NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:29.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Ketika Cahaya Mati

Vila Bukit (Safe House). Pukul 20:00. Status: Menunggu Kegelapan.

Jam dinding berdetak dengan irama yang terasa lebih lambat dari biasanya.

Jay, Angeline, dan Leon duduk di ruang tamu. Lilin-lilin aromaterapi telah disiapkan di berbagai sudut bukan untuk romansa, tapi untuk penerangan hemat energi. Di luar jendela, kota masih menyala, tapi kerlap-kerlip itu terasa seperti detak jantung pasien yang sekarat.

"Menurut siaran radio pemberontak, pemutusan arus akan dilakukan sepuluh menit lagi," lapor Leon, memeriksa jam tangannya. "Generator cadangan kita siap, tapi suaranya akan menarik perhatian. Saya sarankan kita tetap dalam mode silent dan gelap."

Angeline memeluk lututnya di sofa. "Apakah... apakah akan ada orang jahat yang datang?"

Jay duduk di sampingnya, memasukkan peluru ke dalam shotgun berburu tua yang ia temukan di lemari (alibi senjata yang sempurna senjata legal milik kakek Angeline).

"Orang lapar bisa melakukan hal nekat, Angel," jawab Jay jujur. "Tapi vila ini dirancang seperti benteng. Pagar tinggi, gerbang baja. Kita aman."

Tepat pukul 20:10.

KLIK.

Suara gardu listrik meledak di kejauhan terdengar samar.

Lalu, dalam sekejap mata, pemandangan di luar jendela lenyap. Jutaan lampu kota di lembah bawah sana padam serentak. Gedung pencakar langit menjadi bayangan hitam raksasa. Jalan raya menjadi sungai tinta.

Dunia menjadi buta.

"Mereka benar-benar melakukannya," bisik Angeline. "Kota ini mati."

Hanya cahaya bulan yang tersisa, menyinari atap-atap rumah dengan sinar perak yang dingin.

"Leon, aktifkan perimeter," perintah Jay pelan.

"Siap." Leon menghilang ke dalam kegelapan lorong.

Jay menoleh pada Angeline. "Angel, kita pindah ke kamar tidur utama. Di sana hanya ada satu pintu masuk. Lebih mudah dijaga."

Mereka berpindah. Jay mengunci pintu kamar, lalu menumpuk kursi di bawah gagang pintu taktik pertahanan sipil sederhana untuk menenangkan Angeline.

Namun, Jay tidak duduk diam. Ia berdiri di samping jendela, mengintip lewat celah tirai. Matanya, yang terlatih bertahun-tahun di medan perang malam, mulai beradaptasi. Pupilnya membesar, menangkap setiap gerakan sekecil apa pun di halaman vila yang luas.

Tiga puluh menit berlalu dalam keheningan.

Lalu, Jay melihatnya.

Bayangan yang bergerak di dekat pagar tembok sisi timur. Bukan satu, tapi lima. Mereka membawa linggis, parang, dan senter yang dimatikan.

Penjarah.

"Jay?" panggil Angeline lirih dari tempat tidur. "Kau melihat sesuatu?"

Jay berbalik, menempelkan telunjuk di bibirnya. "Sshhh."

Jay berjalan mendekat, berjongkok di depan istrinya.

"Angel, dengarkan aku. Ada tamu tak diundang di pagar luar. Leon dan tim keamanan akan mengurusnya. Tapi aku harus keluar untuk memastikan Leon tidak kewalahan."

Mata Angeline membelalak. "Jangan! Kau bilang kau akan menjagaku di sini!"

"Aku menjaga vila ini, itu artinya menjaga nyawamu," kata Jay tegas. Ia menyerahkan shotgun itu kepada Angeline. "Pegang ini. Arahkan ke pintu. Jika pintu terbuka dan itu bukan aku atau Leon... tarik pelatuknya. Jangan ragu."

Tangan Angeline gemetar menerima senjata berat itu. "Jay... hati-hati."

"Kunci pintu setelah aku keluar."

Jay menyelinap keluar kamar. Begitu pintu tertutup dan suara kunci terdengar, postur tubuh Jay berubah total.

Bukan lagi suami yang khawatir. Ia adalah Pemburu Malam.

Jay tidak membawa senjata api. Suara tembakan akan mengundang patroli militer Victor Han. Ia menarik sebilah pisau komando dari balik punggungnya.

Malam ini, dia akan berburu dalam diam.

Halaman Samping Vila.

Lima penjarah itu berhasil melompati pagar. Mereka adalah preman-preman dari distrik bawah yang memanfaatkan kekacauan untuk merampok rumah orang kaya.

"Sepi," bisik pemimpin penjarah itu. "Mereka pasti tidur atau sudah kabur. Ambil apa saja yang berkilau. Kalau ada wanitanya... itu bonus."

Mereka tertawa kecil, tawa yang menjijikkan.

Tiba-tiba, suara siulan pelan terdengar dari atas pohon oak besar di tengah halaman.

Fiuuuit...

Kelima penjarah itu berhenti. Mereka menyalakan senter, menyorot ke atas pohon.

Kosong.

"Siapa di sana?!" bentak salah satu penjarah.

BUGH!

Penjarah paling belakang tiba-tiba lenyap. Ditarik masuk ke dalam semak-semak bougenville yang rimbun. Hanya terdengar suara pukulan tumpul dan suara tubuh jatuh. Lalu hening.

"Joni?" panggil temannya. "Jon!"

Tidak ada jawaban.

Kepanikan mulai merayap. "Nyalakan semua senter! Rapatkan barisan!"

Mereka berdiri punggung-punggungan, mengarahkan cahaya ke segala arah. Bayangan pohon terlihat seperti monster.

KRAK.

Suara ranting patah di sebelah kiri. Dua penjarah menoleh dan menyerbu ke arah suara itu.

Itu kesalahan fatal. Memecah formasi.

Jay muncul dari sisi kanan, dari bayangan pilar teras. Ia bergerak tanpa suara langkah kaki.

Dengan gerakan cepat, Jay memukul tengkuk penjarah ketiga dengan gagang pisau. Orang itu ambruk seketika. Penjarah keempat mencoba berteriak, tapi Jay membekap mulutnya dan menekannya ke dinding batu, menekan titik saraf di lehernya hingga pingsan.

Tinggal dua orang. Pemimpin dan satu anak buah.

Mereka melihat rekan-rekannya tumbang satu per satu tanpa melihat siapa penyerangnya.

"Setan..." desis si pemimpin, tangannya gemetar memegang parang. "Keluar kau! Jangan jadi pengecut!"

Jay melangkah keluar dari kegelapan. Ia berdiri lima meter di depan mereka. Cahaya bulan menyinari separuh wajahnya yang tertutup masker hitam. Di tangannya, pisau komando berkilau dingin.

"Kalian salah memilih rumah," suara Jay rendah, berat, dan mengerikan.

"Serang dia!" teriak si pemimpin.

Kedua penjarah itu menerjang maju.

Jay tidak mundur. Ia menjatuhkan pisaunya sengaja lalu menangkap pergelangan tangan si anak buah, memutarnya, dan menggunakan tubuh orang itu sebagai tameng untuk menahan serangan parang si pemimpin.

BRAK!

Si anak buah pingsan karena benturan.

Si pemimpin kini sendirian. Ia menatap Jay dengan horor. "Siapa kau? Polisi? Tentara?"

Jay berjalan mendekat perlahan.

"Aku penjaga rumah ini," jawab Jay.

Si pemimpin melempar parangnya dan lari terbirit-birit menuju pagar, memanjat secepat kera, lalu melompat keluar dan menghilang ke dalam hutan.

"Biarkan dia lari," suara Leon terdengar dari kegelapan. Leon muncul sambil menyeret dua penjarah yang pingsan sebelumnya. "Dia akan menyebarkan cerita horor tentang 'Hantu Vila Bukit'. Itu akan membuat penjarah lain berpikir dua kali untuk datang ke sini."

Jay mengambil kembali pisaunya. "Ikat mereka. Taruh di tepi jalan besok pagi biar dipungut patroli militer. Pastikan tidak ada yang mati."

"Dimengerti."

Jay menyeka sedikit keringat di dahinya. "Aku harus kembali ke kamar sebelum Angeline curiga kenapa tidak ada suara tembakan."

Penthouse Akbar Ares.

Berbeda dengan vila Jay yang gelap gulita, Penthouse Akbar tetap terang benderang berkat generator diesel industri yang terletak di basement gedung.

Mia berdiri di depan dinding kaca raksasa, menatap kota yang mati di bawah sana. Pemandangan itu surealis. Seperti melihat lubang hitam raksasa yang menelan peradaban.

"Menakutkan," gumam Mia.

Akbar datang membawa dua gelas cokelat panas. Ia berdiri di samping Mia.

"Ini baru permulaan, Mia. Tanpa listrik, pompa air mati. Sistem sanitasi mati. Kulkas mati. Dalam 48 jam, kota ini akan kembali ke abad pertengahan."

Mia menerima gelas itu, mencari kehangatan. "Apa yang akan terjadi pada orang-orang di bawah sana? Pegawaiku? Tetanggaku?"

"Mereka akan bertahan," jawab Akbar realistis. "Manusia itu spesies yang tangguh. Yang lemah akan bersembunyi, yang kuat akan mengambil alih."

Mia menatap refleksi wajah Akbar di kaca. "Kau bicara seolah ini eksperimen sosial."

"Bagi orang-orang seperti keluargaku... memang begitu," aku Akbar pahit. "Tapi melihatnya langsung seperti ini... rasanya berbeda. Rasanya salah."

Tiba-tiba, Mia melihat sesuatu di kejauhan. Di arah bukit tempat vila-vila mewah berada.

"Lihat," tunjuk Mia. "Ada cahaya senter yang bergerak-gerak di bukit itu. Seperti ada keributan."

Akbar menyipitkan mata. Itu arah vila Jay.

"Semoga 'sopir taksi' itu tahu apa yang dia lakukan," gumam Akbar.

"Kau khawatir padanya?" tanya Mia.

"Aku khawatir pada investasiku," elak Akbar. "Dan... ya, dia satu-satunya sepupu yang tidak ingin membunuhku. Jadi kuharap dia selamat."

Mia tersenyum tipis, lalu tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu Akbar.

"Mereka akan selamat. Kakakku wanita yang kuat. Dan suaminya... yah, dia cukup licin untuk ukuran sopir taksi."

Akbar membeku sejenak karena sandaran kepala itu, lalu perlahan rileks. Di tengah dunia yang runtuh, kehangatan kecil ini terasa sangat mahal.

Vila Bukit. Pukul 21:00.

Jay mengetuk pintu kamar tidur dengan pola ketukan khusus.

"Angel? Ini aku."

Terdengar suara kursi digeser. Pintu terbuka. Angeline berdiri di sana, masih memegang shotgun dengan tangan gemetar.

Ia melihat Jay. Pakaiannya sedikit kotor, napasnya sedikit memburu, tapi tidak ada luka.

"Kau tidak apa-apa...?" Angeline menjatuhkan senjatanya ke kasur dan memeluk Jay. "Aku mendengar suara di luar. Suara gedebuk. Suara orang lari. Apa yang terjadi?"

"Ada beberapa orang mencoba masuk," jawab Jay tenang, mengusap punggung istrinya. "Tapi Leon dan anjing penjaga tetangga berhasil menakuti mereka. Mereka lari."

"Anjing?" Angeline bingung. "Tetangga kita punya anjing?"

"Mungkin anjing liar. Yang penting mereka pergi," dusta Jay lagi.

Angeline tidak bertanya lebih lanjut. Rasa lega mengalahkan rasa ingin tahunya.

"Jangan pergi lagi, Jay. Tolong," pinta Angeline. "Tetap di sini sampai pagi."

Jay mengangguk. Ia membimbing Angeline kembali ke tempat tidur, menyelimutinya.

Jay duduk di kursi di samping tempat tidur, berjaga sepanjang malam dengan pisau tersembunyi di balik lengan bajunya.

1
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
Mamat Stone
🔥☯️🔥
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
😈💥
Mamat Stone
/Cleaver/💥
Mamat Stone
👊💥
Hendra Saja
s makin menarik Thor 🔥🔥🔥🔥🔥🌹🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!