Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tengah malam buta, kesunyian kamar VVIP itu hanya dipecah oleh suara dengung halus AC dan detak jam dinding.
Permadi terbangun dengan napas yang sedikit memburu.
Entah karena mimpi atau memang karena insting alaminya sebagai pria sehat, ia merasakan gairah yang tidak tertahankan menyengat seluruh tubuhnya.
Ia melirik ke bawah selimutnya sendiri dan mengumpat pelan dalam hati.
Benar saja, "senjatanya" sudah berdiri tegak dengan gagahnya, seolah menuntut hak yang biasanya ia dapatkan setiap malam.
Permadi menoleh ke arah ranjang. Di bawah cahaya lampu tidur yang remang-remang, ia melihat Rengganis sedang tertidur pulas. Rambut istrinya yang sedikit berantakan di atas bantal dan bibirnya yang sedikit terbuka membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih menggoda.
"Sial..." gumam Permadi sambil memijat pangkal hidungnya.
"Kenapa harus di saat seperti ini sih?"
Ia mencoba memejamkan mata dan menghitung domba, tapi bayangan "gaya helikopter" semalam malah berputar-putar di kepalanya seperti film berkualitas 4K.
Setiap kali ia mencoba tenang, ingatannya justru menariknya kembali ke momen panas di atas kapal.
Permadi menarik napas dalam-dalam, berusaha mendinginkan pikirannya. Namun, gairah itu tetap memuncak.
Ia tahu, jika ia tetap berada di ruangan yang sama dengan Rengganis, mencium aroma parfum istrinya yang tertinggal di udara, ia bisa saja kehilangan kendali dan melupakan semua larangan dokter.
"Lebih baik aku di luar saja," gumam Permadi pelan.
Dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Permadi bangkit dari sofa. Ia menyambar jaketnya untuk menutupi bagian depannya yang masih "siaga," lalu berjalan jinjit menuju pintu.
Ia memutuskan untuk keluar ke selasar rumah sakit, mencari udara dingin atau mungkin sekadar berjalan-jalan di lorong yang sepi untuk mengalihkan energinya.
Baginya, berdiri di luar dalam kedinginan jauh lebih aman daripada menjadi "serigala" yang tidak sengaja menyakiti istrinya yang sedang terluka.
Di lorong rumah sakit yang sepi itu, Permadi duduk di kursi tunggu besi yang dingin, menatap langit-langit sambil menghela napas panjang.
"Sabar, Permadi. Sabar. Ini demi masa depan yang lebih panjang," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan "Kitty" yang masih belum mau berkompromi.
Langkah kaki Permadi bergema di lorong rumah sakit yang sunyi.
Jam menunjukkan pukul dua pagi, waktu di mana seharusnya ia terlelap dalam pelukan hangat istrinya. Namun di sinilah ia sekarang, berjalan menuju kantin rumah sakit yang hanya diterangi lampu neon pucat, berusaha mematikan gairah yang membakar akal sehatnya.
"Kopi hitam satu, Mas. Yang panas. Jangan pakai gula," ucap Permadi singkat kepada penjaga kantin yang tampak terkantuk-kantuk.
Ia duduk di kursi plastik pojok kantin, menatap kepul uap dari gelas kertas di depannya.
Pikirannya melayang kembali ke kamar VVIP tempat Rengganis terbaring.
Permadi mengusap wajahnya dengan kasar, merasa geli sekaligus frustrasi dengan kondisinya sendiri.
"Sialan," umpatnya lirih sambil menyesap kopi pahit itu.
"Padahal sebelum aku menikah dengan kamu, aku bisa mengontrolnya dengan sangat baik, Ganis."
Permadi teringat masa-masa lajangnya. Sebagai putra mahkota keluarga Wijaya, wanita bukan hal sulit baginya. Namun dulu, ia bisa bersikap dingin, tidak peduli, bahkan tidak pernah merasa "tersiksa" hanya karena harus berjarak beberapa meter dari seorang wanita.
Tapi dengan Rengganis, semuanya berbeda. Menikah dengan wanita itu seperti membuka kotak pandora yang berisi candu.
Setiap sentuhan, aroma, bahkan hanya tarikan napas Rengganis saat tidur, mampu meruntuhkan pertahanan yang sudah ia bangun bertahun-tahun.
Ia tidak hanya menginginkan tubuh istrinya; ia menginginkan kehadirannya, suaranya, dan segalanya.
"Sekarang, melihatmu tidur saja bisa membuatku harus melarikan diri ke kantin tengah malam begini," gumamnya sambil tersenyum kecut.
Ia menyadari bahwa cintanya pada Rengganis telah mengubahnya menjadi pria yang lebih rentan, namun juga lebih hidup.
Kecemburuannya pada Affan, kepanikannya saat Rengganis jatuh sakit, hingga perjuangannya menahan diri malam ini—semuanya adalah bukti bahwa Rengganis telah memiliki kendali penuh atas hati dan tubuhnya.
Permadi menghabiskan kopinya dalam satu tegukan besar, membiarkan rasa pahit itu membakar lidahnya, berharap rasa panas itu bisa mengalihkan fokus dari "Kitty" yang perlahan mulai bisa diajak berkompromi.
"Satu minggu, ya? Baiklah. Aku akan buktikan kalau aku bisa jadi suami yang sabar," tantangnya pada diri sendiri sebelum akhirnya bangkit untuk kembali ke kamar, siap menghadapi sisa malam di atas sofa keras demi wanita yang ia cintai.
Permadi menyandarkan punggungnya pada kursi plastik yang keras, matanya tak lepas dari layar ponsel yang menyala terang di tengah kegelapan kantin.
Di sana, sebuah foto Rengganis yang diambilnya secara diam-diam saat di pesawat kemarin menjadi satu-satunya pemandangan.
Rengganis tampak tertidur dengan kepala sedikit miring, bulu matanya lentik, dan ekspresi wajah yang begitu damai.
"Cantik sekali..." gumam Permadi dengan suara serak.
Ia mengusap layar ponselnya, seolah-olah bisa merasakan kelembutan kulit istrinya melalui kaca tersebut. Namun, semakin ia menatap foto itu, rasa rindu dan desakan di bawah sana justru semakin menjadi-jadi.
"Aahhh... ini benar-benar menyiksaku," keluhnya sambil memejamkan mata rapat-rapat.
"Bisa-bisanya aku jadi budak cinta seperti ini. Permadi Wijaya yang ditakuti di ruang rapat, sekarang malah terdampar di kantin rumah sakit karena tidak kuat melihat istrinya sendiri."
Ia menyesap kopi hitamnya yang mulai mendingin.
Rasa pahit yang pekat itu setidaknya memberikan sedikit distrasi pada saraf-sarafnya yang sedang menegang.
Permadi mencoba memikirkan hal lain—laporan keuangan perusahaan, proyek di Kalimantan, atau apa saja—namun pikirannya selalu berakhir pada lekuk tubuh Rengganis di balik lingerie hitam semalam.
Waktu terus bergulir. Satu jam, dua jam. Kesunyian kantin dan aroma kopi yang kuat perlahan-lahan mulai membius kesadarannya.
Rasa lelah setelah kepanikan luar biasa di laut tadi pagi, ditambah stamina yang terkuras habis semalam, akhirnya menuntut haknya.
Kepala Permadi mulai terasa berat. Ia melipat kedua tangannya di atas meja kantin yang dingin, menjadikan lengannya sebagai bantal darurat.
Dengan ponsel yang masih menampilkan foto Rengganis di genggamannya, Permadi akhirnya jatuh tertidur.
Sang Sultan tidur dengan posisi yang sangat tidak nyaman, di atas meja kantin yang dikelilingi bau cairan pembersih lantai, jauh dari kemewahan kasur king size hotel berbintang.
Namun di dalam mimpinya, ia tidak lagi berada di sana.
Ia kembali ke dek kapal, mendekap Rengganis erat, tanpa luka, tanpa rasa sakit, hanya ada mereka berdua di bawah taburan bintang.
Cahaya matahari pagi mulai mengintip dari balik tirai kamar VVIP.
Rengganis perlahan membuka matanya, hal pertama yang ia lakukan adalah menoleh ke arah sofa, tempat di mana suaminya berjanji akan tidur.
Hanya ada bantal yang sedikit berantakan dan selimut yang sudah terlipat asal-asalan.
Rengganis terdiam sejenak, mencoba menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.
Ia melihat ke arah kamar mandi, pintunya terbuka dan tidak ada suara gemericik air di sana.
Pikiran buruk mulai merayap di benaknya. Di saat fisiknya sedang lemah seperti ini, rasa insecure yang biasanya ia tekan dalam-dalam muncul ke permukaan.
"Apa Mas Permadi pergi? Apa dia bosan menungguku sembuh?" bisik Rengganis pada dirinya sendiri.
Pikirannya melayang pada Laras. Ia tahu wanita itu selalu mencari celah untuk masuk kembali ke kehidupan Permadi.
Apalagi semalam ia baru saja menolak melayani suaminya karena kondisi medis.
"Apa Mas Permadi bersama Laras sekarang? Apa dia mencari wanita lain karena aku tidak bisa memberinya apa yang dia mau?"
Air matanya mulai mengalir di pipi pucat Rengganis.
Ia menangis sesenggukan, merasa sangat rapuh dan ditinggalkan.
Rasa takut kehilangan Permadi terasa jauh lebih sakit daripada luka lecet di tubuhnya.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia mencabut kabel infus yang menempel di tangannya—tindakan nekat karena rasa paniknya sudah mencapai puncak.
Sambil meringis menahan nyeri di bagian bawah tubuhnya, Rengganis turun dari ranjang.
Ia berjalan pelan-pelan, berpegangan pada dinding dan kursi, langkahnya tertatih-tatih keluar dari kamar.
"Mas, kamu di mana?" isaknya lirih.
Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang mulai ramai oleh perawat yang berganti shift.
Hingga langkahnya sampai di area kantin. Matanya yang sembab menyisir setiap sudut ruangan, sampai akhirnya ia terpaku pada sebuah meja di pojok ruangan.
Di sana, Permadi sedang tertidur dengan posisi duduk yang sangat tidak nyaman.
Kepalanya berbantal lengan di atas meja plastik, dan tangannya masih menggenggam ponsel yang layarnya sudah gelap.
Rengganis terpaku. Tangisnya yang tadi penuh kecurigaan kini berubah menjadi tangis haru yang menyesakkan dada.
Pria itu tidak pergi ke mana-mana dan tidak mencari Laras.
Dia hanya sedang berperang dengan dirinya sendiri di tempat yang tidak layak ini, demi menjaga kehormatan istrinya yang sedang sakit.
Rengganis mendekat dengan langkah sangat pelan, lalu menyentuh pundak Permadi dengan lembut.
"Mas..."
Permadi tersentak, ia langsung bangun dengan wajah linglung. Matanya yang merah menatap Rengganis dengan kaget.
"Sayang? Kenapa kamu di sini?! Astaga, tanganmu berdarah! Mana infusnya?!"
Permadi langsung berdiri, panik melihat kondisi istrinya yang berdiri lemas di depannya.