Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 30: Ketimpangan kutukan [10]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Sore merambat pelan di balik kaca kafe, cahaya matahari berubah keemasan dan memantul di permukaan meja kayu tempat mereka duduk.
Obrolan yang tadinya penuh tawa perlahan berubah menjadi diskusi yang lebih tenang, bukan karena suasana menjadi berat, tetapi karena masing-masing mulai menyadari bahwa apa yang mereka miliki sekarang bukan hanya kebetulan nongkrong biasa, melainkan ruang aman tempat mereka bisa menjadi dua hal sekaligus: mahasiswa dengan kehidupan normal, dan sekelompok orang yang memahami sesuatu yang tidak semua orang tahu.
Zack memperhatikan mereka satu per satu. Kale yang sesekali membuka tablet untuk mencatat ide bisnis yang tiba-tiba muncul. Saka yang tanpa sadar merapikan lipatan tisu di meja agar terlihat simetris. Hamu yang memutar sendok di gelasnya seperti sedang mensimulasikan algoritma di kepalanya. Dan Rakes, yang tampak paling santai, tapi matanya sesekali menyipit seperti sedang menyusun argumen.
“Ada yang berubah ngga sih dari kita?” Zack bertanya pelan, lebih seperti berpikir keras daripada benar-benar bertanya.
“Berubah gimana?” tanya Kale.
“Cara kita lihat dunia,” jawab Zack.
Hening sebentar.
Saka menyandarkan punggungnya. “Gue rasa bukan berubah. Lebih kayak… nambah layer.”
Hamu mengangguk kecil. “Iya. Dulu kita cuma mikirin tugas, IPK, magang. Sekarang nambah satu layer: fondasi tak terlihat.”
Rakes langsung menunjuk meja. “Dan layer itu ngga bikin kita jadi superhero. Itu penting dicatat.”
Zack tersenyum tipis. “Kenapa penting?”
“Karena gue ngga siap kalau tiba-tiba harus pakai jubah,” jawab Rakes cepat. “Gue lebih cocok pakai jas sidang.”
Kale tertawa kecil. “Lo aja belum lulus.”
“Visi jauh ke depan,” bela Rakes.
Angin dari pintu yang terbuka sebentar membawa suara kendaraan dan percakapan orang-orang di luar. Dunia tetap bergerak tanpa peduli pada kesadaran baru yang sedang tumbuh di meja kecil itu.
Zack menyadari sesuatu yang lebih dalam lagi: keseimbangan yang mereka bicarakan semalam ternyata bukan hanya soal jangkar atau energi. Itu juga soal bagaimana mereka tidak membiarkan satu sisi hidup mereka menelan sisi yang lain. Ia tetap mahasiswa kedokteran yang harus memahami sistem tubuh manusia. Kale tetap pebisnis masa depan yang berpikir dalam grafik dan strategi. Hamu tetap arsitek logika digital. Rakes tetap pengurai pasal dan makna. Saka tetap pencipta bentuk dan proporsi.
Dan justru karena mereka tetap pada jalurnya masing-masing, mereka tidak kehilangan diri ketika sesuatu yang lebih besar muncul.
“Gue mikir,” kata Hamu pelan, “kalau nanti ada gangguan lagi, mungkin kita ngga perlu langsung panik cari solusi besar.”
Rakes mengangkat alis. “Terus?”
“Cukup cek dulu,” lanjut Hamu, “apakah kita sendiri lagi ngga seimbang.”
Kalimat itu menggantung beberapa detik di udara.
Kale mengangguk pelan. “Masuk akal.”
Saka menatap Zack. “Lo tadi pagi stabil kan?”
“Iya,” jawab Zack jujur. “Karena gue ngga maksa mikir semuanya sekaligus.”
Rakes menyeringai. “Lihat? Progres karakter.”
“Karakter apaan?” tanya Zack.
“Karakter utama yang akhirnya sadar ngga harus nyelametin dunia sendirian,” jawab Rakes ringan.
Zack tidak membantah.
Karena mungkin itu benar.
Senja semakin turun, warna langit berubah lebih dalam. Satu per satu lampu di sekitar kafe menyala. Percakapan mereka mengalir ke hal-hal yang lebih ringan, rencana presentasi, proyek coding Hamu, ide brand kecil yang Kale ingin coba, konsep koleksi baru yang sedang dirancang Saka, dan kasus hukum yang membuat Rakes terlalu semangat berdebat.
Namun di sela-sela semua itu, ada kesadaran diam yang terus tumbuh: bahwa mereka sedang membangun sesuatu yang tidak tertulis.
Bukan organisasi.
Bukan perjanjian sakral.
Tapi komitmen tak terucap.
Kalau salah satu goyah, yang lain menarik kembali.
Kalau salah satu terlalu tenggelam, yang lain mengingatkan.
“Eh,” Rakes tiba-tiba berkata sambil berdiri dan merapikan tasnya. “Gue baru kepikiran.”
“Lagi?” kata Kale.
“Kalau keseimbangan itu fondasi… berarti kita tuh semacam penyangga tambahan.”
Hamu menyipitkan mata. “Lo lagi bikin analogi berat?”
“Iya,” jawab Rakes bangga. “Kita ini kayak… tiang cadangan.”
Saka tersenyum tipis. “Lo lebih mirip tiang listrik goyang.”
“Minimal tetap berdiri,” balas Rakes cepat.
Zack tertawa pelan, tapi kali ini tawanya tidak hanya karena lucu. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan. Mereka mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi besok, minggu depan, atau beberapa bulan lagi. Tapi untuk saat ini, ia tahu satu hal pasti:
Ia tidak lagi merasa sendirian di tengah cerita yang terasa terlalu besar.
Mereka keluar dari kafe bersama-sama. Malam kembali menyelimuti kota, lampu-lampu jalan menyala lebih terang dari sebelumnya. Langkah mereka tidak terburu-buru.
Dan di antara suara kendaraan dan obrolan santai yang masih berlanjut, ada keyakinan sederhana yang mulai mennggaar,
bahwa selama mereka tetap menjadi diri mereka masing-masing,
selama mereka tidak lupa tertawa,
dan selama mereka tidak berhenti saling mengingatkan,
maka apa pun fondasi lama yang tersembunyi di bawah kehidupan mereka,
ia tidak akan pernah menjadi beban yang menghancurkan.
Paling tidak,
ia akan menjadi bagian dari perjalanan yang mereka jalani dengan kepala tengga…
dan tentu saja, dengan Rakes yang tetap siap berkomentar di momen paling tidak terduga.
Beberapa hari berlalu tanpa kejadian aneh.
Tidak ada getaran tiba-tiba.
Tidak ada simbol muncul di dinding.
Tidak ada firasat dramatis yang memaksa mereka berkumpul tengah malam.
Dan justru itu yang terasa… menarik.
Hidup kembali pada ritmenya yang biasa, kelas pagi, tugas mendadak, chat grup yang isinya setengah serius setengah absurd. Zack mulai sibuk dengan praktikum anatomi, Kale tenggelam dalam proposal bisnis kompetisi kampus, Hamu hampir tidak keluar dari lab karena proyek aplikasinya, Saka begadang menyelesaikan konsep koleksi mini, dan Rakes, seperti biasa, terlibat debat panjang di kelas hukum seolah masa depan negara bergantung pada argumennya.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Mereka lebih sadar.
Lebih peka terhadap diri sendiri.
Suatu sore, Zack duduk sendirian di perpustakaan fakultas kedokteran. Buku tentang sistem saraf terbuka di depannya. Ia membaca tentang impuls listrik, tentang bagaimana tubuh menjaga keseimbangan melalui sinyal yang hampir tak terlihat.
Homeostasis.
Tubuh manusia bekerja keras menjaga stabilitas internalnya, suhu, tekanan darah, kadar gula, bahkan ketika lingkungan berubah.
Zack berhenti membaca.
Homeostasis.
Ia tersenyum kecil.
“Mungkin kita juga begitu,” gumamnya pelan.
Di waktu yang hampir bersamaan, Kale sedang mempresentasikan model bisnis di depan kelasnya. Slide terakhirnya menampilkan grafik risiko dan mitigasi.
“Keseimbangan antara ekspansi dan kontrol adalah kunci keberlanjutan,” katanya tenang.
Ia terdiam sepersekian detik.
Kata “keseimbangan” lagi.
Ia tidak panik. Tidak terkejut. Hanya menyadari bahwa konsep itu ada di mana-mana, bukan sebagai sesuatu yang mistis, tapi sebagai prinsip dasar kehidupan.
Di kampus lain, Hamu menatap layar penuh kode yang baru saja error.
“Kenapa crash?” gumamnya.
Ia menelusuri baris demi baris, lalu menemukan satu variabel yang nilainya tidak sesuai.
“Ah. Overload.”
Ia memperbaikinya. Sistem kembali stabil.
Saka, di studio fashion, sedang mengoreksi desain yang terasa “tidak pas”. Ia memutar manekin, menarik sedikit kain di sisi kiri, menambahkan lipatan kecil.
Proporsi berubah.
Desain tiba-tiba terlihat seimbang.
Rakes, di ruang diskusi hukum, sedang berdebat tentang asas keadilan proporsional.
“Kalau hukuman terlalu berat, itu bukan keadilan. Kalau terlalu ringan, juga bukan,” katanya mantap. “Keseimbangan itu bukan tengah-tengah sembarang. Itu titik yang tepat.”
Temannya mengangguk.
Dan tanpa mereka sadari, kelima orang itu, di ruang yang berbeda, sedang menghidupi prinsip yang sama dalam cara yang berbeda.
Malamnya, mereka kembali bertemu.
Bukan karena darurat.
Bukan karena panggilan misterius.
Hanya karena ingin.
Mereka duduk di tangga depan gedung fakultas Zack. Lampu taman menyala redup. Angin malam membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi.
“Gue baru sadar,” kata Kale pelan, “kita ngga pernah benar-benar ngomongin rencana besar lagi setelah malam itu.”
Rakes menyilangkan tangan. “Karena kita sepakat ngga mau hidup seolah-olah itu satu-satunya hal.”
Saka mengangguk kecil. “Dan ternyata… itu berhasil.”
Zack menatap ke depan. “Gue ngga ngerasa tertekan lagi.”
Hamu tersenyum tipis. “Karena lo ngga lagi berdiri sendirian di tengah.”
Hening sebentar.
Bukan hening canggung.
Hening yang penuh pemahaman.
Rakes tiba-tiba menepuk lututnya sendiri. “Tapi jangan salah. Bukan berarti kita lengah.”
Semua menoleh.
“Kalau ada tanda apa pun,” lanjutnya, “kita tetep hadapin bareng. Cuma sekarang kita tahu… kita ngga harus jadi versi dramatis dari diri kita sendiri.”
Kale tersenyum tipis. “Lo makin dewasa ya Celeng.”
Rakes langsung menunjuk dirinya. “Yah anjir, babi dong. ”
Saka menggeleng pelan. “Jangan ge-er dulu, lebih kayak monyet sih Rak.”
Zack tertawa kecil.
Ia menatap langit malam.
Tidak ada tanda khusus.
Tidak ada cahaya aneh.
Hanya langit biasa dengan bintang samar.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu mencari makna tersembunyi di setiap sudut dunia.
Kalau sesuatu memang ingin muncul, ia akan muncul.
Kalau tidak, hidup tetap berjalan.
Ia menarik napas dalam.
“Gue pikir,” katanya pelan, “mungkin jangkar itu bukan cuma alat penyeimbang.”
“Terus?” tanya Hamu.
“Mungkin dia juga pengingat.”
“Pengingat apa?” tanya Kale.
“Bahwa fondasi kuat itu penting,” jawab Zack, “tapi yang bikin bangunan tetap berdiri adalah orang-orang yang hidup di dalamnya.”
Rakes menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum miring.
“Wah. Anak kedokteran udah mulai filosofis.”
“Pengaruh lingkungan,” balas Zack santai.
Hamu berdiri dan meregangkan badan. “Jadi kesimpulan hari ini?”
Rakes langsung menjawab, “Kita tetap kuliah, tetap waras, tetap bareng.”
Saka menambahkan pelan, “Dan tetap seimbang.”
Kale mengangguk.
Zack tersenyum.
Malam itu tidak ada kejadian luar biasa.
Tidak ada klimaks dramatis.
Tidak ada rahasia baru terbuka.
Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Karena mereka mulai memahami bahwa perjalanan ini bukan tentang satu malam penuh wahyu atau satu konflik besar yang harus dimenangkan.
Ini tentang proses panjang.
Tentang bertumbuh.
Tentang belajar menanggung sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, tanpa kehilangan diri itu sendiri.
Dan di tengah semua itu, Rakes berdiri paling akhir sebelum mereka pulang, lalu berkata santai,
“Kalau suatu hari nanti fondasinya goyang lagi…”
Semua menoleh.
“…kita tinggal cek dulu. Siapa yang kurang tidur.”
Hening dua detik.
Lalu tawa mereka kembali pecah di bawah langit malam yang tenang.
Hari-hari berikutnya tidak meledak menjadi sesuatu yang besar.
Tidak ada gempa kecil di bawah lantai rumah Zack.
Tidak ada mimpi aneh yang terasa seperti pesan terselubung.
Tidak ada simbol misterius muncul di buku anatomi atau catatan hukum.
Yang ada hanyalah ritme.
Ritme yang stabil.
Dan justru karena stabil, mereka mulai merasakan sesuatu yang lebih halus, bukan gangguan, bukan ancaman, melainkan semacam… sinkronisasi.
Suatu pagi, Zack berdiri di ruang praktikum, mengenakan jas lab putihnya. Di hadapannya terbentang model anatomi sistem peredaran darah. Dosen menjelaskan bagaimana tubuh menjaga tekanan agar tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.
“Tubuh selalu mencari titik seimbang,” kata dosennya. “Ketika satu sistem terganggu, sistem lain akan menyesuaikan.”
Zack terdiam beberapa detik.
Ia tidak lagi mengaitkan semuanya dengan jangkar.
Ia tidak lagi mencari makna tersembunyi di setiap istilah.
Namun tetap saja, ia merasa dunia seolah mengulang pesan yang sama dalam bahasa yang berbeda.
Di kampus bisnis, Kale sedang berdiskusi tentang manajemen krisis.
“Kalau pasar terlalu agresif, perusahaan bisa runtuh,” katanya dalam kelompoknya. “Kalau terlalu pasif, juga kalah saing. Stabilitas bukan berarti diam. Stabilitas berarti respons yang terukur.”
Di lab komputer, Hamu menguji sistem server kecil yang ia buat untuk proyeknya. Ia sengaja memberi beban besar untuk melihat batasnya.
Server itu melambat.
Hamu tersenyum tipis.
“Overload selalu kelihatan sebelum crash,” gumamnya.
Di studio fashion, Saka sedang mengkritik desain temannya.
“Konsepnya bagus,” katanya tenang, “tapi terlalu berat di satu sisi. Mata langsung lari ke satu titik. Coba diseimbangkan.”
Dan di ruang sidang simulasi fakultas hukum, Rakes berdiri dengan penuh percaya diri.
“Yang mulia,” katanya dramatis dalam simulasi, “keadilan tidak berdiri di ekstrem. Ia berdiri di proporsi.”
Teman-temannya tertawa kecil karena ia terlalu total.
Namun di balik gaya lebaynya, kalimat itu tidak asal keluar.
Sore itu mereka kembali berkumpul, kali ini di taman kecil dekat kampus Zack. Tidak ada agenda khusus. Hanya duduk melingkar di rumput, tas berserakan, sepatu dilepas karena tanah masih sedikit lembap setelah hujan kemarin.
Langit berwarna jingga pucat.
“Gue ngerasa aneh,” kata Hamu tiba-tiba.
Semua menoleh.
“Aneh gimana?” tanya Saka.
“Tenang banget,” jawab Hamu.
Rakes langsung mendengus. “Lo maunya chaos?”
“Bukan gitu,” Hamu tertawa kecil. “Cuma… setelah semua itu, gue kira bakal ada fase dramatis lanjutan.”
Zack mengangguk pelan. “Gue juga sempat mikir gitu.”
Kale menyandarkan tubuhnya ke belakang, bertumpu pada kedua tangan. “Mungkin ini justru fase pentingnya.”
“Fase apa?” tanya Rakes.
“Fase adaptasi,” jawab Kale. “Kita ngga lagi shock. Kita ngga lagi takut. Kita lagi hidup bareng fakta itu.”
Hening beberapa detik.
Angin sore menyentuh dedaunan.
Saka menarik napas panjang. “Dan ternyata… hidup tetap biasa.”
Zack tersenyum kecil. “Iya. Dan itu ngga buruk.”
Rakes memiringkan kepala. “Gue baru sadar satu hal.”
Semua langsung refleks waspada.
“Tenang,” katanya cepat. “Ini bukan teori berat.”
“Syukurlah,” gumam Kale.
“Kalau dulu kita ketawa karena mau ngilangin tegang,” lanjut Rakes, “sekarang kita ketawa karena emang lucu.”
Saka mengangguk pelan.
Zack memandang teman-temannya.
Ia bisa melihat perubahan kecil, bukan perubahan kepribadian, bukan perubahan drastis. Lebih seperti ketegasan yang tumbuh diam-diam. Mereka tidak lagi terlihat seperti orang yang baru saja menemukan rahasia besar dan kebingungan menghadapinya.
Mereka terlihat seperti orang yang sudah menerima bahwa rahasia itu ada… dan memilih tetap berjalan.
“Lo tau ngga,” kata Zack pelan, “yang bikin gue paling tenang?”
“Apa?” tanya Hamu.
“Gue ngga lagi ngerasa harus ngerti semuanya sekarang juga.”
Kale tersenyum tipis. “Itu namanya dewasa.”
Rakes langsung mengangkat tangan. “Tolong jangan pake kata itu terlalu sering. Kita belum siap.”
Semua tertawa.
Langit semakin redup. Lampu taman menyala satu per satu.
Dan di tengah cahaya yang mulai menguning itu, Zack merasakan sesuatu yang sederhana tapi kuat: keseimbangan bukan lagi konsep yang harus ia kejar. Ia bukan sesuatu yang harus dipertahankan dengan tegang.
Ia adalah hasil dari pilihan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Memilih datang ke kelas.
Memilih bertemu teman.
Memilih tidak membiarkan ketakutan menguasai.
Memilih tetap menjadi diri sendiri.
Rakes berdiri lebih dulu, menepuk-nepuk celananya.
“Oke,” katanya santai. “Kesimpulan rapat tidak resmi hari ini?”
Hamu mengangkat tangan setengah malas. “Stabil.”
Saka menambahkan, “Waras.”
Kale berkata tenang, “Terukur.”
Zack tersenyum.
“Dan bareng,” katanya.
Rakes mengangguk puas. “Bagus. Karena kalau suatu hari nanti fondasinya beneran goyang…”
Ia berhenti sebentar, menatap mereka satu per satu.
“…minimal kita ngga panik sendirian.”
Hening sepersekian detik.
Lalu mereka berjalan keluar taman bersama-sama.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada bayangan ancaman di belakang mereka.
Hanya langkah lima mahasiswa dengan jurusan berbeda, dunia berbeda, perspektif berbeda, yang entah bagaimana, membentuk satu garis keseimbangan yang tidak terlihat.
Dan untuk saat ini,
itu sudah lebih dari cukup.
Langit sore menggantung rendah di atas kampus mereka, memantulkan warna jingga yang samar pada gedung-gedung fakultas yang berdiri berjajar seperti saksi bisu perjalanan hidup lima orang itu. Di pelataran parkir Fakultas Kedokteran, Zack berdiri dengan jas lab yang masih terlipat di tangannya, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Seharian ia mencoba menenggelamkan diri pada praktikum anatomi, menghafal nama otot dan saraf, seolah-olah dengan begitu ia bisa menghindari denyut aneh yang sejak beberapa minggu terakhir terasa hidup di dalam dadanya.
Kutukan itu tidak lagi hanya muncul sebagai mimpi atau kilatan bayangan masa lalu. Kini ia seperti suara yang berbisik pelan ketika Zack lengah. Seperti sesuatu yang sabar menunggu saatnya mengambil alih.
Di sisi lain kampus, di gedung Fakultas Bisnis, Kale baru saja menutup laptopnya setelah presentasi kelompok yang kacau karena ia hampir menyebut nama “Demar” alih-alih “demand”. Teman-temannya mengira ia salah sebut istilah ekonomi. Ia hanya tertawa kaku.
Tidak mungkin ia menjelaskan bahwa pikirannya terpecah antara laporan keuangan dan sejarah tiga kerajaan kuno yang seharusnya sudah terkubur berabad-abad lalu.
Sejak malam di asrama itu, malam ketika gelas pecah dan Zack nyaris kehilangan napas, semuanya berubah.
Rahasia yang selama ini disimpan Rakes akhirnya terkuak. Tentang Demar.
Tentang Kartaswiraga.
Tentang Bharata Jengga.
Tentang leluhur Liorlikoza, Evangelin Arkozia, yang membunuh Raden Mahaniyan Kartaswiraga, satu-satunya kunci untuk memutus rantai kutukan keturunan Demar.
Dan Zack… adalah keturunan terakhir itu.
Kini, rencana mereka sederhana tapi berat seperti pergi ke kediaman keluarga Zack. Rumah tua yang konon menyimpan arsip dan peninggalan leluhur Demar. Jika memang ada jawaban, mungkin ada di sana.
Malam itu mereka berkumpul di asrama. Hamu sedang duduk bersila dengan laptop terbuka, mencoba meretas arsip digital lama yang mungkin berkaitan dengan sejarah keluarga Zack. Saka sibuk menggambar sketsa desain jaket di buku gambarnya, anehnya tetap fokus meski suasana tegang.
“Gue sih tetep mikir,” celetuk Saka tanpa mengangkat kepala, “kalau ternyata semua ini cuma drama keluarga bangsawan zaman dulu, kita tuh kayak mahasiswa yang keseret skripsi leluhur.”
Rakes yang sedang berdiri sambil menyandarkan kepala ke lemari menatap kosong. “Kalau ini skripsi, gue udah DO dari kemarin.”
Hamu menoleh. “Lo mah DO dari lahir, Rak.”
“Eh, santai. Gue lulus hukum dengan terhormat, ya,” balas Rakes cepat, meski matanya masih terlihat lelah.
Di tengah celetukan itu, Zack duduk diam di tepi ranjangnya. Tangannya mengepal, urat di pergelangannya menegang. Ia bisa merasakan sesuatu bergerak di dalam dirinya, bukan rasa sakit biasa, bukan sekadar stres. Ada tekanan yang muncul setiap kali ia mengingat nama “Demar”.
Ia menunduk. “Kalau memang kuncinya udah mati… berarti ngga ada cara lagi, kan?”
Kale yang sejak tadi berdiri bersandar di dinding langsung menoleh. “Jangan ngomong kayak gitu.”
Zack tersenyum tipis. “Gue anak kedokteran, Kale. Gue tau rasanya tubuh yang lagi dilawan sama sesuatu. Dan ini… ini bukan cuma psikologis.”
Ruang itu mendadak sunyi. Bahkan Rakes tak melontarkan komentar.
Benar. Rumah itu bukan tempat asing bagi Zack. Ia tumbuh di sana. Ia hafal bunyi lantai kayu yang berderit di lorong kiri, tahu jendela mana yang selalu macet kalau musim hujan, dan sudut mana yang paling sepi untuk bersembunyi saat kecil dulu ia ingin menghindari tamu keluarga.
Jadi ketika mereka kembali ke kediaman keluarga Zack untuk kedua kalinya dalam minggu itu, tidak ada rasa kagum atau keterkejutan di wajahnya. Yang ada justru sesuatu yang lebih berat, rasa pulang yang tidak lagi terasa sepenuhnya aman.
Pintu kayu besar itu terbuka dengan bunyi engsel yang sama seperti dulu. Zack melangkah masuk tanpa ragu, melepas sepatu di tempat biasa. Tangannya secara refleks menyentuh dinding sebelah kanan pintu, tepat di titik cat yang sedikit mengelupas. Kebiasaan lama.
Penanda bahwa ia benar-benar kembali.
Namun kali ini, udara di dalam rumah terasa berbeda. Bukan asing, lebih seperti… terlalu sadar.
Oke. Kita bikin lebih santai, lebih “udah biasa”, ngga terlalu berat dan melankolis.
Begitu mereka masuk ke rumah Zack, ngga ada momen hening dramatis atau tatapan penuh makna ke langit-langit. Zack langsung jalan masuk sambil bilang, “Tutup pintunya rapet, kemarin lo pada lupa, AC gue kerja rodi.”
Rakes yang paling belakang langsung nyengir. “Iya, Yang Mulia Pewaris Demar. Maafkan hamba.”
“Lo kalau manggil gue Yang Mulia lagi, gue suruh lo tidur di teras,” balas Zack datar.
Rumah itu jelas bukan tempat baru buat mereka. Beberapa hari lalu mereka sudah ke sini, sudah buka lemari arsip, sudah nemu dokumen tentang Evangelin Arkozia dan Raden Mahaniyan Kartaswiraga. Jadi sekarang bukan lagi sesi kaget-kagetan sejarah. Ini lebih ke, “Oke, kita balik lagi karena kayaknya ada yang kelewat.”
Kale langsung duduk di sofa ruang tengah seperti orang yang lagi nongkrong biasa. “Kemarin kita terlalu fokus sama dokumen kematian itu. Harusnya kita cek bagian silsilahnya lagi.”
Hamu sudah otomatis buka laptop di meja makan. “Gue kemarin nemu pola tanggal yang aneh. Keturunan Demar selalu kena ‘gejala’ di umur tertentu.”
Saka bersandar di dinding, lihat ukiran lambang Demar di atas pintu. “Kalau dipikir-pikir, keluarga lo tuh kayak franchise kerajaan. Season-nya panjang banget.”
“Gue ngga minta jadi season terbaru,” Zack jawab santai, tapi tangannya tanpa sadar meremas lengan bajunya.
Dia ngga lagi kelihatan kayak orang yang shock atau overwhelmed. Justru sekarang dia terlihat lebih… waspada. Seolah-olah sejak malam sesak napas itu, dia udah menerima kalau ini memang bagian dari hidupnya.
Rakes jalan ke lemari arsip yang kemarin mereka bongkar. “Intinya gini. Evangelin Arkozia bunuh Raden Mahaniyan. Itu fakta. Tapi ngga mungkin kerajaan segede itu cuma punya satu ‘kunci’. Pasti ada cadangan, entah orang, benda, atau sumpah tandingan.”
“Cadangan lagi,” gumam Saka. “Lo yakin ini bukan game RPG?”
“Kalau ini game, karakter gue pasti yang HP-nya paling tipis,” sahut Zack.
Kale ketawa pendek. “Iya sih, lo tiap malam kayak notifikasi low battery.”
Zack melirik tajam. “Gue bisa ngasih lo suntikan tanpa bius, ya.”
“Eh santai dokter, kita satu tim.”
Suasananya tetap ringan, tapi ada satu hal yang beda dari sebelumnya: sekarang mereka semua sadar kalau waktu mereka ngga banyak. Kutukan itu bukan lagi cerita dongeng keluarga. Zack makin sering ngerasa pusing tiba-tiba, atau jantungnya berdetak terlalu cepat tanpa sebab jelas.
Bukan dramatis. Bukan lebay. Cuma… makin sering.
Zack berdiri dan jalan ke tangga. “Gue cek ruang kerja bokap dulu. Kemarin kita belum buka laci bawah meja.”
“Laci bawah?” Rakes langsung curiga. “Biasanya yang penting emang disembunyiin di tempat paling males dibuka.”
Hamu nyeletuk, “Atau isinya cuma tagihan listrik.”
“Kalau isinya tagihan, gue resmi kabur dari garis keturunan Demar,” kata Zack.
Mereka naik bareng, langkah kaki berderit biasa di lantai kayu yang udah familiar ngga ada aura misterius yang berlebihan. Cuma lima mahasiswa yang lagi bongkar sejarah keluarga temennya sendiri sambil tetap ribut.
Dan di tengah semua itu, Zack berhenti sebentar di depan ruang kerja ayahnya.
Tangannya sempat menggantung di gagang pintu.
Bukan karena takut. Bukan karena sedih.
Tapi karena untuk pertama kalinya, dia ngerasa… dia ngga cuma cari jawaban tentang masa lalu.
Dia lagi cari cara supaya masa depannya ngga berhenti di sini.
Lalu dia buka pintunya.
“Kalau nemu apa-apa, jangan pada panik,” katanya santai.
Rakes langsung jawab, “Tenang. Yang panik cuma nilai IPK gue.”
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...