Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 007 : Bermain Di Antara Tumpukan Orang Mati (SISI KELAM AOKIGAHARA)
Kegelapan di bawah tanah Jukai bukanlah kegelapan biasa. Ia terasa pekat, basah, dan memiliki berat yang seolah-olah hendak meremukkan paru-paru manusia.
Rombongan Keluarga Gautama jatuh berhimpitan setelah tanah di atas mereka amblas ditelan kemarahan hutan.
Mereka mendarat di atas permukaan yang tidak rata, terasa lunak namun rapuh, menimbulkan suara gemeretak yang mengerikan di tengah kesunyian bawah tanah yang menulikan.
"Aduhh... badanku rasanya mau rontok," erang Marsya sambil berusaha bangkit dalam keremangan.
Tangannya meraba lantai gua yang lembap, namun jemarinya justru masuk ke dalam lubang-lubang kecil yang ganjil dan rapuh.
Ia menarik tangannya dengan cepat saat merasakan tekstur kapur yang hancur di kulitnya.
Peterson, dengan sisa tenaga yang ada, meraih senter taktis di sabuknya. Begitu tombol ditekan, seberkas cahaya putih tajam membelah kegelapan, mengungkap kengerian yang selama ini disembunyikan oleh akar-akar pepohonan.
"Ya Tuhan... tempat apa ini?" bisik Peterson dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Detik itu juga, Melissa menjerit histeris hingga suaranya serak, sementara Rara jatuh terduduk kembali dengan wajah yang seketika kehilangan seluruh rona darahnya.
Mereka tidak jatuh di atas tanah atau batu lava. Mereka berada di atas gunungan tulang belulang manusia yang sudah menguning, tumpang tindih dalam jumlah yang tak terhitung, menciptakan sebuah bukit kematian di dalam perut bumi.
Di bawah sorotan senter, detail visual gua itu mulai terlihat lebih jelas dan menyakitkan. Di antara tengkorak-tengkorak yang retak, terselip barang-barang peninggalan duniawi yang membusuk dan menceritakan detik-detik terakhir pemiliknya.
Ada sepasang sepatu boot merah milik anak kecil yang solnya sudah lepas, sebuah tas ransel sekolah yang kini ditumbuhi jamur hitam pekat, hingga dompet kulit yang sudah hancur namun masih menyisakan selembar foto keluarga yang warnanya luntur dimakan kelembapan.
Bahkan, di sudut-sudut dinding gua, terlihat guratan-guratan kuku manusia pada batu lava yang keras—sebuah bukti bisu dari keputusasaan mereka yang mencoba memanjat keluar sebelum akhirnya tewas karena lemas atau kelaparan.
Tumpukan tulang itu terasa seperti rawa; semakin mereka bergerak, semakin dalam mereka terperosok ke dalam rongga-rongga rusuk dan tulang paha yang sudah rapuh.
"Kita berada di dalam kantong lava bawah tanah. Ini adalah lambung dari Jukai. Tempat di mana hutan ini mengumpulkan dan 'mencerna' mereka yang memilih untuk menyerah pada hidup. Ini adalah pemakaman tanpa nisan yang sengaja disembunyikan oleh bumi agar dunia tidak pernah tahu berapa banyak nyawa yang telah ia telan," ujar Mas Suhu dengan suara yang ditekan serendah mungkin.
Rachel berdiri paling depan. Postur tubuhnya tegak, namun jimat zamrud di lehernya kini berdenyut dengan warna hijau yang sangat gelap.
Ia bisa merasakan tekanan ghaib yang begitu besar hingga membuat dadanya sesak. Di samping Melissa, sosok Glenda muncul dengan pendar cahaya putih yang lembut namun dingin.
Glenda berdiri dengan wajah waspada, merentangkan tangannya membentuk barikade astral di sekeliling adiknya agar roh-roh jahat di tempat ini tidak bisa menyentuh sukmanya.
Tiba-tiba, suhu di dalam ruangan luas itu turun secara ekstrem. Uap napas mereka keluar dengan tebal, membeku di udara yang mendadak berbau besi dan anyir.
Dari sudut-sudut gua muncul ratusan sosok Yurei—hantu-hantu penasaran Jepang. Mereka muncul bukan dengan suara, melainkan seperti kabut yang memadat. Sosok-sosok itu mengenakan Kyokatabira (kimono putih pakaian pemakaman) yang compang-camping dan dipenuhi noda tanah.
Kepala mereka miring ke samping dengan sudut yang mustahil, sementara tangan-tangan pucat mereka memegang mangkuk porselen berisi cairan hitam pekat yang bergolak.
"Rachel... mereka menutup jalan keluar!" bisik Rara dengan bibir bergetar sambil menunjuk ke langit-langit gua yang kini telah tertutup rapat oleh jalinan akar pohon hitam yang bergerak melilit, seolah-olah bumi baru saja menjahit lukanya sendiri dengan benang-benang kayu yang kuat.
Di tengah kepungan massa astral yang menyesakkan itu, Marsya tiba-tiba tersungkur. Tubuhnya bergetar hebat, matanya mendelik putih hingga hanya menyisakan bagian sklera yang mengerikan.
"Asu! Mbak, jaga aku! Setan cakar mulai masuk di aku!" teriak Marsya untuk terakhir kalinya sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam.
Seketika, Marsya tidak lagi berbicara. Kesadarannya sebagai manusia terkunci rapat di sudut batinnya.
Khodam cakar miliknya mengambil alih raga itu dengan cara yang sangat brutal. Tubuh Marsya melengkung ke belakang dengan bunyi sendi yang berderak mengerikan, lalu ia jatuh dalam posisi merangkak bak binatang kaki empat.
Ia tidak lagi berdiri. Dengan gerakan yang sangat liar dan predatoris, Marsya mulai mengendus-endus udara dengan gerakan kepala yang patah-patah.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, hanya erangan rendah yang keluar dari tenggorokannya yang terdengar sangat lapar.
"Grrr... hrrkkkk... khh..."
Suara itu lebih mirip gesekan batu dengan daging basah daripada suara manusia. Gerakannya sangat cepat, meluncur di atas tumpukan tulang dengan gaya predator yang haus darah.
Ia tidak menggunakan senjata, melainkan jemarinya yang kini diperkuat energi astral hingga mampu mencabik manifestasi para Yurei seolah-olah mereka hanyalah kertas basah.
Marsya melompat ke dinding, merangkak di langit-langit gua dengan kekuatan yang tidak masuk akal, lalu menerjang turun ke arah gerombolan hantu putih tersebut.
"Ikuti Marsya! Dia sudah mengunci bau Tuan Sato di dalam labirin ini!" perintah Rachel.
Sambil berlari menembus tumpukan tulang, Rachel dan Rara membiarkan mata batinnya terbuka lebar.
Di tempat ini, ia mulai melihat narasi sejarah kelam yang terukir di tiap jengkal batu lava. Ia melihat kilasan memori ratusan tahun silam, saat Jepang dilanda kelaparan hebat yang dikenal sebagai zaman Tenmei.
Dalam penglihatannya, Rachel menyaksikan praktik Ubasute yang menyayat hati. Ia melihat seorang anak laki-laki dengan pakaian compang-camping, menggendong ibunya yang sudah renta dan buta menembus lebatnya hutan ini.
Sang ibu, meski tahu ajal menjemput di tangan anaknya sendiri, tetap mematahkan ranting-ranting pohon di sepanjang jalan. Bukan untuk menyelamatkan dirinya, melainkan agar sang anak tidak tersesat saat pulang nanti.
Namun, kasih sayang itu dibalas dengan ditinggalkannya sang ibu sendirian di dalam celah lava yang dingin ini tanpa makanan, hanya ditemani suara angin Jukai yang melolong.
Tak hanya para lansia, Rachel juga melihat bayangan bayi-bayi yang ditinggalkan di celah batu karena orang tua mereka tak mampu lagi memberi makan.
Penderitaan, rasa dikhianati, dan keputusasaan luar biasa itulah yang menjadi nutrisi bagi Jukai.
Tanah lava ini menolak menyerap darah, membuat energi rasa sakit itu tetap menguap dan terjebak di bawah kanopi pohon, menciptakan entitas predator ghaib yang haus akan nyawa baru setiap tahunnya sebagai bentuk balas dendam kolektif atas ketidakadilan masa lalu.
"Ikitakunai... Samui yo..."
(Aku tidak ingin mati... Dingin sekali...)
Bisikan itu merambat di dinding gua, memenuhi telinga setiap anggota tim Gautama dengan rasa sedih yang mencekik.
Melissa menangis sambil memeluk Glenda yang terus memberikan energi ketenangan lewat sentuhan astralnya.
"Itu dia!" seru Rachel saat cahaya senternya mengenai ujung lorong.
Di sana, Tuan Sato tampak dalam kondisi menyedihkan, terlilit akar pohon hitam yang tumbuh dari dinding gua seolah-olah dia adalah bagian dari struktur batu tersebut.
Sosok-sosok roh anak kecil tanpa wajah sedang mencoba menyuapkan cairan hitam dari mangkuk ke mulut Tuan Sato yang sudah membiru.
"Marsya, tahan mereka!" perintah Rachel dengan suara lantang.
Marsya yang sedang merangkak dengan beringas langsung menerjang. Dia melompat ke tengah-tengah kerumunan hantu anak kecil itu dalam posisi merangkak kaki empat, mencakar udara dengan gerakan yang sangat kasar dan liar.
"GRRRRRAAAAWRRR!"
Erangannya semakin keras, sebuah peringatan brutal bagi siapa pun yang mencoba mendekat.
Tubuhnya bergerak ke sana kemari dengan kelincahan binatang buas, memastikan tak ada satu pun roh yang bisa menyentuh Rachel saat ritual pembebasan dimulai.
Rachel segera berdiri tepat di depan Tuan Sato yang sudah tak sadarkan diri. Ia mengambil sejumput tanah makam keramat dan garam suci dari sakunya.
"Nyai Ratu... kulo nyuwun pitulungan," bisik Rachel dengan khusyuk.
(Nyai Ratu... Saya minta pertolongan?)
Cahaya hijau meledak dari tubuh Rachel, menyapu ruangan gua dengan getaran "pengampunan" yang sangat murni.
Akar-akar hitam yang melilit Tuan Sato mendadak melonggar, menghitam, dan melepaskan cengkeramannya seolah terbakar matahari yang menyengat. Tuan Sato jatuh lunglai ke pelukan Peterson.
Di saat yang sama, arloji perak di tangannya terlepas, jatuh ke lantai batu, dan hancur berkeping-keping. Seketika itu juga, suara detakan jam yang menghantui mereka berhenti total. Hening.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat. Gua itu mulai bergetar hebat. Jukai marah karena mangsanya dicuri secara paksa.
Langit-langit gua mulai retak, menjatuhkan debu tulang dan bongkahan batu lava yang besar.
"Lari ke atas! Marsya, buka jalan keluar sekarang juga!" teriak Rachel.
Marsya, yang masih dalam kondisi kesurupan brutal dan merangkak, melompat ke arah langit-langit yang dipenuhi jalinan akar.
Dengan kekuatan fisik yang meningkat drastis berkat energi khodamnya, ia menghantam langit-langit itu berkali-kali menggunakan punggung dan bahunya, menubruk akar-akar keras itu dengan cara yang sangat beringas.
BRAKKKK!
Akar-akar raksasa itu hancur berantakan karena benturan keras dari raga Marsya yang sudah diambil alih. Cahaya bulan purnama yang dingin masuk menembus lubang tersebut.
Peterson segera memanjat lebih dulu sambil menggendong Sato, disusul oleh Cak Dika yang menarik Melissa dan Rara. Albert, Barend, dan Glenda melayang di sisi mereka, mengamati pergerakan energi yang masih berusaha menarik kaki rombongan.
Begitu mereka semua berhasil keluar dan menginjakkan kaki di rumput hutan yang basah, lubang gua itu menutup dengan sendirinya, seolah-olah bumi Jukai yang lapar baru saja menutup mulutnya kembali.
Tuan Sato bernapas tersengal-sengal di atas lumut. Rachel menoleh ke arah kegelapan hutan yang kini tampak lebih tenang.
"Misi selesai. Ayo pergi dari tempat terkutuk ini sebelum ia berubah pikiran," gumam Rachel sambil menyeka peluh di dahinya yang pucat.
Marsya perlahan kembali ke kesadaran normalnya. Tubuhnya lunglai dan jatuh tersungkur di atas tanah. Ia merintih kesakitan saat kesadarannya pulih sepenuhnya.
"Hancik mbak, awakku remek Kabeh rasane! Ora kuat aku ngadek Iki!"
(Sialan mbak, badanku hancur semua rasanya! Tidak kuat aku berdiri ini!) keluh Marsya dengan logat Jawa Timuran yang kental.
Wajahnya tampak kuyu, dan ia memegangi punggungnya yang pegal luar biasa akibat benturan fisik yang ia lakukan saat dirasuki tadi. Mendengar keluhan adik sepupunya itu, tawa renyah kecil keluar dari bibir Cak Dika.
"Kakehan polah sih kowe, Nduk!" sahut Cak Dika.
(Kebanyakan tingkah sih kamu, Nduk)
Tanpa banyak bicara, Cak Dika segera mendekat dan membungkuk, memberikan punggungnya. Dengan gerakan sigap, ia menggendong tubuh Marsya yang sudah tak berdaya itu.
Rombongan Keluarga Gautama pun melangkah pergi meninggalkan jantung hutan Aokigahara, menembus kabut yang mulai menipis menuju gerbang masuk di mana kehidupan kembali menunggu mereka.
..._______...
...Roh Yurei...
...Pada masa lampau, Ubasute dilakukan di hutan, tepatnya di kaki Gunung Fuji, yakni di Hutan Aokigahara, dikenal juga sebagai tempat masyarakat Jepang yang menyudahi hidup. Sehingga pada masa itu, penduduk Jepang mengenal istilah Ubasuteyama, yang berarti membuang orang tua ke gunung....
...Hutan Aokigahara ...