NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema dari masa lalu yang kelam

Ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh; ia hanya belajar untuk diam di bawah permukaan, menunggu pemicu yang tepat untuk berdenyut kembali. Pagi ini, udara pelabuhan tidak membawa aroma garam yang menenangkan, melainkan aroma kenangan yang menyesakkan—seperti sebuah bab yang kukira sudah selesai kutulis, namun dipaksa terbuka kembali oleh tangan yang pernah menghancurkan seluruh duniaku.

Lampu pelabuhan mulai padam satu per satu seiring matahari yang mulai merayap naik. Biru masih sibuk mengganti lensa kameranya, namun fokusku sudah teralih sepenuhnya pada benda persegi di tanganku.

Sebuah notifikasi muncul di layar. Nama itu. Nama yang sudah kuhapus dari kontak, namun nomornya telah terukir di luar kepala seperti tato yang gagal dihapus.

Abhinara Bagas Semesta:

Na, aku tahu aku tidak punya hak untuk ini. Tapi aku ada di kota ini untuk beberapa hari. Maira ingin bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan secara langsung. Bisakah kita bicara sebentar? Tolong.

Duniaku mendingin seketika. Rasanya seperti ada air es yang dituangkan langsung ke dalam aliran darahku. Abhinara. Pria yang dulu menjanjikan semesta, namun hanya memberiku puing-puing hancur. Dan Maira Senja Aurora—wanita yang menjadi alasan fajar di hidupku berhenti terbit.

"Aruna?"

Suara Biru menyentakku. Aku tidak sadar bahwa aku sedang meremas ponselku begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih.

"Ada apa? Wajahmu... kamu seperti baru saja melihat hantu," Biru melangkah mendekat, matanya yang tajam menangkap kegelisahan yang coba kusembunyikan.

"Bukan apa-apa," jawabku cepat, suaranya bergetar tipis. Aku segera memasukkan ponsel itu ke dalam saku. "Hanya urusan kantor. Aku harus pergi sekarang."

"Na, tunggu. Kita belum selesai di sini," Biru menahan lenganku lembut, tapi aku menyentaknya seolah sentuhannya membakar kulitku.

"Aku bilang aku harus pergi, Biru! Jangan tanya apa pun!" aku berteriak, lebih keras dari yang kumaksudkan. Suaraku menggema di antara deru mesin kapal yang mulai menyala.

Aku berbalik dan berlari menuju parkiran, meninggalkan Biru yang berdiri mematung di dermaga. Pikiranku kalut. Untuk apa Maira ingin bertemu? Apakah menghancurkan pernikahanku belum cukup baginya? Apakah melihatku membeku seperti ini adalah kepuasan yang mereka cari?

Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Aku duduk di lantai, bersandar pada pintu balkon yang tertutup rapat. Aku membuka kembali pesan itu.

Abhinara Bagas Semesta. Namanya dulu adalah doaku, sekarang adalah kutukanku.

Tiba-tiba ponselku bergetar lagi. Bukan dari Abhinara.

Biru Laksmana Langit:

Langit malam ini sedang tidak berbintang di tempatku. Mungkin mereka semua sedang bersembunyi karena tahu seseorang di bawah sana sedang menangis sendirian.

Aku tidak tahu siapa 'hantu' yang datang lewat pesan singkat itu, Na. Tapi kalau kamu butuh tempat untuk bersembunyi, samudraku cukup luas untuk menjagamu. Tidurlah. Jangan biarkan masa lalu mencuri hari esokmu lagi.

Aku menatap pesan dari Biru, lalu menatap pesan dari Abhinara. Dua pria dengan nama yang berhubungan dengan langit, namun membawa rasa yang berbeda jauh. Abhinara adalah badai yang menghancurkan, sementara Biru... Biru terasa seperti pelabuhan yang tetap tenang meski badai mengamuk di atasnya.

Aku menghapus pesan Abhinara tanpa membalasnya. Namun, aku tahu ini belum berakhir. Masa lalu tidak akan membiarkanku mencair semudah itu.

Tanpa sadar, aku mengetik balasan singkat untuk Biru. Hanya satu kata, tapi bagiku, itu adalah retakan paling besar yang pernah kubuat pada dinding esku sendiri.

Aruna Rembulan Maharani:

Terima kasih, Biru.

Malam itu, di antara dua nama besar yang menghuni langit hidupku, aku menyadari satu hal: Abhinara adalah senja yang dulu kucintai namun berakhir dalam kegelapan, sementara Biru... ia adalah fajar yang tetap hadir meski aku terus mencoba memejamkan mata.

​Satu pesan terhapus, satu pesan tersimpan. Ternyata, sedalam apa pun samudera masa lalu yang mencoba menenggelamkanku, selalu ada sebuah pelabuhan yang tetap menyalakan lampunya—menungguku pulang, atau setidaknya, membiarkanku merasa aman dalam diam.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!