NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Fire-Sharpened Gold

Istana Araluen

Istana Araluen tidak pernah benar-benar tidur.

Malam itu, hujan turun tipis—cukup untuk membungkam langkah, cukup untuk menyembunyikan niat. Dari balik jendela tinggi sayap timur, Anthenia Blackwood berdiri diam, menatap halaman istana yang basah berkilau.

Sudah tiga hari sejak aula latihan.

Dan sejak itu pula, istana berubah sikap.

Tatapan yang dulu meremehkan kini berhati-hati. Senyum yang dulu sinis kini dipaksakan. Mereka tidak lagi melihat Anthenia sebagai “putri Duke yang rapuh”, melainkan sebagai variabel tak terduga.

Itu berbahaya, pikirnya.

Dan justru karena itu—bernilai.

Ketukan terdengar. Bukan pelayan.

“Masuk.”

Pintu terbuka, menampilkan Permaisuri Lunara Aurelius. Tanpa mahkota. Tanpa pengawal. Hanya jubah tipis dan tatapan yang terlalu tajam untuk disebut ramah.

“Kau tahu,” kata Permaisuri sambil melangkah masuk, “apa yang terjadi ketika emas diasah oleh api?”

Anthenia menoleh, tenang. “Ia tidak hancur. Ia menjadi murni.”

Permaisuri tersenyum kecil. “Jawaban yang tepat.”

Ia berdiri di samping Anthenia, ikut menatap hujan. “Kau delapan belas tahun. Usia yang terlalu muda untuk berani berdiri sejajar dengan Putra Mahkota.”

“Aku tidak berdiri sejajar,” jawab Anthenia. “Aku berdiri bertahan.”

“Hm.” Permaisuri meliriknya. “Kau sadar apa arti duel itu bagi istana?”

“Pesan,” kata Anthenia. “Bahwa aku bukan pion.”

“Dan bahwa William tidak tak tersentuh,” tambah Permaisuri pelan.

Keheningan jatuh.

“Yang Mulia,” ucap Anthenia, “Anda tidak akan memanggilku hanya untuk berbincang.”

Permaisuri tertawa pelan. “Langsung ke inti. Baik.”

Ia berbalik, tatapannya kini serius. “Aku ingin kau berada di lingkar dalam.”

Anthenia tidak bereaksi.

“Bukan sebagai bidak,” lanjut Permaisuri. “Sebagai penyeimbang.”

“Terhadap siapa?”

Permaisuri tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata, “Istana Araluen sedang retak dari dalam. Dan aku tidak akan membiarkannya runtuh di tangan orang yang salah.”

Satu nama terlintas jelas di benak Anthenia.

Alistair Valerius.

“Apa yang Anda minta dariku?” tanyanya.

Permaisuri menatapnya lama. “Kesetiaan—pada Araluen. Dan keberanian untuk mengatakan ‘tidak’ bahkan pada Kaisar, jika perlu.”

Permintaan itu… berbahaya. Hampir gila.

Namun Anthenia tidak gentar.

“Aku tidak menjanjikan ketaatan buta,” katanya tenang.

Permaisuri tersenyum puas. “Justru itu yang kuinginkan.”

Di sisi lain istana, di sebuah ruangan yang dipenuhi lilin, Alistair Valerius berdiri dengan tangan terkepal.

“Dia terlalu cepat,” desisnya. “Terlalu rapi.”

Heilen Valerius, ibunya, menatapnya dingin. “Karena kau membiarkannya.”

“William melindunginya.”

“Untuk saat ini,” balas Heilen licik. “Maka kita tidak menyerang gadisnya. Kita serang… reputasinya.”

Alistair menyeringai. “Pesta musim gugur.”

Heilen mengangguk. “Araluen menyukai tragedi yang tampak seperti kecelakaan.”

Keesokan paginya, halaman latihan kembali ramai.

William berdiri memimpin latihan para ksatria. Gerakannya presisi, tanpa cela. Saat Anthenia melintas, beberapa ksatria menoleh—lalu cepat-cepat menunduk.

William menghentikan latihan. “Istirahat.”

Ia berjalan mendekat. “Ibuku menemuimu.”

Bukan pertanyaan.

“Ya.”

“Dan?”

“Dan Araluen tidak sesederhana yang terlihat.”

William menatapnya, mata kelabunya tajam. “Tidak ada yang sederhana di sini.”

Ia terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Berhati-hatilah di pesta musim gugur.”

Anthenia mengangkat alis. “Ancaman?”

“Peringatan.”

Ia mengangguk. “Aku akan datang bersenjata.”

William hampir tersenyum.

Hampir.

Saat lonceng siang berdentang, Anthenia menatap langit Araluen yang kelabu.

Ia datang ke dunia ini tanpa pilihan.

Namun kini—

Ia memilih untuk bertahan, bertarung, dan mengubah arah cerita.

Dan pesta musim gugur…

akan menjadi panggung pertamanya.

Istana Araluen

Keesokan harinya, Araluen bangun dengan ritme yang berbeda.

Bukan lonceng, melainkan kabar.

Di lorong-lorong batu, di balik tirai, di sela langkah para pelayan—nama Anthenia Blackwood disebut lebih sering daripada cuaca. Bukan lagi dengan nada meremehkan, melainkan berhati-hati.

Di ruang belajar sayap timur, Anthenia duduk sendirian, membuka peta kerajaan. Ujung jarinya menelusuri jalur-jalur dagang, perbatasan utara, dan titik-titik kecil yang menandai benteng lama. Ia tidak membaca untuk hafal—ia membaca untuk memahami.

Pintu berderit pelan.

Genevieve Kesan masuk, membawa setumpuk dokumen. “Permaisuri memintaku mengantarkannya,” ucapnya lembut. Ia menaruh berkas di meja, lalu ragu. “Kau… tidak terganggu dengan semua tatapan itu?”

Anthenia menggeleng. “Tatapan tidak melukai. Keputusan yang salah, iya.”

Genevieve tersenyum kecil. “Kau berbeda dari yang kukira.”

“Banyak orang begitu,” jawab Anthenia.

Mereka bekerja dalam diam beberapa saat. Lalu Genevieve berbisik, “Beatrice marah. Adelaide juga. Mereka bilang kau mencari perhatian.”

Anthenia menutup peta. “Aku mencari keselamatan.”

Genevieve mengangguk—mengerti lebih dari yang ia ucapkan.

Sore itu, Permaisuri Lunara memanggil rapat kecil. Tidak resmi. Tanpa pengumuman. Hadir hanya beberapa orang: William, Nelia, Leopold, dan Anthenia.

“Pesta Musim Gugur tinggal dua hari,” kata Permaisuri. “Araluen akan penuh tamu. Penuh senyum. Penuh peluang.”

William bersandar pada meja. “Dan penuh risiko.”

Permaisuri menatap Anthenia. “Aku ingin kau berada di sisiku malam itu.”

Keputusan itu membuat ruangan hening.

Nelia menoleh cepat, lalu tersenyum—lega. Leopold menyipitkan mata, menilai. William tidak terkejut; ia hanya mengangguk singkat.

“Ada keberatan?” tanya Permaisuri.

“Tidak,” jawab Anthenia. “Tapi aku ingin tahu aturannya.”

Permaisuri tersenyum. “Aturannya sederhana: dengarkan, ingat, dan jangan bereaksi terlalu cepat.”

William menambahkan, datar, “Jika sesuatu terasa salah—pergi.”

Anthenia menatapnya. “Dan jika tidak bisa?”

William menatap balik. “Bertahan sampai aku tiba.”

Kesepakatan terjalin tanpa kata tambahan.

Malam menjelang. Di sayap barat, Heilen Valerius menerima laporan. Wajahnya tenang, matanya tajam.

“Dia akan berdiri di sisi Permaisuri,” kata Alistair, geram. “Di depan semua orang.”

Heilen mengusap cincin di jarinya. “Bagus. Panggung besar membuat jatuh lebih keras.”

“Bagaimana rencananya?”

“Bukan rencana,” balas Heilen halus. “Skenario.”

Ia tersenyum tipis. “Dan Araluen menyukai skenario yang tampak… kebetulan.”

Kembali di kamarnya, Anthenia menutup jendela. Hujan tipis kembali turun. Ia menatap bayangannya di kaca—wajah delapan belas tahun, mata yang jauh lebih tua.

Jane, bisik ingatan lama. Kota, senjata, keputusan cepat.

Anthenia, balas dunia ini. Gaun, senyum, dan pisau yang tak terlihat.

Ia menghela napas pelan.

“Dua hari,” gumamnya. “Cukup.”

Di kejauhan, lonceng Araluen berdentang—sekali. Pertanda malam penuh.

Bab ini belum selesai.

Api sudah dinyalakan.

Dan emas—

sedang diasah.

.....

Istana Araluen

Malam turun perlahan di Araluen, membawa serta cahaya obor yang berkelip di sepanjang koridor batu. Istana tampak tenang—namun ketenangan itu palsu.

Di ruang pribadi Duke Blackwood, Kaelen Blackwood berdiri menghadap jendela besar. Tangannya bertumpu di bingkai kayu, matanya menatap halaman istana yang diselimuti cahaya bulan.

“Delapan belas tahun,” gumamnya pelan. “Dan aku baru mengenali anakku sekarang.”

Ketukan pelan terdengar.

“Masuk.”

Seorang ksatria kepercayaan melangkah masuk, berlutut satu lutut. “Laporan, Duke. Selir Heilen meningkatkan pergerakan pelayannya. Terlalu sering ke sayap barat.”

Kaelen mendengus dingin. “Tentu saja.”

“Dan Putra Mahkota—”

“Apa tentang dia?”

“Beliau memerintahkan rotasi penjagaan dekat kamar Nona Anthenia. Tanpa pengumuman.”

Kaelen terdiam sesaat. Lalu sudut bibirnya mengeras.

“Panglima Aurelius tidak melakukan sesuatu tanpa alasan,” katanya. “Baik. Biarkan.”

Ksatria itu ragu. “Duke… apakah Nona Anthenia benar-benar—”

“Tidak,” potong Kaelen tegas. “Dia belum menjadi alat siapa pun.”

Saat pintu tertutup, Kaelen menoleh ke arah meja. Sebilah pedang lama tergeletak di sana—pedang latihan ringan, milik mendiang istrinya.

Ia menghela napas panjang.

“Seraphina… gadis kecil kita sudah berjalan terlalu jauh.”

Di sisi lain istana, Heilen Valerius duduk santai, menyeruput teh hangat. Wajahnya tenang, nyaris lembut.

“Dia dilindungi Duke,” lapor pelayan. “Dan Putra Mahkota.”

Alistair mengeram pelan. “Selalu begitu. Dia selalu datang terlambat untuk menghancurkan rencanaku.”

Heilen menurunkan cangkirnya. “Bukan terlambat. Hanya… belum selesai.”

“Apa maksud Ibu?”

Heilen tersenyum tipis. “Jika emas tidak bisa dipatahkan, buat ia diperebutkan.”

Alistair menatapnya, mata menyala penuh minat.

“Pesta Musim Gugur,” lanjut Heilen. “Banyak bangsawan. Banyak mata. Dan banyak pilihan.”

“Anthenia Blackwood,” gumam Alistair. “Di tengah semua itu.”

“Bukan sebagai korban,” kata Heilen lembut. “Sebagai umpan.”

Sementara itu, Anthenia berdiri sendirian di balkon kamarnya. Angin malam menyapu rambutnya, membawa aroma hujan yang tertahan.

Ia tahu.

Ia merasakan.

Perlindungan Duke.

Perhatian William.

Dan niat yang bersembunyi di balik senyum istana.

Di dunia lamaku, pikirnya, aku menghadapi peluru.

Di Araluen, aku menghadapi manusia.

Ia menggenggam pagar balkon perlahan.

“Aku tidak akan lari,” bisiknya. “Tidak lagi.”

Langkah kaki mendekat.

William berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

“Besok,” katanya singkat, “aku akan berangkat ke barak selatan. Dua hari.”

Anthenia menoleh. “Dan Pesta Musim Gugur?”

“Aku kembali tepat waktu.”

Ia menatapnya. “Kau mengkhawatirkanku?”

William tidak langsung menjawab.

“Aku mengkhawatirkan Araluen,” katanya akhirnya. “Dan saat ini, kau ada di pusatnya.”

Anthenia tersenyum tipis. “Kalau begitu, kita punya masalah yang sama.”

Untuk sesaat, tidak ada Panglima. Tidak ada putri Duke.

Hanya dua orang yang sadar—bahwa permainan telah dimulai.

Di kejauhan, lonceng istana berdentang dua kali.

Pesta semakin dekat.

Dan api… mulai memanas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!