NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Rahasia dan Serangan di Hutan Pinang

Fajar baru saja menyingsing ketika rombongan empat orang itu meninggalkan Kota Bunga Salju melalui jalan setapak tersembunyi di belakang penginapan. Peta tua dari Nenek Hua membawa mereka ke jalur sempit yang jarang dilalui—melewati hutan pinang yang lebat, di mana pohon-pohon tinggi menjulang seperti pilar hijau, dan akar-akar menjalar di tanah seperti ular raksasa. Salju di sini lebih tipis, tapi kabut pagi masih tebal, membuat pandangan terbatas hanya beberapa langkah ke depan.

Shen Yi berjalan di depan, memegang peta yang sudah kusut di tangan. Tongkat kayunya mengetuk tanah untuk memeriksa kestabilan jalan. Di sampingnya, Lian'er melangkah pelan, jubah putihnya kini ditutupi mantel tebal pinjaman dari Bu Mei, supaya tak terlalu mencolok di antara pepohonan.

Xiao Feng berjalan di belakang Lian'er, pedangnya siap di pinggang, mata menyapu sekitar dengan waspada. Shi Jun menutup barisan paling belakang, langkahnya lebih berat dari biasanya—seolah membawa beban baru setelah pengungkapan malam tadi.

Suasana awalnya hening. Hanya suara daun bergesekan, kicau burung pagi yang samar, dan napas mereka yang membentuk uap putih di udara dingin.

Xiao Feng akhirnya tak tahan diam. “Eh, Shi Jun… sekarang resmi jadi saudara Tabib Shen, apa rencana kau setelah ini? Balik ke sekte besar, bawa adik kembar yang hilang, terus jadi pahlawan?”

Shi Jun mendengus pelan, tapi tak ada nada sombong seperti kemarin. “Sekte Langit Teratai bukan tempat yang kau bayangkan. Elder Mei Ling mungkin senang kalau tahu Shen Yi hidup, tapi pemimpin sekte sekarang. ayah kami, dia sudah lama tak peduli soal anak hilang. Yang dia pedulikan cuma kekuasaan dan warisan teratai.”

Shen Yi berhenti sejenak, menoleh. “Ayah kami?”

Shi Jun mengangguk singkat. “Ya. Pemimpin Sekte Langit Teratai, Shi Tian. Dia yang memutuskan untuk pisahkan kita waktu bayi karena ramalan itu. Katanya, kalau dua darah teratai murni bersama, bisa membawa malapetaka atau kejayaan besar, tergantung siapa yang mengendalikan.”

Lian'er memandang Shi Jun. “Dan kau percaya ramalan itu?”

Shi Jun tersenyum getir. “Dulu iya. Makanya aku jadi seperti ini—sombong, suka pamer kekuatan, supaya tak ada yang berani dekati. Tapi lihat kau berdua… Shen Yi nggak punya ilmu tinggi, tapi bisa bikin dewi teratai luluh. Mungkin ramalan itu salah. Mungkin hati yang murni lebih penting daripada kekuatan.”

Shen Yi menggeleng pelan. “Saya nggak mau jadi alat ramalan apa pun. Saya cuma mau Nona Lian'er sembuh. Setelah itu… pulang ke gunung, rawat pasien, tanam teratai. Itu aja.”

Xiao Feng terkekeh. “Romantisnya nggak ketulungan. Dewi, kalau Tabib Shen ajak pulang ke gubuk, kau mau nggak?”

Lian'er memalingkan muka, tapi suaranya lembut. “Kalau kutukan hilang… aku mau coba hidup seperti manusia biasa. Di gunung, bersama Shen Yi terdengar damai.”

Shi Jun terdiam. Ada sesuatu di matanya—penyesalan, mungkin iri, tapi juga tekad baru.

Mereka melanjutkan perjalanan. Hutan pinang semakin lebat. Jalan setapak menyempit, dipenuhi akar dan genangan air beku. Shen Yi sesekali berhenti, memeriksa ramuan di keranjangnya, memastikan tak ada yang rusak karena dingin.

Tiba-tiba, Xiao Feng mengangkat tangan. “Berhenti. Ada suara.”

Semua langsung waspada. Dari balik kabut, terdengar langkah kaki bukan satu atau dua, tapi belasan. Disertai hembusan angin dingin yang tak wajar.

Shi Jun menarik pedangnya. “Sekte Es Hitam. Mereka sudah tahu kita lewat sini.”

Lian'er mengangguk. Kelopak teratai mulai muncul di sekitar tangannya, berputar pelan. “Mereka banyak. Aku bisa tahan sebentar, tapi kalau Xue Han sendiri datang…”

Shen Yi menggenggam tongkat lebih erat. “Kita nggak bisa kabur. Jalan ini satu-satunya. Kita lawan.”

Xiao Feng menyeringai. “Akhirnya aksi besar. Ayo!”

Dari kabut muncul belasan sosok berjubah hitam, topeng perak teratai retak berkilau samar. Di depan mereka, seorang pria tinggi berjubah hitam panjang dengan bordir es kristal berdiri tenang. Wajahnya tertutup topeng perak penuh—hanya mata dingin yang terlihat. Xue Han.

“Dewi Bunga Teratai dan dua darah teratai murni,” suaranya dingin seperti es yang retak. “Tak perlu perlawanan sia-sia. Serahkan inti teratai dan darah kalian. Aku janji, kematian kalian cepat.”

Shi Jun maju selangkah. “Xue Han. Kau masih hidup juga ternyata. Dulu kau gagal ambil inti dewi, sekarang mau ambil darah saudaraku?”

Xue Han tertawa pelan. “Shi Jun… anak hilang Sekte Langit Teratai yang sombong. Kau pikir kau bisa lindungi mereka? Darah teratai ganda adalah kunci sempurna. Satu untuk membuka kutukan balik, satu untuk pil keabadian. Kalian tak punya pilihan.”

Lian'er melepaskan kelopak teratai pertama seperti panah putih yang melesat ke arah pasukan. Beberapa pemburu terluka, tapi Xue Han hanya mengangkat tangan. Es hitam muncul seperti dinding, menahan serangan itu.

Pertarungan meledak.

Xiao Feng bergerak cepat, pedangnya menari seperti angin, menjatuhkan dua pemburu sekaligus. Shi Jun maju ke depan, pedang teratai birunya bertabrakan dengan es hitam—energi teratai murni miliknya cukup kuat untuk menahan serangan Xue Han sementara.

Lian'er tetap di belakang, melepaskan lingkaran kelopak teratai sebagai perisai untuk Shen Yi. Tapi es di tubuhnya mulai merayap lagi—energi yang dia keluarkan terlalu besar.

Shen Yi melihat itu. Dia langsung meraih tangan Lian'er. “Nona, pegang saya! Jangan pakai terlalu banyak energi!”

Hangat mengalir kuat. Es mundur dari tubuh Lian'er. Dia menatap Shen Yi dengan mata penuh syukur. “Shen Yi, kau selalu ada di saat aku lemah.”

Shen Yi tersenyum. “Karena aku janji. Sampai akhir.”

Xue Han melihat itu. Matanya menyipit. “Manusia biasa yang bisa mencairkan kutukan… menarik. Kau pasti yang punya meridian teratai murni paling lembut.”

Dia melompat maju, tangannya membentuk cakar es hitam yang menyala gelap. Targetnya langsung Shen Yi.

Shi Jun berteriak. “Jangan sentuh dia!”

Dia melompat menghalangi, pedangnya menangkis cakar Xue Han. Benturan menciptakan gelombang dingin yang membuat pohon pinang di sekitar retak.

Xiao Feng memanfaatkan kesempatan, menyerang dari samping. Pedangnya menggores lengan Xue Han. Darah hitam menetes, tapi Xue Han tak bergeming.

Lian'er melepaskan serangan besar: badai kelopak teratai putih yang berputar seperti tornado kecil, memaksa pasukan mundur. Tapi Xue Han tetap berdiri, es hitam di sekitarnya semakin tebal.

“Kalian kuat… tapi tak cukup,” katanya dingin. “Aku beri kalian pilihan terakhir. Serahkan darah teratai ganda sekarang, atau aku ambil paksa.”

Shen Yi maju selangkah, masih memegang tangan Lian'er. “Kau nggak akan ambil apa-apa. Kami akan ke pulau itu. Kami akan hilangkan kutukan ini. Dan kalau kau terus halangi… kami lawan sampai akhir.”

Xue Han tertawa. “Berani sekali, tabib miskin. Baiklah. Aku mundur hari ini. Tapi ingat… di Pulau Teratai Mistis, ujian kuno tak pandang siapa kau. Hanya hati murni yang bisa lolos. Dan kau… mungkin terlalu polos untuk bertahan.”

Dia mengangkat tangan. Kabut es hitam menyelimuti pasukannya. Mereka menghilang secepat datangnya, meninggalkan hutan yang kini penuh retakan es dan pohon pinang yang roboh.

Rombongan terengah-engah. Xiao Feng menyeka darah di pedangnya. “Itu Xue Han beneran. Lebih kuat dari yang aku dengar.”

Shi Jun menyarungkan pedang, napasnya tersengal. “Dia mundur karena tahu kita punya dua darah teratai. Tapi dia pasti tunggu di pulau.”

Lian'er memandang Shen Yi. “Kau… tak apa-apa?”

Shen Yi mengangguk, meski wajahnya pucat. “Baik. Cuma capek. Ramuan penghangatku hampir habis.”

Lian'er memegang tangannya lebih erat. “Terima kasih lagi.”

Shi Jun mendekat. “Shen Yi… tadi kau maju ke depan tanpa senjata. Kau gila?”

Shen Yi tersenyum lelah. “Bukan gila. Cuma tak mau Nona Lian'er sendirian lagi.”

Shi Jun diam lama. Lalu dia mengangguk pelan. “Mungkin… kau memang yang membawa cahaya teratai. Aku mulai paham kenapa ramalan bilang begitu.”

Xiao Feng menepuk bahu semua orang. “Oke, cukup drama. Kita lanjut. Pelabuhan masih dua jam lagi. Kalau sampai sana, kita cari kapal dan langsung berlayar. Nggak ada waktu buat istirahat lama.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Hutan pinang mulai menipis, aroma garam laut mulai tercium samar. Di depan, ufuk mulai terbuka—lautan timur yang luas, tempat Pulau Teratai Mistis tersembunyi di balik kabut abadi.

Shen Yi memandang ke depan, tangan Lian'er masih di genggamannya. “Kita hampir sampai.”

Lian'er berbisik. “Ya. Bersama.”

Di belakang, Shi Jun memandang saudaranya dengan tatapan baru, bukan iri, tapi hormat. Xiao Feng bersiul pelan, senang karena rombongan semakin solid.

Tapi di kejauhan, di atas bukit kecil yang mereka tinggalkan, Xue Han berdiri sendirian, memandang ke arah laut.

“Pulau itu akan jadi kuburan kalian. Atau tahta keabadianku.”

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!