Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Sekutu Baru
Matahari sore menyinari taman dengan hangat. Sky baru saja berjalan kembali membawa dua cup es krim di tangannya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Udara di sekitarnya mendadak terasa statis.
Sky membatin, matanya menyipit tajam. "Getaran ini... sihir? Bukan sihir biasa. Frekuensi ini identik dengan residu energi yang tertinggal di jasad keluarga Menteri Pertahanan. Tapi... kenapa bisa ada disini?"
Sky merasakan sensasi dingin di tengkuknya. Aura itu kuat, masif, namun terasa murni—seperti badai yang tertidur. Pikirannya langsung melayang pada Evelyn yang ia tinggalkan sendirian di dekat air mancur.
"Evelyn!
Tanpa memedulikan es krim yang terjatuh dari tangannya, Sky berlari secepat kilat. Debu beterbangan di bawah kakinya. Jantungnya berdegup kencang bukan karena kelelahan, melainkan ketakutan akan keselamatan wanita yang ia cintai.
Sky berteriak dalam hati. "Siapa pun yang memiliki kekuatan ini, jika mereka menyentuh Evelyn setitik saja... aku akan memastikan masa depan yang mereka rencanakan berakhir hari ini juga!"
Sky kembali berlari sekuat tenaga, jantungnya berdegup kencang membayangkan kekasihnya dalam bahaya. Ia melewati semak-semak mawar dan sampai di bangku taman tempat ia meninggalkan Evelyn.
Ia terpaku. Evelyn terduduk di sana, kepalanya terkulai lembut, tertidur pulas seolah-olah dunia sedang baik-baik saja. Sky mendekat dengan napas tersengal, memeriksa nadi Evelyn. Aman. Namun, matanya kemudian tertuju pada dahi Evelyn.
Di sana, sebuah simbol kecil berpendar samar—jejak sihir berbentuk segel pelindung. Jejak yang ditinggalkan oleh seseorang yang memiliki kekuatan setara dengan mereka--- atau mungkin lebih.
Sky Dalam hati bergumam. ' Siapa yang melakukan ini? Jika bukan musuh, lalu siapa lagi yang memiliki kekuatan sebesar ini di masa sekarang? Apakah permainan ini sudah dimulai tanpa aku sadari.'
•
•
Apartemen itu mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas berat dari Arthur dan isak tertahan Elvira. Di atas ranjang, Elmira—si bungsu yang baru berusia empat tahun—terlelap dalam tidur magis yang dipaksakan.
Arthur menurunkan tangannya yang masih berpendar cahaya biru redup, napasnya tersengal. "Maafkan Kakak, Elmira... Kakak harus melakukannya. Kekuatanmu hampir menghancurkan seisi ruangan ini jika tidak dihentikan."
Elvira melepaskan cengkeramannya pada lengan Arthur, matanya yang biasanya sedingin es kini tampak berkaca-kaca menatap bocah itu. "Dia hanya ingin memeluk wanita itu, Arthur. Dia melihat Ibu... dia melihat Evelyn yang nyata, bukan sekadar memori yang kau kunci di kepalanya. "
Vans berdiri di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya dengan letih. "Tapi itu bukan 'Ibu' kita yang sekarang. Evelyn yang kalian temui di taman tadi... dia bahkan belum mengenal kita."
Arthur berjalan mendekat, mengusap lembut rambut Elmira. "Aku mengunci ingatannya tentang api, tentang jeritan, dan tentang kematian keluarga. Aku ingin dia percaya bahwa kita hanya sedang 'pindah rumah'. Tapi melihat Elmira tadi... insting seorang anak tidak bisa dibohongi oleh sihir manapun."
Elvira duduk di tepi ranjang, menyentuh jemari mungil Elmira dengan gemetar. "Kita bertiga sudah berusia dua puluh lima tahun, Arthur. Kita membawa beban kehancuran dunia di pundak kita, tapi dia? Dia hanya bocah empat tahun yang merindukan pelukan ibunya. Melihatnya tertidur karena sihirmu... rasanya aku lebih memilih menghadapi kiamat sekali lagi daripada melihatnya menderita seperti ini."
Vans menatap sendu Elmira. "Kita datang dari masa depan untuk memastikan Ayah dan Ibu tetap hidup, agar kita semua punya tempat untuk pulang. Tapi ironis, bukan? Kita ada di sini, di masa lalu, menatap keluarga kita sendiri sebagai orang asing,"
Arthur menatap Elvira dan Vans dengan pandangan sendu. "Jangan biarkan pertahanan kita runtuh. Elvira, tetaplah dingin pada dunia, tapi jangan pada dia. Vans, awasi setiap pergerakan di sekitar apartemen Ibu atau di Mansion utama. Kita tidak boleh membiarkan sejarah berulang. Elmira harus tetap tersenyum, meski senyum itu dibangun di atas ingatan yang kupalsukan."
Suasana apartemen itu terasa mencekam namun hangat oleh kasih sayang yang tragis. Tiga bersaudara kembar itu berdiri membisu, menjaga rahasia besar dari masa depan yang terkunci rapat di balik kelopak mata sang adik yang terlelap.
•
•
Cahaya temaram menyinari sudut-sudut laboratorium yang luas, memantul pada peralatan kaca yang tertata rapi seperti barisan prajurit diam. Viona duduk tegak dengan jemari tertaut tenang, memancarkan aura otoritas yang kontras dengan wajahnya yang menawan.
Di depannya, sosok Rodrigo tampak seperti bayang-bayang yang memberi beban pada ruangan itu. Suasana terasa mencekam--- setiap bisikan mengenai strategi yang akan mereka lancarkan di pernikahan Sky dan Evelyn seolah menambah berat oksigen di sana. Ini bukan sekadar percakapan antara ayah dan putri, melainkan pertemuan dua arsitek yang siap meruntuhkan lama demi membangun kekuatan yang jauh lebih besar.
Viona menyesap minumannya pelan, suaranya tenang namun tajam. "Lihatlah ruangan ini, Ayah. Begitu banyak teknologi, begitu banyak pengetahuan yang kita bawa dari masa depan, namun kita masih terpojok di sudut papan catur ini. Arthur, Elvira, dan Vans... mereka tidak hanya membunuh pion-pion kita. Mereka menghapus eksistensi sekutu kita sebelum mereka sempat berjanji setia pada kita."
Rodrigo menyentuh layar hologram, menghapus foto seorang bawahan yang telah tewas. "Mereka bergerak lebih cepat dari yang kita perkirakan. Anak-anak Sky itu... mereka memiliki insting predator yang sama dengan ayahnya, namun dengan pengetahuan yang mereka curi dari garis waktu kita. Mereka tahu siapa saja yang akan menjadi pilar kekuatan kita di masa depan, dan mereka memotong akarnya sekarang, di masa ini.
Viona menatap tajam ke arah tabung-tabung di laboratorium. "Biarkan saja mereka merasa menang. Kekuatan lama yang mereka hancurkan hanyalah artefak masa lalu yang sudah usang. Pernikahan Sky dan Evelyn nanti bukan sekadar perayaan cinta yang memuakkan itu, Ayah. Itu adalah pasar gelap bagi kebencian. Di antara gaun-gaun mahal dan senyum palsu para bangsawan, akan ada mata yang menyala karena dendam."
Rodrigo menoleh, menatap putrinya dengan seringai tipis. "Kau sudah memetakan siapa yang akan kita dekati?"
Viona bangkit berdiri, berjalan anggun mendekati meja kerja yang penuh dengan cetak biru mekanik.
"Tentu. Aku tidak butuh pasukan yang setia karena uang. Aku butuh mereka yang terluka karena rasa iri. Mereka yang bisnisnya selalu tertekan di bawah kekuasaan Sky dan Ayah nya, atau yang keluarganya dipermalukan oleh 'keadilan' yang diagungkan Sky. Kita akan menawarkan mereka sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh Sky dan keluarganya---- Pembalikan Nasib."
Rodrigo tersenyum sinis. "Permainan baru. Kita tidak lagi mencoba mempertahankan sejarah yang kita tahu. Kita sedang menulis ulang naskah di mana Arthur, Elvira, dan Vans adalah antagonis yang akan dilenyapkan oleh dunia yang mereka coba selamatkan."
Suara Viona merendah, penuh intimidasi. "Tepat. Mereka pikir mereka tahu masa depan karena mereka berasal dari sana. Tapi mereka lupa satu hal... kita adalah arsitek dari masa depan itu sendiri. Di hari pernikahan nanti, saat Sky mengucapkan janji sucinya, aku akan membisikkan janji kematian bagi kekuasaannya melalui sekutu-sekutu baru kita. Kita akan membangun kekuatan dari puing-puing yang baru."
Rodrigo berdiri dan menuangkan minuman untuk dirinya sendiri. "Maka biarlah pesta dimulai. Mari kita lihat, apakah anak-anak Sky sanggup menghentikan badai yang bahkan tidak mereka lihat datangnya."
Tiba-tiba, pintu baja di ujung ruangan berdesis terbuka. Langkah kaki cepat dan tidak beraturan memecah ketegangan. Profesor Hanz berlari masuk dengan wajah memerah karena antusias, memegang sebuah tabung reaksi berisi cairan perak yang berpendar.
Napas Profesor Hanz tersengal, namun matanya berbinar gila. "Tuan Rodrigo! Nona Viona! Ini dia! Keajaiban yang kita tunggu-tunggu! Saya telah berhasil menstabilkan formula 'Aethelgard'!"
Viona sedikit mengangkat alisnya, tetap anggun. "Jelaskan, Profesor. Jangan membuat kami menebak-nebak."
Profesor Hanz meletakkan tabung itu di atas meja dengan hati-hati."Cairan ini... jika disuntikkan ke dalam aliran darah, ia akan merekonstruksi kepadatan otot dan kecepatan transmisi saraf hingga sepuluh kali lipat. Seseorang bisa memiliki kekuatan yang melampaui batas manusia normal. Mereka akan menjadi predator puncak."
Mata Rodrigo berkilat penuh minat. "Dan bagaimana dengan rencana pelumpuhan itu?"
Profesor Hanz tersenyum licik. "Itulah bagian terbaiknya. Bersamaan dengan ini, kami menyempurnakan Neuro-Toxin X-9. Racun saraf tingkat tinggi yang tidak berbau dan tidak terlihat. Cukup dilepaskan melalui sistem ventilasi atau parfum, dan musuh Anda akan lumpuh seketika. Sistem saraf mereka akan terkunci, namun mereka tetap sadar... agar mereka bisa melihat sendiri bagaimana dunia mereka runtuh."
Viona berdiri perlahan, mendekati tabung perak itu dan menatap pantulan wajahnya di kaca. "Sempurna. Arthur, Vans dan Elvira mungkin merasa hebat karena mereka tahu masa depan, tapi mereka tidak tahu bahwa kita baru saja menciptakan senjata yang tidak pernah ada dalam catatan sejarah mereka."
Rodrigo tersenyum penuh kemenangan. "Permainan baru telah dimulai, Viona. Dan kali ini, kitalah yang memegang kendali atas hidup dan mati."
•
•
•
BERSAMBUNG