan binar mata yang berbeda. Di otaknya, angka-angka rupiah mulai menari-nari. Gila, ini kalau dijual bisa buat bayar kontrakan setahun plus beli motor matic baru! pikirnya.
"Oke! Kalau ini buat keamanan, aku pake!" Nirbi memasukkan cincin itu ke jarinya. Pas sekali. "Makasih ya Pak Bos buat... investasi daruratnya. Kalau suatu saat kita bangkrut lagi, tenang aja, cincin ini bakal aku amanin buat modal kita dagang bakso."
Calvin hampir tersedak ludahnya sendiri. "Jangan berani-berani menjualnya. Jika cincin itu hilang atau berpindah tangan, saya akan memotong gajimu seumur hidup."
Radar Cemburu Sang CEO
Sepanjang siang, Calvin tidak membiarkan pintu ruangannya tertutup rapat. Ia sengaja membiarkannya sedikit terbuka agar bisa memantau meja asistennya.
Masalah muncul saat Pak Tejo, seorang petugas kebersihan (OB) yang sudah berumur 50-an, datang membawa nampan. Pak Tejo adalah satu-satunya orang di kantor yang berani bercanda dengan Nirbi karena sering dititipkan bakwan oleh gadis itu.
"Neng Nirbi, ini pesanan bakwannya. Masih anget, baru diangkat dari penggorengan Mang Udin," bisik Pak Tejo sambil menyerahkan plastik transparan berminyak.
Nirbi tertawa lebar, matanya berbinar lebih terang daripada saat melihat cincin tadi. "Duh, Pak Tejo emang penyelamat kelaparan aku! Makasih ya Pak! Nih, ada kembaliannya buat Bapak beli kopi."
Pak Tejo tertawa, tangannya secara tidak sengaja menepuk bahu Nirbi dengan ramah. "Sama-sama, Neng. Eh, itu cincin baru ya? Bagus bener, kinclong! Calon suaminya pasti orang kaya ya?"
Nirbi baru saja mau menjawab, namun suara pintu yang berdebam terbuka membuat mereka berdua meloncat kaget. Calvin berdiri di sana dengan wajah yang menyeramkan, memegang sebotol semprotan disinfektan.
"Pak Tejo," suara Calvin terdengar seperti guntur. "Apakah tugas membersihkan toilet di lantai bawah sudah selesai? Kenapa Anda menyentuh asisten saya dengan tangan yang... penuh minyak itu?"
Pak Tejo pucat pasi. "E-eh, maaf Pak Bos. Tadi cuma—"
"Segera kembali bekerja. Dan Nirbita," Calvin menoleh ke Nirbi, matanya tertuju pada plastik bakwan itu seolah itu adalah limbah nuklir. "Masuk ke ruangan saya. Bawa benda berminyak itu."
Sterilisasi Wilayah
Di dalam ruangan, Calvin langsung menyemprot udara di sekitar Nirbi dengan disinfektan.
"Kak! Bakwanku kena semprot nanti rasanya jadi rasa lemon!" protes Nirbi sambil melindungi plastiknya.
"Buang benda itu, atau makan di luar gedung!" bentak Calvin. Ia kemudian menarik tangan kiri Nirbi, memastikan cincin itu masih ada di sana. "Kenapa kamu membiarkan pria tadi menyentuh bahumu?"
"Pak Tejo kan udah tua, Kak! Udah kayak bapak sendiri!"
"Tua atau muda, pria tetaplah pria, Nirbita! Dan dia menyentuh area yang tidak steril!" Calvin melepaskan tangan Nirbi, lalu berbalik membelakanginya, mencoba meredakan emosi yang meledak-ledak. "Cincin itu... apakah orang-orang sudah melihatnya?"
"Udah, tadi staf HRD nanya, aku bilang aja ini dari bos buat jaminan keselamatan kerja," jawab Nirbi enteng sambil mengunyah bakwan yang berhasil ia selamatkan.
Calvin memijat pelipisnya. Jaminan keselamatan kerja? Benar-benar hanya Nirbita yang bisa menghancurkan momen romantis-posesif menjadi komedi tragis.
"Pakai terus cincin itu. Dan jangan pernah tertawa selebar itu pada pria lain, siapa pun itu. Mengerti?"
Nirbi mengangguk sambil mulutnya penuh bakwan. "Iya, Pak Bos Posesif. Tapi besok-besok kalau mau kasih inventaris lagi, kalung berlian juga boleh kok. Biar investasiku makin kuat!"
Calvin hanya bisa menghela napas panjang. Ia sadar, ia telah jatuh cinta pada gadis yang bahkan tidak paham arti sebuah cincin di jari manis. Tapi baginya, selama cincin itu melingkar di sana, dunianya terasa sedikit lebih "bersih" dari gangguan orang lain.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka