Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambruk di Bawah Tekanan
Menjelang siang, rasa pusing yang sejak tadi menghantui tak kunjung hilang. Begitu melangkah masuk ke kamar, badanku tiba-tiba terasa lemas tak bertenaga.
Keringat dingin mulai membanjiri sekujur tubuh, membuat pakaianku lembap seketika. Aku terserang demam tinggi; tubuhku menggigil hebat sampai-sampai untuk sekadar membuka mata pun aku tak lagi sanggup.
Melihat kondisiku yang terkapar tak berdaya dengan badan menggigil, suamiku akhirnya membawaku ke Bidan Riana.
Setibanya di sana, bidan segera melakukan pemeriksaan menyeluruh. Suhu tubuh, tekanan darah, hingga denyut jantung janinku diperiksa dengan teliti.
Hasilnya cukup mengejutkan; suhu tubuhku melonjak hingga 39,8 derajat Celcius, sementara tekanan darahku berada di angka 120/106. Angka yang cukup tinggi untuk seseorang yang sedang mengandung.
Bidan Riana memberikan resep obat penurun panas sambil memberikan peringatan yang sangat serius: jika dalam waktu tiga hari demamku belum juga turun, aku harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Lelah yang Disambut Cemoohan
Setelah mengangguk lemah pada Bidan Riana, kami diperbolehkan pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung meminum obat dan mencoba memejamkan mata.
Tubuhku rasanya seperti diperas habis-habisan; keringat dingin mengucur deras hingga membasahi pakaianku, membuatku harus berganti baju berulang kali dalam kondisi lemas.
Meski suhu tubuhku tidak lagi seganas saat di klinik tadi, badanku masih terasa sangat hangat. Di tengah tidur yang tak nyenyak, aku mengelus perutku sambil berbisik lirih, "Sabar ya, Nak... Kita harus kuat. Ibu akan jaga kamu, jadi kamu juga harus jaga Ibu."
Beberapa hari kemudian, saat tenagaku sedikit pulih, kenyataan pahit kembali menyambutku. Hampir empat puluh menit aku bergelut di bawah terik matahari,
Menjemur tumpukan cucian yang menggunung selama aku sakit. Dengan napas tersengal dan pinggang yang mulai berdenyut nyeri, aku membawa ember hitam besar kembali ke dalam rumah.
Tepat saat melewati kamar, ponselku berdering. Aku segera meletakkan ember dan menjawab panggilan dari Ayah.
"Halo, Yah? Tumben telepon jam segini," sapaku berusaha menutupi nada lelah di suaraku.
"Halo, Nduk. Besok kamu ada acara tidak? Kalau senggang, datanglah ke rumah. Ajak suamimu juga ya," sahut Ayah dari seberang telepon.
"Besok sepertinya bisa, Yah. Memangnya ada apa?" tanyaku.
"Ini, kayu-kayu di belakang sudah menumpuk, Ayah tidak kuat kalau potong sendirian. Minta tolong Ahmad buat bantu Ayah ya?"
"Oh, iya Yah. Nanti aku sampaikan ke Mas Ahmad. Besok kami ke sana pagi-pagi," jawabku sebelum mematikan sambungan.
Aku menghela napas panjang, mengembalikan ember ke tempatnya dengan kaki yang terasa kaku. Rasa pegal mulai menjalar ke seluruh tubuh. Aku memutuskan untuk merebahkan diri sejenak di kamar.
"Ya ampun, badanku rasanya seperti remuk. Tidur sebentar saja mungkin bisa mengurangi pening ini," gumamku sambil memejamkan mata.
Namun, baru saja kelopak mataku tertutup, suara bapak mertuaku terdengar mengomel dengan keras dari arah dapur. "Anak hamil kok jam sepuluh pagi sudah enak-enakan tiduran? Memangnya tidak ada pekerjaan lain apa? Rumah berantakan begini kok diam saja!"
Hatiku mencelos. Aku baru saja selesai mencuci satu bak besar baju milik orang serumah, apa salahnya jika aku beristirahat sebentar saja? Tak berhenti di situ, beliau berteriak memanggil suamiku yang entah ada di mana.
"Mad! Mad! Istrimu itu suruh bangun! Kon ngersiki peceren (suruh bersihkan saluran air), biar nanti lahirannya lancar! Jangan manja jadi orang hamil!"
Mendengar itu, rasa sesak di dadaku tak terbendung lagi. Dengan sisa keberanian, aku menyahut dari balik pintu kamar. "Aduh Pak, aku ini sedang capek sekali.
Bapak tahu tidak kalau aku baru saja selesai mencuci tumpukan baju sendirian? Tolonglah, mengerti kondisiku sedikit saja, Pak. Aku baru sembuh..."
"Halah, alasan saja! Bagaimana mau lahiran lancar kalau kerjanya cuma tidur?" ketus beliau. Beliau berlalu pergi begitu saja, menutup pintu ruang tengah dengan bantingan keras
—Brakkk!—
Meninggalkan aku yang kembali terjatuh dalam air mata. Di rumah ini, aku benar-benar merasa tak dianggap manusia.
Saat pertama kali masuk ke rumah setelah pulang dari bidan, kakak iparku sempat melontarkan pertanyaan, namun aku hanya terdiam. Lidahku terasa kaku dan kepalaku terlalu berdenyut untuk sekadar merangkai kata.
Beruntung, bidan tidak sampai memeriksa bagian belakang kepalaku, sehingga benjolan akibat benturan keras itu tetap menjadi rahasia yang kupendam sendiri.
Empat hari lamanya aku berjuang melawan demam tinggi hingga akhirnya kondisiku berangsur membaik.
Selama masa pemulihan itu, kegiatanku hanya makan dan tidur, membuat berat badanku melonjak drastis hampir delapan kilogram.
ku belum tahu berapa berat janinku, tapi badanku mulai terasa berat layaknya gentong.
Setelah enam hari, tenagaku perlahan pulih.
Namun, sambutan yang kuterima saat bangkit dari tempat tidur sungguh di luar dugaan. Aku dikagetkan oleh tumpukan cucian yang sudah menggunung dan berbau.
Kupikir selama aku terbaring lemah menahan sakit, suamiku akan berbaik hati menggantikan peranku sejenak untuk mencuci baju. Ternyata, kenyataannya jauh dari apa yang kuharapkan.
Empat hari lamanya aku berjuang melawan demam tinggi hingga akhirnya kondisiku berangsur membaik.
Selama masa pemulihan itu, kegiatanku hanya makan dan tidur, membuat berat badanku melonjak drastis hampir delapan kilogram.
Aku belum tahu berapa berat janinku, tapi badanku mulai terasa berat layaknya gentong.
Setelah enam hari, tenagaku perlahan pulih. Namun, sambutan yang kuterima saat bangkit dari tempat tidur sungguh di luar dugaan. Aku dikagetkan oleh tumpukan cucian yang sudah menggunung dan berbau.
Kupikir selama aku terbaring lemah menahan sakit, suamiku akan berbaik hati menggantikan peranku sejenak untuk mencuci baju. Ternyata, kenyataannya jauh dari apa yang kuharapkan.
Sembuh untuk Menghadapi Tumpukan Luka
Empat hari lamanya aku berjuang melawan demam tinggi yang nyaris merenggut seluruh tenagaku. Syukurlah, perlahan kondisiku mulai membaik.
Selama masa pemulihan itegiatanku hanya berkisar antara makan dan tidur—upaya paksa agar tubuhku kembali bugar demi janin ini. Akibatnya, berat badanku melonjak drastis hampir delapan kilogram.
Aku belum tahu berapa berat janinku sekarang, tapi tubuhku mulai terasa sangat berat, gerakanku melambat layaknya gentong yang sulit digeser.
Setelah enam hari, tenagaku benar-benar pulih. Namun, sambutan yang kuterima saat pertama kali bangkit dari tempat tidur sungguh di luar dugaan.
Begitu aku melangkah ke arah dapur, pemandangan menyedihkan terpampang di depan mata: tumpukan cucian sudah menggunung hingga hampir tumpah dari baknya, dan aroma tak sedap mulai menyeruak ke seluruh ruangan.
Dadaku sesak seketika. Kupikir, selama aku terbaring lemah menahan sakit dan menggigil, suamiku akan memiliki sedikit empati.
Aku berharap ia mau berbaik hati menggantikan peranku sejenak, setidaknya mencuci pakaiannya sendiri agar tidak menumpuk. Namun, ternyata kenyataan jauh panggang dari api.
Harapanku hancur berkeping-keping melihat tumpukan kain kotor itu, bukti nyata bahwa di rumah ini, kehadiranku memang hanya dianggap sebagai tenaga yang tak perlu dikasihani.
Sembuh untuk Menghadapi Tumpukan Luka
Empat hari lamanya aku berjuang melawan demam tinggi yang nyaris merenggut seluruh tenagaku. Syukurlah, perlahan kondisiku mulai membaik. Selama masa pemulihan itu, kegiatanku hanya berkisar antara makan dan tidur—upaya paksa agar tubuhku kembali bugar demi janin ini.
Akibatnya, berat badanku melonjak drastis hampir delapan kilogram. Aku belum tahu berapa berat janinku sekarang, tapi tubuhku mulai terasa sangat berat, gerakanku melambat layaknya gentong yang sulit digeser.
Setelah enam hari, tenagaku benar-benar pulih. Namun, sambutan yang kuterima saat pertama kali bangkit dari tempat tidur sungguh di luar dugaan. Begitu aku melangkah ke arah dapur, pemandangan menyedihkan terpampang di depan mata: tumpukan cucian sudah menggunung hingga hampir tumpah dari baknya, dan aroma tak sedap mulai menyeruak ke seluruh ruangan.
Dadaku sesak seketika. Kupikir, selama aku terbaring lemah menahan sakit dan menggigil, suamiku akan memiliki sedikit empati. Aku berharap ia mau berbaik hati menggantikan peranku sejenak, setidaknya mencuci pakaiannya sendiri agar tidak menumpuk. Namun, Ternyata kenyataan jauh panggang dari api.
Harapanku hancur berkeping-keping melihat tumpukan kain kotor itu, bukti nyata bahwa di rumah ini, kehadiranku memang hanya dianggap sebagai tenaga yang tak perlu dikasihani.
Bersambung..