Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Harga Sebuah Tamparan
"Tuan, tolong... biarkan saya yang menghadapinya," pinta Aira dengan suara gemetar saat mendengar nama ayahnya disebut. Wajahnya yang tadi mulai tenang kini pucat pasi.
Arkanza menatap Aira tajam. "Kau pikir pria serakah seperti dia bisa diajak bicara baik-baik? Dia bukan ayahmu, Aira. Dia monster yang baru saja menjualmu."
"Saya tahu! Tapi jika Anda yang turun tangan, segalanya akan semakin rumit. Media ada di mana-mana. Saya tidak ingin merusak reputasi Anda di hari pertama pernikahan kita," Aira memohon, matanya berkaca-kaca. "Beri saya waktu sepuluh menit. Tolong."
Arkanza diam sejenak, rahangnya mengeras. "Lima menit, Aira. Jika lebih dari itu, aku akan menggunakan caraku sendiri."
Aira turun ke lobi dengan langkah berat. Di sana, di tengah kemewahan marmer Malik Tower, Alan berdiri dengan pakaian kumal dan bau alkohol yang menyengat. Ia berteriak-teriak hingga para petugas keamanan kewalahan menahannya.
"Aira! Anak tidak tahu untung!" teriak Alan saat melihat putrinya. "Kau sudah jadi nyonya besar sekarang, hah? Kau tidur dengan orang kaya dan membiarkan ayahmu dikejar-kejar hutang?!"
Aira menarik ayahnya ke sudut lobi yang lebih sepi. "Ayah, hentikan! Aku sudah membayar hutangmu dua miliar kemarin. Berhenti melakukan ini!"
"Dua miliar itu tidak ada apa-apanya! Rentenir itu minta bunga lebih! Cepat, minta suamimu sepuluh... tidak, dua puluh miliar!" Alan mencengkeram bahu Aira dengan kasar.
"Aku tidak akan meminta sepeser pun lagi padanya! Pergi dari sini, Ayah!"
PLAKK!
Suara tamparan keras menggema di sudut lobi. Wajah Aira terlempar ke samping, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.
"Berani kau melawanku?!" bentak Alan. Ia menjambak rambut Aira, mencoba menyeret gadis itu menuju pintu keluar. "Kalau kau tidak bisa memberi uang, ikut aku sekarang! Broto masih menginginkanmu. Dia bilang dia akan memaafkan hutangku kalau kau kembali padanya!"
"Lepas! Sakit, Ayah! Lepaskan aku!" Aira berteriak histeris, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman ayahnya yang membabi buta.
"Diam kau! Kau itu asetku, kau milikku!"
"Dia bukan milikmu."
Suara itu rendah, dingin, dan membawa aura kematian.
Alan membeku. Belum sempat ia menoleh, sebuah tangan kekar sudah mencengkeram pergelangan tangannya yang sedang menjambak rambut Aira. Dengan satu gerakan cepat dan kuat, Arkanza memelintir tangan Alan hingga pria tua itu mengerang kesakitan dan melepaskan Aira.
"AAGHH! Tanganku! Lepaskan!"
Arkanza tidak melepaskannya. Ia justru menarik Alan mendekat, menatapnya dengan mata elang yang menyala-nyala karena amarah. Di belakangnya, puluhan pengawal berbaju hitam sudah mengepung area tersebut.
"Kau... baru saja menyentuh milikku dengan tangan kotormu?" desis Arkanza. Suaranya begitu tenang namun sangat mengerikan.
"T-Tuan Arkanza... saya ayahnya! Saya berhak atas dia!" Alan mencoba membela diri meski tubuhnya gemetar ketakutan.
Arkanza melirik ke arah Aira yang terduduk di lantai sambil memegang pipinya yang memerah. Melihat darah di sudut bibir istrinya, kendali diri Arkanza runtuh.
BUGH!
Satu pukulan mentah mendarat di perut Alan, membuat pria itu jatuh tersungkur dan memuntahkan isi perutnya. Arkanza mendekat, menginjak tangan Alan yang tadi digunakan untuk menampar Aira.
"Dengar, pria sialan," Arkanza menekan sepatunya kuat-kali. "Kemarin aku membelinya darimu. Itu artinya, kau sudah kehilangan hak asasi atas dirinya. Sedetik kau muncul lagi di depannya, aku tidak akan hanya mengirimmu ke penjara. Aku akan memastikan kau lenyap dari muka bumi ini tanpa jejak."
"Ma-maaf, Tuan... tolong lepaskan saya..." Alan merintih kesakitan.
"Reno!" panggil Arkanza tanpa mengalihkan pandangan dari Alan.
"Iya, Tuan."
"Serahkan pria ini ke polisi atas tuduhan penganiayaan dan pemerasan. Dan pastikan rentenir bernama Broto itu masuk ke sel yang sama dengannya. Aku ingin mereka saling menghancurkan di dalam sana."
"Baik, Tuan."
Para pengawal menyeret Alan keluar lobi seperti menyeret sampah. Suasana lobi menjadi hening mencekam. Arkanza berbalik, segera berlutut di depan Aira.
"T-Tuan Arkan... maafkan saya," bisik Aira sambil terisak.
Arkanza tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik Aira ke dalam pelukannya di depan seluruh karyawan yang menonton. Ia mengusap pipi Aira yang bengkak dengan ibu jarinya, wajahnya tampak sangat menyesal sekaligus murka.
"Aku sudah bilang, jangan pernah menghadapinya sendiri," ucap Arkanza, suaranya kini melunak namun tetap tegas. "Mulai sekarang, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu tanpa izinku. Siapa pun itu."
Arkanza menggendong Aira ala bridal style, membawanya kembali menuju lift pribadi. Ia tidak peduli lagi dengan citra CEO dinginnya yang hancur. Saat ini, yang ia tahu hanyalah: Istrinya terluka, dan hatinya terasa jauh lebih sesak daripada saat penyakitnya kambuh.
...****************...
Saat berada di dalam lift, Aira yang masih syok tiba-tiba memeluk leher Arkanza erat. Namun, Arkanza menyadari sesuatu. Ada sebuah mobil dengan kamera lensa panjang di seberang jalan yang memotret seluruh kejadian tadi. Dion tersenyum di dalam mobil itu. "Dapatkan fotonya. Kita akan buat berita utama besok: 'CEO Malik Group Menikahi Anak Buronan Judi dan Melakukan Kekerasan di Lobi'."