Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Cahaya matahari pagi menembus tirai sutra kamar Anindita di mansion Paramitha, hangat dan lembut menyentuh wajahnya. Dia membuka mata perlahan, merasakan sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan—kedamaian.
Tidak ada mimpi buruk tentang Savitha. Tidak ada bayangan Zaverio yang menghantui. Tidak ada kecemasan tentang Hardana. Hanya tidur yang nyenyak, dalam, seperti masa kecilnya dulu.
Anindita meregangkan tubuhnya, tersenyum kecil. Di sampingnya, kakek masih tidur dengan nafas teratur—wajah tuanya terlihat damai, tangan keriputnya masih menggenggam tangan Anindita seperti melindungi.
Anindita mengecup dahi kakeknya lembut, berusaha tidak membangunkannya. Dia meraih ponsel dari nakas—dan jantungnya melompat melihat notifikasi di layar.
3 pesan baru dari: Suamiku ❤️
Dengan tangan gemetar karena antusias, Anindita membuka pesan itu.
"Sayangku, maaf ya aku tidak bisa meneleponmu semalam atau mengirim pesan. Aku benar-benar sibuk menangani krisis ini. Meeting marathon dari pagi sampai tengah malam. Tapi di tengah semua kekacauan ini, yang ada di pikiranku hanya kamu. Suamimu ini sangat, sangat merindukanmu. Aku berharap bisa segera menyelesaikan semua ini dan terbang pulang ke pelukanmu. I love you, my everything. - Hardana"
Air mata menggenang di mata Anindita—air mata kebahagiaan. Semua keraguan yang mengganjal di hatinya kemarin seolah mencair. Hardana baik-baik saja. Hardana merindukannya. Hardana mencintainya.
Tanpa berpikir panjang, dia menekan tombol call.
Nada sambung berbunyi sekali, dua kali, kemudian—
"Halo, sayangku..."
Suara Hardana terdengar hangat, sedikit lelah tapi penuh kasih sayang. Di latar belakang, Anindita bisa mendengar suara-suara samar—mungkin suasana hotel atau ruang kerjanya.
"Hardana..." Suara Anindita keluar lembut, penuh kerinduan. "Kamu baik-baik saja kan, sayang?"
"Tidak," jawab Hardana dengan nada bercanda. "Aku tidak baik-baik saja. Aku sangat merindukan istriku. Haih... andai saja aku bisa menyelesaikan semua ini dan segera menemuimu. Rasanya seperti sudah berbulan-bulan tidak bertemu padahal baru sehari."
Anindita tertawa kecil, tangannya secara refleks melayang ke perutnya yang rata. "It's okay, sayang. Aku juga sangat merindukanmu. Dan yang paling penting... ada sesuatu yang istimewa menunggu kamu di rumah."
Hening sejenak. Anindita bisa mendengar nafas Hardana yang tercekat.
"Sesuatu yang istimewa?" Suara Hardana terdengar penasaran, excited. "Kamu membuatku semakin tidak sabar pulang. Apa itu, sayang? Beri aku petunjuk kecil?"
"Bukan kejutan namanya kalau aku kasih tahu sekarang," goda Anindita, senyumnya melebar. "Tapi aku janji, ini akan menjadi berita paling bahagia yang pernah kamu dengar."
"Baiklah, baiklah. Aku akan segera kembali, sayang. Tolong tunggu aku ya..." Nada Hardana berubah menjadi serius, penuh perhatian. "Dan sayang, jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu keras dalam bekerja. Aku tidak mau kamu sakit. Aku tidak mau kejadian waktu kamu masuk rumah sakit terulang lagi."
Anindita terdiam. Dia ingat kejadian itu—dua tahun lalu, dia kolaps karena kelelahan dan dehidrasi akibat bekerja non-stop selama empat hari tanpa tidur yang cukup. Hardana yang menemukannya tidak sadarkan diri di kantor, Hardana yang membawanya ke rumah sakit, Hardana yang tidak tidur semalaman di sampingnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Iya, sayang," jawab Anindita lembut, tangannya mengusap perutnya—tempat di mana anak mereka tumbuh. "Kamu juga jaga kesehatanmu baik-baik. Aku selalu merindukanmu, dan aku mohon... kirim pesan untukku lebih sering biar aku tidak khawatir, oke?"
"Baiklah, cintaku. Aku akan mengirim pesan lebih sering agar kamu tidak khawatir." Suara Hardana terdengar tersenyum. "Sayangku, aku harus kembali bekerja sekarang. Meeting berikutnya sebentar lagi. Kamu jaga diri baik-baik ya. I love you so much."
"I love you too..."
Sambungan terputus.
Anindita menatap layar ponselnya, senyum masih mengembang di bibirnya. Tapi entah kenapa, ada perasaan aneh yang masih mengganjal di dadanya—seperti awan tipis yang menghalangi matahari. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan, tapi terus berbisik di sudut paling gelap pikirannya.
Tidak, Anindita. Jangan berpikir negatif. Hardana baik-baik saja. Kalian baik-baik saja.
Dia menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu, dan bersiap untuk hari yang panjang.
...****************...
Sementara itu - Singapura
Hardana menekan tombol end call, nafasnya keluar panjang. Dia berdiri di balkon suite hotel mewah menghadap Marina Bay, pemandangan spektakuler terbentang di hadapannya. Tapi matanya tidak melihat keindahan itu. Matanya menatap kosong ke cakrawala.
"Papa!"
Suara kecil yang ceria membuyarkan lamunannya. Hardana berbalik dan senyum langsung merekah di wajahnya.
Indira berlari kecil dengan dress pink bergambar princess, rambut dikuncir dua dengan pita yang matching. Wajah mungilnya berseri, matanya berbinar penuh kebahagiaan.
"Iya, anak Papa..." Hardana berjongkok, merentangkan tangannya, dan Indira langsung melompat ke pelukannya. Dia mengangkat gadis kecil itu tinggi-tinggi, membuat Indira tertawa kencang.
"Papa sudah selesai menelepon?" tanya Indira polos, kepalanya miring dengan lucu.
Hardana mengangguk, menyimpan ponselnya ke saku celana. "Sudah, sayang. Kenapa?"
"Mama mencari Papa..." Indira manyun, bibirnya maju lucu. "Kata Mama, kita hari ini mau jalan-jalan ke pantai. Papa tidak lupa kan?"
Hardana mencubit hidung Indira gemas. "Papa ingat kok. Ayo kita berangkat, anak Papa."
"YEAAAY!" Indira memeluk leher Hardana erat, mencium pipinya berkali-kali.
Dari dalam suite, Savitha muncul—mengenakan dress pantai berwarna putih yang simple tapi elegan, rambut panjangnya tergerai, kacamata hitam bertengger di kepalanya. Dia tersenyum melihat Hardana dan Indira.
"Sudah siap? Mobilnya sudah menunggu di bawah," kata Savitha lembut.
"Sudah, ayo berangkat." Hardana menggandeng tangan Rania dengan tangan kanannya, tangan kirinya menggendong Indira.
Mereka bertiga berjalan keluar suite, tertawa bersama—terlihat seperti keluarga bahagia sempurna.
Dan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Hardana baru saja berbohong pada istrinya sendiri.
...****************...
Perusahaan Paramitha Corp - Ruang Rapat Lantai 30
Anindita duduk di ujung meja panjang conference room, berhadapan dengan lima eksekutif dari perusahaan properti terbesar di Asia Tenggara. Ini adalah deal besar—proyek pembangunan kompleks mixed-use senilai 5 triliun rupiah. Kalau berhasil, ini akan menjadi proyek terbesar dalam sejarah Paramitha Corp.
Di sampingnya, Kirana duduk dengan laptop, siap mencatat setiap detail meeting.
"Jadi, Nyonya Kusuma," Mr. Tan—CEO dari perusahaan properti itu—membuka pembicaraan dengan bahasa Inggris. "Kami sangat terkesan dengan proposal Paramitha Corp. Dari segi finansial, teknikal, dan visi jangka panjang, kalian adalah mitra yang kami cari."
Anindita tersenyum profesional. "Kami sangat menghargai kepercayaan Anda, Mr. Tan. Paramitha Corp berkomitmen untuk memberikan hasil terbaik dengan integritas penuh."
"Saya percaya itu." Mr. Tan membuka folder, mengeluarkan kontrak yang sudah disiapkan. "Kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya rasa kita bisa menandatangani kontrak ini sekarang—"
BRAK!
Pintu ruang rapat terbuka dengan kasar. Semua kepala menoleh.
Seorang pria muda berjalan masuk dengan angkuh—tinggi, berkulit sawo matang, rambut di-styling rapi ke belakang, mengenakan setelan jas abu-abu mahal. Wajahnya tampan dengan cara yang berbeda dari Hardana atau Zaverio—lebih... liar. Matanya tajam, senyumnya sinis.
Vyan Syailendra.
Anindita membeku di kursinya. Darahnya langsung mendidih. Dari semua orang yang bisa mengganggu hari pentingnya, kenapa harus dia?
"Halo, Nyonya Anindita Paramitha..." Vyan berhenti, pura-pura berpikir. "Eh, maaf. Nyonya Anindita Paramitha Kusuma sekarang ya? Hampir lupa kalau kamu sudah menikah."
Nada suaranya menusuk—penuh sindiran, penuh kebencian yang ditutup senyum manis.
Anindita berdiri, posturnya tegak, matanya menyala. "Apa yang kau lakukan di sini, Tuan Vyan Syailendra?"
Mr. Tan dan eksekutif lainnya saling berpandangan, bingung dan tidak nyaman.
Vyan berjalan santai mengelilingi meja, tangannya menyentuh permukaan kayu mahoni dengan jemari yang mengetuk-ketuk pelan—bunyi yang menyebalkan.
"Tidak ada apa-apa kok." Senyumnya melebar. "Bukankah ini asyik, Nona Dita? Eh, Anindita. Kita bertemu lagi setelah sekian lama. Dan di saat yang... tepat."
"Keluar dari ruang rapatku." Suara Anindita dingin, setiap kata keluar dengan penekanan. "Di mana keamanan?"
"Eh, tidak perlu repot-repot." Vyan mengangkat tangan dengan santai. "Aku bisa keluar sendiri kok. Tapi sebelum itu..."
Dia mengeluarkan iPad dari tas kulit yang dibawanya, men-swipe layar beberapa kali, kemudian melemparnya ke tengah meja.
Sebuah video mulai diputar.
Anindita memicingkan mata, mencoba melihat apa yang ditampilkan. Dan jantungnya langsung berhenti.
Video itu menunjukkan sebuah dokumen—dokumen investigasi audit yang seharusnya confidential. Dokumen yang menunjukkan bahwa salah satu kontraktor yang Paramitha Corp rencanakan untuk proyek ini pernah terlibat dalam kasus korupsi lima tahun lalu.
Bukan Paramitha yang korupsi—tapi kontraktornya. Tapi di mata investor yang tidak mengerti konteks...
"Apa ini?!" Mr. Tan berdiri, wajahnya memerah. "Nyonya Kusuma, apa benar ini? Anda berencana menggunakan kontraktor yang tidak jelas track recordnya?"
"Mr. Tan, tolong dengarkan—"
"Saya rasa kami perlu review ulang proposal ini." Mr. Tan memasukkan kontrak kembali ke dalam tasnya, eksekutif lainnya mengikuti. "Kami akan menghubungi Anda kembali setelah investigasi internal kami selesai."
"Mr. Tan, mohon tunggu—"
Tapi Mr. Tan dan timnya sudah berjalan keluar, meninggalkan ruang rapat dalam keheningan yang mencekam.
Anindita berbalik menghadap Vyan, matanya menyala dengan kemarahan yang hampir tidak bisa dia kontrol lagi.
"VYAN SYAILENDRA!" teriaknya—sesuatu yang sangat jarang dia lakukan. "APA YANG KAU LAKUKAN?!"