NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Setelah acara makan malam yang penuh tekanan itu berakhir, keluarga Bima Permana berpamitan. Arunika mengantar mereka sampai ke depan teras rumah. Di bawah remang lampu jalan, saat orang tua mereka sudah berjalan lebih dulu menuju mobil, Abimana sengaja memperlambat langkahnya.

​Ia menarik pergelangan tangan Arunika dengan gerakan cepat namun cukup halus agar tidak terlihat oleh orang tua mereka.

​"Apa yang kamu rencanakan, Arunika?" desis Abimana tepat di samping telinganya. Suaranya rendah, penuh dengan ancaman yang tertahan. "Mempercepat pernikahan ini sama saja dengan mempercepat nerakamu sendiri. Kamu pikir dengan begini aku akan melepaskan Claudia?"

​Arunika tidak meringis kesakitan. Ia justru menoleh, memberikan tatapan tenang yang sangat mengusik ketenangan Abimana.

​"Neraka?" Arunika mengulang kata itu dengan nada meremehkan. "Bagi saya, neraka adalah hidup dalam kebohongan. Dan saya hanya membantu Mas Abi untuk segera mengakhiri kebohongan ini di depan orang tua kita. Soal Claudia... simpan saja dia di sudut hatimu yang paling gelap, Mas. Karena di atas kertas dan di mata dunia, sayalah pemenangnya."

​Arunika melepaskan tangannya dari cengkeraman Abimana dengan sekali sentakan kuat. Ia merapikan lengan gaunnya yang sedikit berantakan.

​"Jangan lupa, Mas Abi." bisik Arunika lagi sebelum Abimana sempat membalas. "Besok kita ada jadwal fitting baju terakhir. Pastikan Mas Abi tidak telat menjemput saya ke kampus. Jangan sampai Ayah tahu kalau calon menantu kesayangannya ini lebih memilih menemui wanita lain daripada mengurus pernikahan kita."

​Abimana terdiam, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya terlihat jelas. Ia merasa seperti singa yang baru saja masuk ke dalam perangkap kancil yang cerdik.

​"Abi! Ayo cepat, sudah malam!" seru Bima dari depan mobil.

​Abimana menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam amarah yang membuncah. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan masuk ke dalam mobil. Dari balik kaca jendela yang gelap, ia menatap Arunika yang masih berdiri di teras sembari melambaikan tangan dengan senyum paling manis yang pernah ia lihat—senyum yang kini ia sadari adalah senjata paling mematikan milik gadis itu.

​Begitu mobil itu menghilang di belokan jalan, senyum Arunika memudar. Ia menyandarkan tubuhnya di pilar rumah, menghela napas panjang. Tekadnya sudah bulat.

​"Minggu ini." gumamnya pada langit malam. "Minggu ini hidupku akan berubah total. Dan aku akan pastikan, Abimana Permana tidak akan pernah bisa melupakan namaku seumur hidupnya."

​Setelah mengantar keluarga Abimana, kini Arunika memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.

​Arunika menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu menyandarkan punggungnya di sana. Keheningan kamar itu seolah menyergapnya, menggantikan keriuhan sandiwara yang baru saja ia mainkan di bawah. Perlahan, bahunya yang tadi tegak kini merosot.

​Ia berjalan gontai menuju meja rias, menatap bayangan dirinya di cermin. Riasan tipis yang membuatnya dipuji sepanjang malam itu kini terasa seperti topeng yang berat.

​"Melelahkan sekali." gumamnya lirih.

​Ia meraih kapas pembersih, perlahan menghapus warna di bibirnya. Pikirannya melayang pada ucapan Abimana di telepon tadi sore: 'Pernikahan ini hanya soal status.' Kata-kata itu berulang seperti kaset rusak di kepalanya, menyayat hatinya yang terdalam.

​Arunika menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. Menghadapi Abimana ternyata bukan hanya soal adu kecerdasan atau kekuatan mental, tapi hatinya juga harus siap menerima kenyataan pahit bahwa calon suaminya benar-benar mencintai wanita lain. Ada rasa sesak yang tak bisa ia jelaskan saat menyadari bahwa ia akan terikat seumur hidup dengan pria yang raganya ada bersamanya, namun jiwanya milik orang lain.

​"Andai saja aku punya pilihan untuk menolak." bisiknya pada bayangannya sendiri. "Aku tidak pernah ingin menjadi penghalang cinta siapa pun. Aku tidak ingin menikah hanya untuk menjadi pajangan di tengah perselingkuhan yang dilegalkan."

​Namun, saat air mata hampir jatuh, Arunika segera menyekanya dengan kasar. Ia teringat binar bahagia di mata ayahnya dan senyum lega di wajah ibunya malam ini. Mereka begitu bangga karena putri mereka akan menikah dengan pria "terhormat" pilihan mereka.

​"Tidak, Nika. Kamu tidak boleh lemah sekarang." ia menguatkan dirinya sendiri. "Jika cinta tidak bisa menjadi fondasi pernikahan ini, maka harga diri yang akan menjadi tiangnya. Aku tidak akan membiarkan Abimana menganggapku sampah yang bisa dia simpan di gudang sementara dia bersenang-senang di luar."

​Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Malam ini adalah malam terakhir ia bisa meratapi nasibnya. Mulai besok, ia harus kembali menjadi Arunika yang tajam, yang akan berjuang mempertahankan martabatnya di tengah badai perjodohan ini.

​Malam pun semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di kamar Arunika. Akhirnya, rasa lelah yang luar biasa—baik fisik maupun batin—memaksa kelopak matanya tertutup. Di tengah badai hati yang masih berkecamuk, Arunika jatuh ke dalam tidur yang lelap, seolah alam bawah sadarnya ingin memberinya jeda sejenak dari kenyataan pahit yang menanti di depan mata.

​Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, menyentuh wajah Arunika yang tampak tenang saat tidur. Namun, ketenangan itu langsung pecah saat alarm ponselnya berbunyi. Ia terbangun dengan kesadaran penuh bahwa hari ini adalah hari fitting baju terakhir.

​Arunika duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya yang berantakan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan keberanian baru. "Cukup untuk tangisan semalam. Hari ini, permainan dimulai lagi." bisiknya pada diri sendiri.

​Di lantai bawah, sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir di depan pagar. Abimana duduk di dalam mobil dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Ia sudah menunggu selama lima belas menit, dan kesabarannya mulai menipis. Ia terus melihat jam tangannya, lalu beralih menatap pintu rumah Arunika dengan tatapan tajam.

​Ting!

​Sebuah pesan masuk ke ponsel Abimana dari Claudia:

[Sayang, kamu di mana? Aku butuh bantuanmu di kampus hari ini.]

​Abimana baru saja hendak membalas saat pintu rumah terbuka. Arunika keluar dengan penampilan yang sangat segar. Ia mengenakan setelan blazer santai yang modis namun profesional, dengan rambut yang diikat kuda (ponytail) yang rapi, menonjolkan leher jenjangnya.

​Arunika berjalan perlahan menuju mobil, tidak terburu-buru meski tahu Abimana sudah menunggunya lama. Begitu ia masuk ke dalam mobil, hawa dingin langsung menyambutnya.

​"Kamu telat lima menit." ucap Abimana dingin tanpa menoleh, langsung menginjak gas.

​"Hanya lima menit, Mas. Jangan terlalu kaku. Toh, butiknya juga belum buka jika kita berangkat terlalu pagi." jawab Arunika santai sembari memakai sabuk pengaman.

​Abimana melirik ponselnya yang masih menyala dengan pesan dari Claudia yang belum terbalas. Arunika menyadari itu. Matanya menangkap nama "Claudia" di layar ponsel Abimana sebelum pria itu membaliknya dengan cepat.

​"Jika kamu merasa terbebani menjemputku karena ada janji lain, kamu bisa mengatakannya." sindir Arunika dengan nada tenang yang mematikan. "Aku bisa berangkat sendiri. Tapi jangan salahkan aku jika nanti di butik, aku mengatakan pada orang tuamu bahwa calon suamiku terlalu sibuk dengan 'urusan luar'."

​Abimana mencengkeram kemudi dengan sangat kuat. "Diamlah, Arunika. Kita ke butik sekarang, setelah itu aku ada urusan di kampus."

​"Urusan kampus... atau urusan Claudia?" tanya Arunika tanpa dosa, sambil mulai memoles lipstik di bibirnya.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!