(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik Benalu
"Kau Tabib Tangan Hantu?" pria itu bertanya tanpa basa-basi.
"Benar, Yang Mulia. Orang-orang memanggilku Tabib Qiu," Han Luo membungkuk hormat. "Ada yang bisa kakek tua ini bantu?"
Pria itu adalah Tetua Mo Wu, salah satu ahli racun terkemuka di kubu Xue Mochen. Dia adalah salah satu dari dua pelindung yang berjaga saat Han Luo mengobati Xue Mochen siang tadi.
Tetua Mo Wu berjalan mendekat, menatap keranjang herbal di tangan Han Luo.
"Aku memeriksa Tuan Muda setelah kau mengobatinya," kata Mo Wu dingin. "Aliran Qi-nya memang lancar. Racunnya membeku. Tapi... metode yang kau gunakan. Menghentikan jantungnya dan menyumbat meridian apinya dengan es... itu adalah teknik yang sangat gila. Satu kesalahan kecil, dan dia akan mati."
"Tabib yang baik harus berani membunuh penyakit sebelum penyakit membunuh pasien," jawab Han Luo dengan suara bergetar yang dibuat-buat, persis seperti orang tua yang sedang menggurui.
Mo Wu mendengus. "Aku ahli racun, Tabib Qiu. Aku tahu tubuh manusia. Dan aku curiga, orang yang memiliki kontrol Qi sehalus itu bukanlah sekadar tabib jalanan. Buka jubahmu."
Han Luo menaikkan alisnya. "Maaf?"
"Aku bilang buka jubahmu. Aku ingin melihat aliran meridianmu. Jika kau benar-benar tabib biasa yang kebetulan beruntung, aku akan membiarkanmu pergi. Jika kau mata-mata... kau mati di sini."
Tetua Mo Wu melepaskan aura Jiwa Baru Lahir Menengah-nya, menekan Han Luo.
Ini adalah momen krusial.
Jika Han Luo menolak, Mo Wu akan menyerangnya. Jika Han Luo membuka jubahnya, Mo Wu akan melihat tubuh pemuda yang bugar (bukan tubuh kakek tua), dan penyamarannya akan hancur lebur.
Han Luo tidak panik. Di dalam otaknya yang berputar, dia mencari solusi.
Dia teringat pada lengan kirinya. Lengan boneka sutra yang kaku.
Han Luo perlahan mengangkat tangan kanannya ke kerah jubah lusuhnya. Tangan aslinya bergetar hebat, menahan tekanan aura Mo Wu.
"Jika... jika itu yang Tetua inginkan untuk percaya pada kesetiaan orang tua ini..."
Han Luo menurunkan jubah kirinya, mengekspos bahu dan lengan kirinya.
Mo Wu, yang tadinya siap membunuh, tiba-tiba membeku. Matanya melebar melihat pemandangan di depannya.
Di tempat lengan kiri itu seharusnya berada, hanya ada anyaman benang sutra pucat yang membalut sebongkah besi rongsokan berbentuk pedang patah. Anyaman itu kaku, mati, dan memancarkan hawa mayat yang sangat pekat.
"T-Tanganmu..." gumam Mo Wu, nada suaranya berubah dari mengancam menjadi terkejut.
"Tabib Hantu bukanlah julukan yang kubuat sendiri, Tetua," suara Han Luo bergetar, terdengar sangat menyedihkan dan penuh rasa sakit. "Dulu, aku mencoba menyembuhkan sebuah kutukan iblis yang terlalu kuat. Kutukan itu memakan lengan kiriku. Untuk mencegahnya menyebar ke jantung, aku memotong lenganku sendiri dan menggantinya dengan artefak mati ini."
Han Luo menatap Mo Wu dengan mata abu-abu matinya.
"Kultivasiku mentok. Sisa hidupku hanyalah rasa sakit dan penebusan dosa melalui pengobatan. Apakah Tetua masih ingin melihat tubuh rongsokan ini lebih jauh?"
Mo Wu menelan ludah. Sebagai ahli racun dan medis, dia bisa melihat bahwa "lengan" itu tidak memiliki aliran darah. Itu benar-benar benda mati. Hanya orang gila atau orang yang sangat putus asa yang akan bertahan hidup dengan kondisi cacat mengerikan seperti itu.
Kecurigaannya menguap, digantikan oleh rasa jijik bercampur simpati yang aneh.
"Cukup," Mo Wu memalingkan wajahnya. "Tutup kembali jubahmu. Maaf atas kecurigaanku. Di saat-saat perebutan takhta seperti ini, kami tidak bisa mempercayai siapa pun."
"Saya mengerti, Tetua. Kehati-hatian adalah kunci umur panjang," Han Luo merapikan jubahnya kembali, menyembunyikan lengan palsunya.
Mo Wu berbalik untuk pergi, tapi dia berhenti sejenak.
"Tabib Qiu. Tuan Muda sangat menghargaimu. Jangan kecewakan dia. Dan... jangan pernah berurusan dengan pihak Su Qingxue. Gadis itu adalah ular berbisa."
"Orang tua ini hanya tahu cara meracik obat, bukan meracik politik," Han Luo membungkuk.
Setelah pintu gudang tertutup dan aura Mo Wu menjauh, Han Luo menegakkan tubuhnya.
Senyum yang sangat sinis terukir di wajahnya.
Cacat fisik adalah senjata psikologis terkuat, batinnya. Orang selalu mengasihani yang cacat, dan rasa kasihan adalah gerbang menuju kelengahan.
Dia telah menggunakan kelemahannya sendiri untuk mengelabui ahli racun terbaik musuh.
Han Luo melihat ke luar jendela. Bulan bersinar terang di atas Kota Jinling.
"Perpustakaan sudah dikuras. Gudang sudah dijarah. Kepercayaan Tuan Muda Xue dan Tetuanya sudah dikantongi. Posisi Benalu sudah tertanam sempurna di dalam pohon Sekte Iblis."
Han Luo menepuk Cincin Penyimpanannya.
"Sekarang, aku hanya perlu menunggu Turnamen Perebutan Takhta dimulai. Saat Xue Mochen meledak di tengah arena... Su Qingxue akan mengira itu adalah kemenangannya."
Han Luo memutar tubuhnya untuk kembali ke kamar tamunya.
"Tapi yang tidak dia ketahui adalah... aku telah mengatur agar ledakan itu juga menghancurkan pijakannya."
tpi gw demen....