Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meeting Little Friends
"Kau keren bisa bertahan sejauh ini."
"Ya. Hanya saja terkadang tugas-tugas yang diberikan hampir saja membuat kepalaku pecah."
Andy tertawa pelan. "Tapi kau selalu bisa menyelesaikannya, benar? Dari dulu, kau memang pandai dalam hal akademik," ucapnya, sembari mengingat kembali masa-masa di mana mereka--dia dan Sena--adalah murid terbaik di sekolah.
"Ya, aku berhasil melakukannya. Memang tidak mudah, tapi aku bisa menyelesaikannya dengan baik."
"Bayangkan jika aku tidak pernah pindah ke Korea, wah, bayangkan jika kita masuk universitas yang sama." Andy mulai berandai-andai.
"Itu akan sangat bagus," sahut Sena, menyesap minumanya sekali lagi. "Jika itu terjadi, kau akan mengambil jurusan apa?"
Andy menggigit bibirnya, berpikir sejenak. "Entahlah ... mungkin sesuatu yang berhubungan dengan sastra?"
Sena mengangguk setuju. Andy memang tampak seperti seorang sarjana sastra. Ia senang menulis, dan tentu saja berbakat dalam hal itu. Jadi jelas, sastra sangat cocok dengannya."
"Wah, kita bisa saja pergi ke universitas yang sama, belajar bersama," gumamnya, angannya mulai terbang di udara.
"Well, kita sekarang juga sedang makan malam bersama."
Andy menoleh, mengangguk singkat sembari terkekeh pelan, kemudian lanjut makan. Mereka telah memesan makanan lain, beberapa menu masakan Korea yang lalu ditandaskan bersih di atas meja.
"Apa kau masih berpikir untuk membuka klinikmu sendiri?" tanya Andy. Itu merupakan salah satu keinginan terbesar Sena sejak ia masih kecil, dan dia tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran apakah Sena masih memiliki keinginan itu sampai sekarang.
"Tentu," sahut Sena tanpa keraguan sedikit pun.
"Kuharap kau bisa mewujudkannya."
"Ya, semoga."
"Omong-omong, kapan kau lulus?"
"Jika semuanya berjalan lancar, aku bisa lulus tahun ini. Masih butuh empat tahun lagi untuk mendapatkan gelar doktoralku, asal kau tahu."
Bibir Andy setengah terbuka. "Itu masih sangat lama, man. Saat itu kau akan berumur ... 27?"
Sena mengangguk. "Ya, tepat sekali."
Andy terperangah, tak percaya. "Itu namanya dedikasi, dude. Respect," celotehnya.
Sena hanya tersenyum dan berterima kasih atas ungkapan jujur Andy. Sejatinya, Sena tidak punya hal lain yang ingin dia perjuangkan selain ini. Yang dia tahu, apa pun akan dia lakukan asalkan bisa menjadi dokter hewan. Selama masa-masa sulit, Sena selalu mengingatkan dirinya pada gadis kecil di dalam dirinya, yakin ia akan merasa bangga jika berhasil menggapai impiannya. Sena melalukannya untuk si kecil Elara, juga untuk Lee Sena di masa depan.
"Apa kau pernah bekerja di klinik hewan sebelumnya?"
"Ya, aku bekerja di sebuah klinik dekat sini," balasnya. "Aku memulainya sebagai intern, lalu mendapatkan tawaran untuk menjadi part-timer. Pemiliknya adalah sepasang lansia yang sangat baik, aku menyukai mereka. Mereka saling mencintai, dan juga sangat mencintai pekerjaannya. Itu mengagumkan."
Andy menelengkan kepala, tersenyum hangat. "Jadi kau memiliki dua pekerjaan sekarang?"
"Ya. Biaya hidup sebagai seorang mahasiswa tidaklah murah, jadi aku harus bekerja keras di sini," jawabnya seraya tertawa kecil.
"Dua pekerjaan sekaligus rasanya berat," kata Andy.
"Tidak seberat seorang idol yang bisa berpindah ke dua negara sekaligus, dalam kurun waktu 24 jam." Sena membalas, menambahkan sarkasme untuk menyerang balik Andy. Dibanding pekerjaan paruh waktu yang Sena lakukan di klinik hewan dan coffee shop, pekerjaan Andy sebagai idol jelas jauh lebih berat dan melelahkan.
Salah seorang staf datang menginterupsi obrolan mereka. Meminta maaf lebih dulu sebelum menjelaskan bahwa restoran akan tutup dalam 30 menit ke depan.
"Oh," Andy mengangguk paham, menunduk sopan. "Terima kasih. Kamu akan pergi setelah ini."
Mereka sudah menyelesaikan semua makanan yang dihidangkan, sudah pula mengobrol tentang beberapa hal. Sena mengikuti Andy berjalan ke counter. Begitu melihat pria itu mengeluarkan kartu, ia menahan lengannya.
"Bagi dua," katanya, menggeledah dompetnya untuk mengambil kartu, namun Andy menahannya.
"Tidak. Aku akan membayar semuanya."
"Andy," bisiknya, tidak ingin menarik perhatian staf yang ada di sana. "Biarkan aku membayar setengahnya. Kita makan banyak sekali tadi."
"Tidak perlu," Andy bersikeras. "Kau bisa membayar lain kali."
Sena menghela napas pendek dan menyerah, memasukkan kembali kartunya ke dalam dompet dan membiarkan Andy membayar penuh. Usai mengucapkan terima kasih kepada staf, mereka keluar dari restoran. Van hitam yang dikemudikan Jungho sudah stand by di depan, jadi mereka langsung masuk.
"Aku kenyang sekali," kata Andy, setelah duduk dan memejamkan mata sebentar.
"Aku juga."
"Ke mana lagi sekarang?" tanya Jungho dari balik kemudi, memperhatikan sepasang teman di bangku belakang melalui rearview mirror.
"Kita bisa pergi ke apartemenku, jika kau mau. Temanku tidak pulang hari ini. Tapi kalau kau--"
"Ide bagus!" Andy menyela begitu matanya kembali terbuka, dan Jungho langsung mengangguk cepat. Mobil dilajukan ke tempat yang sudah diputuskan.
Selama perjalanan, Sena mengalihkan pandangannya keluar. Mencoba melawan kantuk yang datang menyerang dari rasa kenyang yang berlebihan. Matanya mengerjap berkali-kali, mencoba tertarik pada apa saja yang ditemui di sepanjang jalan. Andy di sebelahnya, sunyi tanpa suara. Agaknya, ia pun merasakan hal yang sama.
Keduanya tersentak bangun saat Jungho mengerem agak keras. Pria itu terkekeh mendapati dua anak muda di kursi belakang, tampak terkejut atas ulahnya.
"Terima kasih, Hyung." Andy berterima kasih setelah bangun dari keterkejutan, Sena mengikuti.
Mereka turun dari van, mengendap masuk ke gedung apartemen Sena. Di dalam lift, mereka berdiri di sisi yang berjauhan. Masing-masing bersandar di dinding, mengistirahatkan tubuh yang rasanya letih sekali. Sena melirik sekilas, mendapati Andy mengucek matanya dan menggelengkan kepala, tampak berusaha keras untuk tetap terjaga.
"Sehabis makan memang rasanya mengantuk sekali," ucap Andy saat sadar dirinya sedang diperhatikan.
Sena terkekeh, mengangguk setuju. "Aku mungkin akan tertidur di sini, kalau bukan karena lampu yang terlalu terang," katanya seraya mendongak, menatap lampu lift yang terang benderang seperti cahaya illahi.
Ketika mereka tiba di unit apartemen Sena, mereka melepaskan sepatu dan melangkah masuk. Berbeda dengan keadaan di lift, apartemen Sena tampak redup. Hanya beberapa lampu yang Sena biarkan menyala selama ia pergi.
"Kau siap?" Sena bertanya dengan nada serius.
Dengan alis terangkat, Andy menatapnya bingung. "Untuk apa?"
Sena menyeringai. "Ayolah, Kim. Pikirkan baik-baik. Siapa yang tadi sangat ingin kau temui?"
Saat satu kata muncul di kepalanya, Andy seketika bersemangat, meninggalkan kebingungannya begitu saja. "Hewan peliharaanmu!"
"Benar," Sena mengangguk, meneliti seluruh sudut ruang tamu. Anak-anaknya tidak ada di sana. Tapi, hanya setelah pintu depan ditutup dan menimbulkan suara, Nan datang berlari antusias dari arah pojok ruangan. Ia menggonggong senang saat Sena berjongkok dan mengusap kepalanya.
"Hai, Sayang, aku kembali." Dia berkata dengan suara bayi, sebelum kembali berdiri dan membiarkan Nan melihat Andy yang berdiri di belakangnya.
Nan menyapa penuh semangat. Anjing jenis cavalier king charles spaniel itu melompat kecil, mengamati wajah yang tidak familier di depannya. Dan ketika Andy menyambut, Nan dengan senang hati menjilati wajah tampan itu. Andy tidak keberatan, menerima perlakuan Nan sebagai salam perkenalan.
"Kurasa kalian akan berteman dengan baik," kata Sena.
Andy mendongak, matanya berbinar penuh kesenangan. "Dia sangat manis, Lara."
"Syukurlah kau bisa menerima teman baikku."
Andy merengut. "Lalu bagaimana denganku?"
Sena melenguh panjang. "Ayolah, jangan kekanakan. Kau juga teman baikku."
Senyum Andy terbit, ia serta-merta mengikuti Sena menuju ruang tamu. Sesaat tiba, keberadaan seekor kucing oranye yang tidur di salah satu kursi, langsung menarik perhatiannya. Andy duduk di sandaran lengan, tak kuasa menahan tangannya untuk mengusap bulu-bulu halus si gendut.
"Mala suka tidur."
"Lucu." Andy tersenyum, memandang kucing oranye itu penuh puja.
Sena terkekeh sembari merebahkan diri ke sofa. Dia menutup mata perlahan, merasakan tubuhnya perlahan rileks. Andy berpindah dari kursi, menyusul Sena duduk di sebelahnya.
Nan pun turut melompat, memosisikan dirinya di sebelah Sena, sehingga kepalanya bisa rebah di paha gadis itu, siap menerima usapan penuh cinta dari pemiliknya. Di sisi yang lain, Andy memainkan ekornya, tersenyum kala menatap Sena dan Nan bergantian.
"Kau menemukan anjing yang sangat manis."
Sena membuka mata, memandang Nan penuh cinta. "Ya, dia saaaangat manissssss. Aku menyayanginya," sahutnya seraya mengecup kepala Nan berkali-kali.
Andy turut merebahkan kepalanya di sofa, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak. Dia menikmati kedamaian di kediaman Sena yang jauh dari hiruk-pikuk dunia entertainment. Napasnya berangsur teratur. Dan hanya dalam sekejap, Andy jatuh tertidur.
Sena tidak menyadari itu awalnya. Sampai Nan melompat turun dari sofa, dan dia menoleh pada Andy, untuk menemukan pria itu tertidur. Sena tersenyum, mengambil selimut dari belakang sofa dan meletakkannya di atas tubuh Andy.
Semakin lama Sena memperhatikan Andy, perasannya perlahan menghangat. Sungguh ini adalah anugerah. Bisa bersama lagi dengan teman baik yang dirindukannya setengah mati.
Bersambung....