NovelToon NovelToon
Dark Crown: Devil'S Bride

Dark Crown: Devil'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Coldmaniac

‎"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."

‎Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
‎Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
‎Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.

‎Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.

‎Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.

‎Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Bara di Balik Baja

SUARA gergaji mesin yang memotong engsel pintu baja itu terdengar seperti jeritan iblis yang sedang kelaparan. Setiap gesekan logam menghasilkan percikan api yang menyelinap masuk melalui celah sempit, menerangi wajah Aria yang pucat namun kaku dalam remang lampu darurat merah. Di dalam ruang aman yang kedap suara itu, oksigen terasa semakin menipis, digantikan oleh aroma oli mesin dan rasa takut yang pekat.

Aria menggenggam Beretta peraknya dengan kedua tangan. Jemarinya yang biasanya memegang pena dan dokumen hukum kini terasa dingin, namun stabil. Ia teringat kata-kata Dante: Jangan melawan hentakannya. Jadilah bagian darinya. Di sampingnya, Marco berdiri seperti dinding batu, matanya tajam menatap titik di mana pintu mulai terkikis.

"Nyonya, saat pintu ini terbuka, Anda harus tetap di belakang saya," bisik Marco. Suaranya rendah, tanpa emosi, sebuah tanda bahwa ia adalah seorang profesional yang sudah terbiasa dengan maut.

"Aku tidak akan menjadi target diam, Marco," jawab Aria, suaranya lebih tajam dari yang ia duga.

BRAAAKK!

Engsel atas pintu itu terlepas. Suara gergaji mesin berhenti mendadak, digantikan oleh keheningan yang lebih mengerikan. Lalu, sebuah dentuman besar menghantam pintu dari luar. Sekali. Dua kali. Pada hantaman ketiga, pintu baja seberat ratusan kilogram itu tumbang ke lantai, menciptakan suara menggelegar yang menggetarkan tulang.

Asap dan debu mengepul masuk. Melalui kabut abu-abu itu, tiga siluet pria dengan rompi taktis dan masker hitam muncul. Mereka tidak berbicara; mereka langsung melepaskan tembakan.

DOOR! DOOR! DOOR!

Marco membalas tembakan dengan presisi yang mematikan. Salah satu penyerang langsung roboh dengan lubang di dadanya. Namun, dua lainnya berpencar, menggunakan dinding sebagai perlindungan. Marco terpaksa merunduk di balik lemari penyimpanan baja untuk menghindari hujan peluru.

Aria merasakan dunianya menyempit. Suara tembakan itu merobek gendang telinganya, namun matanya tetap fokus pada satu pria yang mencoba mendekati Agostino dan para pelayan di sudut ruangan. Pria itu mengangkat senjatanya, siap untuk membantai warga sipil yang tak berdaya.

Tanpa berpikir panjang, Aria melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia mengangkat Beretta-nya. Pandangannya tidak lagi kabur oleh air mata; yang ia lihat hanyalah sasaran yang harus dilenyapkan.

DOOR!

Peluru pertama mengenai bahu pria itu, membuatnya terpelanting ke belakang. Ia mengerang, mencoba mengangkat senjatanya lagi ke arah Aria. Aria tidak memberinya kesempatan kedua. Ia menarik pelatuknya lagi.

DOOR!

Peluru kedua mengenai leher pria itu. Ia jatuh tersungkur, darah merah pekat membasahi lantai marmer dingin di bawahnya.

Aria terengah. Tangannya bergetar karena hentakan senjata, namun ada sesuatu yang aneh yang menjalar di pembuluh darahnya. Itu bukan lagi rasa takut. Itu adalah kepuasan yang mengerikan. Ia baru saja membunuh seseorang untuk melindungi orang lain. Ia baru saja melewati garis yang dikatakan Dante tidak akan pernah bisa dilalui kembali.

Penyerang terakhir, yang melihat rekannya tewas di tangan seorang wanita, berteriak penuh amarah dan mengarahkan senapan serbunya ke arah Aria.

"Aria, tiarap!" teriak Marco.

Aria memejamkan mata, bersiap menghadapi rasa sakit yang akan datang. Namun, suara tembakan yang terdengar bukan berasal dari senapan penyerang itu. Itu adalah suara ledakan yang jauh lebih besar, berasal dari koridor di luar.

BOOOOM!

Dinding di samping pintu ruang aman hancur. Debu batu kapur memenuhi ruangan. Melalui kekacauan itu, seorang pria masuk dengan kecepatan yang mustahil. Dante Moretti.

Dante tidak menggunakan senjata api. Ia menerjang penyerang terakhir itu seperti predator yang sedang mengoyak mangsanya. Dengan satu gerakan tangan yang dilapisi sarung tangan kulit hitam, ia mencengkeram wajah pria itu dan menghantamkan kepalanya ke tepi pintu baja yang sudah tumbang. Suara tulang retak terdengar jelas di tengah sunyinya ruangan.

Pria itu jatuh tak bernyawa, kepalanya hancur.

Dante berdiri tegak di tengah ruangan yang kini penuh dengan mayat dan bau mesiu. Nafasnya memburu, wajahnya terciprat darah, dan auranya begitu gelap hingga Agostino dan para pelayan tampak gemetar hanya dengan melihatnya.

Mata Dante menyapu ruangan, mencari satu-satunya orang yang ia pedulikan. Begitu matanya tertuju pada Aria yang masih berdiri dengan pistol di tangan, ia segera melangkah maju.

"Apakah kau terluka?" tanya Dante. Suaranya serak, penuh dengan emosi yang tertahan.

Aria menggeleng lemah. Ia menatap mayat pria yang ia tembak tadi. "Aku... aku melakukannya, Dante. Aku menembaknya."

Dante melihat mayat itu, lalu melihat ke arah Aria. Ia mengambil pistol dari tangan Aria dengan lembut, lalu ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Dante memeluknya begitu erat, seolah-olah ia takut Aria akan menguap jika ia melepaskannya.

"Kau bertahan, Aria," bisik Dante di telinganya. "Kau melakukan apa yang harus dilakukan. Jangan biarkan rasa bersalah memakanmu. Mereka adalah binatang yang ingin menyakitimu."

Aria menyandarkan kepalanya di dada Dante yang dilapisi rompi anti-peluru. Ia bisa merasakan panas tubuh pria itu dan detak jantungnya yang liar. Di tengah bau darah ini, pelukan Dante adalah satu-satunya hal yang terasa nyata.

Satu jam kemudian, kastil Castello dei Corvi kembali berada di bawah kendali Moretti. Serangan itu telah dipatahkan, meskipun dengan harga yang mahal. Beberapa menara hancur, dan belasan pengawal tewas. Namun, musuh juga kehilangan hampir seluruh pasukan penyerbu mereka.

Dante duduk di ruang tengah yang besar, sedang membiarkan seorang petugas medis membersihkan luka di lengannya. Ia menolak untuk minum obat bius; ia ingin merasakan rasa sakit itu sebagai pengingat akan kegagalannya melindungi bentengnya sendiri.

Aria duduk di seberangnya, sudah berganti pakaian dan membersihkan noda darah di wajahnya. Namun, ekspresi matanya tidak lagi sama. Keaduan di matanya telah digantikan oleh ketajaman yang dingin.

"Siapa mereka, Dante? Aku melihat logo di rompi mereka," tanya Aria.

"Tentara bayaran dari Eropa Timur," jawab Dante sambil mendesis saat lukanya dijahit. "Mereka dikontrak oleh Lucchese, tapi pendanaannya berasal dari rekening-rekening rahasia ayahmu di Swiss. Julian benar-benar sudah melampaui batas. Dia menyerang tanah leluhurku. Dia menghina namaku di depan seluruh klan Sisilia."

Aria menatap api yang menari di perapian besar. "Dia tidak akan berhenti sampai aku kembali padanya, atau sampai aku mati. Dia menganggapku sebagai bukti pengkhianatannya yang paling nyata."

Dante berdiri setelah petugas medis selesai. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke lembah. Di bawah sana, terlihat cahaya dari truk-truk pengangkut mayat yang mulai bergerak.

"Dia tidak akan mendapatkanmu, Aria. Tidak akan pernah," ucap Dante tanpa menoleh. "Tapi kita tidak bisa hanya bersembunyi di sini. Jika kita tetap di Sisilia, kita hanya akan menunggu serangan berikutnya yang lebih besar. Kita harus memutus kepala ular itu."

"Maksudmu... kita kembali ke Milan?"

"Tidak," Dante berbalik, matanya berkilat jahat. "Kita pergi ke sumber kekuatannya. Kita pergi ke New York. Kita akan menghadapi keluarga Lucchese di rumah mereka sendiri. Jika mereka kehilangan sekutu Amerika mereka, Julian Vane hanyalah seorang pecundang tua tanpa gigi."

Aria tertegun. New York adalah wilayah asing. Itu adalah langkah yang sangat berisiko. "Dante, itu adalah bunuh diri. Kita akan berada di wilayah mereka."

"Itu sebabnya kau akan ikut denganku," Dante mendekati Aria, duduk di kursi di sampingnya. "Bukan sebagai sandera, bukan sebagai istri yang bersembunyi. Tapi sebagai ujung tombakku. Kau bilang kau tahu celah hukum mereka. Kau tahu bagaimana ayahmu mencuci uangnya melalui Lucchese. Aku butuh otakmu untuk membekukan aset mereka, sementara aku akan membereskan sisanya dengan peluru."

Aria menatap Dante, mencari kepastian di wajah pria itu. "Kau benar-benar mempercayaiku? Setelah apa yang terjadi di gereja?"

Dante mengambil tangan Aria dan mengecup buku jarinya. "Malam ini, kau menunjukkan bahwa kau punya api Moretti di dalam dirimu. Kau tidak lari. Kau bertarung. Aku tidak butuh pelindung yang sempurna, Aria. Aku butuh pasangan yang bisa menatap maut tanpa berkedip di sampingku."

Aria merasakan getaran di hatinya. Ini adalah pertama kalinya Dante mengakuinya sebagai rekan, bukan sekadar properti. "Baiklah. Kita ke New York. Tapi aku ingin satu syarat."

"Apa?"

"Setelah semua ini selesai... setelah ayahku hancur... aku ingin kebebasanku. Aku ingin kita menjalani hidup tanpa harus selalu mengkhawatirkan siapa yang akan menembak kita dari belakang," ucap Aria.

Dante terdiam. Ia menatap Aria dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kesedihan yang mendalam di sana, seolah ia tahu bahwa permintaan Aria adalah sesuatu yang hampir mustahil di dunia mereka.

"Kebebasan adalah konsep yang mahal di dunia mafia, Aria," jawab Dante pelan. "Tapi aku berjanji padamu satu hal: Aku akan melakukan segala cara agar kau tidak perlu lagi memegang senjata kecuali kau sendiri yang menginginkannya."

Tiga hari kemudian, mereka mendarat di Bandara JFK, New York, dengan menggunakan paspor palsu. Mereka tidak menginap di hotel mewah; Dante memiliki sebuah penthouse rahasia di Brooklyn yang hanya diketahui oleh segelintir orang kepercayaannya.

New York di musim dingin terasa sangat berbeda dengan Sisilia. Angin yang membawa butiran salju menusuk hingga ke tulang. Aria berdiri di balkon penthouse, menatap cakrawala Manhattan yang berkilau. Ia merasa seperti berada di planet yang berbeda.

"Semuanya sudah siap?" tanya Aria saat Dante masuk ke ruangan dengan membawa beberapa berkas.

"Anak buahku di New York sudah mulai bergerak," jawab Dante. "Mereka sedang melacak keberadaan Salvatore Lucchese, kepala keluarga mereka. Dia adalah pria yang sombong dan sangat suka dengan kemewahan. Besok malam, dia akan mengadakan pesta gala di museum seni. Itu adalah kesempatan kita."

Aria mengambil berkas itu dan membacanya. "Pesta gala? Itu adalah acara publik. Kau tidak bisa menyerangnya di sana tanpa menarik perhatian FBI."

"Aku tidak akan menyerangnya dengan senjata," Dante tersenyum miring. "Kau yang akan menyerangnya. Kau akan masuk ke sana sebagai perwakilan dari firma hukum internasional. Kau akan menawarkan 'kerjasama' yang tidak bisa ia tolak, yang sebenarnya adalah jebakan hukum untuk membekukan seluruh aset pengiriman mereka di pelabuhan New Jersey."

Aria mempelajari skema yang disusun Dante. Ini adalah permainan tingkat tinggi. Ia harus bersikap sangat tenang dan meyakinkan di depan salah satu monster paling berbahaya di Amerika.

"Lalu di mana kau?" tanya Aria.

"Aku akan berada di bayang-bayang," jawab Dante. "Jika ada sesuatu yang salah... jika Salvatore mencoba menyentuhmu... aku akan memastikan museum itu menjadi tempat peristirahatan terakhirnya."

Malam pesta gala tiba. Aria mengenakan gaun malam berwarna merah darah yang sangat elegan, menonjolkan lekuk tubuhnya dan memberikan kesan otoritas yang tak terbantahkan. Ia mengenakan kalung berlian yang menyembunyikan mikrofon kecil dan pelacak GPS.

Di telinganya, ia bisa mendengar suara Dante yang tenang melalui earpiece yang sangat kecil.

"Kau terlihat sangat cantik, Aria. Ingat, kau adalah predator malam ini. Jangan biarkan dia melihat sedikit pun keraguan di matamu."

Aria masuk ke gedung museum yang megah itu. Musik klasik bergema, dan aroma parfum mahal serta sampanye memenuhi udara. Ia berjalan dengan anggun, menarik perhatian banyak pria di sana. Namun, tujuannya hanya satu: seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang sedang berdiri di tengah lingkaran orang-orang berpengaruh. Salvatore Lucchese.

Aria mendekat, membawa segelas sampanye. "Tuan Lucchese? Saya Aria Moretti. Saya rasa kita punya urusan yang harus dibicarakan mengenai kiriman dari pelabuhan utara Italia yang baru-baru ini... mengalami kendala."

Salvatore berbalik, matanya menyipit saat mendengar nama Moretti. Namun, saat ia melihat kecantikan Aria, senyum licik muncul di wajahnya. "Nyonya Moretti? Saya tidak menyangka Dante akan mengirim istrinya yang cantik untuk mengurus bisnis yang kotor."

"Dante tahu bahwa saya jauh lebih efektif daripada peluru dalam urusan tertentu," jawab Aria dengan senyum yang sangat manis namun dingin. "Bisakah kita bicara di tempat yang lebih pribadi? Saya rasa Anda tidak ingin orang-orang ini tahu bahwa lima puluh juta dolar aset Anda baru saja saya temukan celah hukumnya untuk disita oleh pemerintah federal."

Wajah Salvatore berubah sedikit pucat. Ia memberi isyarat kepada pengawalnya untuk menjauh, lalu membimbing Aria menuju balkon yang sepi.

"Apa maksudmu, Nyonya?" desis Salvatore.

Aria mengeluarkan sebuah tablet kecil dari tasnya dan menunjukkan beberapa dokumen digital. "Perusahaan cangkang yang Anda gunakan di Delaware? Saya sudah melacaknya. Begitu juga dengan koneksi Anda ke Julian Vane. Jika Anda tidak memutuskan hubungan dengan Julian malam ini juga dan menghentikan semua serangan terhadap Moretti, saya hanya perlu menekan satu tombol 'kirim', dan agen pajak akan berada di pintu rumah Anda dalam waktu satu jam."

Salvatore menatap dokumen itu, lalu menatap Aria dengan kemarahan yang meluap. "Kau pikir kau bisa mengancamku di kotaku sendiri?"

Ia mencengkeram lengan Aria dengan kasar. "Kau sangat berani, manis. Tapi kau lupa satu hal. Di sini, aku yang membuat hukum."

"Dan kau lupa satu hal lagi, Salvatore," suara Aria tetap tenang, meskipun ia merasa takut. "Aku tidak pernah datang sendirian."

Tiba-tiba, sebuah titik merah kecil muncul tepat di kening Salvatore. Titik dari pembidik laser penembak jitu.

Salvatore membeku. Ia menatap ke arah gedung di seberang museum.

"Dante sedang melihatmu sekarang," bisik Aria. "Lepaskan tanganku, atau keningmu akan meledak sebelum kau bisa berkedip."

Salvatore perlahan-lahan melepaskan cengkeramannya. Ia terengah, menyadari bahwa ia baru saja dikalahkan oleh wanita yang ia anggap remeh.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Salvatore parau.

"Berikan aku lokasi persembunyian Julian Vane di New York," jawab Aria. "Lalu serahkan semua jalur logistik yang ia gunakan padaku. Lakukan itu, dan dokumen ini akan hilang selamanya."

Salvatore tidak punya pilihan. Ia membisikkan sebuah alamat di daerah industri Queens.

Aria tersenyum puas. Ia berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Begitu ia keluar dari museum dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu, Dante sudah ada di sana.

Dante tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memegang tangan Aria dan meremasnya.

"Kita mendapatkannya, Dante," ucap Aria. "Ayah ada di Queens."

Dante menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan malam New York. "Malam ini, kita akan mengakhiri ini semua, Aria. Malam ini, Julian Vane akan belajar bahwa tidak ada tempat di dunia ini yang cukup jauh untuk bersembunyi dari amarah seorang Moretti."

Mobil itu melesat menuju Queens, membawa mereka menuju konfrontasi terakhir yang akan menentukan masa depan mereka. Aria menatap jemarinya sendiri. Ia tidak lagi gemetar. Ia telah menjadi bagian dari badai. Ia telah menjadi seorang Moretti yang sesungguhnya.

1
Nida Saefullah
kerenn....
awesome moment
tekad yg 👍👍👍
awesome moment
👍👍👍
Nida Saefullah
👍💪
fitri ani
luar biasa
Coldmaniac: terima kasihhh
total 1 replies
awesome moment
blm slesekan? kpn lanjutnya?
Coldmaniac: ditunggu yaaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!