NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Teknik Hening Elara

Gang sempit di belakang The Void terasa seperti lorong hampa udara. Sepuluh pria berseragam SoniCorpn maju dengan formasi melingkar. Mereka tidak membawa senjata api; mereka memegang tongkat pemancar frekuensi tinggi yang mampu melumpuhkan saraf motorik dalam hitungan detik.

"Jangan melawan, Echo," ucap salah satu agen melalui pengeras suara helmnya. "Nona Valerius hanya ingin bicara."

Lyra melirik Elias yang berada di belakangnya, terhimpit di dekat tumpukan tong sampah besi. Elias memegang tas instrumennya erat-erat, matanya mencari celah pelarian.

"Elias, kau ingat apa yang dikatakan ibuku tentang 'lukisan yang hilang'?" bisik Lyra tanpa mengalihkan pandangan dari para pengepung.

Elias tertegun. "Maksudmu... teknik visual resonance? Lyra, itu terlalu berbahaya untuk dilakukan di ruang terbuka!"

"Tidak ada pilihan lain. Tutup matamu. Sekarang!"

Spektrum yang Membutakan

Lyra merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah proyektor laser genggam yang telah dimodifikasi. Ia tidak mengarahkan cahaya itu ke mata para agen, melainkan ke dinding bata yang basah oleh sisa hujan.

Sambil bersenandung dalam nada B-flat yang sangat rendah, Lyra mengaktifkan laser tersebut. Cahaya yang keluar bukan sekadar sinar terang, melainkan pola geometris yang bergetar cepat—teknik yang dulu digunakan Elara untuk menyembunyikan detail dalam lukisannya.

Saat frekuensi suara Lyra bertemu dengan getaran cahaya di dinding, tercipta sebuah anomali visual. Bagi para agen SoniCorp, dunia di depan mereka tiba-tiba terdistorsi. Bata-bata dinding seolah mencair, dan bayangan Lyra berlipat ganda menjadi puluhan.

"Sensor kita terganggu!" teriak salah satu agen. "Visi termal tidak bisa mengunci target! Semuanya putih!"

"Sekarang, Elias! Lari ke arah dermaga!"

Kejar-kejaran di Dermaga London

Mereka berlari menembus kabut London Timur yang tebal. Suara sepatu bot para agen yang mengejar terdengar seperti detak jantung raksasa yang memburu mereka. Lyra bisa merasakan getaran dari "Menara Resonansi" milik SoniCorp di kejauhan; sebuah denyut konstan yang mencoba memetakan posisi setiap manusia di kota ini.

"Mereka menggunakan sinyal GPS biologis!" Elias berteriak sambil terengah-engah. "Selama kita bernapas dan jantung kita berdetak, mereka bisa melacak resonansi kita!"

"Kalau begitu, kita harus berhenti beresonansi," jawab Lyra.

Mereka sampai di tepi sungai Thames. Lyra melihat sebuah kapal tongkang tua yang sedang bersandar. Tanpa berpikir panjang, ia menarik Elias melompat ke atas dek kapal yang licin. Di dalam palka kapal yang gelap, Lyra mengambil sebuah lempengan tembaga besar—sisa bahan konstruksi—dan menutup pintu palka.

"Efek Sangkar Faraday," gumam Elias dalam kegelapan. "Ini akan memblokir sinyal mereka untuk sementara. Tapi Lyra... Valerius tahu tentang kaset itu. Dia tahu tentang Nenek."

Pesan Tersembunyi Valerius

Lyra mengeluarkan ponselnya yang sudah ia lapisi foil perak. Ada satu pesan masuk yang berhasil tertangkap tepat sebelum mereka masuk ke dalam palka. Pesan itu bukan teks, melainkan sebuah gambar: foto lama Arthur dan Marcus di studio London, namun ada orang ketiga yang wajahnya sengaja diburamkan.

Di bawah foto itu tertulis: "Ayahmu membangun fondasinya, ibumu membangun dindingnya, tapi akulah yang akan memasang atapnya. Berikan kaset itu, atau aku akan meruntuhkan seluruh gedung Cornwall beserta isinya."

Lyra mengepalkan tangannya. Ia menyadari bahwa ancaman ini bukan lagi tentang teknologi suara, melainkan dendam pribadi yang sudah membusuk selama puluhan tahun. Valerius tidak hanya ingin menguasai dunia; ia ingin menghapus warisan keluarga Arthur karena ia merasa dikhianati oleh Marcus.

"Kita tidak bisa lari ke Cornwall, Elias," ucap Lyra dengan suara dingin yang jarang terdengar. "Itu yang dia inginkan. Dia ingin kita membawa semua kuncinya langsung ke pintu rumahnya."

"Lalu kita ke mana?"

Lyra menatap ke arah celah kecil di palka kapal, melihat menara SoniCorp yang menjulang seperti pedang yang menusuk langit. "Kita masuk ke jantung mereka. Kita akan menggunakan frekuensi nol yang pernah diciptakan Ayah untuk mematikan sistem mereka dari dalam."

Di Cornwall: Keputusan Arthur

Sementara itu, di toko instrumen yang sunyi, Arthur sedang mengemasi barang-barangnya. Ia tidak mengambil pakaian, melainkan gulungan skema sirkuit tua yang sudah ia sumpah tidak akan pernah disentuh lagi.

"Kau akan pergi?" Elara berdiri di tangga, memegang kuas yang masih basah dengan cat hitam.

"Aku harus menjemputnya, El. Valerius sudah bergerak. Dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan frekuensi asli ibuku."

Elara mendekat, memberikan sebuah kotak kecil berisi pigmen warna yang sangat pekat. "Bawa ini. Jika suara gagal, biarkan warna yang bicara. Ingat, Arthur... dunia ini tidak hanya terdiri dari apa yang bisa didengar, tapi juga apa yang bisa dirasakan."

Arthur mengangguk, mencium kening istrinya, dan melangkah keluar menuju badai yang sudah menunggunya di London.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!