(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 15
Area Terlarang Sekte – Hutan Kabut Besi.
"Aturan Babak Pertama sederhana!" suara Tetua Pengawas bergema di atas lembah hutan yang tertutup kabut tebal. "Di tangan kalian ada satu lencana giok. Untuk lolos ke babak utama, kalian harus keluar dari hutan ini dengan membawa sepuluh lencana. Artinya, singkirkan sembilan orang lainnya!"
Ribuan murid berdiri tegang di gerbang masuk hutan. Suasana mencekam. Ini bukan latih tanding. Di dalam sana, kematian "tidak disengaja" sering terjadi.
Ye Xing berdiri santai sambil mengunyah rumput liar. Di punggungnya, benda besar terbungkus kain itu terlihat sangat berat. Di sampingnya, Lin Xiao memukul-mukul perisai barunya dengan gugup tapi bersemangat.
Tiba-tiba, seorang murid bertubuh kurus menyelinap ke tengah kerumunan dan berteriak:
"Dengar semuanya! Tuan Muda Fang Que memberi tawaran! Siapa pun yang bisa membawa lencana Ye Xing dan mematahkan satu kakinya... akan dihadiahi 100 Batu Roh dan Pil Peningkat Qi!"
Kerumunan meledak. Mata ratusan murid serentak tertuju pada Ye Xing. 100 Batu Roh adalah kekayaan luar biasa bagi murid luar.
"Seratus?" Ye Xing tertawa renyah, meludahkah rumput di mulutnya. "Murah sekali. Kepalaku setidaknya berharga satu benua."
DONG!
Gong tanda mulai berbunyi.
"Tangkap dia!"
"Jangan biarkan dia lari!"
Bukannya menyebar, sekitar lima puluh murid langsung menyerbu ke arah Ye Xing seperti gelombang tsunami manusia. Mereka mengabaikan peserta lain demi hadiah Fang Que.
"Lin Xiao," panggil Ye Xing tenang.
"Siap, Bos!"
"Formasi Benteng Kura-kura. Tahan mereka 10 detik. Aku perlu pemanasan."
"Serahkan padaku!"
Lin Xiao maju tiga langkah. Dia menghentakkan kakinya ke tanah. Aura Qi Condensation Tingkat 4 meledak, bercampur dengan aura Tulang Besi. Dia mengangkat perisai bulat di tangan kirinya dan menanamkan kuda-kudanya.
[Teknik Pertahanan: Cangkang Emas Tak Tertembus!]
Lapisan cahaya emas tipis menyelimuti tubuh Lin Xiao.
BAM! BAM! CLANG!
Serangan pertama dari sepuluh murid terdepan—pedang, tombak, dan tinju api menghantam perisai dan tubuh Lin Xiao secara bersamaan.
Tanah di bawah kaki Lin Xiao retak. Dia terdorong mundur satu inci. Darah menetes dari sudut bibirnya.
Tapi dia tidak roboh.
"Cuma segini?!" teriak Lin Xiao, adrenalin membakar rasa takutnya. "Pukulan Ye Xing saat latihan jauh lebih sakit daripada kalian semua!"
Para penyerang terkejut. Bagaimana mungkin murid Tingkat 4 menahan serangan gabungan sepuluh orang Tingkat 5-6?
"Minggir! Biar aku yang habisi!" Seorang murid senior tingkat 8 melompat tinggi, mengayunkan palu gada ke arah kepala Lin Xiao.
Lin Xiao memejamkan mata, bersiap menerima benturan fatal.
Namun, hantaman itu tidak pernah sampai.
Sebuah bayangan hitam besar melintas di atas kepala Lin Xiao.
WOOOOSH...
Ye Xing telah bergerak. Dia mengayunkan "peti mati" di punggungnya—Pedang Berat yang masih terbungkus kain tebal.
Dia tidak menggunakan sisi tajam (karena tidak ada sisi tajam), dia menggunakan sisi datarnya.
KRAK!
Bungkusan kain itu menghantam murid senior di udara seperti raket memukul nyamuk.
Murid itu terpental dengan jauh, menabrak lima orang di belakangnya. Tulang-tulang patah terdengar bersahutan. Enam orang tumbang sekaligus dalam satu ayunan santai.
Ye Xing mendarat di depan Lin Xiao, memegang gagang pedang besarnya dengan satu tangan. Ujung pedang (yang terbungkus) menyentuh tanah, membuat tanah bergetar.
"Sepuluh detik sudah lewat," kata Ye Xing dingin.
Dia menatap gerombolan sisa murid yang kini ragu-ragu.
"Kalian mau 100 Batu Roh?" Ye Xing menyeringai iblis. "Majulah. Tapi biaya pengobatannya mungkin lebih mahal dari itu."
"Jangan takut! Dia cuma satu orang! Senjatanya lambat!" teriak seorang provokator.
"Serang bersamaan dari segala arah!"
Empat puluh orang tersisa mengepung Ye Xing dan Lin Xiao. Serangan elemen api, air, dan angin datang dari 360 derajat.
Ye Xing memutar pedang besarnya.
[Seni Pedang Berat: Pusaran Gravitasi!]
Ye Xing berputar di tempat. Pedang seberat 250kg itu berputar menciptakan tornado mini.
Namun, kengeriannya bukan pada anginnya. Ye Xing mengaktifkan Mata Bintang, memanipulasi gravitasi di sekitar putaran pedangnya.
Alih-alih terlempar keluar, para penyerang merasa tubuh mereka ditarik masuk ke arah pedang Ye Xing seperti magnet.
"Apa?! Kakiku terseret sendiri!" "Tidaaaak!"
Mereka tersedot mendekat, tepat ke jalur lintasan "tongkat pemukul" raksasa itu.
BUK! BUK! BUK! BUK!
Itu bukan pertarungan. Itu adalah pembantaian sepihak.
Tubuh-tubuh manusia beterbangan ke segala arah seperti boneka kain. Ye Xing mengendalikan kekuatannya agar tidak membunuh (karena diskualifikasi), tapi dia memastikan setiap orang yang terkena pukulannya akan patah tulang minimal di tiga tempat.
Hanya dalam satu menit, area sekitar Ye Xing bersih.
Empat puluh murid tergeletak mengerang di tanah. Senjata mereka patah, armor mereka penyok.
Ye Xing berhenti berputar. Napasnya bahkan tidak terengah. Dia menyandarkan pedang besarnya di bahu. Kain pembungkus pedang itu sudah robek di beberapa bagian, memperlihatkan kilau hitam logam Tulang Naga yang mengerikan di dalamnya.
Lin Xiao melongo. Dia tahu Ye Xing kuat, tapi melihatnya menyapu 50 orang seperti menyapu sampah daun kering adalah hal lain.
Ye Xing berjalan mendekati salah satu murid yang masih sadar—si provokator tadi.
"Lencana," tagih Ye Xing sambil mengulurkan tangan.
Murid itu gemetar ketakutan, buru-buru menyerahkan lencana gioknya. "A-ambil! Ambil semuanya! Jangan pukul aku lagi!"
Ye Xing mengumpulkan lencana-lencana itu. Dia mengambil 10 untuk dirinya, 10 untuk Lin Xiao.
Masih ada sisa 30 lencana.
Ye Xing melihat ke arah semak-semak di mana beberapa peserta lain sedang bersembunyi ketakutan menonton pembantaian itu.
Ye Xing melempar sisa lencana itu ke udara.
"Hadiah untuk kalian yang pintar memilih untuk tidak menyerangku," kata Ye Xing.
Lalu dia menoleh ke Lin Xiao. "Ayo pergi. Di sini terlalu berisik. Kita cari tempat tidur siang sambil menunggu babak ini selesai."
Mereka berdua berjalan masuk lebih dalam ke hutan, meninggalkan legenda baru yang akan menjadi mimpi buruk para murid Awan Rusak: "Iblis Pedang Tumpul".
Namun, Ye Xing tidak lengah. Mata Bintang-nya melihat sesuatu yang aneh.
Di antara murid-murid yang dia kalahkan tadi, ada satu yang auranya tidak hilang, tapi memudar. Seperti bayangan.
"Ada tikus yang lolos," batin Ye Xing. "Dan tikus itu punya aura pembunuh."