Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menebak Kemungkinan Tentang Gao Rui
Awalnya, gerakan tombak Gao Rui terlihat begitu halus. Setiap tusukan dilakukan tanpa suara berlebihan, setiap sapuan seolah hanya menyentuh udara. Tidak ada ledakan tenaga yang mencolok, tidak ada aura yang dipaksakan keluar.
Tombak itu bergerak seperti aliran air. Mengalir, tenang, namun tidak pernah kehilangan arah. Peng Bei menyandarkan punggungnya sedikit ke batu besar, matanya menyipit sambil mengamati dengan penuh ketelitian.
“Halus…” batinnya. “Terlalu halus untuk sekadar latihan biasa.”
Seiring waktu berlalu, kehalusan itu justru semakin terasa. Gerakan Gao Rui tidak melemah, tidak melambat. Justru sebaliknya, semakin halus, semakin rapat, semakin nyaris tanpa celah. Setiap perubahan posisi kaki, setiap pergeseran pinggang, setiap tarikan dan dorongan lengan terhubung dengan sempurna. Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Namun yang membuat Peng Bei benar-benar terdiam adalah satu hal. Meski halus, setiap gerakan tetap bertenaga. Tenaga itu tidak meledak keluar, melainkan terkompresi dengan rapi, seolah disimpan tepat di ujung tombak. Peng Bei bisa merasakannya meski hanya duduk mengamati. Tekanan yang halus namun padat, seperti arus dalam laut yang tenang namun mampu menyeret kapal besar ke dasar.
“Ini bukan lagi tahap mahir…” pikir Peng Bei, napasnya sedikit tertahan. “Ini sudah melampauinya. Ini tahap penguasaan sempurna.”
Pikiran itu muncul dengan jelas di benaknya. Bukan dugaan, bukan spekulasi. Sebagai seorang tetua yang telah hidup puluhan tahun dan menyaksikan tak terhitung banyak pendekar berbakat, Peng Bei tahu persis batas antara mahir dan sesuatu yang berada di atasnya. Apa yang ia lihat sekarang jelas telah melewati batas itu.
Tidak lama kemudian, intensitas serangan tombak Gao Rui mulai meningkat. Tanpa aba-aba, ritme yang tadinya tenang berubah. Tombak itu bergerak lebih cepat, lebih tajam. Udara di sekitar ujung tombak mulai bergetar. Setiap tusukan tidak lagi hanya meninggalkan bayangan, melainkan tekanan nyata yang menghantam ke depan.
Boom!
Sebuah batu besar di tepi halaman retak, lalu hancur berkeping-keping, bukan karena terkena tombak secara langsung, melainkan karena tekanan yang dihasilkan dari satu tusukan sederhana. Pecahan batu berhamburan ke segala arah, debu beterbangan di udara.
Peng Bei menegakkan punggungnya. Belum sempat ia mencerna sepenuhnya apa yang baru saja terjadi, Gao Rui berputar, tombaknya menyapu ke samping.
Braaaak!
Dua batu besar lain yang berdiri kokoh sejak entah berapa tahun lalu langsung pecah, seolah rapuh seperti tanah liat kering. Tekanan itu merambat lebih jauh, menghantam batang pohon besar di sisi halaman.
Kraak! Kraak!
Pohon-pohon itu tumbang satu per satu, batangnya patah bersih, daunnya berguguran memenuhi udara pagi. Rumput di bawah kaki Gao Rui tertekan ke tanah, membentuk pola melingkar akibat aliran energi yang tak terlihat.
Peng Bei berdiri dari batu besar itu tanpa sadar. Dadanya naik turun perlahan. Matanya tidak lagi menyipit kini terbuka lebar, menatap sosok Gao Rui seolah sedang melihat sesuatu yang sama sekali baru.
“Jadi begitu…” gumamnya pelan. “Saat kompetisi murid sekte beberapa hari lalu… bocah ini belum menunjukkan kemampuan aslinya.”
Kesadaran itu menghantamnya dengan keras. Ia teringat kembali setiap pertarungan Gao Rui di kompetisi internal sekte. Kemenangan bersih, teknik rapi, tapi selalu terasa… tertahan. Saat itu Peng Bei mengira Gao Rui hanya bermain aman, atau belum sepenuhnya matang. Kini ia mengerti.
Bukan belum matang. Melainkan menyembunyikan diri.
Peng Bei mengepalkan tangannya perlahan. Sebagai seorang jenius beladiri di masa mudanya, ia tiba-tiba merasakan perbandingan yang pahit.
“Aku benar-benar merasa kecil,” batinnya, pahit namun jujur. “Saat aku seusianya, aku tak pernah mencapai tingkat seperti ini.”
Di tengah suara angin dan debu yang perlahan turun kembali ke tanah, Peng Bei menarik napas panjang. Pandangannya tetap tertuju pada Gao Rui yang terus berlatih tanpa henti, seolah dunia di sekitarnya sudah menghilang.
Dengan gerakan tenang, Peng Bei mengeluarkan Teknik Kartu Kemungkinan miliknya. Kartu-kartu itu melayang di udara, berputar perlahan di hadapannya. Garis-garis cahaya halus muncul, membentuk pola-pola yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang menguasai teknik ini.
Peng Bei memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali. Ia pertama-tama mencoba meraba ulang satu kemungkinan yang sudah terjadi.
“Kemungkinan kemenangan Gao Rui saat pertandingan puncak kemarin… melawan murid Rung Kai.”
Kartu-kartu itu bergetar, lalu berhenti. Angka itu lalu muncul di pikiran Peng Bei.
“98%.”
Peng Bei terdiam.
“Itu… hampir pasti,” gumamnya. Angka setinggi itu nyaris tidak pernah muncul kecuali hasilnya sudah ditakdirkan. Gao Rui, tanpa ragu, berada di titik itu.
Ia tidak berhenti di sana. Tangannya bergerak lagi, mengubah susunan kartu.
“Kemungkinan kemenangan dalam kompetisi beladiri murid antar sekte.”
Kartu-kartu berputar lebih cepat kali ini, seolah mempertimbangkan lebih banyak variabel. Beberapa detik kemudian, hasilnya muncul.
“90%.”
Masih sangat tinggi. Peng Bei menghela napas panjang. Di tingkat antar sekte, di mana jenius-jenius dari berbagai aliran berkumpul, angka 90% sudah tergolong menakutkan. Namun yang terjadi selanjutnya benar-benar membuatnya kehilangan ketenangan.
Ia menelan ludah.
“Aku ingin tahu satu hal lagi…” gumamnya pelan. “Seberapa berbakat bocah ini sebenarnya.”
Untuk sesaat, kartu-kartu itu tidak bergerak. Lalu, mereka bergetar hebat. Cahaya menyala lebih terang dari sebelumnya. Peng Bei refleks berdiri sepenuhnya, jantungnya berdegup kencang. Angka itu muncul perlahan, jelas, tanpa keraguan.
“100%.”
Peng Bei membeku. Tangannya gemetar tipis. Ia menatap angka itu berulang kali, seolah berharap itu hanya kesalahan perhitungan. Namun kartu-kartu itu stabil. Tidak berubah. Tidak memudar.
“Seratus… Ini gila!” bisiknya lirih.
Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah bahkan sekali pun menemukan murid dengan bakat mencapai angka itu. Tidak di sekte ini. Tidak di sekte lain. Tidak juga dalam catatan sejarah yang pernah ia pelajari. Ini adalah pertama kalinya.
Pandangan Peng Bei kembali tertuju pada Gao Rui yang masih berlatih, tombaknya bergerak menyatu dengan tubuh dan napasnya, seolah langit dan bumi pun ikut mengikuti iramanya.
“Boqin Changing…” gumam Peng Bei pelan, penuh makna. “Apa sebenarnya yang kau titipkan pada sekte ini?”
Di halaman itu, di bawah sinar matahari pagi yang kini terasa lebih panas, Peng Bei tahu satu hal dengan pasti. Sekte ini sedang menyaksikan lahirnya sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
...********...
Sekian lama berlatih, akhirnya Gao Rui menghentikan gerakannya.
Tombak panjang di tangannya bergetar pelan sebelum benar-benar diam. Gao Rui menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Aura yang tadi memenuhi halaman berangsur-angsur menghilang, tekanan di udara mereda, dan debu-debu yang melayang perlahan jatuh ke tanah.
Dengan satu gerakan sederhana, Gao Rui memutar pergelangan tangannya. Tombak itu menghilang ke dalam kilatan cahaya tipis saat ia memasukkannya kembali ke dalam cincin ruang.
Baru setelah itu, Gao Rui memandang sekelilingnya. Langkahnya terhenti.
Matanya melebar sedikit saat menyadari kondisi halaman rumah Tetua Peng Bei. Batu-batu besar yang tadinya tersusun rapi kini hancur berkeping-keping. Tanah retak di banyak tempat, rumput tercabut dan tertekan ke dalam tanah membentuk pola-pola melingkar yang kacau. Beberapa pohon besar tumbang, batangnya patah bersih, dedaunan berserakan di mana-mana. Halaman itu… berantakan total.
“Hah…?” Gao Rui terdiam sesaat.
Detik berikutnya, wajahnya berubah. Ia segera menyadari apa yang telah ia lakukan.
“Aku…” Gao Rui menelan ludah. Rasa kaget bercampur dengan penyesalan muncul di hatinya. Ia terlalu larut dalam latihan, terlalu mengikuti aliran tombaknya sendiri, hingga lupa sepenuhnya pada lingkungan sekitar.
Tanpa ragu, ia segera melangkah cepat ke arah Peng Bei. Tetua itu berdiri tak jauh darinya, menatap halaman yang hancur dengan ekspresi yang sulit dibaca. Gao Rui langsung membungkuk dalam-dalam.
“Tetua Bei, aku minta maaf!” ucapnya dengan nada tulus. “Aku terlalu terbawa suasana saat berlatih.”
Ia mengangkat kepalanya sedikit, lalu melanjutkan dengan jujur,
“Setiap kali aku memegang tombak, gairah bertarungku meningkat jauh lebih tinggi dari biasanya. Kadang… aku kelewatan tanpa sadar.”
Peng Bei menatapnya beberapa saat, lalu tiba-tiba tertawa.
“Hahaha…”
Tawa itu ringan, sama sekali tidak mengandung amarah.
“Tidak masalah,” kata Peng Bei sambil melambaikan tangan. “Halaman ini memang dibuat untuk latihan. Rusak sedikit bukan masalah besar.”
Ia menoleh ke sekeliling, lalu menambahkan dengan santai.
“Nanti para pelayan akan membersihkannya. Beberapa batu dan pohon saja, itu bisa diganti.”
Gao Rui tetap terlihat tidak tenang. Ia merogoh cincin ruangnya dan mengeluarkan sebuah kantong kulit berwarna cokelat tua. Kantong itu tampak sederhana, tanpa hiasan mencolok.
Ia menyerahkannya ke arah Peng Bei dengan kedua tangan.
“Tetua, tolong terima ini. Anggap saja sebagai permintaan maafku.”
Peng Bei mengangkat alisnya sedikit.
“Hm?”
Ia menggeleng pelan.
“Tidak perlu. Aku sudah bilang, ini tidak masalah. Kau tidak perlu memberi ganti rugi hanya karena halaman rusak.”
Namun Gao Rui tidak menarik tangannya.
“Tidak,” katanya tegas namun sopan. “Aku merasa tidak enak jika tidak melakukan apa-apa.”
Peng Bei menatap kantong kulit itu sejenak. Dari luar, kantong tersebut tidak memancarkan aura apa pun. Tidak ada fluktuasi energi, tidak ada tanda benda berharga atau harta langka.
“Anak ini…” pikir Peng Bei. “Mungkin hanya ramuan biasa, atau kantong teh.”
Akhirnya, ia menghela napas kecil dan menerima kantong itu.
“Baiklah,” ucapnya. “Kalau begitu aku terima.”
Namun, begitu kantong kulit itu berada di tangannya, Peng Bei merasakan berat yang tidak biasa. Ia sedikit terkejut. Dengan rasa penasaran, ia membuka tali kantong tersebut.
Sekejap kemudian, matanya melebar.
Di dalam kantong itu, berkilauan tumpukan koin emas. Cahaya keemasan memantul di wajah Peng Bei, begitu terang hingga sulit diabaikan.
“Ini...!”
Peng Bei terdiam beberapa detik sebelum menatap Gao Rui dengan ekspresi kaget.
“Dari mana kau mendapatkan koin emas sebanyak ini?” tanyanya.
Gao Rui menjawab tanpa ragu, seolah itu hal yang sepenuhnya wajar.
“Itu dari guruku, Boqin Changing.”
Peng Bei semakin terkejut.
“Dari gurumu?”
Gao Rui mengangguk.
“Ya. Ini hanya sebagian kecil. Aku masih punya banyak koin emas sisanya.”
Peng Bei terdiam. Untuk sesaat, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Koin emas bukanlah mata uang biasa. Bahkan bagi seorang tetua sekte, jumlah sebanyak ini tetap tergolong besar.
Ia menatap Gao Rui dalam-dalam.
“Apakah gurumu… sangat kaya?” tanyanya perlahan.
Gao Rui mengangguk mantap.
“Guru pernah berkata bahwa dirinya adalah orang terkaya kedua di Kekaisaran Qin.”
Peng Bei menganggukkan kepalanya pelan, mencoba mencerna informasi itu.
“Kalau begitu,” katanya sambil berpikir, “berarti orang terkaya di Kekaisaran Qin adalah kaisarnya?”
Gao Rui justru menggelengkan kepalanya.
“Bukan,” jawabnya tenang.
Peng Bei terkejut.
“Bukan?”
Gao Rui menatap ke depan, lalu berkata dengan nada datar namun penuh keyakinan, seolah sedang mengulang kata-kata yang sudah tertanam kuat di benaknya.
“Guru berkata… jika ia menyebut dirinya nomor dua, maka tidak akan ada orang yang berani menyebut dirinya sebagai yang pertama.”
Peng Bei membeku. Kata-kata itu terngiang di telinganya. Perlahan, senyum tipis muncul di wajahnya. Senyum yang bercampur antara keterkejutan, kekaguman, dan perasaan sulit dijelaskan.