NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

“Kau pikir aku ini apa, Damian? Barang pajangan yang bisa kau beri label sesukamu di depan kamera?”

Suara Alisha bergetar hebat saat ia melempar tasnya ke atas sofa kulit di ruang tengah mansion. 

Damian Sagara berdiri di dekat meja bar dengan tenang. Ia menuangkan air mineral ke dalam gelas kristal seolah dunia di luar sana tidak sedang terbakar karena ucapannya.

“Aku menyelamatkan martabatmu, Alisha,” sahut Damian tanpa menoleh.

“Menyelamatkanku dengan cara berbohong?” Alisha melangkah maju hingga berdiri tepat di depan pria itu. 

“Kau mengumumkan aku sebagai calon istrimu tanpa bertanya. Kau tahu itu bukan bagian dari perjanjian kita.”

Damian meletakkan gelasnya dengan denting yang keras. Ia berbalik dan menatap mata Alisha dengan tajam. Aura penguasa yang dingin kembali menyelimuti wajahnya yang tegas.

“Pilihannya hanya dua.” Suara Damian merendah. “Kau menjadi calon istri seorang William atau kau menjadi skandal simpanan yang akan diinjak-injak oleh media setiap hari.”

“Aku lebih memilih kembali ke pesisir dan menjadi penjahit daripada menjadi kebohonganmu,” balas Alisha sengit.

“Kau tidak bisa kembali!” bentak Damian. “Dunia sudah tahu wajahmu. Mereka sudah tahu nama Arka. Jika kau keluar dari rumah ini sekarang, wartawan itu akan mencabikmu hanya untuk mendapatkan satu baris kutipan.”

Alisha merasa sesak di dadanya. Ia benci karena Damian selalu benar dalam hal logika yang kejam. 

Namun, hatinya menolak menjadi bidak catur dalam permainan citra pria ini. Ia merasa seperti memakai mahkota yang terbuat dari duri. Setiap detik ia memakainya, kepalanya terasa semakin sakit dan berdarah.

Di sudut ruangan yang remang-remang, Arka berdiri diam. Bocah itu memegang sebuah tablet yang masih menyiarkan berita tentang dirinya. Judul berita itu terus berputar di bagian bawah layar. Arka Sagara William. Sang Pewaris Tunggal yang Kembali.

“Ayah,” panggil Arka dengan suara kecil yang membuat pertengkaran itu terhenti seketika.

Damian langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut. Ia berjongkok agar tingginya sejajar dengan putranya. 

“Ya, Arka? Kenapa kau belum tidur?”

Arka tidak mendekat. Ia tetap berdiri di tempatnya dengan tatapan mata yang terlalu dewasa untuk usianya. Ia menunjukkan layar tablet itu kepada Damian.

“Di internet, orang-orang bilang harga saham Sagara Group naik sepuluh persen setelah Ayah bicara di rumah sakit,” ujar Arka datar.

Damian mengangguk pelan. “Itu benar. Pasar merespons positif atas adanya kepastian pewaris.”

“Apakah itu alasan utamanya?” tanya Arka lagi.

Damian mengerutkan kening. 

“Maksudmu?”

“Apakah aku hanya alat untuk menaikkan harga sahammu?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir kecil Arka. 

“Apakah Ayah menjemputku karena Ayah menyayangiku, atau karena Ayah butuh wajahku untuk menenangkan orang-orang tua di dewan direksi?”

Keheningan yang menyakitkan jatuh di antara mereka. Damian merasa seolah baru saja ditampar oleh tangan yang paling tidak ia sangka. Ego pria yang dikenal tidak terkalahkan itu runtuh seketika di depan pertanyaan sederhana seorang anak berusia lima tahun. 

Damian membuka mulutnya, namun tidak ada kata yang keluar.

Alisha menutup mulutnya dengan tangan. Ia bisa melihat luka yang dalam di mata Arka. Bocah itu tidak menangis. Ia hanya menuntut kebenaran dengan logika yang tajam.

“Arka, bukan seperti itu,” bisik Damian akhirnya. Suaranya terdengar parau.

“Lalu kenapa semuanya harus diumumkan di depan kamera?” cecar Arka. “Di desa, kita tidak butuh kamera untuk tahu siapa yang menyayangi kita. Di sini, semuanya harus terlihat mahal agar dianggap nyata.”

Arka mematikan tabletnya dan berbalik tanpa menunggu jawaban. Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah kecil yang terasa sangat berat. Damian tetap berjongkok di lantai, menatap lantai marmer dengan tatapan kosong. Ia menyadari bahwa ia baru saja gagal dalam ujian pertama sebagai seorang ayah.

Alisha menatap Damian dengan rasa simpati yang pahit. “Kau dengar itu, Damian? Anakmu sendiri bisa mencium bau manipulasi yang kau lakukan.”

“Aku melakukannya demi dia!” Damian berdiri dengan nafas memburu. “Aku membangun kerajaan ini agar dia tidak perlu merangkak dari bawah seperti yang aku lakukan dulu!”

“Dia tidak butuh kerajaanmu jika dia merasa tidak dicintai sebagai manusia,” sahut Alisha dingin.

Alisha berjalan meninggalkan Damian menuju kamar tamu yang ia tempati. Ia ingin menjauh dari aura Damian yang menyesakkan. Namun, saat ia melewati ruang kerja Damian yang pintunya terbuka sedikit, ia melihat tumpukan map di atas meja kayu jati yang besar. Salah satu map itu terbuka dan menampilkan beberapa lembar foto yang sangat familiar.

Alisha masuk ke ruang kerja itu dengan hati-hati. Ia mengambil map tersebut. Napasnya terhenti saat melihat isinya. Itu adalah laporan investigasi pribadi. Ada foto-fotonya saat sedang menjemur kain di belakang rumahnya di pesisir. Ada foto Arka yang sedang memancing di dermaga dengan Pak Kades.

Tanggal di laporan itu menunjukkan waktu enam bulan yang lalu.

“Enam bulan?” bisik Alisha. “Dia sudah tahu selama itu?”

Alisha terus membalik lembaran kertas itu. Ia menemukan catatan komunikasi antara asisten pribadi Damian dengan seseorang di desanya. Nama yang tertera sebagai pemberi informasi membuat jantung Alisha seolah berhenti berdetak.

“Pak Kades?” Suara Alisha terdengar hancur.

Pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri di desa ternyata adalah mata-mata Damian. Orang yang selalu memberinya nasihat untuk bersabar ternyata menerima aliran dana bulanan dari Damian Sagara untuk memantau setiap gerak-geriknya. Selama ini, kebebasannya di desa hanyalah ilusi yang dijaga oleh Damian dari kejauhan.

Pintu ruang kerja terbuka lebar. Damian berdiri di sana dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ia melihat map yang ada di tangan Alisha.

“Kenapa kau masuk ke sini?” tanya Damian dengan suara rendah yang berbahaya.

Alisha mengangkat map itu tinggi-tinggi. “Kau memata-mataiku selama enam bulan? Kau tahu Arka ada di sana sejak tahun lalu?”

Damian melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan suara debuman keras. 

“Aku butuh waktu untuk memastikan keamanannya sebelum aku membawanya ke Jakarta.”

“Kau membiarkan aku hidup dalam ketakutan setiap hari!” teriak Alisha. 

“Kau membiarkan aku mengemis bantuan pada Pak Kades, sementara kau membayar pria itu untuk mengkhianatiku!”

“Pesisir X bukan tempat yang aman bagi seorang pewaris Sagara tanpa perlindunganku!” Damian mendekati Alisha hingga wanita itu terdesak ke meja kerja.

“Kau pembohong besar, Damian Sagara!” Alisha memukul dada Damian dengan kepalan tangannya. 

“Kau tidak pernah berniat menjemput kami karena cinta. Kau hanya menunggu momen yang tepat agar drama kemunculan Arka bisa menaikkan nilai perusahanmu!”

Damian menangkap kedua pergelangan tangan Alisha. Ia menahannya di atas meja dengan kekuatan yang tidak bisa dilawan. Matanya berkilat dengan amarah yang dingin.

“Aku menjagamu dari jauh,” desis Damian. 

“Aku lebih baik mati daripada hidup sebagai pion dalam rencanamu!” balas Alisha dengan air mata yang mulai mengalir.

“Kau tidak akan mati.” Damian mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. “Kau akan tetap di sini. Kau akan memakai mahkota ini sampai akhir, entah kau menyukainya atau tidak.”

Damian melepaskan tangan Alisha dengan kasar. Ia merapikan jasnya yang sedikit berantakan. Ia tidak menatap Alisha lagi saat melangkah keluar dari ruangan itu.

Alisha jatuh terduduk di kursi kerja Damian yang dingin. Ia menatap foto-fotonya di desa yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Ia menyadari bahwa ia terjebak dalam jaring laba-laba yang sudah ditenun Damian sejak lama. Setiap orang yang ia percayai telah dibeli. Setiap langkah yang ia ambil telah diprediksi.

Malam itu, mansion mewah yang dijaga ketat itu terasa seperti penjara bawah tanah yang paling gelap. Di luar sana, media terus mengelu-elukan kisah cinta fiktif mereka. Di dalam, tiga jiwa yang hancur sedang mencoba bertahan dalam puing-puing kepercayaan yang baru saja diruntuhkan.

Alisha memandang ke arah jendela. Ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di kaca. Ia tampak asing. Ia tampak seperti seseorang yang sudah kehilangan jiwanya sendiri. Ia menyentuh lehernya, seolah-olah bisa merasakan beban mahkota tak kasat mata yang diberikan Damian padanya.

“Ini belum berakhir, Damian,” bisik Alisha pada kesunyian ruangan.

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka sedikit. Arka masuk dengan bantal kecil di pelukannya. Wajahnya tampak pucat dan matanya sembab.

“Ibu, aku tidak bisa tidur,” bisik Arka. 

“Aku takut pada pria-pria yang memegang kamera di luar sana.”

Alisha langsung menghampiri putranya dan memeluknya erat. 

“Jangan takut, Sayang. Ibu di sini.”

“Ibu.” Arka mendongak. “Apakah kita tidak akan pulang ke laut lagi?”

Alisha mencium dahi Arka dengan lembut. Air matanya jatuh mengenai pipi putranya. 

“Ibu berjanji, Arka. Kita akan menemukan jalan pulang. Tapi untuk sekarang, kita harus belajar menjadi lebih kuat dari monster yang ada di rumah ini.”

Di luar sana, lampu-lampu Jakarta terus berkedip, tidak peduli pada penderitaan di balik dinding mansion Sagara yang megah. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Alisha tidak akan lagi menjadi domba yang pasrah untuk disembelih di altar kekuasaan.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!