NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-5

Matahari sudah mulai condong ke barat, memancarkan warna oranye yang memantul di kaca gedung-gedung tinggi Jakarta. Namun, di sebuah gang sempit di kawasan Jakarta Barat, suasana terasa jauh lebih gerah dan sesak.

Gery dan Bimo tampak sangat mencolok. Gery mengenakan kemeja motif bunga-bunga dengan kacamata hitam yang ia sangkutkan di kerah, sementara Bimo tetap dengan gaya formalnya, kemeja biru langit tanpa dasi yang lengannya digulung hingga siku.

"Bim, serius ini alamatnya? Gila, ini mobil gue kalau dipaksa masuk, bisa lecet semua body-nya kena jemuran warga," keluh Gery sambil menatap ragu ke arah gang yang lebarnya tak sampai dua meter.

Bimo menghela napas, ia menyandarkan tubuhnya di kap mobil. "Makanya gue bilang, parkir di depan minimarket tadi aja. Lo sih, gaya-gayaan mau pamer mobil sport di sini."

"Ya kan gue pikir gangnya nggak se-ekstrem ini, Bim! Ini mah kalau ada kucing papasan aja harus ada yang ngalah," gerutu Gery lagi. "Terus sekarang gimana? Kita jalan kaki?"

"Ya jalan kaki lah, masa mau ngesot? Ayo, mumpung belum terlalu gelap," ajak Bimo sambil mulai melangkah masuk.

Sepanjang jalan, mereka menjadi pusat perhatian. Ibu-ibu yang sedang duduk di depan teras sambil menyuapi anak mereka berhenti bergerak, menatap dua pria asing yang tampak seperti salah alamat tersebut.

"Permisi, Bu. Mau tanya, rumah Mbak Elisa yang kurir makanan itu sebelah mana ya?" tanya Bimo dengan nada sangat sopan dan senyum ramah.

Seorang ibu dengan daster batik menunjuk ke arah ujung gang. "Oh, si Lisa? Itu Mas, yang catnya warna ijo kupas, yang pintunya ada stiker Upin-Ipin nya. Ada apa ya Mas? Elisa ada buat masalah kah?"

"Nggak ada apa-apa, Bu. Kami dari kantornya, mau nganterin barang yang ketinggalan," jawab Bimo cepat.

Gery berbisik pelan saat mereka sudah menjauh dari ibu tersebut. "Pinter juga lo bohong, Bim. Gue tadi hampir mau bilang kalau kita mau lamar dia buat si bos."

"Mulut lo dijaga, Ger. Ini urusan sensitif," bisik Bimo tajam.

Di Depan Rumah Elisa, Saat mereka sampai, pintu rumah hijau itu tertutup rapat. Hanya terdengar suara samar-samar anak kecil yang sedang menghafalkan perkalian.

"Dua kali delapan... enam belas. Dua kali sembilan... delapan belas," suara Aris terdengar dari dalam.

Gery mengetuk pintu pelan. Tok... tok... tok...

"Permisi... Elisa?"

Hening sejenak, lalu terdengar langkah kaki mendekat. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Elisa yang tampak sangat pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur sama sekali sejak kejadian semalam.

Begitu melihat dua pria yang asing baginya, Elisa langsung tampak waspada. "Cari siapa ya?"

Bimo maju selangkah agar suaranya lebih lembut. "Selamat sore, Elisa. Saya Bimo, dan ini teman saya, Gery. Kami... kami temannya pria yang semalam di hotel."

Mendengar kata hotel, wajah Elisa yang sudah pucat menjadi semakin putih seperti kertas. Ia langsung mencoba menutup pintu, namun Gery dengan sigap menahannya dengan kaki.

"Eh, eh! Jangan ditutup dulu, Lis! Kita nggak jahat, suer deh! Kita cuma mau ngomong bentar aja,” ujar Gery dengan nada memohon.

"Pergi! Saya nggak mau ada urusan sama kalian! Pergi!" suara Elisa bergetar hebat. Ia sangat ketakutan.

"Lis, dengerin dulu," Bimo bicara dengan nada rendah dan menenangkan. "Pria semalam itu, namanya Kalandra. Dia benar-benar menyesal. Dia nggak sadar karena dijebak orang jahat. Kami ke sini bukan mau mengancam, kami cuma mau pastiin kamu baik-baik saja."

"Baik-baik saja?" Elisa tertawa getir, meski air mata mulai menggenang. "Kalian pikir setelah apa yang dia lakukan, saya bisa baik-baik saja? Tolong... pergi dari sini. Saya nggak mau adik saya denger."

"Kak? Siapa yang dateng?" Aris muncul dari balik punggung Elisa, menatap Gery dan Bimo dengan rasa ingin tahu.

Gery langsung berubah mode menjadi paman yang ramah. "Eh, halo jagoan! Ini... kita temen kerjanya Kak Elisa. Mau nganterin... anu... bonus! Iya, bonus karena Kak Elisa kerjanya rajin banget!"

Aris matanya berbinar. "Bonus? Wah, Kakak dapet uang banyak ya?"

Elisa merangkul bahu adiknya dengan protektif. "Adek, adek masuk dulu ya. Kakak mau ngomong sama tamu ini sebentar di depan."

"Tapi Kak….”

"Masuk, Aris," perintah Elisa tegas namun lembut.

Setelah Aris masuk, Elisa kembali menatap dua pria itu dengan tatapan penuh luka. "Mau kalian apa sebenarnya? Kalau kalian mau kasih uang tutup mulut, saya nggak butuh. Bawa pergi uang kalian."

Bimo menghela napas. "Kalandra nggak bermaksud menghina kamu dengan uang, Elisa. Dia cuma ingin tanggung jawab. Dia ingin bertemu kamu."

"Saya nggak mau ketemu dia," potong Elisa cepat. "Kasih tahu temen kalian itu... saya nggak bakal lapor polisi, saya nggak bakal tuntut apa-apa. Saya cuma mau dia anggap kejadian semalam nggak pernah ada. Jangan pernah cari saya lagi."

"Tapi Lis….” Gery mencoba menyela.

"Pergi, atau saya teriak minta tolong ke warga!" ancam Elisa.

Melihat kondisi mental Elisa yang sangat tidak stabil, Bimo menarik lengan Gery. "Oke, oke. Kami pergi. Tapi tolong, simpan kartu nama saya ini. Kalau kamu butuh apa-apa, atau kalau kamu merasa ada yang salah dengan kesehatan kamu... hubungi saya. Tolong ya?"

Bimo menyelipkan kartu nama di celah pintu karena Elisa menolak menerimanya. Elisa langsung menutup pintu dengan keras dan menguncinya rapat-rapat.

Di Dalam Mobil Gery menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil sambil menghela napas panjang. "Gila, Bim. Kasihan banget tuh cewek. Mana adiknya masih kecil gitu. Gue ngerasa jadi penjahat cuma gara-gara berdiri di depannya."

Bimo menghidupkan mesin mobil. "Gue juga. Tapi respon dia udah bisa ditebak. Dia trauma berat, Ger. Dia nganggep Kalandra itu monster."

"Terus kita bilang apa ini ke si Kalandra? Tuh anak pasti lagi nungguin kita di kantor kayak orang kebakaran jenggot," tanya Gery.

"Kita bilang saja yang sejujurnya. Dia nggak mau ketemu, dan dia nggak mau uang. Walau Itu bakal bikin Kalandra makin ngerasa bersalah, tapi itu emang kenyataannya," sahut Bimo.

🥀🥀

Tiga minggu Kemudian setelah kejadian malam itu. Kehidupan Elisa kembali ke rutinitas, namun ada yang berbeda. Ia menjadi lebih pendiam. Setiap kali melihat pria tinggi dengan aroma parfum yang mahal di jalan, jantungnya berdegup kencang karena takut.

Pagi itu, Elisa sedang menyiapkan sarapan untuk Aris. Bau nasi goreng yang biasanya harum, tiba-tiba terasa sangat menyengat dan amis di indra penciumannya.

"Ugh..." Elisa menutup mulutnya, berlari ke kamar mandi.

Huekk... huekk...

Hanya cairan bening yang keluar karena perutnya memang kosong. Aris yang sedang memakai sepatu langsung menghampiri.

"Kak, kakak kenapa? Kakak sakit lagi?" tanya Aris cemas. Beberapa minggu ini, ia sering melihat kakaknya lesu dan menjadi pendiam.

Elisa membasuh wajahnya, mencoba tersenyum di depan cermin meski wajahnya sangat layu. "Kakak nggak apa-apa, Sayang. Mungkin Kakak cuma masuk angin karena kemarin kehujanan pas nganter paket."

"Kakak jangan capek-capek ya. Nanti kalau Aris udah gede, Aris yang kerja saja biar Kakak istirahat aja di rumah," ucap Aris tulus.

Elisa memeluk adiknya erat. "Makasih ya, sayang. Sudah, ayo habiskan sarapannya, nanti kamu telat."

Namun, di dalam hatinya, Elisa mulai merasa takut. Ia teringat percakapan teman-temannya di tempat kerja dulu tentang tanda-tanda kehamilan. Ia menghitung siklus bulanannya di kalender kecil di balik pintu.

"Harusnya sudah lewat tiga hari..." bisiknya pelan. Tangannya bergetar hebat. "Nggak... nggak mungkin. Cuma sekali... nggak mungkin langsung jadi."

Ia mencoba menepis pikiran buruk itu. Namun, rasa mual yang terus datang dan rasa lelah yang luar biasa mulai menghantui hari-harinya.

Di Kantor Mahendra Group, Kalandra berdiri di dekat jendela besar di ruangannya. Ia menatap pemandangan kota. Di atas mejanya, laporan dari Bimo dan Gery tentang kunjungan ke rumah Elisa tergeletak begitu saja.

"Nggak mau ketemu gue?" gumam Kalandra pelan.

Ada rasa perih yang aneh di dadanya. Sejak malam itu, ia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan wajah gadis yang menangis itu terus menghantuinya. Ia bahkan membatalkan semua janji temu dengan Pak Danu dan memutuskan semua kerja sama dengan perusahaan pria itu sebagai bentuk balas dendam.

Gery masuk tanpa mengetuk, membawa dua cup kopi. "Lan, masih mikirin Elisa?"

Kalandra tidak menjawab.

"Gue tau lo ngerasa bersalah, tapi jangan nyiksa diri lo juga. Kita udah coba tawar bantuan, tapi dia yang nolak," ujar Gery sambil menaruh kopi di meja. "Bimo juga lagi coba mantau dia dari jauh, mastiin nggak ada orang-orangnya Pak Danu yang ganggu dia."

"Gue pengen liat dia, Ger," ucap Kalandra tiba-tiba.

"Hah? Lo gila? Dia bisa pingsan di tempat liat muka lo!" seru Gery kaget.

"Gue cuma mau liat dari jauh. Gue mau pastiin dia... dia beneran baik-baik saja."

Gery menghela napas, ia menyesap kopinya. "Ya udah, besok gue temenin. Tapi inget ya, lo tetep di mobil. Biar gue yang turun kalau ada apa-apa. Lo itu kayak magnet masalah soalnya kalau di tempat kayak gitu."

Kalandra mengangguk. Ia harus melihat gadis itu. Ia harus memastikan bahwa kerusakan yang ia buat tidak benar-benar menghancurkan hidup Elisa, meskipun ia tahu, kata-kata itu hanya cara untuk menenangkan hatinya yang berantakan.

Tanpa mereka sadari, di rahim Elisa, sebuah benih kesalahan satu malam itu telah mulai tumbuh, membawa takdir yang jauh lebih rumit dari yang bisa mereka bayangkan.

___________

Sampai disini dulu ya Manteman🙏🏻

Selamat membaca, dan semoga terhibur dengan ceritanya🤏🥰

Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya🙌🏾🙏🏻

1
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara.nietzsche
Saling dukung ya! The Mansion😍🙏
tamara.nietzsche
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!