Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 - batu yang tidak mau bersinar
Sekte Batu Awan berdiri di lereng Gunung Yunwu.
Tidak megah seperti sekte besar, namun cukup luas dan tertata rapi. Pilar batu abu-abu menjulang, ukiran awan sederhana menghiasi gerbang utama. Dari kejauhan, sekte ini tampak kokoh—seperti namanya.
Qing Lin tiba saat matahari baru naik setengah.
Di depan gerbang, ratusan pemuda sudah berbaris. Ada yang mengenakan pakaian bagus, ada yang membawa pedang mahal, dan ada pula—seperti Qing Lin—datang hanya dengan pakaian sederhana dan satu pedang polos.
Tatapan menyapu.
Beberapa berhenti di dirinya.
Bukan karena aura kuat.
Justru karena tidak ada apa-apa.
“Dia rakyat biasa?” bisik seseorang.
“Kenapa ikut seleksi?”
Qing Lin berdiri tenang, menunduk sedikit, menunggu.
Tak lama kemudian, lonceng batu dibunyikan.
Seorang pria paruh baya berjubah cokelat melangkah keluar. Wajahnya tegas, sorot matanya dingin.
“Aku Penatua Luar, Gu Yan,” katanya. “Seleksi hari ini sederhana. Tidak ada belas kasihan. Yang gagal—pulang.”
Ia mengangkat tangan.
“Ujian pertama. Batu Resonansi Qi.”
Dua murid sekte mendorong sebuah batu hitam besar ke tengah lapangan. Permukaannya kasar, penuh retakan, dan di bagian tengah terdapat simbol formasi.
“Letakkan tangan,” lanjut Gu Yan. “Salurkan qi. Batu akan bersinar sesuai kualitas akar spiritual.”
Satu per satu peserta maju.
Batu menyala.
Hijau pucat. Hijau terang. Biru muda.
Sorak kecil muncul.
Yang gagal—batu tetap mati—langsung disuruh pergi.
Giliran Qing Lin tiba.
Beberapa murid sekte saling pandang.
“Dia… punya qi?” gumam salah satu.
Qing Lin meletakkan telapak tangannya di batu.
Dingin.
Ia menarik napas.
Namun kali ini—ia tidak memanggil Sutra Darah Sunyi.
Ia hanya membiarkan qi tipis alaminya mengalir.
Batu itu—
diam.
Tidak bergetar.
Tidak bersinar.
Sunyi.
Sejenak lapangan hening.
Lalu terdengar tawa kecil.
“Gagal.”
“Sudah kuduga.”
Gu Yan mengernyit. “Tidak ada resonansi. Mundur.”
Qing Lin menarik tangannya.
Ia tidak terkejut.
Namun sebelum melangkah pergi, tiba-tiba—
retak.
Suara sangat pelan.
Batu Resonansi Qi bergetar halus.
Tidak menyala.
Namun satu retakan kecil di permukaannya… melebar.
Semua terdiam.
Gu Yan melangkah mendekat.
Ia menempelkan tangan ke batu.
Tidak ada qi tersisa.
Namun retakan itu nyata.
“Menarik…” gumamnya.
Ia menatap Qing Lin. “Kau… ulangi.”
Qing Lin kembali menyentuh batu.
Kali ini, Sutra Darah Sunyi bergerak sedikit.
Bukan menyerap.
Bukan melepaskan qi.
Melainkan… menekan dari dalam.
Batu bergetar sekali.
Tak.
Satu garis tipis terbentuk, seperti bekas ditekan dari arah berlawanan.
Namun tetap—
tidak bersinar.
Gu Yan terdiam lama.
“Akar spiritualmu tidak terdeteksi,” akhirnya ia berkata. “Namun tubuhmu… aneh.”
Ia melirik penatua lain.
“Masukkan ke ujian kedua.”
Keributan langsung pecah.
“Penatua Gu!”
“Dia jelas gagal!”
Gu Yan mengangkat tangan. Sunyi kembali.
“Ujian kedua akan menyaringnya.”
Qing Lin melangkah ke samping.
Ia tahu.
Aku sudah masuk daftar.
Bukan sebagai murid.
Melainkan sebagai anomali.
Ujian kedua berada di Lembah Batu Dalam.
Formasi ilusi dipasang. Kabut putih tebal menutupi jalan.
“Misi sederhana,” kata seorang pengawas. “Keluar dari lembah sebelum dupa habis. Tidak ada larangan cara.”
Peserta masuk satu per satu.
Begitu Qing Lin melangkah masuk—
dunia berubah.
Tidak ada api.
Tidak ada darah.
Hanya lorong batu panjang… dan suara langkahnya sendiri.
Setiap belokan membawa bayangan samar—
sosok dirinya sendiri, berjalan di jalur berbeda.
Ilusi berbasis pilihan…
Qing Lin berhenti.
Ia tidak bergerak.
Ia duduk bersila.
Bernapas.
Sutra Darah Sunyi berputar pelan, menekan keheningan.
Satu demi satu bayangan memudar.
Bukan karena dilawan.
Melainkan karena tidak diberi reaksi.
Qing Lin bangkit.
Ia berjalan lurus.
Tanpa ragu.
Tanpa tergesa.
Saat dupa habis, hanya tiga orang yang keluar.
Qing Lin—orang terakhir.
Gu Yan menatapnya lama.
“Kau tidak punya akar spiritual,” katanya perlahan. “Namun kau punya sesuatu yang lebih berbahaya.”
Qing Lin menunduk. “Aku hanya ingin tempat tinggal.”
Gu Yan tertawa pendek.
“Kau akan jadi murid luar,” katanya. “Tanpa jatah khusus. Tanpa perlindungan.”
Ia mencondongkan badan. “Bertahanlah jika bisa.”
Malam itu, nama Qing Lin ditulis di daftar murid luar Sekte Batu Awan.
Tidak bersinar.
Tidak dielu-elukan.
Namun di balik batu-batu tua sekte itu—
sesuatu yang tidak seharusnya tumbuh…
telah menancap akarnya.