Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Terjebak dalam Pelukan Sang Gus
Pikirannya hanya satu: Melarikan diri.
Ia ingin keluar kamar, mencari oksigen di dapur, atau setidaknya bersembunyi di dekat neneknya agar ia tidak berduaan dulu dengan suaminya yang ternyata sangat "berbahaya" itu. Rina berjalan jinjit, pelan-pelan menuju pintu.
Tinggal dua langkah lagi tangan Rina menyentuh gagang pintu. Namun, baru saja ia hendak bernapas lega, sebuah gerakan secepat kilat menyambar pergelangan tangannya.
Sret!
Rina tersentak, tubuhnya ditarik dengan satu sentakan lembut namun bertenaga hingga punggungnya membentur dada bidang Gus Azkar yang masih mengenakan sarung dan baju koko putih.
"Mau ke mana, Sayang?" bisik Gus Azkar tepat di lubang telinganya. Suara itu begitu berat, serak, dan penuh penekanan pada kata sayang.
Rina mematung, kepalanya menunduk dalam, tidak berani berbalik. "Aku... aku mau ke dapur, Mas. Mau bantu Ibu... atau ambil minum. Haus banget," jawabnya dengan suara gemetar, memberikan alasan yang terdengar sangat tidak meyakinkan.
Gus Azkar terkekeh rendah. Getaran di dadanya terasa sampai ke punggung Rina, membuat gadis itu semakin meremang. Gus Azkar memutar tubuh Rina agar menghadapnya. Tangannya kini mengunci pinggang Rina, memastikan istrinya itu tidak bisa kabur lagi.
"Dapur bisa menunggu, Rina. Ibu dan Ayah pasti mengerti kalau kita butuh waktu berdua," ujar Gus Azkar sambil menatap lekat mata Rina. Pandangannya kemudian turun ke arah leher Rina yang masih terekspos karena ia belum memakai cadar kembali.
Gus Azkar mendekatkan wajahnya, membuat napas hangatnya menerpa pipi Rina yang memerah. "Tadi kamu bilang ini mimpi, kan? Tadi kamu juga asyik menari dengan baju yang... sangat kurang bahan itu."
Rina ingin sekali menghilang ditelan bumi saat itu juga. "Itu... itu tadi aku khilaf, Mas. Aku beneran kira mimpi..."
"Khilaf yang sangat indah," potong Gus Azkar dengan seringai tipis yang mematikan. "Tapi karena sekarang sudah sadar kalau ini nyata, dan kita sudah selesai lapor pada Allah melalui salat... sekarang saatnya saya menagih penjelasan. Kenapa istri saya ini punya koleksi baju seperti itu? Dan kenapa kamu tampak sangat takut pada saya, padahal tadi di pesan kamu yang menantang saya untuk menikahi kamu?"
Rina menelan ludah. Ia terjebak. Gus Azkar bukan lagi ustadz galak yang memberinya nilai buruk di kelas, tapi seorang suami yang sedang menuntut haknya dengan cara yang sangat manis namun mengintimidasi.
Rina semakin gugup, matanya melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di atas kasur dalam keadaan layar masih menyala. Jantungnya serasa mau copot. Ia baru ingat kalau galeri ponselnya penuh dengan video-video dewasa yang sering ia tonton diam-diam.
Gus Azkar yang menyadari kegelisahan istrinya, mengikuti arah pandangan Rina. Dengan cepat, ia meraih ponsel tersebut sebelum Rina sempat bertindak.
"Itu... anu, Mas... jangan!" cicit Rina, tangannya berusaha menggapai ponselnya, namun kalah cepat dengan gerakan Gus Azkar yang jangkung.
Gus Azkar melihat layar ponsel yang terbuka. Matanya membelalak. Di sana, deretan video dengan thumbnail yang sangat vulgar terpampang nyata di galeri.
Sebagai seorang Gus dan pemuka agama, Azkar benar-benar terkejut. Ia mengira istrinya adalah gadis yang sangat polos, pendiam, dan tidak tahu apa-apa soal dunia luar. Ternyata, kenyataannya jauh dari bayangannya.
"Rina... apa ini?" tanya Gus Azkar dengan suara yang berubah sangat berat. Ia menatap Rina dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara syok dan rasa tidak percaya.