NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#14

Empat minggu menjelang fashion show kelulusannya, hidup Leonor Kaia berubah menjadi badai kreativitas yang melelahkan. Jadwal yang diundur justru menambah beban kerja, ia harus menyempurnakan sepuluh koleksi busana, melakukan fitting pada model, dan memastikan setiap detail jahitan tanpa cacat.

Tidur menjadi kemewahan yang tak lagi ia miliki. Setiap hari, Leonor harus menempuh perjalanan panjang dengan bus yang menyesakkan, membawa gulungan kain dan manekin yang berat, lalu berjalan kaki berkilo-kilo meter menuju mansion Gonzales yang terasa seperti penjara.

Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas, dan tubuhnya tampak semakin ringkih.

Semua itu tidak luput dari pengamatan Edgar Castiel Martinez.

Selama beberapa hari ini, Edgar selalu memarkir mobilnya di kejauhan, hanya untuk melihat Leonor yang berjalan gontai menuju halte bus dengan wajah pucat. Hatinya yang dulu keras kini terasa seperti diremas setiap kali melihat Leonor hampir terjatuh karena kelelahan. Rasa bersalah itu masih ada, namun kini bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam, rasa peduli yang tak mampu ia sangkal lagi.

Sore itu, hujan rintik turun membasahi Los Angeles. Leonor berdiri di halte, menggigil sambil mendekap tas pola bajunya agar tidak basah. Tiba-tiba, sebuah mobil SUV mewah yang lebih rendah profil dari biasanya berhenti di depannya. Kaca jendela turun, memperlihatkan wajah Edgar yang tampak cemas.

"Masuklah, Leonor. Aku akan mengantarmu," ucap Edgar, suaranya tidak lagi memerintah, melainkan memohon.

Leonor awalnya ingin menolak, namun kakinya yang bengkak dan tubuhnya yang menggigil membuatnya menyerah. Ia masuk ke dalam mobil yang hangat itu tanpa suara.

Di tengah perjalanan yang hening, Edgar berdehem. "Leonor, aku tahu kau sedang sibuk dengan fashion show-mu. Dan aku tahu perjalanan pulang pergi ke mansion Gonzales menghabiskan waktu empat jam harimu yang berharga."

Leonor hanya memejamkan mata, bersandar pada kursi kulit yang nyaman.

"Aku punya sebuah unit apartemen di seberang kampus. Tidak terlalu besar, tapi sangat dekat dengan studio desainmu," Edgar bicara dengan hati-hati.

"Pakailah selama Empat minggu ini. Kau tidak perlu membayar apa pun. Kau butuh waktu tidur, bukan waktu di dalam bus. Anggap saja ini... kompensasi karena aku sudah mengganggu proyekmu minggu lalu."

Leonor membuka matanya, menatap Edgar dengan sangsi. "Kau ingin menjebakku lagi?"

"Tidak," Edgar menggeleng mantap, matanya menatap lurus ke jalan. "Aku hanya ingin kau sukses di acara itu. Kau punya bakat luar biasa, jangan biarkan kelelahan menghancurkannya. Aku tidak akan tinggal di sana, aku akan tetap di rumah orang tuaku. Apartemen itu sepenuhnya milikmu selama empat minggu."

Leonor terdiam. Ia benar-benar buntu. Waktu adalah segalanya sekarang. Jika ia menerima tawaran ini, ia bisa menghemat empat jam setiap hari untuk menjahit. "Baiklah. Hanya empat minggu."

Keesokan harinya, Edgar mengantar Leonor ke apartemen tersebut. Tempat itu mewah namun minimalis, dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah kampus. Namun, dapur dan kulkasnya kosong melompati.

"Kau tidak bisa bertahan hanya dengan kopi," cetus Edgar. "Ayo, kita beli stok makanan."

Pemandangan sore itu sangat aneh bagi siapa pun yang melihatnya. Edgar Castiel Martinez, sang putra mahkota MTZ Group, sedang mendorong troli belanja di sebuah supermarket organik, didampingi oleh Leonor yang sibuk memilih sayuran.

Mereka mulai mengobrol, hal-hal ringan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Edgar bercerita tentang betapa ia benci makanan instan karena ibunya selalu memasak makanan sehat, sementara Leonor bercerita tentang ibunya yang dulu selalu membuatkan roti hangat setiap kali ia merasa sedih.

"Coba ini, protein bar ini bagus untukmu yang sering begadang," Edgar meraih sebuah kotak dari rak yang sama saat Leonor juga hendak mengambilnya.

Deg.

Tangan Edgar yang besar dan hangat tanpa sengaja menindih tangan Leonor yang kecil dan dingin di atas kotak tersebut. Keduanya mematung. Edgar bisa merasakan denyut nadi Leonor di bawah jarinya, sementara Leonor merasa seolah-olah ada aliran listrik yang merambat ke lengannya.

Mereka segera menarik tangan masing-masing dengan canggung. Leonor membuang muka, mencoba fokus pada label nutrisi, sementara Edgar berdehem keras sambil membenarkan letak kacamatanya yang tidak miring.

"Maaf," gumam Edgar pendek.

"Tidak apa-apa," jawab Leonor, suaranya sedikit bergetar.

Kejadian itu terulang lagi saat mereka berada di lorong buah-buahan. Saat mereka berdua mencoba mengambil satu buah apel yang tampak paling merah di tumpukan, bahu mereka bersentuhan. Kali ini, mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Ada kehangatan yang mulai mencairkan es di antara mereka. Edgar melihat binar di mata Leonor yang mulai kembali, dan Leonor melihat ketulusan yang murni di mata Edgar.

Beberapa hari kemudian, hubungan mereka menjadi lebih akrab. Edgar sering mampir setiap sore membawa makan malam, lalu mereka akan duduk di meja makan apartemen sambil membahas progres desain Leonor. Edgar tidak lagi memberikan saran bisnis yang mendominasi, ia lebih banyak mendengarkan Leonor bercerita tentang filosofi warna dan tekstur kainnya.

"Kau tahu, Edgar," ucap Leonor suatu malam sambil menyantap pasta yang dibawa Edgar. "Kau tidak seburuk yang kukira. Jika kau sedang tidak menjadi Alay, kau sebenarnya teman bicara yang cukup baik."

Edgar tertawa, tawa yang lepas dan hangat. "Dan kau, jika sedang tidak memaki atau memanggilku pria jahat, sebenarnya sangat mempesona saat bicara tentang mimpimu."

Lagi-lagi, suasana menjadi canggung. Kata mempesona itu menggantung di udara. Edgar menyadari bahwa ia baru saja memuji Leonor dengan sangat jujur, dan Leonor merasakan pipinya memanas.

Untuk menebus kesalahannya, Edgar benar-benar berbuat baik. Ia membantu Leonor mengangkat manekin yang berat ke apartemen, ia bahkan membantu memegang kain saat Leonor sedang memotong pola.

Di sela-sela kesibukan itu, sentuhan-sentuhan tak sengaja kembali terjadi, ujung jari yang bersentuhan saat memegang gunting, atau punggung tangan yang bergesekan saat menyusun benang.

Setiap kali itu terjadi, mereka akan terdiam sejenak, saling melirik dengan malu-malu, lalu kembali bekerja dengan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya.

Edgar menyadari satu hal, ia tidak lagi merasa bersalah. Sekarang, ia hanya ingin berada di dekat Leonor. Ia ingin melindungi gadis yang tadinya ingin ia hancurkan ini. Sedangkan Leonor, ia mulai merasa bahwa pertahanannya runtuh selembar demi selembar.

Sumpah untuk membuat Edgar jatuh cinta lalu mencampakkannya mulai terasa sangat sulit untuk dijalankan, karena ia menyadari bahwa dialah yang mungkin sedang jatuh ke dalam pesona pria yang ternyata punya hati sehangat ini.

Malam itu, saat Edgar berpamitan untuk pulang ke rumah orang tuanya, ia berhenti di ambang pintu. "Tidurlah yang nyenyak, Leonor. Besok aku akan membawakanmu sarapan sebelum kau ke studio."

Leonor tersenyum, senyum tulus pertama yang ia berikan pada Edgar. "Terima kasih, Edgar. Untuk semuanya."

Edgar pergi dengan perasaan membuncah di dadanya. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini hanya karena sebuah ucapan terima kasih. Di dalam apartemen, Leonor menatap pintu yang tertutup itu, lalu menyentuh anting bintangnya. Ia baru menyadari bahwa dalam seminggu ini, ia tidak lagi merasa sendirian di dunia yang kejam ini.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!