"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Beton dan Mimpi yang Terjepit
Bab 19: Beton dan Mimpi yang Terjepit
Jakarta menyambut Anindya dengan kepulan asap knalpot yang pekat dan kebisingan yang seolah tidak pernah tidur. Saat kakinya pertama kali menginjak aspal terminal bus yang retak-retak, ia merasa seperti semut yang baru saja dilemparkan ke dalam sarang raksasa. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi di cakrawala, tampak seperti pilar-pilar perak yang mencoba menusuk langit abu-abu. Bagi orang lain, pemandangan ini mungkin mengintimidasi, namun bagi Anindya, setiap gedung itu adalah simbol dari peluang yang tidak terbatas.
Ia merapatkan tas ransel tuanya ke dada. Di dalam sana, tersimpan harta paling berharganya: dokumen pelunasan hutang ayahnya, sisa uang pesangon yang ia bagi dalam beberapa kantong tersembunyi, dan laptop tua yang berisi rahasia gelap keluarga Wijaya.
"Ojek, Neng? Taksi? Mau ke mana?" Suara para calo dan pengemudi angkutan berebut masuk ke telinganya.
Anindya tidak menjawab. Ia tetap berjalan dengan langkah pasti, matanya waspada. Delapan tahun hidup di bawah tekanan Nyonya Lastri telah melatih instingnya untuk mengenali pemangsa. Ia tidak menuju hotel atau penginapan mewah meski ia punya uang. Ia memilih berjalan menuju area pemukiman padat di pinggiran Jakarta Timur, tempat di mana ia bisa menghilang dalam kerumunan tanpa menarik perhatian.
Tujuan pertamanya adalah sebuah rumah sakit milik pemerintah yang memiliki fasilitas rehabilitasi medik yang baik. Ia harus memastikan ayahnya, Pak Rahardian, mendapatkan perawatan terbaik.
"Maaf, Mbak, untuk pasien rujukan dari daerah, prosedurnya harus melalui administrasi di loket sana," ucap seorang petugas rumah sakit dengan nada datar.
Anindya tidak gentar. Ia menyodorkan dokumen asuransi dan bukti pembayaran deposit yang sudah ia urus secara daring saat di bus tadi. "Saya sudah membayar depositnya, Pak. Ini buktinya. Saya ingin Ayah saya dipindahkan ke kamar kelas dua malam ini juga. Ini rujukan dokter dari puskesmas desa."
Petugas itu tertegun melihat ketenangan gadis muda di depannya. Biasanya, orang desa yang datang ke Jakarta akan tampak bingung atau takut, tapi Anindya bicara dengan bahasa yang tertata dan tatapan yang tidak goyah. "Baik, Mbak. Kami akan segera proses kepindahannya."
Setelah urusan rumah sakit selesai, Anindya mencari tempat tinggal. Ia menemukan sebuah kamar kos sempit di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilewati satu motor. Kamarnya hanya berukuran 3 \times 3 meter dengan dinding semen yang mulai berjamur, namun bagi Anindya, kamar ini jauh lebih mewah daripada gudang alat keluarga Wijaya.
Mengapa? Karena di sini, ia memegang kuncinya sendiri. Tidak ada yang bisa masuk tanpa izinnya.
Malam pertamanya di Jakarta dihabiskan dengan duduk di lantai beralaskan tikar plastik. Ia membuka laptopnya, menyambungkannya ke ponselnya untuk akses internet. Ia mulai mencari informasi mengenai pendaftaran beasiswa universitas.
"Fakultas Hukum Universitas Indonesia," gumamnya sambil menatap layar. "Atau Akuntansi Forensik."
Ia tahu ijazah Paket C miliknya mungkin akan dipandang sebelah mata oleh beberapa institusi, namun nilai ujiannya yang hampir sempurna dan kemampuannya dalam analisis data bisnis adalah nilai jual yang tinggi. Ia mulai menyusun esai motivasi. Ia tidak menulis tentang kemiskinannya dengan nada meminta belas kasihan. Sebaliknya, ia menulis tentang bagaimana ia mempelajari struktur korporasi dan celah hukum dari balik bayang-bayang seorang pengusaha besar.
“Keadilan bukan hanya milik mereka yang mampu membayar pengacara, tapi milik mereka yang mampu memahami bahasa hukum yang seringkali disembunyikan,” tulisnya di baris pertama esainya.
Namun, hidup di Jakarta tidak semurah yang ia bayangkan. Uang seratus juta rupiah yang ia bawa mungkin terdengar banyak, tapi untuk biaya pengobatan ayahnya yang panjang dan biaya hidup di kota, uang itu bisa habis dalam waktu singkat. Anindya harus bekerja.
Keesokan harinya, ia tidak mencari pekerjaan sebagai pelayan atau buruh cuci. Ia mengenakan kemeja putih paling rapi miliknya, memoles sedikit bedak tipis agar wajahnya tidak pucat, dan berjalan menuju sebuah kantor jasa akuntansi kecil di area perkantoran Kuningan. Ia melihat lowongan di koran pagi itu untuk posisi tenaga input data paruh waktu.
"Kamu punya ijazah SMA?" tanya seorang pria paruh baya bernama Pak Danu, pemilik kantor tersebut.
"Hanya Paket C, Pak. Tapi saya bisa mengoperasikan semua perangkat lunak akuntansi dan saya paham cara membaca laporan laba rugi korporasi," jawab Anindya tenang.
Pak Danu tertawa meremehkan. "Paket C? Anak kuliahan saja sering salah input data, apalagi kamu. Sudah, pulang saja."
Anindya tidak beranjak. Ia melihat sebuah tumpukan berkas di meja Pak Danu yang tampak sedang dikerjakan. "Berkas di depan Bapak itu adalah laporan pajak milik Toko Sinar Jaya, kan? Bapak salah memasukkan biaya penyusutan aset di halaman tiga. Seharusnya angkanya tidak dikurangi langsung dari modal awal sebelum pajak."
Pak Danu terdiam. Ia segera mengambil berkasnya dan memeriksanya. Matanya membelalak. "Bagaimana kamu tahu? Kamu bahkan baru berdiri di sini kurang dari dua menit!"
"Saya terbiasa merapikan dokumen seperti itu, Pak. Jika Bapak memberikan saya kesempatan, saya akan menyelesaikan tumpukan itu dalam tiga jam tanpa satu pun kesalahan."
Satu jam kemudian, Anindya sudah duduk di depan komputer dengan segelas air putih. Jari-jarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang mengagumkan. Ia tidak hanya menginput data; ia mengoreksi kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh pegawai sebelumnya. Pak Danu hanya bisa memperhatikan dari balik kaca ruangannya dengan perasaan tidak percaya. Ia baru saja menemukan permata di tengah tumpukan debu.
Sore itu, Anindya pulang membawa uang harian pertamanya. Memang tidak seberapa, tapi itu adalah uang pertama yang ia hasilkan bukan karena hutang, tapi karena otaknya.
Ia mampir ke rumah sakit sebelum kembali ke kosan. Ayahnya sudah sampai dan sedang tidur terlelap di kamar yang bersih. Anindya duduk di samping tempat tidur ayahnya, memegang tangan pria tua yang sudah renta itu.
"Ayah... kita sudah di Jakarta," bisiknya. "Ayah jangan takut lagi. Tidak akan ada penagih hutang yang datang. Nin akan jadi orang hebat di sini. Nin janji."
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
“Aku tahu kau di mana. Ibu sedang marah besar karena foto-foto itu. Ayah sedang mencoba melacak lokasimu melalui rekening cek yang kau cairkan. Hati-hati, Anindya. Jangan gunakan ATM atas namamu sendiri untuk sementara waktu. – S”
Anindya menatap pesan dari Satria itu dengan wajah tanpa ekspresi. Ia segera menghapus pesan tersebut, mencabut kartu SIM-nya, dan mematahkannya menjadi dua. Ia sudah menduga hal ini. Tuan Wijaya tidak akan membiarkannya pergi begitu saja setelah ia memerasnya.
Namun, Tuan Wijaya meremehkannya. Anindya sudah mencairkan cek itu melalui perantara ilegal yang ia temukan di forum daring dengan sedikit potongan biaya, sehingga jejak perbankannya tidak bisa dilacak langsung ke alamatnya sekarang. Ia sudah belajar dari film-film dan buku detektif yang ia baca di gudang alat.
"Terima kasih atas peringatannya, Satria," batin Anindya. "Tapi aku sudah sepuluh langkah di depan ayahmu."
Anindya berdiri di jendela rumah sakit, menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala satu per satu. Ia merasa seperti salah satu dari lampu itu—kecil, namun mampu menembus kegelapan jika dibiarkan menyala. Perjalanannya di kota ini baru saja dimulai. Ia akan menghadapi diskriminasi karena status pendidikannya, ia akan menghadapi pengejaran dari keluarga Wijaya, dan ia akan menghadapi kerasnya ekonomi.
Tapi Anindya adalah mawar hitam. Semakin banyak kotoran yang dilemparkan padanya, semakin subur ia akan tumbuh.
Malam itu, di dalam kamarnya yang sempit, Anindya kembali membuka laptopnya. Ia mulai menyusun rencana berikutnya: ia tidak hanya ingin sekolah, ia ingin membangun bisnisnya sendiri. Ia ingin menjadi orang yang suatu saat nanti akan membeli perusahaan Tuan Wijaya dan meratakannya dengan tanah.
Jakarta mungkin terbuat dari beton yang keras, namun bagi Anindya, beton itu adalah alas yang sempurna untuk membangun fondasi kejayaannya.