Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Titik Nadir di Gerbang Desa
"Woi, Bayu! Baru balik lo? Gaya bener jalan kaki, mobil mewah lo mana yang katanya harganya miliaran itu?"
Suara cempreng itu menusuk telinga Bayu seperti sembilu. Itu suara maut dari mulut Kang Jajang, tetangga sekaligus tukang ojek pangkalan yang dulu selalu menjilatnya setiap kali Bayu pulang membawa buah tangan mewah dari Jakarta. Kini, Jajang menatapnya dengan seringai meremehkan, matanya memindai kemeja Bayu yang kusut dan noda tanah di sepatunya yang mulai mengelupas.
Bayu hanya bisa menelan ludah yang terasa sepahit empedu. "Eh, iya Kang. Lagi pengen jalan aja, cari keringat," jawabnya pendek, suaranya parau dan bergetar.
"Cari keringat apa cari gratisan? Tampang lo kayak gembel pasar senen gitu. Jangan bilang lo bangkrut ya? Hahaha, emang bener kata orang, sombong itu ada batasnya, Yu!" tawa Jajang meledak, memprovokasi tukang ojek lain untuk ikut menertawakannya.
Bayu mempercepat langkahnya tanpa menoleh lagi. Setiap tawa yang mengekor di belakang punggungnya terasa seperti cambukan yang menguliti harga dirinya.
Di bawah terik matahari pedesaan yang memanggang kulit, ia terus berjalan, menyeret langkah kaki yang sudah melepuh sejak keluar dari terminal bus tiga kilometer yang lalu. Dompet di saku celananya kini tak lebih dari sekadar aksesoris tak berguna, kosong melompong, bahkan sepeser uang logam pun tak tersisa untuk sekadar membeli segelas air mineral di warung tadi.
Langkah kaki Bayu terasa semakin berat seiring dengan beban di pundaknya yang seolah menekan hingga ke sumsum tulang. Di dalam tas ransel lusuh yang ia dekap erat, tersimpan 'surat kematian' bagi masa depannya, lembaran-lembaran kertas bermaterai yang menyatakan penyitaan seluruh aset kantor dan apartemennya di Jakarta. Investasi bodong yang ia percayai telah menelan segalanya, tabungan lima tahun, kehormatan, hingga martabat yang ia bangun dengan keringat dan kesombongan.
Hutan jati di pinggir desa yang biasanya memberikan keteduhan, kini terasa mencekam, seolah pepohonan itu pun tahu bahwa putra daerah yang dulu mereka banggakan kini pulang sebagai sampah. Keringat bercampur debu jalanan membentuk garis-garis kotor di wajahnya yang kuyu. Perutnya melilit hebat, memprotes karena sejak kemarin sore hanya diisi oleh air keran masjid yang ia temui di perjalanan.
"Gue emang bego. Gue bener-bener sampah," bisiknya pada diri sendiri, suaranya hilang ditelan desau angin.
Kehancurannya bukan sekadar kehilangan materi. Ia mengingat bagaimana dua hari yang lalu, ia diusir secara paksa dari apartemennya oleh petugas keamanan di depan mata rekan-rekan bisnisnya.
Bayu, si pengusaha muda yang ambisius, harus keluar hanya dengan membawa satu ransel berisi pakaian dan tumpukan dokumen kegagalan. Ia melarikan diri ke desa bukan karena rindu, melainkan karena ia tidak punya tempat lain di dunia ini untuk merebahkan kepalanya yang terasa ingin pecah.
Langkah kakinya terhenti secara mendadak saat siluet rumah tua berdinding kayu itu mulai terlihat di balik rimbunnya pohon sawo. Rumah itu nampak semakin ringkih, catnya mengelupas di sana-sini, kontras dengan bayangan rumah mewah yang sempat ia janjikan akan ia bangun untuk ibunya setahun yang lalu.
Bayu bersembunyi di balik batang pohon sawo yang besar, detak jantungnya berpacu lebih cepat daripada saat ia menghadapi debt collector. Dari posisinya, ia bisa melihat halaman samping rumah. Di sana, seorang wanita tua dengan tubuh yang semakin ringkih sedang berlutut di depan papan gilesan kayu.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Suara batuk itu kering dan menyakitkan telinga. Wanita itu, ibunya, terhenti sejenak, memegangi dadanya yang sesak, lalu dengan gemetar kembali mengucek tumpukan baju-baju besar milik orang lain. Di sampingnya, terdapat dua ember besar berisi air cucian yang kotor.
"Bu, istirahat dulu napa? Itu cucian Pak Haji biar saya yang terusin nanti kalau saya balik dari sawah," teriak seorang tetangga dari kejauhan.
Ibunya tersenyum kecil, senyum yang membuat hati Bayu hancur berkeping-keping. "Gak apa-apa, Neng. Harus cepat selesai. Buat beli beras sama obat batuk. Bayu kayaknya lagi sibuk banget di kota, udah tiga bulan ini dia belum sempat kirim uang. Mungkin tabungannya lagi dipakai buat usaha yang lebih gede."
Mendengar kalimat itu, Bayu menutup mulutnya dengan telapak tangan agar isaknya tidak meledak. Kenyataan menghantamnya lebih keras dari bogem mentah manapun.
Selama berbulan-bulan ia berfoya-foya dan kemudian tenggelam dalam usahanya menyelamatkan diri di Jakarta, ia membiarkan ibunya kembali menjadi buruh cuci demi menyambung nyawa. Wanita yang seharusnya ia muliakan justru kembali mengeraskan kulit tangannya karena kelalaian dan keangkuhannya.
Air mata Bayu jatuh membasahi dokumen penyitaan yang ia pegang. Ia melihat ibunya mencoba berdiri untuk mengangkat ember, namun kakinya gemetar dan ia hampir terjatuh jika tidak berpegangan pada tiang jemuran. Ibunya tampak jauh lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya memutih sempurna, dan gurat-gurat penderitaan terukir jelas di wajahnya yang pucat.
"Ya Tuhan ... apa yang udah gue lakuin?" Bayu merosot, duduk bersimpuh di atas tanah kering di balik pohon sawo.
Ia meraba sakunya lagi, berharap ada keajaiban berupa selembar uang sepuluh ribu saja agar ia bisa membelikan ibunya obat batuk. Namun, jari-jarinya hanya menyentuh kunci apartemen yang sudah tidak bisa ia masuki lagi. Ia adalah seorang pecundang yang bahkan tidak sanggup membelikan sebutir parasetamol untuk ibunya.
Bayu teringat bagaimana ia dulu sering memamerkan kesuksesannya di media sosial, makan di restoran berbintang, dan membeli barang-barang yang tidak ia butuhkan hanya untuk validasi orang asing. Sementara di sini, di sudut desa yang terlupakan, ibunya harus bergelut dengan air sabun dan bau apek baju orang lain hanya agar dapur tetap mengepul.
"Maafin Bayu, Bu ... Bayu bener-bener anak durhaka," isaknya tertahan, dahi Bayu menyentuh tanah yang berdebu.
Ia tidak berani muncul. Ia tidak sanggup melihat kekecewaan di mata ibunya jika wanita itu tahu bahwa putra kebanggaannya pulang bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai beban baru. Bayu merasa seolah langit sedang runtuh menimpanya. Ia berada di titik nadir, di gerbang rumahnya sendiri, merasa seperti orang asing yang paling hina di muka bumi.
Angin sore berhembus kencang, membawa aroma tanah dan sabun cuci yang murahan. Bayu masih terpaku di sana, menyaksikan ibunya yang kini mulai menjemur satu per satu pakaian tetangga dengan gerakan yang sangat lambat. Setiap gerakan ibunya adalah tusukan bagi hati Bayu.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah melintas di jalan depan rumah, menyipratkan genangan air sisa hujan semalam tepat ke arah jemuran yang baru saja selesai ditata ibunya.
"Allahuakbar! Nggak liat ada orang apa?" teriak ibunya dengan suara lemah, namun mobil itu terus melaju tanpa peduli.
Ibunya terdiam, menatap jemuran yang kini kembali kotor terkena cipratan lumpur. Bahu wanita tua itu merosot. Ia tidak marah, ia hanya menghela napas panjang dan mulai mengambil kembali baju-baju itu untuk dicuci ulang. Kelelahan yang luar biasa terpancar dari matanya yang mulai merabun.
Melihat itu, Bayu mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah pada diri sendiri, pada nasib, dan pada ketidakberdayaannya memuncak. Namun, ia tetap tidak bisa bergerak. Ia lumpuh oleh rasa malu yang teramat sangat. Di dalam tasnya, surat sita itu seolah menertawakannya, mengingatkannya bahwa ia tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan kepada dunia, apalagi kepada ibunya yang malang.
Sore itu, di balik pohon sawo, Bayu bukan lagi seorang direktur muda yang angkuh. Ia hanyalah seorang anak manusia yang kehilangan arah, tenggelam dalam lautan penyesalan yang tak bertepi, meratapi kejatuhannya di depan pintu surga yang telah ia sia-siakan.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰