NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Pagi itu, kediaman peninggalan Hero yang biasanya tenang terusik oleh suara klakson mobil yang memekakkan telinga. Sebuah mobil sedan merah mewah terparkir sembarangan di depan pagar. Belum sempat Jasmine yang masih mengenakan daster hamil dan wajah sembap membuka pintu sepenuhnya, gedoran keras sudah menghujam kayu jati itu.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Awan! Keluar kamu! Aku tahu kamu di dalam!" teriak sebuah suara melengking yang sangat dikenal Jasmine.

Dengan tangan gemetar, Jasmine membuka pintu. Sosok Celine berdiri di sana dengan kacamata hitam bertengger di kepala, tas Chanel di tangan kiri, dan wajah yang memerah padam karena amarah. Begitu melihat Jasmine yang muncul, Celine mendengus jijik, memindai penampilan Jasmine dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.

"Loh tuh ya. Suami lo udah dikubur aja masih nyusahin Awan! Mau kalian tuh apa sih?!" semprot Celine tanpa basa-basi. Ia melangkah maju, memaksa masuk ke dalam teras.

Jasmine tersentak, tangannya refleks melindungi perutnya. "Maaf mbak aku—"

"Udahlah mau lo sama suami lo itu hama tau nggak?!" potong Celine kasar, telunjuknya hampir mengenai hidung Jasmine. "Gara-gara kalian Awan selalu kehilangan waktu sama gue! Dari dulu Hero sakit, Awan sibuk bolak-balik rumah sakit. Sekarang Hero udah mati, lo malah nahan Awan di sini? Mati aja lo ikut suami lo sana! Biar hidup gue tenang!"

Kalimat itu bagai sembilu yang menyayat hati Jasmine yang masih basah oleh duka. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Dadanya sesak, napasnya tersengal mendengar suaminya yang sudah tiada disebut sebagai "hama".

"Maaf mbak... aku nggak bermaksud ngerepotin kak Awan, tapi... kak Awan sendiri yang mau di sini..." Jasmine mencoba membela diri dengan suara bergetar.

"Halah, nggak usah sok polos! Lo pasti godain dia kan? Pake alasan anak di perut lo itu? Minggir lo!"

BUGH!

Celine menabrak bahu Jasmine dengan sengaja saat ia menerobos masuk ke dalam rumah. Tubuh Jasmine yang memang sedang lemah terhuyung ke samping. Ia hampir saja jatuh terjembap jika tangannya tidak cepat-cepat meraih pilar teras.

Rasa sakit di hatinya sudah tidak terbendung. Jasmine merasa tidak diinginkan, merasa menjadi benalu yang merusak hubungan orang lain. Dengan Isak tangis yang tertahan, ia tidak masuk ke dalam rumah. Ia malah berlari kecil menuju gerbang, menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depan komplek.

Di dalam taksi, Jasmine terisak sejadi-jadinya. Sopir taksi hanya diam, merasa iba melihat perempuan hamil itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk perutnya sendiri.

Tujuannya hanya satu: tempat di mana ia merasa paling aman. Pemakaman.

Sesampainya di sana, Jasmine bersimpuh di gundukan tanah yang masih basah itu. Ia memeluk nisan kayu Hero seolah itu adalah tubuh suaminya.

"Mas... kamu kenapa harus ninggalin aku kayak gini..." rintihnya di sela tangis. "Aku nggak kuat, Mas. Aku malah jadi beban buat kak Awan sama tunangannya. Aku nggak mau di sana lagi... aku mau ikut kamu aja..."

Suara tangisnya menyatu dengan semilir angin pemakaman. Ia merasa sendirian di dunia ini. Ia merasa bersalah karena telah membuat Awan—pria kaku yang sebenarnya tidak ia kenal dekat—harus terjebak mengurusnya.

Sementara itu, di dalam rumah, Awan baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang masih menggantung di lehernya. Ia terkejut melihat Celine sudah berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah cemberut.

"Loh, ngapain lo ke sini pagi-pagi?" tanya Awan dingin, suaranya datar namun menunjukkan ketidaksukaan.

"Awan! Kamu beneran tidur di sini? Kamu gila ya? Apa kata temen-temen aku kalau tahu pacar aku tinggal bareng janda kembarannya sendiri?" Celine merengek, mencoba meraih lengan Awan.

Awan menghindar dengan gerakan halus. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Keheningan yang tidak biasa membuatnya merasa ada yang salah. Biasanya, ia akan mendengar suara Jasmine yang sedang menyiapkan air hangat atau sekadar duduk di dapur.

"Jasmine mana? Bukannya tadi dia bukain pintu?" tanya Awan, matanya menyipit curiga.

Celine mengibaskan tangannya santai. "Ihh kok kamu malahh nanyain dia sih?! Gatau tadi dia lari keluar. Mungkin cari udara seger, atau cari perhatian biar kamu kejar."

Langkah Awan terhenti. Jantungnya berdegup tidak keruan. Ia tahu Jasmine sedang dalam kondisi mental yang sangat rapuh. Membiarkannya keluar sendirian dalam keadaan menangis adalah bencana.

"Apa?! Dia lari keluar?!" bentak Awan.

"Iya, kenapa sih? Lagian dia itu cuma—"

"Lo ngomong apa sama dia, Celine?!" Awan mencengkeram bahu Celine, matanya berkilat marah. Ia tahu sifat pacarnya yang bermulut tajam. "Gue udah bilang, jangan pernah ganggu dia!"

"Aku cuma bilang kenyataan, Wan! Dia itu beban buat kamu!" balas Celine tidak mau kalah.

Tanpa mempedulikan teriakan Celine, Awan langsung menyambar kunci mobilnya. Ia bahkan masih mengenakan kaus rumahan dan celana santai. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat. Ia mengenal kembarannya, dan ia tahu ke mana Jasmine akan pergi jika sedang hancur.

Awan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengabaikan makian pengendara lain. Di kepalanya, bayangan wajah Hero yang menitipkan Jasmine terus berputar.

"Wan, jaga dia..."

"Sialan!" umpat Awan sambil memukul kemudi. "Gue baru satu hari jagain lo, Jas, lo udah hilang. Kalau lo kenapa-napa, gue nggak bakal maafin diri gue sendiri."

Sesampainya di pemakaman, Awan berlari menyusuri jalan setapak. Dari kejauhan, ia melihat sosok mungil berbaju hitam sedang duduk bersimpuh, bahunya berguncang hebat.

Awan melambatkan langkahnya. Amarahnya yang tadi meledak-ledak tiba-tiba menguap, digantikan oleh rasa sesak yang aneh di dadanya. Ia berdiri beberapa meter di belakang Jasmine, mendengarkan isak tangis perempuan itu yang memilukan.

"Lo mau bikin Hero nggak tenang di sana?" suara Awan terdengar rendah, memecah kesunyian.

Jasmine tersentak. Ia menoleh dengan wajah yang berantakan karena air mata. Melihat Awan berdiri di sana, ia justru semakin merasa bersalah.

"Kak Awan... maaf... aku... aku pergi sekarang. Aku nggak akan balik ke rumah itu lagi. Aku nggak mau ngerusak hubungan kalian," ucap Jasmine sambil mencoba berdiri, namun kakinya lemas hingga ia hampir terjatuh lagi.

Dengan sigap, Awan maju dan menangkap lengan Jasmine. Kali ini, cengkeramannya tidak sekasar biasanya.

"Jangan berani-berani lo ngomong mau pergi," desis Awan, matanya menatap tajam ke manik mata Jasmine yang basah. "Lo itu warisan dari Hero buat gue. Lo pikir gue bakal biarin warisan gue hilang gitu aja di pinggir jalan?"

"Tapi Mbak Celine—"

"Persetan sama Celine," potong Awan telak. "Ayo balik. Lo belum makan, anak lo butuh nutrisi. Kalau lo mau mati, tunggu anak itu lahir dulu. Sekarang, nyawa lo bukan punya lo sendiri, tapi punya gue."

Awan menarik Jasmine dalam dekapannya secara paksa namun protektif, membawa perempuan yang terus menangis itu kembali ke mobil. Di balik sikap kaku dan ucapannya yang tajam, Awan bersumpah dalam hati: siapa pun yang berani membuat Jasmine menangis lagi—termasuk Celine—harus berhadapan dengannya.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!