Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Formulir magang
CEKLEK.
Pembatas kayu terbuka, memperlihatkan suasana hening sekaligus nyaman di dalam kamar. Gadis itu berhasil kembali tanpa mengundang curiga,
"Hh. Pegel juga, nyetir sepeda motor sendiri." gumam Ana, memijat pelan tengkuk leher yang terasa nyeri.
"Mending aku mandi dulu, terus tidur."
Kedua tangannya membuka jaket yang menutupi kemeja putih Ana. Melempar ke sembarang arah, lalu berbalik menghadap cermin meja rias.
Seketika gadis itu terkejut melihat bekas ciuman yang menorehkan noda merah gelap di kutikula leher.
"Sial! Ini mana bisa diilangin." gerutu Ana, menggosok kuat.
Mengingat amukan yang didapat. Andai panggilan telpon tadi tak menganggu, Ana pasti sudah habis disiksa.
"Jadi dia marah karena aku mengaku sebagai Reta?" gumam Ana menunduk lesu,
"Tapi kan, aku memang Reta!"
"Ga mungkin kan aku ngaku begitu? Yang ada dia tambah kesal dan langsung membunuhku."
Dia mendengus kesal, perlahan membuka setiap kancing yang mengait kemeja putihnya. Semakin terlihat beberapa bekas yang sama di bagian dada,
"Padahal aku berharap, bisa mengatakan semuanya. Soal kecelakaan itu...tapi sepertinya tidak bisa,"
"Tapi, untunglah Om Neil tidak sadar kalau aku adik Leo. Kalau tidak...Leo pasti juga kena imbasnya,"
"Lebih baik, aku tidak bertemu dengannya lagi. Tidak sebagai wanita penghibur yang telah dia tiduri..."
KEESOKAN HARI...
Tap.
Tap.
Tap.
Langkah kaki Ana dengan santai melewati lorong. Dengan baju formal serta tas yang tersemat di punggungnya,
"Untung saja, bekas ciumannya bisa ketutup." benak Ana sedikit mengusap kerah bajunya.
Sorot mata sedikit terganggu, mendapati gerombolan bocah yang menghadang jalannya.
"Hey. Tunggu!" sontak Van, menatap sinis.
"Astaga...cobaan apa lagi ini?" pikir Ana merasa muak,
Menoleh malas dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Seluruh orang yang melihatku, wajib menyapa. Itu aturan wajib!"
Ocehan yang baru saja terlontar membuat gadis itu merasa kesal, terlebih lagi karena gelak tawa Mia.
"Dia anak rektor. Kalau aku cari masalah, maka orang tuaku juga yang akan susah!" gerutu Ana dalam hati, berusaha meredam amarah.
Dengan sigap menerbitkan senyum sempurna di wajahnya, dua lesung pipi yang menawan mulai menghipnotis mereka.
"Maaf, aku benar-benar tidak tahu aturan itu." sanggah Ana dengan raut polos,
"Selamat pagi, Van..." sapa Ana dengan nada manja,
Berhasil membuat Van mematung, berhasil tenggelam dalam pesona.
"B-baiklah. Kali ini, aku memaklumi sikapmu!"
"Terima kasih, apa aku boleh masuk?" Ana berkedip polos,
"Hm..." berdehem mengiyakan, Van mengangguk menepi dari jalan.
Ana tersenyum puas, berjalan masuk tak lupa melempar tatapan sinis ke arah Mia.
"Van! Kamu membiarkannya begitu saja?" oceh Mia mengernyit,
"Diamlah. Tidak ada yang boleh menentangku!"
"His! Dasar rubah sialan! Baru kemarin dia datang, tapi sudah berani mengusik hidupku." benak Mia menggertakkan gigi,
"Pagi, Al..." sapa Ana tersenyum ramah,
"P-pagi." jawabnya, tak berani menatap.
Ditaruhnya tas tadi ke depan kursi, segera dia menempatkan bokong ke atas meja. Tanpa sadar pandangan itu tertuju pada lembar kertas,
"Itu apa?"
"O-oh, ini undangan buat magang ke perusahaan." jawab Al, senang hati menjelaskan barang miliknya.
"Wah...hebat banget. Kamu dapat undangan magang? Ke perusahaan mana?"
"Cuma perusahaan baru. Tapi gajinya lumayan,"
"Dapat gaji juga? Enak banget jadi pintar...andai saja aku sepintar kamu,"
Ana tersenyum lalu menunduk lesu, mengingat beban ekonomi yang mengintainya.
"Coba saja, aku bisa magang ke perusahaan juga. Apa ada cara lain ya? Aku tidak terlalu pintar, jadi mustahil dapat undangan." batin Ana bergumam sendiri,
Kebisuan Ana menarik perhatian. Alfio melirik, terkejut sekaligus panik melihat Ana tampak sedih,
"Ng, sebenarnya aku mau menolak undangan ini. Apa kamu mau menggantikanku?"
"Ha? Emangnya boleh seperti itu?"
Ana mendongak dengan mata berbinar, kembali tersenyum penuh harap, reaksinya membuat Alfio merasa lega.
"Seharusnya boleh karena perusahaan baru, jadi peraturannya tidak begitu ketat."
"Tunggu dulu. Tapi, kenapa kamu menolak undangannya?" Ana mengernyit penasaran,
Jangan sampai dia mengambil kesalahan dan memanfaatkan kebaikan temannya.
"Aku...belum siap. Aku tidak pandai bersosialisasi, aku tidak mau menambah masalah. Aku tidak akan kuat kalau mendapat bullyan seperti sekarang,"
"Padahal...aku juga ingin punya teman,"
Alfio murung, menunduk sibuk mengotak atik ujung bajunya, tak berani bertatap muka.
"Apa maksudmu? Aku kan sudah jadi temanmu!" celetuk Ana,
Tak ragu mengusap lembut ujung kepala temannnya.
Alfio mendongak, melihat senyum lebar di wajah Ana. Itu berhasil menenangkan, bagai sinar matahari yang menghangatkan hatinya.
Dia menyerahkan lembar undangan tadi kepada Ana,
"Wah..." Ana terkesan, menerima tanpa ragu.
Waktu pun berlalu, para murid mulai berjalan melanjutkan aktifitas di luar kelas. Beberapa mulai menuju ke kantin, dan yang lain bergerombol bersama teman mereka.
Begitu pula dengan Ana, telah selesai meminjam setumpuk buku pelajaran dari perpustakaan. Terlihat pria yang berdiri di sampingnya,
"Terima kasih Alfio, udah mau repot dan nganterin aku."
"Iya, sama sama..." sahutnya lirih sembari menggigit bibir bawah,
Masih malu-malu menjawab. Tak menyangka ada gadis yang mau berjalan bersamanya,
"Hey bau!" teriak suara pria dari arah belakang.
Reflek mengundang sorot mata, mereka menoleh dan mendapati Van berjalan dengan gerombolannya.
Semakin mendekat dan berhenti di hadapan Ana, melirik ke arah buku yang tengah mereka bawa.
"Sini bukunya," lugas Van dengan raut datar.
Alfio hanya diam tak menjawab, meski tubuhnya bergetar ketakutan.
"Udah sini. Jangan sok budeg," merebut paksa buku tadi,
"Kamu habis pinjem buku?
"...." Gadis itu menyahuti dengan anggukan, lalu menyerahkan buku yang ia bawa kepada Alfio,
"Seharusnya kamu minta bantuan ke aku aja,"
"Terima kasih, tapi aku tidak suka meminta bantuan padamu." tegas Ana, meraih paksa buku miliknya.
"Lagi pula, kamu kelihatan sibuk memandu mereka semua."
Ana menatap datar sekelompok pria songong yang berdiri dibelakang Van,
"Ayo Al, kita kembali ke kelas."
Mereka berbalik pergi, meninggalkan pria tadi.
Beberapa murid berlalu lalang, di tengah jalan, beberapa dari mereka tengah asik berceloteh sampai tak sadar menyenggol bahu kanan Ana.
Bruk!
"Ups! maaf, maaf." celetuknya, sigap menyentuh bahu gadis yang telah ia tabrak.
"Maaf ya, ini salah mereka. Aku sibuk bercerita dan ga sengaja nabrak kamu,"
"Hey! Padahal kau selalu mengoceh meski kita tidak memintanya!" hardik Gea mengerutkan alis.
"Hust! Udah diem."
"Sekali lagi, maaf ya!"
"Iya, gapapa." angguk Ana, dengan senyum ramah.
Perlahan mendongak, menatap lekat para gadis yang ada di depannya. Mereka terdiam seakan pernah bertemu,
"Loh. Kamu yang kemarin nanya gedung rektor kan?"
"I-iya, aku yang kemarin." sahut Ana, masih sibuk menatap dua wajah gadis yang begitu mirip.
"Kalian kembar?"
"Iya! Dia Sela, dan aku adiknya Seli." ucapnya tersenyum lebar,
Ana tak sengaja menatap lembar serupa yang Alfio berikan padanya,
"Oh, ini formulir magang. Mau aku kumpulin sekarang," imbuh Sela menyadari rasa penasaran Ana.
"Dikumpulkan kemana?"
"Tentu saja ke perusahaannya langsung,"