NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP7

Flashback.

“Coba aja kalau kita tadi ikut si kolot itu pulang, alamat makan mi instan lagi kita, Ran,” celetuk Lala sambil tertawa kecil. “Terus endingnya diceramahin — ‘kalian tuh udah gede, waspada dikit lah, mau-mau aja diajak pergi sama orang nggak dikenal’. Sampe hafal gue kalimat dia.”

Rani mendengus. “Ih, amit-amit. Gue mending mati kelaperan daripada harus dengerin ceramah dia. Cuih.”

Lala mengangguk setuju. Keduanya berjalan berdampingan sambil menikmati camilan gratis yang disediakan panitia acara.

“Lumayan banget, ya. Gratisan tuh selalu terasa lebih enak,” ujar Lala sambil menggigit kue tradisional yang dibungkus daun pisang.

Mereka melangkah perlahan menjauhi keramaian panggung utama. Musik tradisional masih terdengar sayup-sayup di belakang, bercampur dengan riuh tawa pengunjung lain.

Dua pemuda yang datang bersama mereka masih turut menemani. Sampai akhirnya langkah kaki Lala dan Rani mendadak berhenti. Mata mereka menatap di titik yang sama — ke arah pria tampan yang baru saja berlalu.

“Gilaaaak, ganteng bangeeet!” jerit Lala dengan suara tertahan.

“Cowok lokal? Atau pendatang juga, ya?” sahut Rani tampak penasaran.

“Anaknya Pak Kades itu,” jawab salah satu pemuda yang menemani mereka dari belakang. “Emang tampan sih. Tapi, untuk apa ketampanan itu kalau gila selangkangan?”

Rani menoleh cepat. “Hah, maksud lo?”

Pemuda tersebut cengengesan singkat. “Dia udah terkenal doyan cari mangsa di acara-acara ramai kayak gini. Asal menarik dan bisa muasin nafsunya, dia sanggup bayar berapapun ke si cewek yang sudi dikangkangi. Gosipnya, cewek kota yang pernah berbagi keringat sama dia, pulang-pulang udah beli mobil baru.”

“Serius?!” Rani tampak antusias, jelas berminat.

“Dua rius.” Pria itu mengacungkan dua jari. “Sekarang, dia pasti lagi jenuh karena nggak dapet mangsa. Palingan, dia otw nongkrong di ujung dermaga sambil nenggak miras. Dasar nggak guna.”

Lala dan Rani saling melempar pandang, lalu serentak mengangguk pelan. Benak mereka jelas mengucapkan yang sama, ‘mangsa empuk.’

“Eh, kayaknya kita pulang dulu deh,” ucap Rani tiba-tiba, suaranya dibuat selembut mungkin. “Ini mata tiba-tiba aja ngantuk.”

“Iya, sama nih,” sambung Lala cepat. “Besok kita juga padat banget agenda kampus.”

Kedua pemuda itu mengangguk santai.

“Perlu kita anterin, nggak?” tanya salah satu.

Rani menggeleng cepat. “Nggak perlu. Kami hafal jalannya, kok.”

Lala dan Rani pun melangkah menjauh, meninggalkan kedua pria tersebut sembari terkikik girang.

“Menang banyak kita, La. Udah dapat makan gratis, sekarang dapat calon donatur,” ujar Rani. “Malam ini, biar gue aja yang goyang ngebor. Lo jaga-jaga aja, takut ada bapak-bapak ngeronda — viral entar gue. Lo bakal gue kasih bagian dah.”

“Aman-aman,” sahut Lala. Keduanya saling tos.

Begitu mereka menoleh ke belakang dan tak mendapati kedua pria tersebut, langkah mereka lekas berbelok—bukan menuju arah penginapan, melainkan ke jalan gelap menuju dermaga, mengikuti sosok pria misterius yang sejak tadi mencuri perhatian.

Beberapa menit setelah keduanya menghilang, dua pemuda tadi saling bertukar pandang. Salah satunya menyibakkan jaket, lalu melangkah mendekati seorang panitia acara yang tengah merapihkan peralatan.

Tangannya menyelipkan sebuah amplop tebal ke saku panitia itu.

“Mangsa udah makan umpannya,” bisiknya singkat. “Bubarin acara.”

Panitia itu mengangguk cepat, wajah tak ekspresi. “Baik, Mas Enzi. Acara kami tutup sekarang.”

Lampu-lampu pertunjukan mulai dipadamkan satu per satu. Musik dihentikan. Keramaian pun perlahan bubar lebih cepat dari jadwal.

Dan di ujung dermaga, malam menegangkan baru saja di mulai. Rani dan Lala berhasil mengejar sosok tersebut, hanya tersisa beberapa langkah saja.

“Mas, tunggu, Mas.” Tangan Rani nyaris menggapai pundak si pria.

Namun, tiba-tiba saja, cengkraman kuat di bahu Rani dan Lala membuat kedua mahasiswi tersebut terkejut dan serentak menoleh ke belakang.

Csssshhhhh.

Akkhhh!

Rani dan Lala menjerit, semprotan Somnex-9 (obat bius) membuat pandangan mereka sontak mengabur. Lutut keduanya seketika melemah, sebelum tubuh keduanya limbung jatuh ke papan dermaga. Dunia mereka mendadak gelap.

Pria yang sejak tadi dibuntuti Rani dan Lala segera berbalik badan dan membuang ludah ke tanah.

“Dasar ayam-ayam kampus ini,” desisnya geram. “Lama sekali kalian mengejar ku.”

Tatapannya bergeser ke pria bertubuh besar yang masih menggenggam botol kecil berisi cairan Somnex-9.

“Angkut mereka ke kapal,” perintahnya datar. “Para pembeli sudah menunggu.”

Kapal yang membawa Rani dan Lala pun segera melaju mengitari pulau Darasila, lalu merapat di sisi utara—sebuah pangkalan kecil tersembunyi. Dua mahasiswi itu diturunkan dalam keadaan tak sadarkan diri, lalu didorong menggunakan kursi roda melewati jalur beton sempit.

Mereka berhenti di depan gerbang besi tertutup rapat. Di sampingnya, sebuah pemindai kecil menyala.

Salah satu pria mengangkat tangannya, lalu menempelkan pergelangan tangan yang terdapat ukiran tato VIP ke pemindai itu.

Bip.

Cahaya merah berubah hijau.

Gerbang terbuka otomatis. Mereka pun membawa masuk kedua wanita itu menuju ajal.

...***...

“Dari mana Anda tau kami menginap di Penginapan Seruni Laut? Saya bahkan belum mengatakan kami menginap di mana,” tukas Bella cepat sambil menyerang Andika dengan tatapan selidik.

Andika bergeming sesaat sebelum mengangkat kedua telapak tangan sejajar di depan dada. “Tolong jangan salah paham, Bu Niken.”

Ia berusaha mencairkan suasana dengan kekehan pelan, meskipun matanya sempat berkelebat gugup.

“Saya cuma menebak,” lanjutnya. “Di pulau Darasila ini, penginapan yang masih berdiri dan menampung tamu dari luar—ya cuma Seruni Laut. Penginapan lain sudah lama tutup.”

Andika mengedikkan bahu cepat.

“Biasanya, tamu dari luar selalu diarahkan ke sana. Jadi saya kira ... ya, pasti di situ. Apa tebakan saya salah?”

Ekspresi tegang dan sengit di wajah Bella perlahan melunak.

“Ah, begitu ...,” ucapnya. “Baiklah. Kalau begitu, mohon bantuannya.”

Andika mengangguk sopan, lalu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan.

“Sudah hampir pukul empat pagi, sebaiknya kalian menginap di sini,” tawar Andika seraya menatap Bella dan Abirama bergantian.

“Tak perlu. Terima kasih atas tawaran dan bantuannya, tapi kami harus segera kembali ke penginapan. Permisi,” sahut Abirama singkat.

Tanpa menunggu respons, Abirama meraih pergelangan tangan Bella dan langsung membawanya keluar dari ruangan itu. Bella sempat menoleh sekilas ke belakang dan mendapati tatapan Andika masih tertuju pada mereka.

Begitu keluar dari hunian mencolok itu, Abirama pun melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Bella.

“Apa kamu nggak ngerasain ada yang aneh sama orang tadi?” tanya Abirama pelan.

Bella tak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah dalam diam, terlalu lama untuk ukuran sebuah pertanyaan sederhana.

Abirama sampai berdecak, kesabarannya menipis. ‘Ditanya malah bengong,’ batinnya kesal.

Ia melirik ke samping, memerhatikan saat tangan Bella sibuk merogoh saku tas selempangnya, jemarinya bergerak cepat.

Dan ketika Bella mengeluarkan sebuah benda mungil seukuran koin tebal, hitam matte, dengan lampu indikator kecil yang masih berkedip — langkah mereka langsung berhenti bersamaan.

‘Alat penyadap suara?!’ seru mereka serentak di dalam hati.

Abirama sontak menahan napas. Tatapannya beralih ke manik legam Bella. Bella pun juga menatapnya, keduanya mengangguk bersamaan.

‘Galih, Andika, siapa di antara kalian yang — atau, kalian memang satu paket?’

*

*

*

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!