Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Perjanjian di Atas Darah dan Debu
Kapal kargo pribadi itu membelah ombak Laut Jawa dengan tenang, namun di dalam kabin medis, Aruna berdiri mematung menatap layar monitor satelit yang terhubung langsung dengan Rumah Sakit Medika di Jakarta. Di layar itu, ia bisa melihat sosok wanita yang sangat ia cintai, Sari, sedang terbaring di ruang VIP yang sangat mewah. Napasnya dibantu oleh mesin paling canggih, dan tim perawat terbaik berjaga di sana.
"Satu miliar rupiah itu hanya uang muka, Aruna," suara Dante memecah keheningan dari arah pintu.
Aruna menoleh, matanya berkaca-kaca. "Kau masih membiayainya? Bahkan setelah tujuh tahun aku 'menghilang' di Yunani?"
Dante melangkah masuk, ia menyandarkan tubuh tegapnya di dinding besi kabin. "Valerius tidak pernah melanggar kontrak. Selama kau tetap menjalankan peranmu sebagai kunci dan ibu bagi Leonardo, ibumu akan mendapatkan jantung baru jika dia membutuhkannya. Tapi kau harus ingat, fasilitas medis itu berada di bawah kendali The Gray Guard. Satu kata dariku, dan ventilator itu berhenti."
Aruna mengepalkan tinjunya. "Kau mengancamku dengan nyawa ibuku lagi, Dante? Setelah semua yang kita lalui?"
"Bukan ancaman, Aruna. Tapi pengingat," Dante mendekat, suaranya merendah. "Karena sekarang, taruhannya bertambah. Nadia."
Dante menunjuk ke arah tempat tidur di sudut kabin di mana Nadia sedang tidur terlelap. Gadis kecil itu masih memegang ujung baju Leonardo yang duduk di sampingnya. Resonansi antara Aruna dan Nadia telah membuat Leonardo juga merasa terikat secara emosional dengan adik tiri ibunya tersebut.
"Nadia butuh perawatan yang sama dengan ibumu," lanjut Dante. "Chip bintang di kakinya itu bukan hanya kode. Itu adalah parasit biometrik. Jika kita tidak sampai di fasilitas Kalimantan untuk melakukan dekripsi manual, chip itu akan mulai 'memakan' saraf motoriknya. Dia akan lumpuh sebelum usianya sepuluh tahun."
Aruna menatap Nadia dengan pedih. Ia teringat saat pertama kali ia menjual kebebasannya di rumah sakit demi ibunya. Kini, ia seolah harus menjual jiwanya sekali lagi demi adiknya.
"Dante... siapa sebenarnya yang membiayai pabrik tekstil tempat ibu kecelakaan dulu?" tanya Aruna tiba-tiba. Pertanyaan itu sudah lama mengendap di kepalanya.
Dante terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke arah Aruna. "Kau sudah tahu jawabannya, Aruna. Adrian Salsabila tidak hanya menciptakanmu. Dia merancang 'kecelakaan' itu untuk memaksamu masuk ke dalam radarku. Dia tahu aku butuh ASI untuk Leonardo yang prematur, dan dia tahu kau adalah satu-satunya yang memiliki kondisi hiperlaktasi langka yang dipicu oleh stres biometriknya."
Aruna tertawa sumbang, sebuah suara yang penuh dengan kepahitan. "Jadi... semua ini adalah panggung sandiwara ayahku? Kecelakaan ibu, kondisi fisikku, bahkan pertemuan kita di rumah sakit... semuanya sudah diatur agar aku menjadi budakmu?"
"Kita semua adalah pion dalam permainannya, Aruna," Dante meraih tangan Aruna, ibu jarinya mengusap pergelangan tangan yang dulu bertanda melati. "Tapi perbedaannya adalah, pion ini sekarang memiliki pedang. Dan kita akan menghancurkan papan caturnya."
"Ma, Nadia panas lagi."
Suara Leonardo membuat Aruna tersentak. Ia segera menghampiri Nadia. Benar saja, dahi Nadia berkeringat dingin, dan telapak kakinya yang memiliki tanda bintang mulai bersinar merah redup, mengeluarkan aroma gosong yang halus—tanda bahwa chip itu sedang bekerja terlalu keras karena jarak mereka di dalam kapal yang sempat menjauh beberapa meter.
"Cepat, Aruna," perintah Dante. "Gunakan resonansimu."
Aruna duduk di tepi tempat tidur, ia mengangkat kaki Nadia dan menempelkannya ke dadanya. Begitu kontak kulit itu terjadi, Aruna merasakan sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak—persis seperti sensasi hiperlaktasi yang ia rasakan tujuh tahun lalu di rumah sakit.
"Argh..." Aruna mengerang kesakitan.
"Bertahanlah," Dante memegang bahu Aruna dari belakang, memberikan kekuatan fisik.
Ajaibnya, seiring dengan detak jantung Aruna yang menyatu dengan nadi Nadia, cahaya merah di kaki gadis kecil itu mulai meredup. Rasa sakit yang tampak di wajah Nadia berangsur hilang, digantikan oleh napas yang teratur.
Leonardo menatap pemandangan itu dengan wajah serius. "Jadi, Mama adalah baterai untuk Nadia?"
"Lebih dari itu, Leo," sahut Dante. "Ibumu adalah jangkar. Tanpa dia, Nadia akan hanyut dalam arus data yang menghancurkan tubuhnya. Dan tanpa Nadia, ibumu tidak akan pernah bisa benar-benar bebas dari bayang-bayang Adrian."
Kapal kargo itu terus melaju menuju selat Makassar. Di kejauhan, hutan bakau Kalimantan yang lebat mulai terlihat sebagai garis hijau gelap di cakrawala. Namun, di radar kapal, sebuah titik merah muncul.
"Tuan, ada perahu cepat mendekat dari arah buritan," suara Marco terdengar dari interkom. "Mereka menggunakan bendera tentara bayaran lokal, tapi persenjataan mereka adalah standar The Consortium."
Dante langsung berubah menjadi predator. Ia menarik senapan serbu dari bawah tempat tidur. "Aruna, tetap di sini bersama anak-anak. Jangan lepaskan kontak dengan Nadia, apa pun yang terjadi!"
"Dante, hati-hati!" teriak Aruna.
Dante menoleh di ambang pintu, memberikan seringai yang sama yang ia berikan pada Aruna tujuh tahun lalu di rumah sakit. "Aku berjanji pada ibumu untuk menjagamu tetap hidup, Aruna. Dan aku tidak pernah membuang-buang uang satu miliar rupiah untuk sebuah kegagalan."
Dante keluar, dan tak lama kemudian, suara rentetan tembakan otomatis pecah di atas dek kapal, bersahutan dengan suara ombak yang menderu. Aruna mendekap Nadia dan Leonardo di tengah kabin yang gelap, menyadari bahwa kontrak yang ia tanda tangani dengan darah dan ASI tujuh tahun lalu, kini telah berubah menjadi perang saudara yang akan menentukan siapa yang berhak memiliki masa depan.
"Ibu... tolong doakan kami," bisik Aruna dalam gelap, sementara di luar sana, peluru-peluru mulai menghantam dinding baja kapal.