menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 29
Sore itu, Indah berpamitan lebih awal dari ruang OSIS.
Dengan langkah ringan, ia menuju sebuah toko kain ternama di pusat kota. "Aku harus segera menyelesaikan ini," gumamnya senang sambil mendekap tas belanja berisi kain sutra yang baru saja ia beli
Namun, kegembiraan itu menguap seketika saat ia melewati sebuah minimarket.
"Indah? Wah, tidak salah lagi. Ini si gadis suram, kan?" sebuah suara melengking yang sangat ia kenal memanggilnya dari arah teras minimarket.
Indah membeku. Ia menoleh perlahan dan melihat **Angel**, teman SMP-nya dulu—atau lebih tepatnya, orang yang paling rajin menjadikannya bahan olokan.
Angel berjalan mendekat dengan seringai sinis, diikuti oleh rombongannya yang terdiri dari empat laki-laki bertampang preman pasar dan satu perempuan yang tampak angkuh.
Angel memindai penampilan Indah dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Matanya tertuju pada logo di seragam Indah. "Wah, lihat seragam ini! Kau bersekolah di SMA Garuda Bangsa ? Sekolah elite itu?" Angel tertawa mengejek. "Aku baru tahu kau ternyata anak orang kaya, Indah. Padahal dulu kau terlihat seperti gelandangan yang tidak punya teman."
Indah hanya diam, tangannya meremas tas belanjanya dengan kuat. Memori buruk masa SMP mulai berputar di kepalanya.
"Siapa ini, Ngel? Anak orang kaya ya? Hebat juga ada mangsa empuk di sini," ujar salah satu laki-laki bertubuh besar sambil mendekat dan menatap Indah dengan pandangan lapar.
"Aku... aku ada urusan, aku ingin pergi sekarang," suara Indah bergetar.
Namun, Angel menghalangi jalannya dengan tangan bersedekap. "Hei, mau ke mana? Kita kan sudah lama tidak bertemu. Kenapa tidak main dulu dengan kami? Benar kan, Teman-teman?"
"Benar juga," sahut laki-laki yang lain sambil menyeringai. "Aku lapar. Bagaimana kalau kita makan di restoran mahal dekat sini? Karena Indah sekolah di Garuda Bangsa dia pasti mau mentraktir kita, kan?"
Indah semakin resah. Ia merasa terkepung, persis seperti dalam mimpi buruknya.
---
Sementara itu, di trotoar seberang jalan, Sasha, Aria, Yudas, Lily, dan Raka sedang berjalan santai setelah menyelesaikan urusan di sekolah.
"Indah ke mana ya? Tadi dia buru-buru sekali," tanya Lily sambil mengamati sekitar.
"Dia bilang ada urusan keluarga atau semacamnya," jawab Sasha santai. "Mungkin dia bosan mendengar ocehan Kael tentang pulpen."
Namun, langkah Raka mendadak terhenti. Matanya tertuju pada kerumunan di depan minimarket.
Yang lain ikut berhenti dan mengikuti arah pandangan Raka.
"Bukankah itu Indah?" tanya Aria dengan nada cemas. "Siapa orang-orang yang mengerumuninya itu? Dia terlihat ketakutan."
Sasha melihat pemandangan itu dan seketika wajahnya menggelap.
Aura membunuh mulai memancar darinya. Ia meregangkan otot-otot leher dan tangannya hingga terdengar bunyi *krak*. "Bagus... bagus sekali. Ternyata masih ada orang yang cari mati di kota ini dengan mengganggu temanku."
"Sasha, tunggu! Jangan gunakan kekerasan dulu!" Aria menahan lengan Sasha dengan panik. "Kita bicarakan baik-baik!"
"Bicarakan baik-baik?!" Sasha mendengus marah.
"Lihat itu, Aria! Dia sedang diintimidasi! Kalau aku tidak turun sekarang, mereka akan menginjak-injaknya! Biarkan aku mematahkan beberapa tulang mereka!"
Saat Sasha dan Aria sedang berdebat sengit, Raka yang sedari tadi diam hanya memasukkan ponselnya ke saku celana dengan tenang.
Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah maju dengan aura yang sangat dingin.
Di rombongan Angel, tawa mereka pecah saat membayangkan Indah akan membayar makanan mahal mereka.
Salah satu laki-laki mulai mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu Indah yang gemetar.
"Ayolah, jangan pelit—"
"Singkirkan tangan kotormu itu dari temanku."
Suara itu datar, namun sangat tajam hingga membuat bulu kuduk berdiri. Langkah kaki yang stabil berhenti tepat di belakang kerumunan itu.
Angel dan teman-temannya terdiam, lalu menoleh serentak.
Raka berdiri di sana, menatap mereka dari balik kacamatanya dengan pandangan yang seolah bisa menembus tulang.
Indah mendongak, matanya berkaca-kaca melihat sosok yang berdiri membelanya. "Raka..." bisiknya lirih.
----
Ketegangan di depan minimarket itu meningkat drastis.
Salah satu pria dari rombongan Angel, yang memiliki bekas luka di lengannya, melangkah maju dengan wajah merah padam.
Ia merasa terhina oleh kehadiran Raka yang tenang.
"Siapa kau? Ingin jadi pahlawan kesiangan, hah?!" bentaknya. Tiga pria lainnya segera bergerak mengepung Raka, menciptakan lingkaran intimidasi yang menyesakkan.
Namun, Raka tetap berdiri tegak, wajahnya sedatar papan tulis, bahkan tidak berkedip saat para pria itu merangsek maju.
Angel tertawa sinis sambil melirik ke arah Indah. "Wow, Indah... aku terkesan. Jadi ini pacarmu? Ternyata kau punya selera yang tinggi juga untuk ukuran gadis suram."
Indah hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat, suaranya tercekat di tenggorokan. "Bukan... dia bukan..."
Salah satu pria itu meludah ke aspal, lalu dengan kasar mencengkeram kerah baju Raka hingga kancing atasnya nyaris terlepas. "Jadi kau ingin menolong pacarmu? Jangan sok keren di depan kami, bocah kacamata! Kau tahu sedang berurusan dengan siapa?!"
Raka menatap mata pria itu dengan tatapan yang sangat dingin. "Aku tidak akan mengulangi ucapanku. Singkirkan tangan kotormu dari bajuku," ucap Raka dengan nada rendah yang mengancam.
"Hah?! Apa kau bilang—"
Belum sempat pria itu menyelesaikan makiannya, sebuah bayangan melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal dari arah samping.
*BUM!*
Sebuah tinju mentah menghantam rahang pria yang memegang kerah Raka. Bunyi hantaman itu begitu keras hingga membuat Angel menjerit.
Pria itu terpental ke belakang dan jatuh tersungkur tak sadarkan diri di atas trotoar.
**Sasha** berdiri di sana dengan rambut yang sedikit berantakan dan aura kemarahan yang meluap-luap.
Ia tidak memberikan waktu bagi yang lain untuk berpikir. Dengan gerakan brutal, ia menerjang tiga pria lainnya.
Satu tendangan maut mendarat di perut pria kedua, disusul dengan pukulan bertubi-tubi yang membuat mereka semua tumbang dan pingsan dalam hitungan detik.
Raka bahkan sedikit terkejut melihat kebrutalan Sasha yang kali ini benar-benar tidak tertahankan.
Sasha mengatur napasnya yang memburu, lalu perlahan menoleh ke arah Angel yang kini berdiri gemetar ketakutan sambil masih memegang lengan Indah.
"Wanita jalang," desis Sasha dengan suara yang sangat dingin dan tajam. "Singkirkan tangan busukmu itu dari temanku sekarang juga, atau tanganmu itu tidak akan pernah bisa berfungsi lagi."
Angel langsung melepaskan cengkeramannya seolah-olah tangan Indah adalah bara api yang panas.
Wajahnya pucat pasi. "Ma-maaf! Aku tidak tahu dia temanmu!" teriak Angel ketakutan. Tanpa menunggu lama, ia dan teman perempuannya segera lari tunggang-langgang meninggalkan area minimarket, diikuti oleh rekan-rekan pria mereka yang masih bisa merangkak bangun.
Tak lama kemudian, Aria, Yudas, dan Lily sampai di lokasi dengan napas terengah-engah. Lily segera memeluk Indah yang masih syok. "Indah! Kau tidak apa-apa? Syukurlah kau selamat!"
Indah mengangguk pelan, air mata mulai menetes di pipinya. "Aku tidak apa-apa... terima kasih, Raka, Sasha..."
Aria berkacak pinggang, menatap kekacauan di sekitarnya dan memandang Sasha dengan ekspresi campur aduk antara lega dan sangat kesal. "Sasha! Bukankah sudah kubilang berkali-kali, jangan gunakan kekerasan dulu! Kita bisa saja berurusan dengan polisi kalau begini!"
Sasha hanya memutar bola matanya, bersikap *cuek* sambil membersihkan debu di tangannya. "Bicara dengan orang-orang seperti itu hanya buang-buang ludah, Aria. Kadang, tulang yang patah jauh lebih efektif daripada ceramah OSIS-mu itu."
Sasha kemudian menepuk bahu Indah dengan kasar namun hangat. "Ayo pulang. Lain kali kalau ada lalat sampah lagi, langsung panggil aku."
Mereka pun berjalan menjauh dari minimarket itu, meninggalkan para preman yang merintih kesakitan,
sementara Indah merasa bahwa meskipun masa lalunya suram, masa depannya kini dijaga oleh orang-orang yang paling luar biasa.
Cerita berakhir di situ.