Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Bau Rumah Lama
Namaku Raisa.
Setidaknya itu nama yang kupakai seumur hidupku.
Aku pindah ke rumah ini bulan lalu, setelah Ibu meninggal dan Ayah memutuskan menjual rumah kami di kota. Katanya, rumah di kampung ini satu-satunya warisan dari Nenek. “Lumayan buat mulai hidup baru,” begitu kata Ayah di mobil, sambil menepuk setir seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri, bukan aku.
Pertama kali melihat rumah itu, aku langsung tahu satu hal:
rumah ini tidak suka kedatanganku.
Catnya kusam kehijauan, bukan karena warna aslinya, tapi karena lumut yang seperti tumbuh pelan-pelan memakan dinding. Pintu kayunya tebal, ada ukiran bunga yang sebagian sudah aus. Di halaman depan ada pohon mangga tua, batangnya bengkok seperti punggung orang yang terlalu lama memikul beban.
Begitu turun dari mobil, bau pertama yang menyambutku adalah bau kayu basah. Campur sedikit amis, seperti kain lama yang lupa dijemur.
“Besok dibersihin ya, Sa,” kata Ayah.
Aku cuma mengangguk.
Di kampung ini, rumah kami agak terpisah dari tetangga. Di kiri cuma kebun singkong, di kanan jalan tanah menuju sawah. Tetangga terdekat mungkin lima puluh meter, itu pun tertutup rumpun bambu.
Sejak langkah pertama masuk ke ruang tamu, tengkukku sudah terasa berat.
Lantainya tegel merah, beberapa retak halus seperti urat di kulit orang tua. Di dinding tergantung foto Nenek waktu muda. Senyumnya tipis, matanya menatap lurus ke kamera—atau mungkin ke arahku.
Aku ingat pernah ke sini waktu kecil sekali. Tapi samar. Yang kuingat cuma suara jangkrik dan rasa takut tanpa alasan.
“Kamar kamu yang belakang ya,” kata Ayah sambil menyeret koper.
Kamar belakang.
Entah kenapa kalimat itu bikin perutku melilit.
Listrik di rumah ini sering turun. Kata Ayah, instalasinya tua. Malam itu, cuma ada lampu kuning lima watt di kamarku. Cahayanya redup, bikin bayangan lemari terlihat lebih tinggi dari aslinya.
Aku belum sempat membereskan semua barang. Hanya kasur lipat, koper terbuka, dan boneka kecil yang kubawa dari kota.
Jam delapan Ayah sudah tidur. Perjalanan jauh katanya bikin badan remuk.
Aku belum mengantuk.
Angin masuk dari ventilasi atas jendela, membawa bau yang sama seperti tadi sore—bau kayu basah, tapi lebih pekat. Aku bersumpah sempat mencium bau lain.
Seperti… tanah habis digali.
Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan. Dari kamar, suaranya terdengar seperti detak jantung orang raksasa.
Lalu aku mendengar itu.
Langkah kaki.
Pelan.
Dari arah ruang tamu menuju lorong kamarku.
Kupikir Ayah mau ke kamar mandi. Tapi langkah itu berhenti tepat di depan pintuku.
Diam.
Tidak ada suara pegangan pintu. Tidak ada batuk, tidak ada deham. Hanya keheningan panjang yang bikin telingaku berdenging.
Aku menahan napas.
“Yah?” panggilku pelan.
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik kemudian langkah itu menjauh lagi, kembali ke ruang tengah, lalu hilang seperti ditelan lantai.
Aku mencoba berpikir logis. Mungkin Ayah cuma lewat, mungkin aku yang terlalu parno.
Tapi ada satu hal yang aneh.
Langkah itu… terlalu ringan untuk langkah Ayah.
Aku terbangun tanpa alasan.
Mataku langsung tertuju ke layar ponsel di samping bantal.
02.17
Rumah sunyi sekali. Bahkan jangkrik pun seperti berhenti bernyanyi. Dari jendela, cahaya bulan masuk tipis-tipis membelah lantai kamarku.
Lalu kudengar lagi suara itu.
Langkah.
Kali ini lebih jelas.
Bukan dari ruang tamu.
Tapi dari dalam rumah bagian belakang—tempat yang bahkan belum sempat kami bersihkan.
Langkah itu pelan, seperti orang ragu-ragu.
Tiga langkah. Berhenti.
Dua langkah lagi. Berhenti lebih lama.
Aku menarik selimut sampai leher.
Di kepalaku cuma ada satu pikiran:
di rumah ini hanya ada aku dan Ayah.
Tapi arah langkah itu… bukan dari kamar Ayah.
Suara itu makin dekat ke arah kamarku.
Lalu tepat di depan pintu, ia berhenti.
Aku menatap gagang pintu yang diam. Dadaku sakit karena terlalu lama menahan napas.
Tiba-tiba, tanpa angin, pintu kamarku berdecit pelan.
Terbuka satu sentimeter.
Cuma sedikit.
Tapi cukup untuk membuatku melihat kegelapan di baliknya.
“Ayah…?” suaraku hampir tak keluar.
Tidak ada jawaban.
Yang ada hanya bau itu lagi.
Bau tanah basah. Lebih kuat dari sebelumnya.
Aku tidak tahu berapa lama aku membeku begitu. Mungkin menit, mungkin jam. Yang kuingat, mataku terus menatap celah pintu, takut kalau-kalau ada sesuatu yang balas menatap dari luar.
Sampai akhirnya aku ketiduran karena kelelahan.
Aku terbangun oleh suara ayam dan piring beradu.
Ayah sudah di dapur membuat kopi.
“Tidurmu nyenyak?” tanyanya.
Aku ingin bilang tidak. Ingin cerita soal langkah kaki, soal pintu yang terbuka sendiri. Tapi melihat wajah Ayah yang terlihat lebih tua sejak Ibu pergi, aku mengurungkan niat.
“Lumayan,” jawabku.
Lalu aku melihat sesuatu di meja makan.
Sepasang sandal jepit kecil.
Ukuran anak-anak.
“Ayah beli sandal baru?” tanyaku.
Ayah menoleh bingung.
“Sandal apa?”
Yang kutunjuk masih ada di sana—sandal merah pudar, talinya hampir putus.
Ayah menggeleng pelan.
“Itu bukan punya kita, Sa.”
Tengkukku langsung dingin.
Karena aku ingat betul satu hal:
semalam, sebelum tidur, sandal itu belum ada di sana.
⸻
Siang harinya aku mencoba membersihkan kamar belakang bersama Ayah. Di sudut ruangan, di balik lemari tua, aku menemukan sesuatu yang bikin tanganku gemetar.
Sebuah foto lama.
Foto anak perempuan berdiri di depan rumah ini.
Rambutnya dikepang dua, pakai gaun putih.
Wajahnya… mirip sekali denganku waktu kecil.
Di belakang foto itu ada tulisan tangan pudar:
“Raisa – 2003.”
Padahal aku lahir tahun 2006.
Aku belum sempat memanggil Ayah ketika dari arah depan rumah terdengar suara perempuan tua berteriak panik:
“Pak! Ngapain bawa dia balik ke sini?!”