"Aku yang menghancurkan keluargaku sendiri."
"Aku yang membuat semua orang mengetahui tentang hubungan gelap kalian."
"Aku yang membuatmu berlutut meminta ampun saat ini."
Fransisca menikahi seorang milyarder yang mengalami cacat mental hanya untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Menganggap lebih baik hidup sebagai pengasuh pria cacat, tapi mendapatkan kekuasaan mutlak.
Karena cinta baginya hanya... Bullshit!
Tapi mungkin tanpa disadarinya mata pria yang dianggapnya mengalami cacat mental itu hanya tertuju padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran
Jujur saja dirinya tidak siap. Sama sekali tidak siap, bagaimana caranya mengajari orang ini? Lebih baik program bayi tabung bukan?
"Bagaimana caranya?" Tanya Arkan Zoya lagi.
Fransisca menghela napas."Arkan makan dulu. Nanti setelah makan kak Fransisca ajari."
Pemuda yang mengangguk menurut. Makan begitu lahap. Sedangkan Fransisca kembali menyuapinya. Mungkin ada kebahagiaan tersendiri kala melihat orang ini makan dengan lahap. Apa dirinya memiliki perasaan seperti seorang ibu pada anaknya?
Entahlah.
Namun, kala Arkan tengah menggosok gigi usai menikmati makan malam. Fransisca mulai menghubungi seseorang.
Jujur saja, dirinya tidak yakin. Benar-benar tidak yakin. Tidak lama panggilan diangkat.
"Gilbert, ini aku Fransisca." Ucapnya kala panggilannya diangkat.
"Ada apa? Apa kamu berencana untuk pergi ke USA?" Tanya temannya yang merupakan seorang blasteran."Jika iya aku bisa menjemputmu di bandara."
"Tidak, aku hanya ingin meminta bantuan. Ayahku menggunakan daftar beasiswa penerimaanku untuk Mira kuliah di universitas Harvard beberapa tahun lalu. Tapi menggunakan identitas palsu dan tidak punya cukup kemampuan, bukankah seharusnya dia ketahuan? Tapi Mira berkata hingga wisuda pun tidak ketahuan. Ini sedikit aneh..." Gumam Fransisca.
"Ya... lumayan aneh. Harvard university tidak semudah itu dikelabui. Aku akan mencari informasi. Tapi ada imbalannya." Kalimat dari seseorang di seberang sana.
"Apa imbalannya?" Fransisca menghela napas kasar.
"Aku akan kembali beberapa bulan lagi. Saat itu aku akan meminta imbalannya." Ucap pemuda di seberang sana cepat. Seperti sedikit malu-malu mematikan panggilannya sepihak.
Fransisca mengerutkan keningnya, menatap ke arah kaca jendela di hadapannya. Samar...bayangan Arkan yang berdiri di belakangnya terlihat. Tapi anehnya bukan tatapan polos Arkan kecil yang manis seperti biasanya. Tatapan mata orang ini seperti akan menelannya hidup-hidup. Tanpa senyuman sama sekali.
Dengan cepat Fransisca menoleh ke belakang. Ketakutan...apa Arkan sudah sembuh?
Tapi.
Senyuman polos, konyol itu kembali terlihat. Memakai piyama bergambar tokoh animasi detektif cilik berkacamata.
"Kak Fransisca sedang apa? Arkan baru saja selesai membersihkan gigi. Lihat! Gigi Arkan putih!" Ucap Arkan Zoya cepat, memeluk tubuhnya terdengar ceria. Menunjukkan deretan gigi putih bersih cemerlang.
"Ada teman yang menghubungi. Gigi Arkan benar-benar putih bersih." Fransisca mengacak-acak rambutnya. Mungkin tadi dirinya salah lihat. Tidak mungkin bocah polos ini tiba-tiba sembuh.
"Apa teman perempuan? Atau teman laki-laki?" Tanya Arkan memeluknya semakin erat.
"Laki-laki..."
"Tidak boleh berteman dengan anak laki-laki. Nanti bisa hamil."
"Kak Fransisca boleh berteman dengan Arkan. Arkan tidak takut yang mulia istri hamil?"
"Tidak! Arkan jadi papanya, nanti yang mulia istri jadi mamanya. Tetap bersama Arkan ya? Semua orang benci pada Arkan."
Orang ini benar-benar mengundang rasa iba. Membuat dirinya tidak dapat berkata-kata. Memang di rumah ini tidak ada yang peduli pada Arkan Zoya.
"Sekarang Arkan tidur ya? Sudah malam." Ucap Fransisca melepaskan pelukannya.
"Minum susu dulu! Punya Arkan yang rasa coklat. Punya yang mulia istri yang rasa vanila. Kakak butler yang menyiapkan nya." Ucap Arkan penuh senyuman, menyodorkan susu rasa vanilla untuknya.
Tanpa ragu Fransisca meminumnya. Matanya sedikit melirik ke arah Arkan yang tersenyum polos seperti anak kecil. Menikmati susu rasa coklat.
Tidak ada yang aneh, benar-benar tidak ada. Tapi mungkin karena aktivitas dan telepon tadi Arkan sudah melupakan rajukannya untuk membuat anak.
"Ayo tidur..." Fransisca perlahan memejamkan matanya. Memeluk anak ini...apa pantas disebut seorang anak? Usianya sudah dua tahun lebih tua dari Fransisca.
Namun...kala Fransisca terlelap sebuah mimpi aneh menghampirinya. Seseorang mencumbui lehernya pelan. Berbisik."Fransisca, aku menyukai aromamu."
Sebuah mimpi yang benar-benar aneh. Dimana dalam mimpinya pemuda ini adalah...Arkan Zoya?
Tapi tatapan matanya tajam seperti sebelum mengalami kecelakaan. Anehnya dalam mimpi dirinya tidak dapat bergerak sama sekali.
Bahkan kala bibirnya dinikmati agresif, dirinya hanya dapat menikmati segalanya. Tenggelam dalam segalanya, entah kenapa semuanya berubah menjadi mimpi me*sum.
Dimana dirinya membalas ciuman memabukkan dari Arkan Zoya. Sekujur tubuh mereka bergesekan. Begitu indah... kenapa dirinya dapat seperti ini... dengan orang ini?
Kala Fransisca terbangun dirinya memeluk bantal guling. Kembali mengerjap, menggosok matanya sendiri menyakinkan penglihatannya, jadi ini bukan Arkan Zoya? Itu semua hanya mimpi!?
"Untung mimpi!" Gumamnya menyadari untuk pertama kalinya dirinya bermimpi absurb. Matanya melirik ke arah Arkan Zoya yang tertidur dengan wajah polos bak malaikat. Berbeda dengan Arkan Zoya dalam mimpinya. Pria dingin, kejam dan berbahaya.
Perlahan Arkan terbangun."Kak Fransisca... selamat pagi!" Ucapnya dengan nada ceria bagaikan anak kecil.
Tapi sejenak menyipitkan matanya."Apa kak Fransisca alergi ayam bakar?" tanyanya tiba-tiba.
"Tidak, kenapa?" Tanya Fransisca mengernyitkan keningnya.
"Ada ruam, di leher dan bawah leher seperti Arkan alergi udang." Jawab Arkan Zoya polos.
Fransisca segera mengambil cermin kecil dengan gagang yang berada di laci sebelah tempat tidur.
"Aaaa ...aaaa!" Teriaknya histeris. Dirinya pernah melihat ini! Sungguh! Ketika teman sekantornya ditertawakan oleh satu divisi dulu. Tanda ini persis... seperti seseorang yang baru usai bercinta?
Dengan cepat Fransisca menggeleng. Bagaimana mungkin sebuah mimpi aneh terasa seperti ke dalam dunia nyata? Kecuali...apa Arkan Zoya sudah sembuh?
Fransisca membulatkan matanya, menatap ke arah Arkan Zoya yang menatapnya balik. Begitu terlihat polos, begitu tidak berdosa.
Tidak! Tidak mungkin Arkan Zoya sembuh! Jikapun sembuh, pria itu selalu menghina dan mengatakan dirinya menjijikkan. Seperti anak anj*ing yang mengikuti Doni.
Hanya ada satu cara yang dapat dilakukannya kini...yaitu membuka google dan forum.
Kala mencari informasi di google maka banyak hal yang terlihat. Mulai dari masalah kesehatan berupa alergi, atau peredaran darah tidak lancar.
Perlahan dirinya bertanya di forum. Sebagian menjawab hal yang sama, tidak hanya dari hisapan saat bercinta. Tapi bisa juga kerena alergi, iritasi, atau peredaran darah tidak lancar.
Tapi ada juga sebagian yang berkomentar.
'Itu artinya ada jin yang menyukaimu. Apa jinnya tampan?'
'Kemungkinan besar kamu disukai dan dinikahi makhluk halus. Istilahnya kamu melewati malam pertama bersamanya.'
'Banyak-banyak berdoa kepada Tuhan.'
'Perlu dukun? Bisa mengusir jin berusia ribuan tahun, maupun pangeran siluman. Hubungi 081 000 000 00.'
Fransisca mengangkat sebelah alisnya. Di saat jaman sudah modern seperti ini masih saja percaya pada hal mistis. Tapi semalam memang agak...
Ah...parah!
Matanya melirik ke arah Arakan yang bangkit meunang air minum. Perlahan kala air itu masuk ke kerongkongannya, jakunnya sedikit bergerak begitu seksi di mata Fransisca. Ditambah dengan sedikit tumpahan air yang mengalir dari leher ke bagian dada dari kancing piyama yang sedikit terbuka.
Fransisca membulatkan matanya. Apa yang ada di otaknya!?
Tidak! Hari ini dirinya akan mulai bekerja sebagai karyawan perusahaan. Tidak boleh memiliki pikiran kotor pada bocah yang diasuh olehnya.
"Yang kemarin adalah jin! Pangeran siluman..." gumam Fransisca.