Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis yang Tidak Boleh Dilanggar
Hujan turun sejak subuh.
Butirannya memukul danau dengan ritme pelan, menciptakan kabut tipis yang menggantung di udara. Rumah di tepi Danau Como terasa seperti pulau terasing—indah, sunyi, dan penuh rahasia.
Carmela berdiri di depan jendela dapur, memegang cangkir teh yang sudah dingin. Sejak percakapan mereka semalam, ada sesuatu yang berubah. Bukan ketenangan—melainkan kesadaran bahwa hidupnya kini benar-benar bersinggungan dengan dunia Matteo.
Langkah kaki terdengar.
Matteo masuk, mengenakan kemeja gelap tanpa jas. Rambutnya sedikit basah, wajahnya serius. Ia terlihat seperti pria yang tidak tidur cukup—atau terlalu banyak berpikir.
“Kau bangun pagi,” katanya.
“Aku sulit tidur,” jawab Carmela jujur.
Matteo mengangguk seolah sudah menduga. Ia menuangkan kopi untuk dirinya sendiri, lalu bersandar di meja, menatap Carmela dengan cara yang berbeda dari sebelumnya—lebih menilai, lebih mempertimbangkan.
“Kau bilang ingin tahu lebih banyak,” katanya akhirnya.
Carmela menegakkan punggungnya. “Ya.”
“Kalau begitu, dengarkan baik-baik,” lanjut Matteo. “Dan jangan ulangi ini ke siapa pun.”
Carmela mengangguk.
“Apa yang terjadi kemarin bukan kebetulan,” kata Matteo. “Lorenzo sedang menguji wilayah. Dia ingin melihat apakah aku akan gegabah.”
“Dengan menyerangmu?” tanya Carmela.
“Dengan mengancammu,” koreksi Matteo. “Dan sekarang—dengan mengancammu melalui aku.”
Carmela merasakan dada mengencang. “Jadi aku benar-benar target.”
“Bukan target,” kata Matteo tegas. “Garis.”
“Garis?”
“Garis yang tidak boleh mereka langgar,” jelas Matteo. “Jika mereka melewatinya, perang terbuka akan dimulai.”
Carmela terdiam. Kata perang terasa terlalu besar, terlalu nyata.
“Kenapa aku?” tanyanya pelan.
Matteo menatapnya lama. “Karena kau hal pertama dalam hidupku yang tidak bisa kugantikan.”
Kejujuran itu jatuh tanpa hiasan. Carmela tidak tahu harus merasa tersanjung atau takut.
—
Siang hari, Matteo menerima panggilan dari Milan.
Carmela duduk tidak jauh darinya, membaca buku—namun perhatiannya terpecah. Ia mendengar nama-nama yang asing, suara Matteo yang berubah dingin, kalimat pendek yang terdengar seperti perintah.
“Aku tidak akan mundur,” kata Matteo ke telepon. “Sampaikan itu.”
Ia menutup panggilan dan menghela napas panjang.
“Masalah?” tanya Carmela.
“Kesempatan,” jawab Matteo. “Lorenzo mengundangku ke pertemuan.”
Carmela menegang. “Itu berbahaya.”
“Ya.”
“Lalu kenapa kau pergi?”
“Karena menolak lebih berbahaya,” kata Matteo. Ia menatap Carmela. “Dan karena aku ingin ini selesai.”
Carmela berdiri. “Aku ikut.”
Matteo langsung menggeleng. “Tidak.”
“Kenapa?” Carmela menahan nada suaranya agar tetap tenang. “Kau bilang aku akan dilibatkan.”
“Dilibatkan bukan berarti dilempar ke api,” balas Matteo.
“Aku bukan beban,” kata Carmela, sedikit gemetar. “Aku ingin berdiri di sisimu—ingat?”
Matteo mendekat, menatapnya dari jarak dekat. “Jika sesuatu terjadi padamu—”
“Akan terjadi juga meski aku di sini,” potong Carmela. “Setidaknya jika aku bersamamu, aku tahu apa yang sedang kuhadapi.”
Keheningan memanjang. Hujan di luar semakin deras.
Matteo akhirnya menghela napas. “Baik. Tapi kau duduk di belakang. Kau tidak bicara kecuali aku izinkan.”
Carmela mengangguk. “Aku bisa.”
—
Pertemuan itu berlangsung di sebuah vila tua di pinggiran kota.
Keamanan ketat. Wajah-wajah dingin. Senjata tersembunyi. Carmela merasakan jantungnya berdetak keras, tetapi ia tetap melangkah di sisi Matteo, kepalanya tegak.
Lorenzo sudah menunggu.
Ia tersenyum begitu melihat Carmela. “Ah, kau membawanya.”
“Jaga ucapanmu,” kata Matteo datar.
“Aku hanya terkesan,” jawab Lorenzo ringan. “Biasanya kau tidak membawa hal yang berharga ke tempat seperti ini.”
Carmela menahan diri untuk tidak bereaksi. Ia duduk sesuai instruksi, sedikit di belakang Matteo.
Pembicaraan dimulai—tentang wilayah, aliansi, dan keseimbangan kekuasaan. Carmela mendengarkan dengan saksama, mulai memahami pola: setiap kalimat sopan menyimpan ancaman, setiap senyum menutupi perhitungan.
“Aku ingin bagian utara kembali,” kata Lorenzo. “Sebagai tanda itikad baik.”
“Wilayah itu tidak pernah benar-benar milikmu,” balas Matteo.
“Namun kau mengambilnya setelah aku melemah.”
“Aku mengambilnya karena aku mampu menjaganya.”
Lorenzo terkekeh. “Dan sekarang kau punya sesuatu yang membuatmu… berhati-hati.”
Tatapan Lorenzo melirik Carmela sekilas.
Matteo berdiri. “Kita selesai.”
“Belum,” kata Lorenzo. “Aku hanya ingin memastikan satu hal.” Ia menoleh pada Carmela. “Kau bahagia di sisinya?”
Carmela menatap Lorenzo—lalu Matteo—dan akhirnya menjawab dengan suara tenang, “Aku aman.”
Matteo menoleh cepat, terkejut. Lorenzo tersenyum lebih lebar.
“Itu sudah cukup,” kata Lorenzo. “Untuk saat ini.”
—
Mereka meninggalkan vila tanpa insiden, tetapi ketegangan tidak mengendur sampai mobil benar-benar menjauh.
Matteo mengemudi dalam diam.
“Kau seharusnya tidak menjawabnya,” katanya akhirnya.
“Dia akan menafsirkan diamku juga,” balas Carmela pelan. “Setidaknya sekarang dia tahu aku tidak rapuh.”
Matteo meliriknya. “Kau berani.”
“Atau bodoh,” Carmela tersenyum kecil.
Matteo tidak membalas senyum itu. “Kau membuat dirimu lebih terlihat.”
“Dan kau membuatku lebih dilindungi,” jawab Carmela. “Itu kesepakatan kita.”
Matteo terdiam lama. Lalu mengangguk pelan. “Ya.”
—
Malam itu, kembali di rumah danau, Carmela duduk di ruang tamu dengan selimut di bahunya. Adrenalin masih berdenyut di nadinya.
Matteo datang membawa dua gelas air. Ia duduk di seberangnya, jarak mereka lebih dekat dari biasanya.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Carmela mengangguk. “Takut. Tapi utuh.”
Matteo menatapnya lama. “Aku seharusnya tidak membawamu.”
“Namun kau melakukannya.”
“Karena aku percaya padamu,” katanya pelan.
Kata percaya terasa seperti langkah besar. Carmela menelan ludah.
“Apa yang terjadi selanjutnya?” tanyanya.
“Lorenzo tidak akan berhenti,” jawab Matteo. “Dia akan mencari celah.”
“Dan celah itu…?”
Matteo menghela napas. “Adalah perasaanku sendiri.”
Carmela berdiri dan mendekat. “Perasaan bukan kelemahan jika dihadapi bersama.”
Matteo menatapnya—lalu meraih pergelangan tangannya, lembut namun pasti. “Jangan membuatku salah.”
“Aku tidak akan,” jawab Carmela jujur.
Mereka berdiri begitu dekat hingga dunia di sekitar mereka seakan mengecil. Tidak ada ciuman. Tidak ada sentuhan lebih jauh. Hanya pengakuan sunyi bahwa batas di antara mereka semakin kabur.
Di kejauhan, hujan kembali turun.
Dan di balik bayangan, Lorenzo mulai menyusun langkah berikutnya.