Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Istri Juragan Sastro
#22
Diperjalanan, Rayyan menyalakan laptopnya, untung saja ia punya ponsel cadangan sebagai sumber Internet yang ia butuhkan sepanjang perjalanan. Dan ponselnya yang hilang telah di pasang fitur khusus yang terhubung dengan laptopnya, bila suatu saat ada kejadian tak diinginkan seperti saat ini, dirinya bisa mendeteksi lokasi benda tersebut.
Ini bukan perkara ponsel yang bagi Rayyan harganya tak seberapa, dan bukan soal Rayyan pelit. Tapi demi mendisiplinkan adik iparnya, mengajarkan padanya tentang apa arti kerja keras dan tanggung jawab.
Andai sikap Arimbi lebih baik, lebih sopan, dan mau membantu meringankan beban pekerjaan Lilis. Tentu Rayyan dengan senang hati akan membayar biaya sekolahnya, sampai lulus kuliah, bila perlu.
Tapi karena Arimbi dan Bu Saodah sama-sama malas, alih-alih membantu, mereka justru memanfaatkan Lilis, bahkan menawarkan Lilis pada untuk seorang duda, seolah Lilis hanyalah barang dagangan tidak berharga. Maka mereka berdua gak bisa dibiarkan.
“Pelan-pelan jalannya, Pak. Lokasi ponselnya sudah dekat,” pinta Rayyan ketika melihat kedipan tanda merah di layar laptop nya semakin cepat. Yang berarti lokasi benda tersebut tak jauh lagi.
Dan benar saja, mereka tiba di sebuah counter yang menjual berbagai merek ponsel dari mulai second, hingga yang masih bersegel. Rayyan mengamati counter tersebut, sepertinya cukup besar dan mungkin satu-satunya yang terlengkap di area ini.
“Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kami bantu? Kami menerima jual, beli, tukar tambah, bahkan jastip, atau PO jika barang pesanan Anda belum keluar di pasaran.”
Rayyan disambut seorang pramuniaga counter, wanita itu menunjukkan selembar poster ukuran kertas folio yang berisi daftar harga serta merk ponsel yang di jual di sana.
“Aku mau ponsel second.”
“Silahkan ikuti saya.”
Rayyan dibawa ke sebuah etalase tempat banyak ponsel second berjajar, dan Rayyan tak menemukan ponselnya di sana.
“Aku mau ponsel—” Rayyan menyebutkan merek serta nomor seri ponselnya yang hilang. Gunanya untuk memancing sang pramuniaga mengeluarkan ponsel yang mungkin saat ini sedang diutak atik orang.
“Mmm, sebentar, saya tanyakan dulu sama pemilik toko.”
“Iya, silahkan.”
Sambil berkeliling counter, Rayyan menyelipkan kedua telapak tangannya di saku celana jeans nya. Tak ada yang menarik, hanya saja tempat itu mungkin terlihat wah bagi orang-orang desa. Tapi bagi orang kota seperti Rayyan, apalagi yang sudah melek teknologi telekomunikasi, tempat itu tak ada apa-apanya.
Karena baginya, ponsel adalah alat, untuk mempermudah dirinya melakukan pekerjaan kapanpun dan dimanapun.
“Pak, ini bos saya.”
Rayyan menoleh, melihat seorang pria berkacamata, dan tepat seperti dugaannya pria itu tengah membawa beberapa ponsel seri yang Rayyan inginkan, termasuk ponselnya.
Rayyan mengambil benda pipih kesayangannya tersebut, kemudian mulai menginterogasi si pemilik counter.
“Bapak juga menerima barang curian?”
“Sembarangan, jangan asal, ya!” elak pria pemilik counter.
“Jika tidak, kenapa ponselku ada di counter Anda.”
Pria itu terbelalak, kemudian merampas ponsel yang baru saja berpindah ke tangannya beberapa jam yang lalu. “Kalau tak ada niat membeli, pergi saja dari sini,” usir pria itu.
“Baik, dengan senang hati, tapi jangan salahkan aku bila nanti polisi akan datang kemari dan menangkap Anda, karena sudah penadah barang curian.”
“Mana buktinya?”
“Itu, di tangan Anda adalah ponselku. Mau bukti lain?”
Tanpa menunggu persetujuan, Rayyan menyalakan ponsel tersebut, kemudian membuka kunci layar dengan menggunakan deteksi wajahnya. “Sudah percaya?”
“Tapi kami membelinya dari seseorang, bukan mencurinya!”
“Iya, aku tahu, aku akan memberimu harga lebih daripada uang yang kau bayarkan pada orang yang menjual benda ini. Tapi dengan syarat.”
“Apa syaratnya?”
Rayyan membisikkan sesuatu di telinga pria itu, “Baik, akan saya siapkan.”
•••
Sementara itu, di rumah Lilis, wanita itu menghabiskan beberapa jamnya bersama Rosa. Saat ini Lilis ada di ruang tengah menemani Rosa ngobrol santai dengan ditemani acara TV.
“Lis, ada beberapa barang yang harus kamu simpan di kulkas, takutnya nanti rusak,” kata Rosa, karena Lilis terlihat anteng tidak membongkar barang bawaan yang ia bawa dari kota.
“Memang barang apa, Nyonya?”
Akhirnya Rosa sendiri yang membongkar barang-barang yang ia bawa untuk Lilis, bahan makanan kering, bahan makanan mentah serta beberapa makanan siap santap.
Lilis terbelalak, setelah melihat semua yang Rosa bawa untuknya. “Nyonya, kenapa membawa banyak sekali makanan? Siapa yang akan menghabiskannya?”
“Gak usah sok, Lis, terima saja,” cetus Bu Saodah. “Setidaknya walau tak kasih uang, Nyonya Bos suamimu membawa banyak makanan,” kata Bu Saodah tanpa rasa malu sedikitpun.
Meski tak menyukai kehadiran Rosa, Bu Saodah senang karena wanita itu membawa banyak makanan lezat, bahkan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ternyata nyonya bos ini bukan tipe orang yang pelit. “Kalau kamu tak mau, nanti ibu bawa untuk Teman-teman karaoke Ibu.”
Lilis tersenyum, namun, merutuk dalam hati, malu dengan tingkah ibunya. Sejujurnya ia malu pada nyonya bos. “Eh, I-iya, Bu.”
“Nyonya, Maafkan Ibu saya,” bisik Lilis.
“Tak apa-apa,” jawab Rosa paham. “Oh, iya. Umur kamu berapa, sekarang?”
Rosa tak peduli dengan Bu Saodah, karena tujuannya datang, hanya untuk berkenalan dengan Lilis.
“Saya baru 20 tahun, Nyonya.”
“Baru 20 tahun, ya. Tapi sudah janda?” selidik Rosa.
“Dari mana Nyonya tahu?” tanya Lilis kaget.
“Rayyan yang cerita, tak perlu kaget begitu, dia hanya bilang menikah dengan janda. Tidak lebih tidak kurang.”
Wajah Lilis lega setelah mendengar penjelasan Rosa.
“Sebelumnya pernah kerja, di pabrik atau dimana gitu?” sambung Rosa, karena masih ada banyak hal yang sangat ingin ia ketahui terutama tentang karakter Lilis yang sebenarnya.
Lilis menggeleng, “Tidak pernah, Nyonya. Dilarang sama almarhum Bapak.”
“Makanya, dia seperti katak dalam tempurung, tak tahu dunia di luar desa ini.” Lagi-lagi Bu Saodah ikut menimpali, hingga lama kelamaan Rosa pun paham dengan karakter wanita itu.
“Benar begitu, Lis?”
Lilis tersenyum pahit, entah mengapa takdirnya hanya terkurung di desa ini. Kini ia sedikit memiliki harapan bahwa suaminya kelak, akan membawanya keluar dari tempat ini. Bukan karena Lilis tak menyukai desa kelahirannya, tapi suatu saat, Lilis juga ingin keluar dan menghirup udara segar di luar desa.
Bagi Bu Saodah, Lilis kampungan, karena tak pernah mau mengais rezeki di kota. Tapi Rosa punya pandangan lain, yaitu bakti dan kepatuhan, kendati almarhum Pak Sumartono sudah lama berpulang.
Bahkan Lilis masih saja menafkahi ibu dan adik tirinya, kendati sikap dan sifat mereka amat menjengkelkan. Begitulah kesan Rosa pada Bu Saodah dan Arimbi, walau baru beberapa jam berkenalan.
“Nanti, sesekali, minta Rayyan untuk jalan-jalan keluar dari desa ini.”
“Amin, doakan ada rezekinya, Nyonya.”
“Pasti.”
“Lalu, aktivitasmu sehari-hari apa?”
“Saya punya warung kopi kecil di dekat peternakan kambing milik Anda, Nyonya. “
Rosa kembali menerawang, mengingat-ingat semua instruksi Rayyan, agar mau terjun dalam penyamaran. “Ah, iya-iya, aku ingat,” jawab Rosa asal, karena ia justru belum pernah melihat letak lokasi peternakan atau warung kopi milik Lilis.
Beberapa saat kemudian.
“Assalamualaikum!” ucap seseorang di luar rumah, suaranya lantang seperti sedang berada di tengah ladang.
Lilis melongok keluar rumah, “Waalaikumsalam,” jawab Lilis.
Rupanya, yang datang adalah Bu Wardah, istri pertama Juragan Sastro. “Lis, mana ibumu?!”
“Ada, Bu. Sebentar saya panggilkan. Mari, silahkan masuk, Bu.” Dengan sopan Lilis mempersilahkan Bu Wardah masuk kedalam ruang tamu.
“Maaf, Nyonya, kami ada tamu.”
“Tidak apa-apa, sambut saja, aku tak akan ikut campur,” sahut Rosa santai, wanita itu pun pilih menyingkir sejenak, padahal telinganya ia pasang baik-baik, agar bisa ikut mendengar apa yang tengah terjadi.
“Eh, Bu Wardah—” sapa Bu Saodah, berpura-pura ramah, padahal ia sedang menyembunyikan kekalutan hatinya, karena belum memiliki uang untuk pengganti.
“Gak usah basa-basi! Kembalikan uang pinalti-nya!”
“O-oh, e-eh, ini, anu, gimana kalau kita bicarakan baik-baik,” kata Bu Saodah gugup bukan kepalang.
“Tidak ada bicara baik-baik! Kamu kembalikan uang itu, atau anakmu yang satunya yang harus jadi pengganti Lilis.”
“Lis, bagi duitnya, dong, kan kamu baru dapat uang dari suamimu. Apa kamu tega pada ibu dan adikmu?” bisik Bu Saodah, nampaknya tembok di wajahnya benar-benar tebal, alias sama sekali tak punya malu.
Setelah mengejek, menghina, dan meremehkan Rayyan, kini ia masih meminta uang pemberian Rayyan untuk Lilis.
“Nggak, Bu. Itu amanah Mas Ray, aku tak boleh memberikannya pada siapapun,” tolak Lilis sesuai pesan suaminya, walau sebenarnya hatinya tak tega pada ibu dan adik tirinya.
Namun, Bu Saodah tak mengindahkannya, ia justru menarik kantong pakaian Lilis, karena tahu jika uang pemberian Rayyan masih tersimpan di sana. “Sini uangnya!”
“Jangan, Bu! Nanti Mas Rayyan marah,” cegah Lilis kedua tangannya tetap berusaha melindungi nafkah pemberian suaminya.
“Ah, nanti kamu rayu lagi dia, minta uangnya, kalau tak ada suruh dia jual hapenya, Arimbi bilang, harga hapenya saja 40 juta!”
“Tetap tidak, Bu.”
Terjadilah adegan tarik menarik, hingga pakaian Lilis robek, karena Bu Saodah menariknya sekiat tenaga. Kali ini Rosa tak bisa tinggal diam, wanita itu berdiri dan mencengkram lengan Bu Saodah dengan kekuatan penuh.
Bu Saodah meringis, karena tenaga Rosa ternyata luar biasa, lengannya tak hanya sakit, tapi Rosa langsung memutarnya hingga ke punggung Bu Saodah sendiri. “Lilis sudah menolak, sudah pula menyertakan alasannya. Tapi kenapa Anda tetap memaksa?” tanya Rosa geram.
“Diam kamu! Jangan ikut campur urusan keluarga ini!”
“Jika menyangkut Rayyan, itu juga menjadi urusanku, karena dia anak buahku. Tapi urusanmu dangan wanita itu, aku tak peduli.”
Rosa berpaling menatap Bu Wardah yang datang bersama dua orang pria. “Bu, wanita ini berhutang?”
“Kurang lebih begitu.”
“Bawa saja dia, daripada menyusahkan orang lain, suruh bekerja di rumah Anda, sampai hutangnya lunas!” ujar Rosa penuh solusi.
“Apa?!” pekik Bu Saodah kaget, tak mengira bahwa kini dirinya yang dijadikan alat tukar menukar.
“Ide bagus, terima kasih, Bu.”
Bu Wardah memberi kode pada dua pria yang datang bersamanya agar menyeret Bu Saodah.
“Lepaskan! Apa yang kalian lakukan!” teriak Bu Saodah ketika berjalan paksa melewati pintu rumah. “Lis! Apa kamu tega pada Ibumu? Hah?!”
Namun Lilis tak peduli, walau sedih ia merasa sedikit lega, karena bisa terbebas dari orang yang selama ini membebani hidupnya.
Sepanjang jalan, Bu Saodah menjadi tontonan warga, namun wanita itu tak lelah mengeluarkan sumpah serapah pada anak tirinya yang gagal ia jadikan alat pengeruk uang.
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭