"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Istri yang Mana?
Alana yang tadinya sudah merasa terbang ke awan, mendadak jatuh terjerembap ke aspal yang keras. Ia melepaskan tangan Arkan seolah tangan itu adalah besi panas yang membakar kulitnya. Matanya yang bulat kini menyipit, memancarkan sinar "julid" level maksimal.
"Mas... bisa tolong jelasin pelan-pelan sebelum vas bunga di meja ini mendarat di kepala Mas?" suara Alana terdengar tenang, namun Arkan tahu itu adalah ketenangan sebelum tsunami.
Arkan tampak sama bingungnya. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. "Istri pertama? Itu tidak mungkin. Saya tidak pernah menikah dengan siapa pun sebelum kamu, Lana!"
"Lalu itu yang di bawah siapa? Arwah penunggu kantor?!" semprot Alana.
Sekretaris Arkan, Maya, masih mematung di ambang pintu dengan wajah pucat. "Maaf Tuan, tapi wanita itu membawa dokumen pernikahan dari London. Namanya Nona Catherine. Dia... dia bilang dia adalah cinta pertama Tuan Arkan."
Alana tertawa hambar. "Wah, komplit ya paketnya. Ada mantan pengkhianat, ada keluarga ular, sekarang muncul 'cinta pertama' dari luar negeri. Mas Arkan ini sebenarnya miliarder atau magnet drama, sih?"
Arkan mengabaikan sindiran Alana dan menatap Maya tajam. "Bawa dia ke ruang rapat kecil. Jangan biarkan dia membuat keributan di lobi. Dan Lana... tetaplah di sini."
"Enggak!" Alana menyambar tasnya dan memakai kembali kacamata hitamnya. "Saya ikut. Saya mau lihat secantik apa 'cinta pertama' Mas itu sampai berani datang ke sini bawa surat nikah palsu. Kalau perlu, saya mau belajar gimana caranya jadi halu tingkat internasional kayak dia!"
Di ruang rapat kecil, seorang wanita dengan rambut pirang platinum dan setelan busana high fashion sedang duduk sambil menyesap kopi dengan anggun. Begitu pintu terbuka, ia berdiri dan langsung berlari ke arah Arkan.
"Arkan! Darling! I've missed you so much!" seru wanita itu dengan aksen Inggris yang kental.
Arkan menghindar dengan sigap, membuat wanita bernama Catherine itu hampir menabrak tembok. "Catherine? Apa-apaan ini? Apa maksudmu dengan mengaku sebagai istriku?"
Catherine mengerucutkan bibirnya, lalu matanya beralih ke arah Alana yang sedang bersedekap di pintu. "Oh, jadi ini nanny baru yang kamu pekerjakan untuk menjaga apartemenmu? Lumayan manis, tapi seleramu agak... menurun ya?"
Darah Alana langsung naik ke ubun-ubun. Nanny?! Dia bilang aku pengasuh?!
Alana melangkah maju, melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di atas meja dengan bunyi brak yang cukup keras. "Halo, Mbak Bule. Kenalin, saya Alana. Istri sah—secara hukum negara dan hukum perasaan—dari pria kaku di sebelah saya ini. Dan maaf ya, Mas Arkan nggak butuh nanny, dia cuma butuh istri yang bisa bikin dia sadar kalau hidupnya nggak cuma soal angka, bukan wanita yang datang jauh-jauh cuma buat main drama musikal."
Catherine tertawa sinis, ia mengeluarkan sebuah map dari tas Hermes-nya. "Arkan, kamu lupa? Lima tahun lalu di London, saat kita mabuk setelah pesta penutupan proyek Chelsea. Kita menandatangani dokumen ini di depan saksi. Ini legal di bawah hukum Inggris!"
Arkan mengambil dokumen itu, membacanya sebentar, lalu tiba-tiba ia merobek dokumen itu menjadi dua tanpa ragu.
"Itu dokumen partnership bisnis yang kamu ubah bagian judulnya, Catherine. Saya tahu akal bulusmu," Arkan bicara dengan nada yang sangat dingin. "Kamu datang ke sini karena perusahaan ayahmu di London sedang di ambang kebangkrutan, kan? Dan kamu pikir dengan berpura-pura menjadi istriku, kamu bisa mendapatkan suntikan dana?"
Catherine tertegun. Wajah cantiknya langsung berubah menjadi penuh amarah. "Arkan! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Kita punya sejarah!"
Alana yang sedari tadi mengamati, akhirnya angkat bicara. "Mbak, denger ya. Sejarah itu tempatnya di museum, bukan di kantor orang. Kalau Mbak butuh uang, mending jual tuh tas aslinya, atau mungkin kursus akting lagi. Soalnya akting Mbak tadi kurang natural, kaku banget kayak kanebo kering!"
"Kamu...!" Catherine hendak menampar Alana, tapi Arkan dengan cepat menangkap tangan wanita itu.
"Jangan pernah coba-coba menyentuh istriku," ancam Arkan. "Maya! Panggil keamanan. Pastikan wanita ini masuk ke daftar hitam seluruh properti Arkananta. Dan kirimkan surat tuntutan hukum atas pencemaran nama baik ke hotelnya sore ini juga."
Setelah Catherine diseret keluar dengan teriakan makiannya, ruangan itu kembali sunyi. Alana menghela napas panjang, ia duduk di kursi rapat sambil memijat pelipisnya.
"Gila. Hidup Mas ini bener-bener kayak wahana roller coaster ya. Capek saya, Mas."
Arkan menghampiri Alana, ia berlutut di depan kursi gadis itu agar mata mereka sejajar. "Maafkan saya, Lana. Saya tidak tahu dia akan senekat itu."
Alana menatap Arkan lama. "Mas, janji ya? Nggak ada lagi 'istri' ketiga, keempat, atau selir yang bakal muncul dari planet lain?"
Arkan tersenyum tulus, ia mengambil tangan Alana dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Hanya kamu, Alana. Hanya gadis yang nyasar di kondangan itu yang berhasil mencuri hati saya."
Alana tersipu, sisi julidnya mendadak hilang entah ke mana. "Ya udah. Tapi sebagai denda karena udah bikin saya jantungan, malam ini Mas harus temenin saya makan mie ayam gerobakan di pinggir jalan. Nggak boleh nolak!"
"Siapa takut?" balas Arkan.
Malam itu, saat mereka sedang asyik makan mie ayam di pinggir jalan dengan Arkan yang masih memakai kemeja mahal namun duduk di bangku plastik, sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari mereka. Seseorang turun dan mengambil foto mereka secara diam-diam.
Orang itu kemudian menelepon seseorang. "Target sedang lengah. Dia sedang berada di luar jangkauan pengawalnya. Lakukan sekarang."
Tiba-tiba, lampu jalanan di sekitar mereka padam total. Sesuatu yang dingin menempel di tengkuk Alana.