Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 16: Masa lalu Liorlikoza [1]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Saat ini bukan mimpi, bukan halusinasi tapi juga belum sepenuhnya dunia lain. Rakes tetap penjaga, hadir sebagai jangkar, meski tidak selalu bisa ikut masuk sepenuhnya.
Begitu pintu itu menutup, cahaya lenyap.
Bukan padam, lenyap, seolah cahaya tidak pernah menjadi konsep di ruang itu. Gudang yang barusan terasa luas dan padat oleh benda-benda tua runtuh menjadi satu sensasi tunggal: gelap sementara. Gelap yang bergerak. Gelap yang bernapas.
Saka refleks menarik napas tajam.
Udara masuk ke paru-parunya, tapi rasanya salah, terlalu ringan, terlalu tipis, seperti ia menghirup bayangan dari udara itu sendiri. Kakinya masih menapak lantai, ia tahu itu, tapi sensasi berat tubuhnya mulai berkurang, seolah gravitasinya sedang dinegosiasikan ulang.
“Rakes—” suaranya keluar, tapi terdengar jauh, memanjang.
“Aku di sini,” jawab Rakes cepat.
Nada itu bukan panik. Bukan juga tenang palsu. Nada orang yang sudah mengantisipasi ini, dan memilih tetap berdiri.
Saka ingin menoleh, tapi tubuhnya terasa terlambat merespons niat. Ada tarikan. Bukan seperti tangan, bukan seperti angin. Lebih seperti keputusan yang dibuat tanpa bertanya padanya.
Dadanya menghangat—lalu kosong.
Perasaan itu membuatnya tersentak. Bukan sakit. Lebih seperti… ruang di dalam dirinya dibuka paksa, dan sesuatu mulai ditarik keluar perlahan, hati-hati, tapi tanpa izin.
“Apa ini—” napasnya terputus. “Kenapa rasanya kayak—”
“Jangan melawan,” suara Rakes terdengar lebih dekat sekarang. “Dan jangan ngejar apa pun.”
“Gue—”
“Pegang suara gue,” tegas Rakes. “Kalau lo ngerasa tubuh lo ringan, itu normal. Tapi jangan ikut sepenuhnya.”
Saka ingin bertanya ikut ke mana, tapi kalimat itu tak sempat terbentuk.
Karena gelap itu bergerak.
Bukan mendekat. Tapi membuka diri.
Dan tiba-tiba, ia melihat.
Awalnya hanya kilatan. Cahaya pucat, hangat, seperti sore hari yang terlalu lama dikenang. Lalu suara. Tawa kecil. Langkah kaki berlarian. Nafas terengah yang bukan miliknya.
Saka terhuyung satu langkah, atau merasa begitu, dan dunia bergeser.
Ia berdiri di sebuah rumah.
Bukan rumah besar. Bukan juga kecil. Rumah yang terasa pernah penuh, meski sekarang ia belum sepenuhnya yakin kapan “sekarang” itu terjadi. Dinding kayunya kusam, tapi bersih. Lantai berderit pelan di bawah kaki-kaki kecil yang berlari.
Anak-anak.
Banyak.
Mereka bermain petak umpet.
Saka membeku.
Seorang anak perempuan dengan pita rambut longgar berlari melewatinya, nyaris menabraknya, tapi tubuhnya tidak tersentuh. Anak itu tertawa, menoleh ke belakang.
“Jangan ketemuin aku!” teriaknya, ceria.
Seorang anak laki-laki menghitung di dekat tangga, matanya ditutup, suaranya lantang dan tak sabar. “Delapan… sembilan… sepuluh!”
Saka menoleh sekeliling, jantungnya berdegup keras. Rumah itu terasa hidup dengan cara yang menyakitkan, bukan karena kebisingannya, tapi karena ketidaktahuannya. Anak-anak itu tidak sadar ada yang salah. Tidak sadar ada yang menonton.
Tidak sadar pada Saka.
“Ini…” napasnya bergetar. “Ini apa?”
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah maju, perlahan. Kakinya menapak lantai kayu dengan mantap sekarang, terlalu mantap. Bau rumah itu masuk ke hidungnya: kayu tua, sabun murah, dan sesuatu yang samar… seperti hujan yang tidak sempat jatuh.
Ia melewati ruang tamu. Mainan kayu berserakan. Di dinding, ada coretan tinggi badan anak-anak, garis-garis kecil dengan tanggal di sampingnya.
Tangannya gemetar saat membaca satu tanggal.
Itu bukan tahun ini.
Bukan juga dekat.
“Saka.”
Suara itu datang dari jauh, terdistorsi, seperti melewati air.
Rakes.
Ia menoleh cepat, tapi rumah itu tidak berubah. Anak-anak masih berlari. Masih tertawa. Masih bersembunyi di balik lemari, di bawah meja, di balik tirai.
“Saka, dengar gue.”
Dadanya terasa ditarik lagi. Lebih kuat sekarang. Seolah rumah itu menyadari kehadirannya dan… mengait.
“Gue di mana?” bisiknya.
Jawabannya datang bukan dalam kata.
Ia tahu.
Rumah ini bukan tempat.
Ini sisa.
Sesuatu yang tertinggal karena terlalu banyak yang pergi sekaligus. Terlalu cepat. Terlalu mendadak. Anak-anak ini, mereka bukan kenangan utuh. Mereka jejak. Pantulan terakhir dari suara yang tidak sempat disimpan dunia.
Petak umpet.
Permainan mencari dan bersembunyi.
Dan tak satu pun dari mereka ditemukan.
Saka tersentak mundur.
“Rakes!” suaranya pecah. “Gue bisa lihat mereka, ”
“Cukup,” potong Rakes tajam. “Jangan ikut lebih dalam.”
“Tapi mereka—”
“Saka,” nada itu sekarang berat, menahan sesuatu. “Kalau lo terus masuk, lo bakal jadi bagian dari rumah itu.”
Tarikan itu menguat.
Anak-anak mulai berhenti berlari.
Satu per satu, mereka diam.
Kepala kecil menoleh ke arahnya, serempak. Mata mereka kosong, bukan menyeramkan, tapi menunggu. Seperti anak-anak yang akhirnya sadar ada orang dewasa di ruangan.
“Kamu ikut main?” tanya salah satu dari mereka polos.
Saka mundur satu langkah lagi. Dadanya sesak.
“Gue nggak bisa, ”
“Saka,” suara Rakes sekarang sangat dekat, sangat nyata. “Balik. Sekarang.”
Ia memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya sejak tarikan itu dimulai, ia memilih.
Ia meraih suara itu. Bukan dengan tangan, tapi dengan keputusan sederhana dan putus asa: aku belum selesai hidup.
Rumah itu bergetar.
Tawa anak-anak pecah menjadi gema panjang, lalu memudar.
Gelap kembali, kali ini bukan sementara.
Saka terjatuh ke depan, lututnya menghantam lantai batu gudang. Udara menghantam paru-parunya kasar, nyata, menyakitkan.
Ia terengah, berkeringat dingin.
Rakes sudah berlutut di depannya, kedua tangannya mencengkeram bahu Saka erat, bukan menahan, tapi memastikan ia masih di sini.
“Lo keluar,” kata Rakes lirih, hampir tak percaya. “Bagus.”
Saka mengangkat kepala, matanya merah, napasnya gemetar.
“Rakes…” suaranya nyaris tidak keluar. “Mereka masih main.”
Rakes tidak menyangkal. Itu yang paling menakutkan.
“Iya,” katanya pelan. “Dan sekarang lo tahu kenapa pintu itu dikunci.”
Ia menarik Saka ke dalam pelukan singkat, kuat, membumi, nyata.
“Dan kenapa,” lanjutnya, “gue nggak pernah ninggalin lo sendirian terlalu lama.”
Di luar gudang, dunia masih berjalan.
Di dalam diri Saka, sebuah rumah tua baru saja membuka pintunya, dan belum sepenuhnya tertutup.
Malam datang tanpa izin.
Saka tertidur karena kelelahan, bukan karena damai. Tubuhnya masih mengingat sensasi ditarik keluar dari dirinya sendiri, seperti ada bagian yang belum benar-benar kembali, tertinggal sebentar terlalu lama di tempat yang tidak mengenal nama.
Mimpinya tidak langsung terbentuk.
Awalnya hanya gelap yang lembut. Bukan gelap pintu gudang. Bukan gelap rumah itu. Ini gelap yang menyerupai kelopak mata tertutup di siang hari, masih ada cahaya samar di baliknya.
Lalu terdengar suara langkah kecil.
Pelan. Berhati-hati. Seperti seseorang yang takut ketahuan tapi ingin ditemukan.
“Saka…”
Namanya disebut dengan intonasi yang salah. Terlalu ringan. Terlalu akrab, seolah sudah lama dipanggil begitu.
Ia membuka mata.
Ia berdiri di halaman belakang sebuah rumah.
Rumah yang sama.
Kali ini matahari ada di langit. Tidak terik. Hangat, keemasan, seperti sore yang tidak pernah benar-benar berakhir. Rumput di bawah kakinya hijau tapi tidak basah. Udara terasa bersih, bersih dengan cara yang mencurigakan.
Seorang anak perempuan berdiri beberapa langkah di depannya.
Rambutnya dikepang dua, sedikit berantakan. Gaunnya sederhana, warna pucat, dengan ujung yang sudah sering dicuci. Wajahnya tidak asing, bukan karena Saka mengenalnya, tapi karena wajah itu pernah dilihatnya.
Di rumah itu.
Di antara anak-anak yang berlari.
“Kamu datang lagi,” kata anak itu ceria. “Aku kira kamu nggak mau main.”
Saka menelan ludah. “Ini… mimpi?”
Anak itu memiringkan kepala. “Kalau kamu mau.”
Jawaban itu tidak menjawab apa pun.
“Siapa kamu?” tanya Saka pelan.
Anak itu tersenyum lebar, bangga dengan sesuatu yang sederhana.
“Evangelin Arkozia.”
Nama itu jatuh dengan jelas. Terlalu jelas untuk mimpi.
“Aku boleh panggil kamu Evan?” tanya Saka, tanpa tahu kenapa ia bersikap… sopan.
“Boleh!” jawabnya cepat. “Semua orang manggil aku Evan. Kecuali Hans. Dia selalu sok formal.”
Seolah dipanggil, suara lain muncul dari balik pohon besar di samping halaman.
“Aku dengar itu.”
Seorang anak laki-laki keluar sambil menyilangkan tangan. Rambut pirangnya rapi dengan cara yang tidak cocok untuk anak seusianya. Posturnya tegak, ekspresinya serius, terlalu serius untuk permainan petak umpet.
“Hans Remington,” katanya, menunduk sedikit. “Kalau ini mimpi kamu, tolong atur supaya lebih masuk akal.”
Saka menghela napas pendek, hampir tertawa karena gugup. “Oke. Oke. Ini jelas mimpi.”
“Kamu selalu bilang begitu,” sahut Evan sambil mendengus. “Terus tetap datang lagi.”
“Selalu?” ulang Saka.
Hans membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Itu… bukan urusanku.”
Ada gerakan di belakang mereka.
Di dekat pagar kayu yang setengah lapuk, seorang anak laki-laki lain berdiri diam. Kulitnya lebih gelap, rambutnya hitam legam dan jatuh lurus menutupi sebagian wajah. Pakaiannya paling sederhana di antara mereka, kaus polos, celana pendek lusuh.
Ia tidak mendekat. Tidak juga pergi.
Ia hanya menatap Saka dengan mata yang dalam dan tenang. Tidak kosong. Tidak menunggu. Seperti seseorang yang sudah tahu akhir permainan dan memilih diam.
“Dan dia?” tanya Saka pelan.
Evan menoleh. “Oh. Itu Ian.”
“Ian siapa?”
Evan mengangkat bahu. “Ian aja.”
Saka mencoba tersenyum ke arah anak itu. “Halo, Ian.”
Ian tidak menjawab. Tapi ia mengangguk tipis, gerakan kecil, hampir tak terlihat.
“Kami mau main,” kata Evan, menarik tangan Saka tanpa benar-benar menyentuh. “Petak umpet. Kali ini kamu ikut beneran.”
Jantung Saka berdegup lebih cepat. “Kalian… masih main itu?”
Hans mendecak. “Permainan belum selesai.”
“Kenapa belum?” tanya Saka.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Angin berhembus pelan. Daun-daun bergerak tanpa suara. Rumah di belakang mereka berdiri diam, terlalu diam untuk rumah yang pernah penuh tawa.
“Kamu beda dari yang lain,” kata Evan tiba-tiba, menatap Saka serius untuk pertama kalinya. “Kamu bisa dengar kami.”
Saka merasakan tenggorokannya mengering. “Kalian… siapa sebenarnya?”
Hans menatap ke arah rumah. “Anak-anak yang belum pulang.”
Ian akhirnya berbicara.
Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh angin. “Dan kamu berdiri di pintunya.”
Kalimat itu membuat dunia terasa miring.
“Aku nggak mau janji apa-apa,” kata Saka cepat, jujur. “Aku bahkan nggak ngerti ini apa.”
Evan tersenyum lagi, lembut, tanpa tuntutan. “Nggak apa-apa. Main aja dulu.”
Hans mengangguk setuju. “Kamu nggak harus cari kami.”
“Terus?”
“Kami cuma mau kamu tahu,” lanjut Hans, “kalau suatu hari kamu dengar kami manggil… itu bukan buat nyakitin kamu.”
Ian menatapnya lama. “Dan bukan buat pergi.”
Saka membuka mulut untuk bertanya lebih jauh,
Ia terbangun dengan napas terengah.
Kamar asrama gelap. Sunyi. Jendela sedikit terbuka, angin malam masuk pelan.
Tangannya masih terulur ke depan, seolah tadi menggenggam sesuatu yang hangat.
Nama itu masih tertinggal di kepalanya.
Evangelin Arkozia.
Hans Remington.
Ian.
Di ranjang sebelah, Rakes duduk tegak.
Sudah bangun.
Sudah lama.
“Kamu mimpi,” kata Rakes pelan. Bukan bertanya.
Saka menoleh, suaranya serak.
“Mereka ngajak main.”
Rakes tidak langsung menjawab.
Itu cukup untuk membuat Saka tahu satu hal pasti:
Mimpi itu… bukan sekadar mimpi.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, tapi bagi Saka, normal mulai kehilangan makna. Ia bisa tersenyum di kelas, ikut makan, tertawa dengan teman-temannya, tapi ada rasa kosong, seperti ada mata yang selalu menatap dari balik tirai kenyataan.
Ian mulai muncul.
Awalnya hanya sekilas. Dalam mimpi pertama setelah pertemuan di gudang rahasia, Ian muncul di pojok halaman, berdiri diam saat anak-anak lain berlari-lari dan tertawa. Tidak menatap siapa pun kecuali Saka, atau setidaknya begitu rasanya. Ian tidak tersenyum, tidak bergerak, hanya ada. Diam. Ada.
Saka merasa terganggu. Ia mencoba menyapanya dalam mimpi, tapi Ian tetap diam, mengangguk tipis atau bahkan tidak sama sekali, sekadar berdiri seperti patung.
Setiap mimpi baru, Ian selalu ada. Dalam berbagai skenario, di halaman belakang yang sama, di dalam rumah kayu tua yang berderit, bahkan di gudang gelap yang tercium kayu lapuknya. Ia tidak bicara, tidak menoleh, tidak menatap anak-anak lain. Hanya menunggu, atau mungkin mengamati.
Saka mulai menunggu juga. Mimpi-mimpi itu mulai terasa seperti rapat diam antara dirinya dan Ian. Ia sadar, perlahan, bahwa kehadiran Ian bukan sekadar kebetulan. Ada sesuatu yang Ian simpan, sesuatu yang tidak pernah diucapkan, dan rasa itu semakin menekan.
Rakes memperhatikannya.
“Lo mikir terlalu keras,” katanya satu sore, saat mereka duduk di tepi lorong asrama, mata Saka menatap kosong ke lantai. “Ian nggak ngomong bukan berarti dia nggak penting. Dia… cuma berbeda. Cara dia liat dunia nggak sama kayak kita.”
Saka mengangkat kepala, menatap Rakes. “Berbeda gimana?”
Rakes menghela napas panjang. “Dia selalu… ada di antara yang kamu lihat dan yang nggak bisa kamu lihat. Jadi jangan coba paksain dia bicara. Itu bukan caranya komunikasi.”
Saka mengangguk, tapi tetap penasaran. Setiap malam, Ian muncul di mimpinya, diam. Beberapa kali, Saka mencoba mendekat, tapi tubuhnya terasa berat. Ada tarikan halus, seolah Ian menjaga jarak dengan kekuatan yang tidak terlihat. Sekali, Saka berhasil menyentuh lengan Ian, tapi sentuhan itu seketika menghilang, seperti asap, meninggalkan rasa dingin yang menempel di kulitnya.
Suatu malam, mimpi itu berubah. Ian tidak hanya diam di sudut, tapi mulai bergerak perlahan mengikuti Saka, tetap diam. Tidak bicara, tidak menatap, hanya berjalan di belakang, kadang muncul di samping, kadang menghilang ke bayangan. Sensasi itu membuat Saka merinding, seolah ia sedang diawasi oleh sesuatu yang lebih tua dari rumah itu, lebih tua dari anak-anak yang bermain petak umpet.
“Saka,” suara Rakes terdengar dari mimpi itu, nyaris menyusup ke pikirannya, “ingat… jangan ikut semua yang Ian lakukan. Jangan lari ke arah gelap yang dia pilih.”
Saka menelan ludah. Kata-kata Rakes tetap membumi, tapi Ian tetap ada, diam, mengamati. Anak-anak lain tertawa dan berlari-lari, tapi Ian berjalan pelan, seolah setiap langkahnya menandai sesuatu yang Saka belum bisa pahami.
Seiring waktu, kehadiran Ian mulai membentuk ketegangan yang nyata dalam kehidupan Saka. Bahkan ketika ia bangun, rasa itu masih melekat. Seolah Ian sudah menanam sesuatu di dalam pikirannya, satu pertanyaan yang belum bisa dijawab: siapa Ian sebenarnya?
Dan yang paling menakutkan: Ian tidak pernah pergi.
Tidak dalam mimpi, tidak dalam bayangan, bahkan tidak dalam perasaan. Ian ada di antara cahaya dan gelap, selalu diam, selalu menunggu.
Saka mulai menyadari satu hal: Ian bukan sekadar anak dalam mimpi. Ia adalah pengingat, bahwa ada hal-hal dalam gudang, dalam rumah, dalam dunia yang Saka belum bisa mengerti sepenuhnya.
Dan setiap malam, saat Saka mencoba tidur, ia tahu: Ian akan muncul lagi. Diam. Mengawasi.
Rakes tetap di sisi nyata. Tetap menjadi jangkar. Tapi Ian, ia adalah kegelapan sementara yang tidak bisa dijinakkan, yang memaksa Saka belajar tentang ketahanan, pengawasan, dan batas antara melihat dan ikut terseret ke dalamnya.
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...