"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Panggilan Rindu di Sepertiga Malam
Antara Tembok dan Detak Jantung
Kamar yang sepi kini terasa hangat,
Oleh janji suci yang baru saja terikat.
Bukan lagi ustadz, bukan lagi sang kutub,
Tapi imammu yang rindu, dengan rasa yang meluap.
Kau bersembunyi di balik dinding bisu,
Menghindar dari tatapan yang membuatmu kelu.
Namun jarak ini takkan pernah menang,
Sebab di dalam doa, wajahmu selalu terbayang.
Di kediaman Kyai Hasan, suasana pesta mulai menyurut. Gus Zidan masih memegang ponsel milik Bunda (mertuanya). Ia nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik layar ponsel, sebentar-sebentar melirik jam dinding. Hatinya sudah tidak berada di tengah kerumunan tamu.
Zidan mendekati Bunda yang sedang berbincang dengan beberapa kerabat. "Bunda, Ayah... Zidan mohon izin naik ke kamar di atas dulu ya? Rasanya sudah sangat mengantuk, badan lemas sekali setelah acara tadi," ucap Zidan dengan alasan yang sangat meyakinkan, meski sebenarnya matanya masih segar benderang karena adrenalin pernikahan.
Bunda tersenyum maklum. "Oh nggih, Gus. Istirahatlah. Pasti capek sekali hari ini. Ponsel Bunda dibawa saja dulu, siapa tahu Bungah menelepon lagi."
Zidan mencium tangan mertuanya dengan takzim, lalu melangkah cepat menuju kamar tamu di lantai atas yang sudah disiapkan. Begitu pintu tertutup dan terkunci, wibawa "Gus" yang tenang itu seolah luruh. Ia menarik napas panjang, mengempaskan tubuhnya ke kasur, dan langsung mencari kontak Bungah.
"Bismillah... sekarang kamu sudah halal, Dek," bisik Zidan dengan senyum nakal yang jarang terlihat. Ia segera menekan tombol Video Call.
Di Kairo, Bungah baru saja merasa lega. Ia mengira urusan telepon sudah selesai setelah akad tadi. Karena cuaca yang gerah dan rasa lelah yang luar biasa, ia melepaskan cadar, kerudung, hingga jaket luarnya. Ia hanya mengenakan daster rumahan berbunga kecil yang nyaman. Rambutnya yang hitam legam ia kuncir asal-asalan.
Baru saja ia hendak merebahkan diri, ponselnya kembali menjerit. Derrr... derrr...
Bungah melirik layar. Nama "Bunda" muncul, tapi hatinya berbisik ini bukan Bunda. Ia panik luar biasa. "Astagfirullah! Mas Zidan?!"
Bungah meloncat dari kasur. Ia mencari-cari kerudung instannya yang tadi ia lempar entah ke mana. Ia merangkak di bawah kolong tempat tidur, membuka lemari dengan kasar, hingga mengacak-acak tumpukan kitab. Nada dering itu sudah hampir mencapai batas akhirnya.
"Mana sih! Masa harus pakai mukena lagi!" keluhnya panik.
Karena takut panggilannya mati dan tidak enak hati pada sang "suami", Bungah terpaksa mengangkatnya. Namun, ia segera menempelkan kamera ponselnya ke tembok putih kamarnya yang kosong.
Layar ponsel Zidan menampilkan dinding putih bersih. Zidan yang sudah bersandar manja di bantal dengan kancing kerah baju yang sedikit terbuka, mengernyitkan dahi.
"Assalamu’alaikum, Istriku... Kok tembok sih, Dek? Mas ini sudah bela-belain akting ngantuk depan Bunda biar bisa lari ke kamar buat lihat kamu. Mas kangen lho, pengen lihat wajah imut kamu setelah kita sah," suara Zidan terdengar sangat rendah, lembut, dan penuh godaan romantis yang membuat bulu kuduk Bungah meremang.
Bungah yang bersembunyi di balik tembok, hanya menyembulkan suaranya saja. "Wa...
wa'alaikumussalam, Mas... Aduh, Mas Zidan! Aku nggak pakai kerudung, nggak pakai cadar ini! Tadi sudah dilepas semua karena dikira sudah nggak ada telepon lagi!"
Zidan tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dekat di telinga Bungah. "Dek, dengerin Mas... Kamu ingat tidak kata saksi tadi? Sah. Artinya, Mas ini suamimu. Mas sudah punya hak melihat setiap helai rambutmu, bahkan tanpa kain itu pun, Mas rida."
"Tapi Mas... aku malu! Kan belum pernah lihat-lihatan rambut sebelumnya," rengek Bungah.
"Malu sama suami sendiri itu berpahala, tapi kalau nurut sama suami itu surganya kamu sekarang," goda Zidan lagi. "Coba geser sedikit ponselnya. Mas pengen lihat, apa benar istri Mas ini secantik yang Mas bayangkan di dalam doa-doa Mas selama ini?"
Bungah menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Dengan tangan gemetar, ia perlahan menggeser ponselnya. Hanya separuh wajahnya yang terlihat, menampakkan mata bulatnya yang jernih dan sebagian rambutnya yang berantakan.
Zidan terdiam di seberang sana. Matanya menatap layar tanpa berkedip. "Masya Allah... Ternyata benar, Allah simpan mentari yang paling terang untuk Mas di Kairo. Jangan ditutup lagi ya? Mas cuma pengen mandang wajah kamu sampai Mas tertidur."
Bungah akhirnya menyerah, ia duduk bersandar di tembok sambil memegangi ponselnya, memperlihatkan wajahnya yang memerah sempurna. Malam itu, untuk pertama kalinya, sang Mentari dan sang Kutub saling memandang tanpa tabir, dipisahkan jarak namun disatukan oleh rasa yang tak lagi perlu disembunyikan.