NovelToon NovelToon
Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Karena Taruhan / Bad Boy / Cinta pada Pandangan Pertama / Harem / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23.

Tak sadar, wajah mereka berdua semakin mendekat, hingga jarak antara mereka semakin tipis. Saat itulah keduanya mulai menyadari bahwa ada ketertarikan di antara mereka yang tidak bisa diabaikan.

Saat bibir Nolan dan juga Qiara sudah dalam posisi menempel. Akhirnya ke duanya pun sadar.

Lalu menjauhkan bibir masing masing.

"Astaga Qiara ... Kenapa kamu begitu murahan? Malah seakan menyerahkan dirimu pada Nolan," gumam Qiara merutuki kebodohannya.

Qiara lantas pun berdiri.

"Nolan ... Kalau begitu gue keluar dulu. Mau siapin makan siang sama siapin obat buat lo," kata Qiara dengan nada terbata bata.

Sementara Nolan malah mengedipkan ke dua bola matanya itu berkali kali, sungguh ia masih syok dengan apa yang barusan terjadi.

Nolan terlihat memandang punggung Qiara dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di deskripsikan.

Sementara Qiara sendiri, masih berusaha dengan sangat keras untuk menenangkan degup jantungnya yang tidak karuan.

****

**

*

Sore di ruang makan rumah para kembar. 

"Kak Nolan, kok nomor hapenya nggak bisa dihubungi?" tanya Natan. Ia seperti membuka percakapan yang semula nampak hening.

Sementara Qiara sendiri sedang sibuk menata beberapa makanan yang tadi ia beli di atas meja.

"Gue memang sengaja matiin hp. Biar Kinara nggak bisa hubungi gue untuk sementara waktu, jujur badan gue sekarang ini benar-benar tidak enak," sahut Nolan, suaranya terdengar lemah seperti orang kedinginan.

Natan menatap Nolan dengan keprihatinan.

"Kakak kayaknya kecapean sama masuk angin deh! Padahal sebenarnya Kakak itu nggak bisa konsumsi alkohol. Tapi waktu party di rumah kita yang dibuat Kak Natan waktu itu, Kak Nolan minum banyak sekali. Ditambah lagi, bukannya istirahat, Kakak malah nemenin Kinara di rumah sakit sampai malam," timpal Noah, ia mulai memakan makanan yang tersaji di atas meja.

Saat mendengar hal tersebut, rasa kecewa pun muncul di dalam benak Qiara.

"Ternyata, malam itu Nolan sakit waktu habis nemenin Kinara. Aku kira dia nggak datang malamnya waktu aku di rumah sakit, karena siangnya dia nemenin aku," gumamnya dalam hati. Lalu dia berpikir, "seharusnya aku tidak boleh terlalu percaya diri. Bagaimana pun juga aku hanya orang baru di sini."

Wajah kecewa Qiara tak luput dari tatapan Noah.

"Nanti gue mau pergi ke pesta Andre bareng Rasya," ujar Natan dengan semangat.

"Bagaimana pun, gue harus jalan sama adiknya Rasya. Gue gak mau terus kepikiran Qiara yang malah akan membuat perasaan gue semakin dalam untuk nya," kata Natan dalam hatinya. Ia benar benar ingin menghilangkan perasaannya pada Qiara.

"Semoga kebersamaan gue dan Tania, akan membuat gue lupa dengan perasaan aneh yang di dalam hati. Mengenai Qiara," imbuh Natan dalam hatinya.

"Gue juga akan pergi ke pesta Andre bersama Dila," timpal Noah.

Wajah Nolan terlihat murung, lalu menghela napas kasar.

"Kalian pergilah! Gue bakal di rumah aja, soalnya sekarang badan gue gak enak dan malah tambah menggigil," sahut Nolan kecewa, meskipun sebenarnya dia ingin pergi karena Andre adalah sahabat baiknya.

"Tak apa, nanti gue coba bilangin ke Andre," jawab Noah, mencoba meredakan kekecewaan Nolan.

Natan tiba-tiba menjatuhkan sebuah ide, "Gimana kalau Qiara yang menggantikan kak Nolan? Kan sayang banget kalau undangan eksklusif di hotel berbintang itu cuma terbuang sia-sia."

Sontak saja, tatapan Nolan dan Noah melihat ke arah Natan penuh tanda tanya.

"Ngomong apa sih?" tanya Qiara bingung.

"Qiara kan dari desa, pasti dia itu gak pernah ngerasain apa yang namanya party. Biar sekali sekali dia itu bersenang senang," imbuh Natan. Agar ke dua saudara kembarnya itu setuju dengan ide yang ia berikan.

Noah melanjutkan, "Tapi, kita nggak punya pakaian bagus buat Qiara nih."

Natan segera menjawab, "Tenang aja, kita bisa ke salon, nge-makeover dia dan sekalian nyewain baju juga. Kan juga gak mungkin, ke party hanya pakai hotpants sama tang top."

"Tapi, nanti Kak Nolan nggak ada yang nemenin di rumah," sahut Noah.

Nolan dengan nada serius mengatakan, "Gapapa, biarlah Qiara yang bersenang-senang. Tapi kalian berdua jaga dia ya. Jangan sampe dia mengonsumsi alkohol atau macem-macem."

"Tapi, aku nggak mau!" potong Qiara tiba-tiba.

Natan balas menyahut dengan kesal, "Gak ada yang nanya pendapat lo! Kalau kita bilang ikut... ya ikut aja!"

"Tapi ... "

"Bagaimana pun juga, lo hanya bekerja di rumah ini. Pengasuh itu juga seperti seorang pembantu. Jadi lo gak punya hak, untuk menentang perintah yang di berikan oleh majikan lo," jelas Natan memotong pembicaraan Qiara.

"Kak Natan ... Sudah, kakak jangan seperti itu. Walaupun Qiara pengasuh tapi ayah .... " Ucapan Noah terhenti.

***

Nolan berdiri di atas balkon kamarnya, memandangi mobil Natan dan Noah yang melaju meninggalkan rumah.

Raut wajahnya terlihat bingung dan cemas, "Apakah ada yang salah dengan diriku? Kenapa bayang-bayang Qiara terus menghantui pikiranku," gumam Nolan, seperti tenggelam dalam kebingungan yang kian parah. Ia terus menerawang, mencoba memahami perasaan yang berkembang di dalam hatinya.

Bayangan Qiara bagaikan menguasai pikiran Nolan. Adegan yang ia saksikan siang tadi tak dapat ia lupakan.

"Apa jangan-jangan aku jatuh cinta pada Qiara?" gumam Nolan berusaha memecahkan dilema yang mengganggu ketenangannya. Namun, jawaban itu tak kunjung datang, dan ia menghembuskan nafas panjang.

Nolan semakin terjebak dalam pertentangan hati, teringat Kinara, mantan pacarnya yang kini meminta untuk kembali bersama.

"Kinara berjanji akan semangat dan berjuang hidup kalau balikan dengan ku, tapi... bagaimana dengan Qiara? Kalau dia sampai hamil?" gumam Nolan, dilema ini membuatnya merasa dikejar kejar oleh waktu. Sejenak ia merenung, mencoba menjernihkan pikiran yang kacau.

"Apa yang seharusnya aku lakukan? Haruskah aku mempertimbangkan perasaanku pada Qiara atau kembali dengan Kinara demi menjaga janji yang pernah aku berikan?" tanya Nolan pada diri sendiri, ia teringat belum memberikan jawaban perihal balikan pada Kinara. Tak terasa waktu terus berlalu, tetapi Nolan tetap tidak mampu menemukan jawaban atas pertanyaan yang menghantui pikirannya.

Nolan adalah orang yang bertanggung jawab, ia tentu saja terus di hantui perbuatannya pada Qiara. Namun, ada rasa takut, jika Kinara sampai melakukan percobaan bunuh diri lagi.

***

**

*

Di sebuah salon dan persewaan gaun ternama.

Baik Natan maupun Noah sedang menunggu Qiara yang sedang di rias di sebuah ruangan yang ada di salon itu.

"Semoga saja wajah Qiara tidak terlihat seperti badut Ancol setelah di rias. Sayang kalau kita membayar mahal, tapi wajah kampungan dan dekilnya tetap tidak bisa tertutupi," celetuk Natan yang seketika memecah keheningan.

Noah yang sedang bertukar pesan dengan pacarnya lewat hape langsung menoleh ke arah Kakak kembarnya Natan.

"Dekil? Kampungan?" Reflek Noah bertanya, ia menatap Kakak kembarnya itu dengan tatapan tak percaya. Baginya, Qiara selalu terlihat cantik dan bersih dengan kulit putih khas orang negeri ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!