NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Aroma Melati

Keduanya terdiam. Waktu seolah berhenti di ruang tamu itu.

Kiara menatap lantai dengan rahang yang sedikit mengeras, berusaha menyusun kata-kata yang… Setidaknya tidak terdengar seperti orang yang baru saja melihat dunia lain.

Aditya di sampingnya berkali-kali menelan ludah, matanya melirik ke arah Bu Rina yang duduk di depan mereka dengan tatapan yang… Bisa membuat siapa pun mengakui dosa sejak lahir.

Sunyi. Benar-benar sunyi.

Hanya suara kipas angin yang berputar pelan, dan detak jam dinding yang terasa semakin keras di telinga.

Tik… Tok… Tik…

Aditya melirik Kiara. Kiara melirik balik. Keduanya saling lempar tatapan. Tidak ada yang mau mulai. Tidak ada yang berani.

Bu Rina masih diam. Tapi justru diamnya itu… Jauh lebih menakutkan daripada marah. Tatapannya dingin. Tidak berkedip. Tidak berubah. Seperti… Menunggu. Dan itu membuat dada Kiara terasa semakin sesak.

Sky yang duduk di sandaran sofa bahkan ikut menegakkan tubuhnya. Biasanya dia santai, tapi kali ini…

“Wah… ini bukan lagi boss final…” gumamnya pelan. “Ini boss hidden yang levelnya gak ketahuan…”

Kiara menelan ludah. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya.

'Oke. Harus ngomong.

Minimal… Sesuatu' gumamnya dalam hati.

“Ibu… Aku-”

Namun kalimat itu berhenti di tenggorokannya. Karena tiba-tiba. Hidungnya mencium sesuatu. Aroma yang… Sangat khas. Dan familiar.

Bunga melati. Harum. Tapi… Terlalu pekat. Seolah-olah bunga itu tidak hanya ada di dekat mereka. Tapi mengelilingi seluruh ruangan.

Kiara membeku. Aditya juga langsung mengangkat kepala. Keduanya saling pandang. Tatapan yang sama bingungnya. Mereka mencium hal yang sama.

“Kamu… Nyium juga?” bisik Aditya pelan.

Kiara tidak menjawab. Tapi matanya yang sedikit melebar sudah cukup jadi jawaban. Sky yang awalnya santai langsung berhenti bergerak.

Ia mengendus pelan. Wajahnya berubah. Tidak lagi santai. Tidak lagi bercanda. Ia perlahan menoleh ke arah jendela.

“Wah…” gumamnya pelan.

“Dia datang lagi.”

Kiara menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Aroma melati itu semakin kuat. Sangat kuat. Hingga membuat kepalanya sedikit pusing.

Namun yang aneh. Ia tidak merasa takut. Tidak seperti saat menghadapi Bara. Atau seperti saat pertama kali melihat dunia itu.

Yang ada… justru perasaan tenang yang aneh. Dan di saat yang sama....

Bu Rina yang tadi duduk tegak… Perlahan mengedipkan mata.

Sekali. Dua kali. Lalu…Ia menguap. Pelan.

Aditya langsung menoleh.

“Hah?”

Kiara ikut melihat.

Bu Rina mengusap pelipisnya, wajahnya yang tadi tegang. Perlahan berubah kosong. Matanya mulai sayu.

“Kenapa… Tiba-tiba…” gumamnya pelan.

Belum selesai kalimatnya kepalanya sudah terangguk.

Dan…

Bruk.

Ia tertidur. Benar-benar tertidur. Di sofa. Di depan mereka.

Sunyi.

Kiara berkedip. Aditya melongo. Sky menatap lurus.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

“Ini… Prank?” tanya Aditya pelan.

Kiara menggeleng pelan.

“Enggak mungkin.”

Sky menyilangkan tangan, menatap Bu Rina dengan ekspresi serius.

“Ibu kamu… Gak pura-pura.”

“Terus kenapa bisa-”

“Shhh.”

Sky mengangkat tangannya. Matanya masih menatap ke arah jendela.

“Dia datang.”

Kiara langsung membeku. Dan saat itu...

Sebuah suara terdengar. Sangat pelan. Seperti bisikan angin. Namun jelas.

“Tenang saja…”

Kiara menahan napas.

“Ibumu hanya tertidur.”

Suara itu… Familiar. Sangat familiar.

“Kalian aman untuk malam ini.”

Kiara perlahan menoleh. Matanya langsung mencari-cari asal suara itu.

Lalu tanpa sadar. Ia melihat ke arah Sky. Seolah meminta jawaban. Sky tidak menatapnya balik. Ia tetap melihat ke arah jendela. Ekspresinya serius. Tidak bercanda. Tidak santai. Itu saja sudah cukup membuat Kiara tahu…Bahwa ini bukan hal biasa.

Perlahan… Kiara mengikuti arah pandang Sky. Menoleh ke jendela. Dan di sana... Ia melihatnya.

Seorang wanita berdiri atau lebih tepatnya mengambang beberapa senti dari tanah.

Rambut hitamnya panjang menjuntai hingga tanah . Wajahnya pucat. Mata hitamnya kosong yang… Entah kenapa tidak terasa mengancam. Gaun putihnya melayang pelan. Dan aroma melati itu… Berasal darinya.

Laras.

Kiara menahan napas.

Namun anehnya... Ia tidak takut. Sama sekali tidak. Justru ada perasaan… Hangat dan tenang.

Seperti… bertemu seseorang yang dikenal.

Laras menatapnya. Dan tanpa membuka mulut. Suara itu terdengar lagi. Langsung di dalam kepala Kiara.

“Terima kasih…”

Kiara menelan ludah pelan.

“Karena sudah membantu menyelamatkan Bima.”

Kiara terdiam. Semua kejadian tadi…Terlintas lagi di kepalanya.

Bima, Bara. Pertarungan. Dan cahaya.

Kiara menunduk pelan.

“Aku cuma bantu sedikit,” gumamnya lirih.

Namun Laras hanya tersenyum tipis.

“Tidak.”

“Kau memilih untuk menolong meski tahu itu beresiko.”

“Dan itu sudah lebih dari yang seharusnya.”

Sunyi sejenak. Kiara tidak tahu harus menjawab apa. Lalu…Laras kembali berbicara.

“Aku juga akan menepati janjiku.”

Kiara langsung mengangkat kepala. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Janji?”

“ Janji untuk memberi tahu orang yang bisa menjawab tentang dirimu…”Suara itu terdengar lebih dalam sekarang.

“Dan tentang dia...”Laras melirik ke arah Sky.

Sky mengangkat satu alisnya.

“Wah… Aku dibahas juga.”

Kiara menatap Laras lagi.

“Siapa?”

Laras mengangkat tangannya perlahan. Menunjuk ke arah yang jauh. Seolah bisa menembus dinding rumah itu.

“Di pantai selatan…” Suara angin seolah ikut berhembus.

“Ada seorang pertapa.”

“Seorang dukun yang telah lama menyendiri.”

“Dia tahu…”Suara itu berhenti sejenak. Lalu terdengar lebih pelan.

“Tentang dunia ini.”

“Tentang roh.”

“Tentang ikatan yang tidak seharusnya ada…”

Laras kembali melirik Sky.

“Dan tentang mengapa kalian bisa saling terikat.”

Kiara membeku. Jantungnya berdegup lebih keras.

“Di mana tepatnya?”

“Carilah…”Suara itu mulai memudar.

“Dia akan muncul … Jika waktunya tiba.”

“Dan berhati-hatilah…”Suara itu berubah sedikit. Lebih dingin.

“Tidak semua yang melihat dunia ini… Bisa kembali seperti semula.”

Kiara menahan napas. Namun sebelum ia sempat bertanya lagi. Sosok Laras perlahan memudar. Seperti kabut yang tertiup angin.

Aroma melati itu juga mulai menghilang. Perlahan. Sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya… Tidak ada lagi.

Sunyi kembali. Hanya denting jam yang berdetak.

Kiara masih menatap jendela itu. Kosong. Beberapa detik kemudian, Kiara merasakan tepukan seseorang si pundaknya.

“Ki?”

Suara Aditya membuatnya tersadar. Ia menoleh. Aditya menatapnya dengan wajah bingung.

“Kamu kenapa?”

“Dari tadi bengong.”

Kiara berkedip.

Ia menggeleng pelan.

“Enggak… Apa-apa.”

Aditya menyipitkan mata. Ia jelas tidak percaya. Ia melirik ke arah jendela. Lalu kembali ke Kiara.

“Kamu liat sesuatu lagi ya?”

Kiara terdiam. Tidak menjawab. Namun itu sudah cukup. Aditya menghela napas panjang.

“Aku tau.”

Kiara terdiam.

Ia lalu duduk lebih dekat ke Kiara. Wajahnya serius sekarang. Tidak ada lagi ekspresi bercanda.

“Kamu harus cerita.”

Kiara menatapnya.

“Semua.”Suara Aditya pelan. Tapi tegas.

“Kamu gak bisa terus nyembunyiin ini sendirian.”

Kiara mengalihkan pandangannya.

“Tentang… Kenapa kamu selalu kelihatan ngomong sendiri."

"Tentang... Apa yang sebenarnya terjadi sama Bima?”

“Tentang ... Kenapa kamu seakan udah tau semuanya?”

“Dan…”

Aditya menunjuk ke arah Bu Rina yang tertidur pulas.

“Kenapa Tante bisa tiba-tiba kayak gini?”

Sunyi.

Kiara terdiam. Ia tahu… Cepat atau lambat, ini akan terjadi. Ia tidak bisa terus pura-pura. Tidak bisa terus menyembunyikan semuanya.

“Iya…”Ia akhirnya menghela napas panjang.

“Aku bakal cerita.”

Aditya menatapnya.

“Bener?”

“Bener.”

“Sekarang?”

Kiara melirik Bu Rina. Yang masih tertidur lelap.

“Enggak sekarang.”

Aditya langsung cemberut.

“Lah?!”

“Sekarang kita punya masalah lain.”

Ia menunjuk ke arah ibunya.

Aditya ikut melihat.

“Oh.”

Sunyi sebentar.

“Bangunin?”

Kiara langsung menoleh cepat.

“Jangan!”

“Kenapa?”

“Kalau dibangunin sekarang…”Kiara menatapnya datar.

“Ibu nanti lanjut marah.”

Aditya langsung terdiam.

“Iya juga.”

Sky yang sejak tadi diam langsung menyela.

“Aku dukung opsi jangan dibangunin.”

“Kalo bangun, aku juga kena vibes horornya.”

Kiara menghela napas.

“Terus gimana?” tanya Aditya.

“Gotong.”

“Hah?”

“Kita bawa ke kamar.”

Aditya langsung melihat tubuh Bu Rina. Lalu ke Kiara. Lalu ke Bu Rina lagi.

“Berdua?”

“Iya.”

“Kamu yakin?”

“Enggak.”

“Terus kenapa tetep dj lakuin?”

“Daripada dibangunin.”

“Beber sih...”

Akhirnya... Dengan penuh tekad dan nekat.

Keduanya berdiri. Aditya mengambil posisi di bagian bahu. Kiara di bagian kaki.

“Siap?”

“Enggak.”

“Yaudah jalan aja.”

“Eh tunggu-”

“Udah tinggal angkat aja!”

“Berat, Ki!”

“Ya iya namanya juga manusia!”

“Yang bilang kapas siapa!”

Sky tertawa sambil melayang di atas mereka.

“Wah, teamworknya luar biasa.”

Dengan langkah tertatih, mereka berjalan menuju kamar. Pelan. Sangat pelan. Beberapa kali hampir menjatuhkan. Beberapa kali hampir menabrak meja.

Dan satu kali. Aditya hampir terpeleset.

“WOI!”

“Jangan jatuhin ibu!”

“Aku juga gak mau!”

Akhirnya… Mereka sampai di depan kamar.

Kiara mengetuk pintu.

Tok. Tok.

“Yah…”

Tidak ada jawaban.

“Yah…”

Pintu terbuka pelan. Pak Rahmat muncul dengan wajah setengah mengantuk.

“Iya?”

Lalu…Ia melihat.

Anaknya. Ponakannya. Dan istrinya… Yang sedang digotong seperti karung beras.

Sunyi.

Pak Rahmat berkedip. Sekali. Dua kali.

“Tolong…” kata Kiara datar.

“Bantuin.”

Pak Rahmat menatap mereka lama. Seperti memproses sesuatu yang tidak masuk akal. Namun akhirnya. Ia menghela napas panjang.

“Oke… Masuk dulu.”

Tanpa banyak tanya, ia membantu membawa Bu Rina ke dalam kamar. Mereka meletakkannya di tempat tidur dengan hati-hati. Selimut ditarik. Lampu diredupkan.

Sunyi.

Pak Rahmat menatap istrinya. Lalu menoleh ke Kiara dan Aditya.

“Ini kenapa?”

Aditya langsung menunjuk Kiara. Kiara langsung menunjuk Aditya. Keduanya saling menunjuk.

Sunyi lagi.

Pak Rahmat menghela napas.

“Besok aja ceritanya.”

Kiara dan Aditya langsung mengangguk cepat.

“Iya!”

“Setuju!”

Pak Rahmat mengangguk pelan.

“Tidur.”

“Sekarang.”

“Iya.”

Keduanya langsung keluar dari kamar.

Begitu pintu tertutup. Mereka berhenti. Saling pandang.

Lalu…

Menghela napas panjang bersamaan.

“Hidup…” gumam Aditya.

“Masih aman.”

Kiara menatapnya.

“Untuk malam ini.”

Sky tersenyum tipis.

Namun matanya… Masih terlihat serius.

“Belum selesai,” katanya pelan.

“Ini baru mulai.”

Kiara terdiam.

Pikirannya kembali ke kata-kata Laras. Pantai selatan. Dukun pertapa. Dan…

Semua jawaban yang selama ini ia dan Sky cari.

Ia mengepalkan tangannya pelan.

“Kalau begitu…”Gumamnya pelan pada diri sendiri. Ia menatap lurus ke depan.

" Aku harus ke sana.”

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!