Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara di Balik Senyuman
Malam tadi Kiki menangis lagi sampai tertidur, dan pagi ini matahari seolah mengejeknya dengan masuk melalui celah gorden secara tidak sopan. Sinar itu terlalu terang, kontras dengan suasana hatinya yang masih berantakan. Ini adalah Minggu kedua dalam bulan ini, sebuah tanggal merah di kalender Kiki yang berarti ritual wajib dimulai\= mengunjungi kediaman Ibu Sofia, ibu mertuanya. Bagi Kiki, hari ini bukan sekadar kunjungan menantu pada umumnya, melainkan hari di mana ia harus mengenakan “topeng” paling tebal yang ia miliki. Ia harus bersikap seolah-olah dia adalah wanita paling bahagia di dunia, istri dari seorang pria hebat yang memujanya, padahal kenyataannya justru seratus delapan puluh derajat berbeda.
Di depan cermin besar di kamar mandinya yang luas, Kiki memoleskan perona pipi sedikit lebih tebal dari biasanya. Ia perlu menyembunyikan wajahnya yang pucat karena kurang tidur dan tekanan batin yang menumpuk. Matanya yang sembab coba ia samarkan dengan concealer lapis demi lapis. Ia memilih gaun selutut berwarna soft peach yang memberikan kesan segar, tipe menantu idaman yang sopan namun tetap terlihat berkelas. Saat ia sedang merapikan rambutnya yang panjang, pintu kamar terbuka tanpa ketukan sebelumnya. Fikar berdiri di sana, sudah rapi dengan kemeja kasual yang membuatnya terlihat makin sulit digapai sekaligus intimidatif.
“Sudah siap?” tanya Fikar pendek. Suaranya datar, tanpa ada nada basa-basi apalagi pujian. Matanya menyapu penampilan Kiki dari atas ke bawah, tapi bukan tatapan kekaguman. Dia seperti seorang mandor yang sedang memeriksa apakah kualitas barang yang ia pesan sudah layak untuk dipamerkan ke hadapan publik.
“Ingat, Ibu sedang dalam masa pemulihan setelah pemeriksaan jantungnya minggu lalu. Kondisinya sangat sensitif terhadap stres sekecil apa pun. Jadi, jangan tunjukkan wajah mendungmu itu di sana. Di depan Ibu, kita adalah pasangan paling harmonis yang pernah ada. Jangan sampai dia menangkap kecurigaan sedikit pun tentang bagaimana kita sebenarnya di rumah ini,” perintah Fikar dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Kiki menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang selalu berdegup kencang tiap kali Fikar berada di dekatnya. Ia mengangguk pelan sembari memasang anting mutiaranya dengan tangan yang sedikit gemetar. “Aku tahu, Mas. Aku tidak pernah mengecewakanmu di depan Ibu, kan? Aku tahu peranku dan aku sangat sadar apa taruhannya jika rahasia ini terbongkar. Aku akan melakukan yang terbaik agar ibumu tetap tenang.”
Fikar tidak menyahut. Ia hanya mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar seperti ejekan, lalu berbalik badan dan berjalan mendahului ke arah mobil tanpa menunggu istrinya. Di dalam perjalanan, keheningan kembali menguasai kabin mobil mewah itu. Hanya suara deru mesin dan gesekan ban dengan aspal yang terdengar. Kiki menatap ke luar jendela, melihat pasangan-pasangan lain di trotoar yang berjalan santai sambil bergandengan tangan atau tertawa bersama dinikmati es krim. Hal-hal manusiawi seperti itu terasa seperti kemewahan yang mustahil baginya. Ia merasa seperti seorang aktor yang sedang menuju panggung sandiwara besar, di mana naskahnya sudah ditentukan dengan sangat ketat oleh suaminya sendiri.
Begitu mereka sampai di halaman rumah besar Ibu Sofia, atmosfer berubah drastis dalam hitungan detik. Fikar yang tadinya kaku tiba-tiba menghentikan langkahnya saat turun dari mobil. Ia mengulurkan lengannya, memberi isyarat agar Kiki merangkulnya. Perubahan sikap yang secepat kilat ini selalu membuat Kiki merasa mual karena kepalsuan yang begitu nyata. Namun, ia tetap menempelkan tangannya di lengan Fikar, bisa merasakan otot keras pria itu di balik kain kemejanya yang mahal.
“Fikar, Kiki! Sayang, akhirnya kalian datang juga!” Ibu Sofia menyambut mereka di ruang tamu yang asri. Wajah tuanya tampak sangat bersinar melihat kedatangan anak tunggal dan menantunya.
Fikar memeluk ibunya dengan sangat hangat, sebuah pelukan penuh kasih sayang yang tidak pernah sekali pun ia berikan kepada Kiki secara tulus. Lalu, dengan akting yang sangat meyakinkan, Fikar merangkul pinggang Kiki, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan erat, dan mengecup keningnya di depan sang ibu dengan gerakan yang sangat lembut.
“Tentu saja kami datang, Bu. Kiki bahkan bangun pagi-pagi sekali hanya untuk menyiapkan kue bolu kesukaan Ibu. Dia tidak mau kami datang dengan tangan kosong,” bohong Fikar dengan intonasi suara yang begitu manis, seolah-olah ia benar-benar memuja setiap inci dari keberadaan istrinya.
Kiki tersenyum manis, sebuah senyum yang sudah ia latih berkali-kali di depan cermin dapur. Ia menyembunyikan rasa pahit yang tersisa di tenggorokannya. “Iya, Bu. Semoga Ibu suka ya. Maaf kalau rasanya mungkin masih ada yang kurang pas di lidah Ibu,” sambung Kiki, berusaha terdengar seperti menantu yang rendah hati.
Sepanjang makan siang, Ibu Sofia terus bercerita dengan semangat, menceritakan betapa ia sangat bersyukur karena Fikar akhirnya menemukan wanita selembut Kiki. “Ibu sangat tenang melihat kalian sekarang. Fikar sekarang terlihat lebih bersemangat kerjanya, pasti karena ada istri yang selalu mendoakan dan mengurusnya dengan baik di rumah,” ujar Ibu Sofia sambil menggenggam tangan Kiki di atas meja.
Kiki melirik ke arah Fikar yang duduk di sampingnya. Pria itu menatapnya balik dengan tatapan yang terlihat sangat teduh, tatapan yang bagi orang awam adalah tatapan penuh cinta, namun Kiki tahu itu hanyalah profesionalisme tingkat tinggi. “Kiki memang istri yang luar biasa, Bu. Aku merasa menjadi pria paling beruntung karena dia bersedia mendampingiku,” ucap Fikar pelan, bahkan ia sempat mengusap punggung tangan Kiki dengan ibu jarinya, memberikan sensasi hangat yang palsu.
Sentuhan itu membuat bulu kuduk Kiki meremang. Untuk sesaat, ia ingin sekali membiarkan dirinya percaya pada sandiwara ini. Namun, kenyataan segera menamparnya saat Fikar langsung melepaskan genggamannya begitu Ibu Sofia memalingkan wajah untuk mengambil minum.
Selesai acara makan siang, saat Ibu Sofia sedang beristirahat, Kiki berdiri sendirian di balkon belakang yang menghadap ke taman mawar. Ia menghirup udara sedalam mungkin, mencoba membuang sesak yang sudah menumpuk di dadanya sejak tadi pagi. Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin menyelimuti punggungnya. Fikar berdiri tepat di belakangnya.
“Kerja bagus untuk hari ini. Kamu sangat meyakinkan, seperti biasa,” bisik Fikar tepat di telinga Kiki, suaranya kembali menjadi dingin dan tajam, sangat kontras dengan suaranya di meja makan tadi. “Teruskan performa seperti itu setiap kali kita keluar. Jika kondisi Ibu terus stabil karena dia merasa bahagia melihat kita, aku akan mempertimbangkan untuk mempercepat pelunasan hutang terakhir ayahmu di bank.”
Kiki berbalik dengan cepat, matanya kini berkaca-kaca menatap pria di depannya. “Apakah semuanya hanya soal uang bagi kamu, Mas? Apakah pernikahan ini benar-benar tidak lebih dari sekadar transaksi? Kamu baru saja menciumku dengan begitu manis di depan ibumu, dan sekarang kamu bicara soal hutang seolah aku ini barang yang sedang kamu sewa untuk sebuah pertunjukan?”
Fikar menatap Kiki dengan tatapan tajam, rahangnya mengeras. “Jangan terbawa perasaan, Kiki. Jangan pernah lupa bahwa pernikahan ini adalah simbiosis mutualisme. Aku butuh kamu untuk Ibu, dan kamu butuh aku untuk menyelamatkan keluargamu dari kemiskinan. Jangan hancurkan momen yang sudah bagus ini dengan drama emosional yang tidak perlu. Mengertilah posisi kita masing-masing.”
Pria itu berbalik dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Kiki yang kini benar-benar merasa jiwanya sedang terkikis. Ia bersandar pada pagar teras, menyadari kenyataan pahit bahwa ia sedang mencintai bayangan dari pria yang hanya muncul saat sandiwara dimulai, sementara pria nyata yang berdiri di hadapannya adalah sosok yang tidak menyisakan ruang sedikit pun untuknya di dalam hati.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.