NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Mahasiswa di Balik Cadar Rahasia

Bab 21: Mahasiswa di Balik Cadar Rahasia

Gedung Fakultas Hukum itu tampak angkuh dengan pilar-pilar putihnya yang besar, namun bagi Anindya, setiap jengkal koridor ini adalah medan tempur yang sudah ia kuasai petanya. Meskipun ia sudah resmi menjadi mahasiswa beasiswa, Anindya tidak ingin menonjolkan diri. Ia selalu datang paling pagi, duduk di barisan belakang, dan mengenakan pakaian sederhana yang tidak mencolok. Ia adalah "mahasiswa hantu"—ada di dalam kelas, namun namanya jarang disebut, kecuali saat dosen melontarkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun.

Namun, hidup sebagai mahasiswa beasiswa di Jakarta bukanlah dongeng indah. Biaya hidup, obat-obatan ayahnya yang semakin mahal, dan kebutuhan riset membuatnya harus memutar otak lebih keras.

Setiap malam, setelah selesai mengerjakan tugas kuliah, Anindya bekerja sebagai freelance analis risiko keuangan di sebuah platform daring internasional menggunakan identitas samaran: "The Weaver" (Sang Penenun). Ia menenun data-data mentah menjadi laporan yang sangat akurat bagi perusahaan-perusahaan luar negeri. Tidak ada yang tahu bahwa analis hebat yang mereka bayar dengan dollar itu adalah seorang gadis yang tinggal di kamar kos sempit beralaskan tikar.

"Anindya, bisa bantu aku sebentar?" suara seorang mahasiswi bernama Sarah membuyarkan konsentrasi Anindya di perpustakaan. Sarah adalah putri dari seorang pejabat daerah, tipikal mahasiswa yang masuk karena koneksi dan sering kesulitan dengan tugas logika hukum.

Anindya mendongak pelan. "Ada apa?"

"Tugas dari Prof. Handoko tentang perbandingan hukum perdata... aku benar-benar tidak paham. Aku dengar kamu dapat nilai A mutlak di kuis kemarin. Bisa bantu jelaskan?" Sarah menyodorkan bukunya dengan wajah memelas.

Anindya menatap buku itu sejenak. Ia melihat peluang. "Aku bisa membantumu paham dalam tiga puluh menit. Tapi, aku butuh akses ke perpustakaan pribadi milik ayahmu. Aku dengar beliau punya koleksi naskah kuno tentang hukum agraria tahun 1960-an."

Sarah tertegun. "Hanya itu? Tentu saja! Ayahku bahkan tidak pernah menyentuh buku-buku itu. Kamu bisa datang kapan saja."

Anindya tersenyum tipis. Ia tidak butuh uang dari Sarah. Ia butuh informasi. Ia tahu ayah Sarah terlibat dalam beberapa proyek infrastruktur yang juga dikelola oleh Wijaya Group. Dengan masuk ke rumah Sarah, ia bisa mendapatkan kepingan puzzle yang hilang untuk menjatuhkan Tuan Wijaya secara total.

Namun, di sisi lain kota, di kantor megahnya, Tuan Wijaya sedang meledak amarahnya.

"Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menemukan satu gadis kecil?!" teriak Tuan Wijaya sambil membanting asbak kristal ke lantai.

Dua pria berbadan tegap yang ia sewa tertunduk lesu. "Maaf, Tuan. Dia sangat licik. Dia mengganti semua identitas digitalnya. Kami sempat melacaknya di universitas, tapi dia menghilang di kerumunan. Sepertinya ada orang dalam yang membantunya."

Tuan Wijaya menyipitkan mata. "Orang dalam? Siapa lagi kalau bukan Satria."

Tuan Wijaya segera menelepon putranya. "Satria! Datang ke kantorku sekarang juga, atau aku akan menghentikan semua biaya pertunanganmu dan membuatmu kehilangan hak waris!"

Satu jam kemudian, Satria berdiri di depan ayahnya. Wajahnya tampak lelah, namun ada garis ketegasan yang baru di sana. Sejak Anindya pergi, Satria seolah kehilangan beban untuk menjadi "anak baik" yang penurut.

"Di mana dia, Satria?" tanya Tuan Wijaya dingin.

"Aku tidak tahu, Ayah. Dan kalaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu," jawab Satria tanpa ragu.

"Kau membela pelayan itu daripada keluargamu sendiri? Kau tahu dia memegang data yang bisa menjebloskan aku ke penjara!"

"Mungkin memang itu tempat yang pantas untukmu, Ayah. Kau menghancurkan masa kecilnya, kau mencelakai bapaknya, dan kau masih ingin memburunya seolah dia binatang buruan?" Satria tertawa getir. "Anindya sudah bebas. Dia sepuluh kali lebih pintar dari kita semua. Berhentilah mencarinya sebelum dia benar-benar menghancurkanmu."

Tuan Wijaya menampar Satria dengan keras. "Kurang ajar! Jika aku jatuh, kau juga akan jatuh, Satria! Clarissa dan keluarganya tidak akan mau berhubungan dengan anak seorang narapidana!"

"Aku tidak peduli. Aku lebih baik jadi gelandangan daripada hidup di atas darah orang lain," Satria berbalik dan keluar dari ruangan, meninggalkan ayahnya yang gemetar karena murka.

Tuan Wijaya menyadari bahwa ia tidak bisa lagi mengandalkan cara halus. Ia memanggil orang suruhannya kembali. "Cari bapaknya. Rahardian pasti masih dirawat di suatu tempat di Jakarta. Gadis itu pasti akan mengunjungi bapaknya. Tunggu dia di sana, dan bawa dia padaku, hidup atau mati."

Malam itu, Anindya sedang berada di kamar rawat ayahnya. Pak Rahardian sudah mulai bisa duduk, meski kakinya tidak akan pernah bisa berjalan normal lagi.

"Nin... kamu capek ya? Pulanglah, istirahat," ucap Pak Rahardian sambil mengelus tangan putrinya.

"Nin nggak apa-apa, Yah. Nin baru saja dapat kabar kalau beasiswa Nin cair sepenuhnya. Kita aman," Anindya mencoba menenangkan ayahnya, namun instingnya berteriak ada yang salah.

Ia melirik ke arah pintu kaca di ujung lorong rumah sakit melalui pantulan sendok di atas meja. Ia melihat dua pria berpakaian jaket kulit hitam sedang bicara dengan suster di meja depan. Salah satu dari mereka memegang foto—foto dirinya.

Anindya segera berdiri. Ia tidak boleh panik. "Yah, dengerin Nin. Kita harus pindah sekarang. Jangan tanya kenapa. Nin sudah siapkan ambulans swasta di pintu belakang."

"Tapi Nin, ini sudah malam..."

"Sekarang, Yah!"

Anindya dengan sigap membantu ayahnya naik ke kursi roda. Ia sudah mengantisipasi ini. Ia telah menyewa layanan medical transport swasta menggunakan akun fiktif dua jam yang lalu sebagai antisipasi. Mereka bergerak cepat melalui jalur dapur rumah sakit, melewati tumpukan cucian kotor, tepat saat dua pria tadi masuk ke kamar lamanya.

Braakk!

Pintu kamar dibanting, namun kamar itu sudah kosong. Hanya ada sisa aroma sabun yang biasa dipakai Anindya.

Di dalam ambulans yang melaju menembus malam Jakarta, Anindya memeluk laptopnya erat-erat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin.

"Mereka sudah mulai menyentuh Ayah," bisik Anindya. "Ini batas terakhirnya."

Ia membuka laptopnya, masuk ke dalam folder tersembunyi bersandi ganda. Ia melihat data korupsi proyek pembangunan jembatan yang melibatkan Tuan Wijaya dan beberapa oknum pejabat. Ia tadinya ingin menggunakan data ini hanya untuk kebebasannya, tapi sekarang, Tuan Wijaya sudah melewati batas.

"Anda ingin perang terbuka, Tuan Wijaya? Baiklah," jemari Anindya menari di atas keyboard.

Ia tidak mengirim data itu ke polisi. Tidak sekarang. Ia mengirimkan potongan kecil data itu ke email pribadi Tuan Wijaya dengan pesan singkat:

"Ayah saya adalah nyawa saya. Jika satu goresan saja terjadi padanya, data ini akan otomatis terunggah ke media sosial setiap jam secara bertahap. Mari kita lihat berapa lama saham perusahaan Anda bisa bertahan."

Anindya menutup laptopnya. Ia menatap ayahnya yang ketakutan di sampingnya. "Tenang, Yah. Mulai sekarang, kitalah yang memegang kendali. Mereka tidak akan berani menyentuh kita lagi selama mereka masih mencintai uang mereka."

Anindya menyadari satu hal: di Jakarta, hukum memang bisa dibeli, tapi ketakutan akan kehancuran nama baik adalah senjata yang jauh lebih mematikan. Dan ia, si pengantin mahar hutang, baru saja berubah menjadi algojo bagi masa lalu yang menyiksanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!